
Mobil yang ditumpangi Dirga dan Zulfa sudah sampai di depan rumah. Dirga turun lebih dulu lalu membantu Zulfa yang sedang menggendong bayinya.
"Pelan-pelan!" ucap Dirga lalu menuntun Zulfa masuk rumah.
Dirga membuka pintu rumah kemudian melangkah masuk bersama Zulfa. Rumah tampak sepi dan hening, Zulfa heran karena biasanya ada bibi yang menyambut.
"Kita pindah di kamar bawah sampai kondisi kamu pulih, kasihan kamu kalau harus naik turun tangga."
"Iya, Mas."
Keduanya memasuki kamar yang sebelumnya sudah dibersihkan, serta dihias dengan nuansa ala princess.
Di dalam nampak banyak balon dan aksesoris yang menambah kesan indah, juga tak lupa ada stiker yang menempel di dinding bertuliskan welcome baby Assyifa.
"Gimana? Kamu suka nggak dengan kamarnya?" tanya Dirga setelah meletakkan tas yang berisi pakaian Zulfa selama di rumah sakit.
"Sangat suka, Mas. Kamarnya bagus banget, siapa yang desain ini semua?"
"Em, aku yang pilih desainnya agar dibuat sesuai dengan jenis kelamin anak kita, yaitu princess. Dan yang ngurus semuanya sudah pasti Dimas, aku tinggal terima beres saja," ucap Dirga.
"Sudah aku duga," jawab Zulfa lalu meletakkan baby Assyifa di ranjang.
Dirga menghampiri sang istri lalu memeluknya dari belakang. Zulfa yang merasakan tangan melingkar di perutnya sedikit terkejut. Zulfa mengernyitkan dahinya ketika pundaknya terasa basah, dia pun lantas membalikkan badan menghadap sang suami.
"Mas, kamu kenapa nangis?" tanya Zulfa sembari mengusap air mata Dirga.
"Aku bahagia, Sayang. Karena kita bisa kembali bersama, waktu itu aku benar-benar takut kehilangan kamu. Apalagi, putri kita masih sangat membutuhkan sosok mamanya.
Sekarang hidupku sudah terasa lengkap berkat kehadiran kamu dan putri kita," tutur Dirga lalu menggenggam tangan Zulfa.
"Boleh, aku minta sesuatu ke kamu?" sambung Dirga.
"Sesuatu apa, Mas?"
"Aku minta ini pertama dan terakhir kalinya kita punya anak, aku nggak mau kejadian tempo hari terulang lagi."
"Mas, umur manusia hanya Allah yang tahu. Kita harus berpikir positif, kalau kita terlalu menduga sesuatu di masa yang akan datang, itu sama saja dengan mendahului takdir Tuhan.
Anggap saja kejadian tempo hari sebagai pembelajaran, agar kita lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta," jelas Zulfa.
"Aku tahu itu, tapi kali ini aku mau kamu turuti permintaanku." Dirga memegang kedua bahu Zulfa dengan tatapan yang menusuk.
Zulfa menelan salivanya dengan susah payah, ini pertama kalinya dia mendapati tatapan lain dari suaminya.
"I-iya, Mas."
Akhirnya, Zulfa memilih mengalah dengan menurut ucapan suaminya. Dia tak ingin membuat suaminya terpancing emosi karena penolakannya.
Jujur saja, Zulfa masih ingin suatu saat nanti memiliki anak lagi, tapi dia harus mengurungkan niatnya itu.
................
Pukul 3 sore, Zulfa memandikan baby Assyifa. Walaupun baru pertama kali, tapi Zulfa sudah sangat piawai dalam mengurus bayi.
__ADS_1
"Non, kenapa nggak panggil bibi? Kan, bibi bisa bantu buat mandiin non kecil," ucap bibi yang baru masuk mengantarkan pakaian yang sudah disetrika.
"Enggak apa-apa, Bik. Selagi aku masih bisa, aku bakal lakuin sendiri. Bibi pasti juga capek karena seharian kerja," jawab Zulfa.
Setelah selesai, Zulfa membawa baby Assyifa ke meja yang disiapkan untuk mengganti pakaian ketika selesai mandi.
"Anak mama pakai baju dulu, ya! Biar tambah cantik kayak princess," ucap Zulfa pada Assyifa seolah bayi itu mengerti ucapannya.
"Ada yang bisa dibantu apa tidak, Non? Kalau ada bibi bantu mumpung masih di sini," tawar bibi.
"Enggak ada, Bik. Nanti kalau perlu sesuatu, aku panggil bibi."
"Ya sudah, kalau gitu bibi ke dapur mau masak!" pamit bibi.
"Iya, Bik."
Usai memakaikan baju pada Assyifa dan membedongnya, Zulfa mengajak Assyifa ke balkon.
Dia menimang bayi mungil itu hingga tertidur, sesekali Zulfa mencium pipi bayinya.
"Yang, kamu ngapain di sini?" tanya Dirga yang baru tiba di kamar.
"Lagi menikmati udara sore, Mas."
"Cepet banget tidurnya," ucap Dirga sembari mengelus pipi Assyifa.
"Dia masih bayi, Mas. Waktu tidurnya lebih sering dibandingkan dengan anak-anak yang sudah berusia 3 bulan keatas."
"Kamu tidurin di ranjang, Yang! Biar aku yang jaga, kamu mandi dulu."
"Iya, Mas."
................
Waktu cepat berlalu, tak terasa usia Assyifa sudah menginjak tujuh tahun. Sekarang dia sudah duduk di bangku sekolah dasar, di sekolah dia merupakan anak yang sangat ceria dan pandai.
Usai mengantar Assyifa sekolah, Zulfa memilih mengunjungi kakaknya karena sebelumnya dia sudah izin pada Dirga.
"Tumben banget kamu ke sini sendirian, Dek?" ucap Zahra sembari duduk menemani Zulfa.
"Iya, Kak. Lagi pengen aja main ke sini," sahut Zulfa dengan wajah sendu.
"Kenapa? Kamu ada masalah?" tanya Zahra yang menyadari mimik wajah sang adik.
Zulfa menghela napas panjang, dia memang butuh seseorang yang bisa dimintai pendapat.
"Kak!" panggil Zulfa.
"Iya."
"Aku takut," lirih Zulfa.
"Takut kenapa?"
__ADS_1
"Aku takut mas Dirga marah."
Zahra mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan pembicaraan adiknya.
"Emangnya kamu ada buat salah? Nggak mungkin Dirga marah kalau nggak ada sebab," ucap Zahra.
"Aku telat dua minggu, Kak. Kalau aku hamil gimana?"
"Hah? Ya, nggak apa-apa kalau hamil. Toh, Syifa juga sudah besar dan lagi kamu itu punya suami. Kenapa mesti bingung?"
"Itu dia masalahnya, Kak. Mas Dirga nggak izinin aku buat hamil lagi, dia takut kejadian waktu itu kembali terulang."
"Apa sebelumnya kamu nggak pakai alat kontrasepsi?"
Zulfa memilin jemari tangannya yang sudah berkeringat dingin.
"Waktu itu aku lupa nggak minum pil kontrasepsi, dan kebetulan mas Dirga lagi di luar kota. Aku pikir dia pulang keesokan harinya, makanya aku santai.
Eh, nggak tahunya tengah malam dia udah sampai rumah."
Zahra terdiam sejenak menelaah setiap penjelasan Zulfa.
"Itu berarti, pas Dirga pulang kamu lagi masa subur?" tanya Zahra.
Zulfa mengangguk sebagai jawaban, dia semaki. menundukkan kepalanya karena bingung apa yang harus dia katakan pada sang suami.
"Kamu sudah cek belum? Kali aja cuma telat haid biasa."
"Aku sudah cek tadi pagi, dan hasilnya positif," jawab Zulfa.
"Gimana ya, Dek? Bukannya kakak nggak mau bantu kamu, cuma ada baiknya kamu ngomong dan kasih tahu Dirga langsung!
Coba, nanti malam kamu bicarakan hal ini ke dia. Jelasin pelan-pelan, semoga saja dia bisa ngerti!"
"Iya, Kak. Semoga saja mas Dirga mau ngerti."
**
Benar saja, saat sedang berdua di kamar, Zulfa mencoba mengajak Dirga untuk bicara. Walau jantungnya sudah berdebar menahan guguo dan takut suaminya marah.
"Mas! Aku mau bicara sesuatu!" ucap Zulfa pelan.
Dirga yang semula fokus dengan laptopnya, kini mengalihkan perhatian pada istrinya setelah mematikan laptop. Dirga menghampiri Zulfa yang duduk di ranjang dengan gelisah.
"Bicara apa?" tanya Dirga setelah duduk di samping sang istri.
"A-aku sebenarnya-" Zulfa menggantung ucapannya sembari melihat ekspresi wajah Dirga.
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?"
"Aku ha-hamil, Mas."
"Hamil?" ulang Dirga dan Zulfa pun mengangguk.
__ADS_1
Untuk sesaat hanya keheningan yang tercipta, Zulfa yang gelisah akan reaksi Dirga saat tahu tentang kehamilannya. Sementara Dirga masih terdiam dengan ekspresi wajah yang susah ditebak.