Impian Gadis Yang Malang

Impian Gadis Yang Malang
Bab 15


__ADS_3

"Kapan pengumuman kelulusan kamu, Dek?" tanya Zahra saat membantu adiknya menyiapkan makanan.


"Belum tahu, Kak. Tapi besok masih masuk kayak biasa walaupun nggak ada pelajaran."


"Yang semangat, ya! Jangan lupa berdo'a semoga mendapat nilai yang sangat baik! Biar bisa lanjut kuliah di kampus yang kamu impikan."


"Iya, Kak. Makasih, selalu semangatin aku," ucap Zulfa sambil memeluk kakaknya dari samping.


"Sama-sama. Kakak panggil Mas Amir dulu di belakang rumah."


"Iya, Kak. Biar aku yang lanjutin semuanya."


Zulfa melanjutkan pekerjaannya di dapur, sedangkan Zahra memanggil suaminya untuk makan.


"Mas, makan dulu! Zulfa udah nunggu di dalam, itu dilanjut besok aja."


"Iya, Dek."


Setelah Zahra dan Amir masuk, Zulfa langsung menyiapkan makanannya, tak lupa membuat teh hangat.


Selesai makan, Zahra ke kamarnya untuk mengambil ponsel yang akan dia berikan pada Zulfa.


"Dek, ini ponselnya. Semoga bermanfaat walaupun nggak sebagus jaman sekarang," ucap Zahra lalu memberikan ponselnya pada Zulfa.


"Enggak apa-apa, Kak. Ini aja udah cukup buat aku, yang penting bisa dipakai."


"Tapi ingat, Dek. Kakak bakal ambil ponsel itu kalau kamu pakai macam-macam!"


"Iya, Kak."


Setelah menerima ponsel dari kakaknya, Zulfa langsung menyimpan ponselnya. Lalu dia memutuskan untuk tidur karena besok harus ke sekolah.


******


Selesai adzan subuh berkumandang, Zulfa bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan. Karena sekarang dia akan belajar hidup mandiri.


"Dek, kok kamu udah bangun? Ini masih terlalu pagi, lho!" ucap Zahra yang baru bangun.


"Enggak apa-apa, Kak. Aku cuma masak nasi sama nyiapin bahan untuk lauknya."


"Udah kamu tinggal aja, nanti biar Kakak yang buat sarapan."


"Nggak usah, Kak. Aku sekalian belajar masak biar nantinya nggak bingung kalau udah kost sendiri."


"Terserah kamu, Kakak mau ke kamar mandi dulu."

__ADS_1


Zulfa melanjutkan memotong kangkung dan wortel, dia akan memasak tumis kangkung dan tempe goreng. Tak lupa dia juga meracik bahan untuk membuat sambal terasi.


Zahra yang baru keluar dari kamat mandi, langsung menghampiri adiknya untuk membantu membuat sarapan.


"Mas Amir udah mulai kerja lagi, Kak?"


"Iya, katanya mau cek laporan keuangan bengkel. Kamu masak agak banyak nasinya, soalnya nanti Mas Amir mau bawa bekal. Biar lauknya Kakak buatin nanti."


"Iya, Kak."


Pukul 6, semua masakan sudah matang. Zulfa bergegas mandi dan bersiap untuk ke sekolah.


Selesai bersiap, Zulfa ikut bergabung kakak dan kakak iparnya sarapan. Mereka menikmati sarapan dengan tenang, Zulfa yang sudah selesai sarapan langsung berangkat sekolah.


Sesampainya di sekolah, Zulfa ke perpustakaan untuk membaca buku sembari menunggu bel masuk.


Saat sedang fokus membaca, dia terkejut ketika ada seseorang yang duduk di sampingnya.


"Kamu ngapain di sini, Bry?" tanya Zulfa dengan suara pelan.


"Ya baca buku dong, Fa. Masa iya, aku ke sini mau jajan."


"Maksud aku, ngapain duduk di sini? Kan masih banyak bangku kosong," ucap Zulfa penuh penekanan.


"Tau, ah. Kamu tuh lama-lama ngeselin," gerutu Zulfa.


"Biar ngeselin tapi kamu cinta, kan?" goda Bryan.


"Ge'er banget, sih. Emang kapan aku ngomong cinta ke kamu?"


"Itu, baru aja kamu ngomong."


"Dasar, Bryan rese. Mending aku ke kelas aja," ucap Zulfa lalu beranjak dari duduknya, tapi tangannya langsung dicekal oleh Bryan.


"Jangan ngambek dong, Fa! Nanti ilang lho cantiknya," bujuk Bryan sambil menarik tangan Zulfa agar kembali duduk.


"Aku orangnya nggak cantik, jadi mustahil kalau cantiknya ilang."


"Kata siapa? Kamu itu orang yang paling cantik, yang pernah aku kenal."


"Nggak usah gombal, Bry. Nggak bakalan mempan."


"Siapa yang gombal sih, Fa? Emang tampang aku kelihatan kalau lagi gombal?"


Bryan memegang dagu Zulfa agar menatapnya. Zulfa yang ditatap Bryan, langsung salah tingkah.

__ADS_1


"Aku ngomong tulus dari hati, Fa. Nggak ada istilah gombal buat aku. Karena aku akan memperjuangkan kamu sampai ke jenjang yang serius."


Tet tet tet


Bel sekolah sudah berbunyi, Zulfa yang mendengar langsung keluar dari perpustakaan tanpa menanggapi ucapan Bryan.


-


-


-


-


"Ada info apalagi?" tanya Dirga pada Marco, anak buahnya yang memata-matai Zulfa.


"Gadis itu akan pergi ke Kota P, Bos."


"Kota P? Untuk apa dia ke sana?"


"Dia ingin melanjutkan kuliah di kota itu. Karena kakaknya sudah memiliki keluarga sendiri, hingga gadis itu memutuskan untuk hidup mandiri dengan kuliah di Kota P," jelas Marco.


"Dim!" panggil Dirga.


"Iya, Tuan."


"Apa kita ada proyek atau kerjasama di kota itu?"


"Sebentar, Tuan. Saya cek dahulu."


Dimas membuka laptopnya untuk melihat agenda Dirga. Dia memperhatikan satu persatu jadwal yang ada di sana, hingga dia menemukan satu jadwal kunjungan di kota tersebut.


"Ada, Tuan. Seminggu lagi, kita ada kunjungan di kota itu untuk membahas kerjasama dengan Perusahaan Vinda Gruop," jelas Dimas.


"Baiklah, untuk hari itu kamu bisa hubungi saya di mana gadisku berada," ucap Dirga pada Marco.


"Baik, Bos."


"Kamu boleh pergi sekarang, dan tetap pantau gadisku lalu laporkan padaku."


"Siap, Bos. Saya permisi!" pamit Marco lalu meninggalkan ruangan Dirga.


Sementara Dirga menyandarkan kepala di kursi kebesarannya, dia memejamkan matanya sambil membayangkan wajah ayu nan manis Zulfa.


"Inikah rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama? Benar-benar membuatku seperti orang gila," batin Dirga.

__ADS_1


__ADS_2