
Sesampainya di kampus, Iwan langsung mengantar Zulfa ke ruang pendaftaran.
"Aku antar kamu ke ruang pendaftaran, Fa!"
"Mas Iwan tunjukin aja ruangannya, biar aku sendiri yang ke sana."
"Biar aku antar, kebetulan aku belum mulai kok."
Selama menuju ruang pendaftaran, banyak mahasiswa dan mahasisiwi yang memandang keduanya. Tak heran karena Iwan terkenal sebagai dosen yang digandrungi mahasiswi.
Banyak yang bertanya-tanya, siapa yang sedang berjalan beriringan dengan Iwan. Terutama Keyla, mahasiswi yang begitu mengidolakan sang dosen.
"Siapa gadis itu? Kenapa bisa bareng Pak Iwan?" batin Keyla bertanya-tanya.
Sesampainya di depan ruang pendaftaran, Iwan langsung masuk dan menemui panitianya.
"Fa, masuk yuk! Kamu isi formulirnya sekalian persyaratannya kamu siapkan."
"Iya, Mas."
Setelah mengantar Zulfa, Iwan langsung pergi ke ruangannya. Hingga tiba-tiba dia dihentikan salah satu mahasiswanya.
"Pak Iwan, tadi calon mahasiswi di sini ya?"
"Iya, dia akan kuliah jurusan administrasi perkantoran."
"Oh gitu."
"Kalau tidak ada yang ditanyakan lagi, saya mau ke ruangan," pamit Iwan.
"Baik, Pak. Silakan!"
Setelah Iwan pergi, Rangga bergegas menuju ruang pendaftaran untuk melihat Zulfa. Dia merasa tertarik pada gadis itu, saat pertama kali melihatnya.
Di dalam ruang pendaftaran, Zulfa mengisi formulirnya lalu memberikan pada panitia. Setelah itu dia keluar dari ruangan itu, ketika baru diambang pintu dia langsung disapa Rangga.
"Hai, kamu yang tadi datang bareng Pak Iwan kan?"
"Iya, Kak."
"Kamu ambil jurusan apa?"
"Administrasi perkantoran, Kak."
"Oh, sama dong. Kenalin, aku Rangga," ucap Rangga lalu mengulurkan tangannya.
"Aku Zulfa, Kak," jawab Zulfa sambil membalas uluran tangan Rangga.
"Mau ke kantin dulu? Aku yang traktir."
__ADS_1
"Enggak usah, Kak. Aku mau langsung pulang aja."
****
Sore harinya, Zulfa tengah membuat teh hangat di dapur. Tiba-tiba pintu kostnya ada yang mengetuk.
Tok tok tok
"Siapa, ya?" gumam Zulfa lalu dia segera membuka pintu.
"Mas Iwan!" sapa Zulfa.
"Aku ganggu kamu, ya?"
"Enggak kok, Mas. Tadi aku lagi di dapur buat minum. Ada apa, ya?"
"Kalau kamu nggak sibuk, aku mau ajak kamu keliling daerah sini. Biar nanti kamu nggak bingung kalau sewaktu-waktu perlu sesuatu."
"Boleh, Mas. Aku ganti baju dulu, ya."
"Iya."
Setelah Zulfa masuk, Iwan duduk di kursi teras sambil menunggu Zulfa selesai bersiap.
"Ayo, Mas!" ajak Zulfa yang penuh semangat.
Iwan langsung melajukan motornya, membelah jalanan sore hari. Zulfa tampak begitu menikmati keindahan suasana sore hari di Kota P.
"Ternyata suasana di sini sangat nyaman," ucap Zulfa.
"Kapan-kapan aku ajak kamu ke suatu tempat yang bakal bikin kamu ketagihan."
"Beneran, Mas?"
"Bener, dong. Kita cari waktu yang pas aja buat ke sana."
"Siap, Mas."
Iwan menghentikan laju motornya di depan rumah makan lesehan. Zulfa turun dari motor lalu disusul Iwan.
"Kita makan di sini nggak apa-apa kan, Fa."
"Enggak apa-apa kok, Mas. Ini udah lebih dari cukup, aku jadi nggak enak ngerepotin Mas Iwan."
"Santai aja, Fa."
-
-
__ADS_1
-
-
Zulfa tengah sibuk menyiapkan sarapan untuknya, kini dia sudah resmi menjadi mahasiswi di Universitas P.
Dia sangat bahagia, dengan penuh semangat dia akan berusaha mewujudkan impiannya menjadi seorang sarjana. Yang kelak akan mencoba mencari pekerjaan yang baik demi menyambung masa depan yang cerah.
Selesai menyiapkan sarapan, dia bergegas mandi karena hari ini ada kelas pagi. Setelah mandi dan bersiap dia segera menyantap sarapannya, tak lupa dia tadi juga sudah menyisakan di kotak bekal yang akan dia berikan pada Iwan.
Ting
Ponselnya yang ada di meja berbunyi. Dia mengambil dan melihat siapa yang mengirim pesan.
Semangat belajar, Fa! Jangan lupa jaga kesehatan dan yang paling penting jaga mata dan hati kamu untuk aku.
Zulfa hanya tersenyum melihat isi pesan dari Bryan, kemudian dia mengetik sesuatu dan mengirimnya pada Bryan.
Siap, Bry. Kamu juga yang semangat, ya!
Usai membalas pesan dari Bryan, dia langsung memutuskan berangkat ke kampus. Sebelum itu dia mengirim pesan pada Iwan kalau dia membawakan sarapan untuk Iwan.
Mas, aku bawain kamu sarapan. Kamu tunggu aku di depan kampus, ya!
Ting
Siap, Fa! Balas Iwan.
Zulfa berjalan menyusuri jalanan pagi yang sangat ramai. Dia sangat menikmatinya, walau sudah sering kali Iwan menawari untuk berangkat bersama. Namun, Zulfa menolak dengan alasan tak ingin terlalu bergantung dengan orang lain.
Sesampainya di depan kampus, Zulfa sudah melihat keberadaan Iwan. Dia bergegas menghampiri lalu memberikan bekal yang dibawanya.
"Ini, Mas sarapannya."
"Makasih, Fa. Harusnya kamu nggak perlu repot-repot gini, Fa."
"Nggak apa-apa, Mas. Aku belum bisa balas jasa Mas Iwan selama ini, jadi aku buatin bekal sebagai bentuk terima kasih dari aku."
"Kamu bisa aja. Padahal aku ikhlas bantu kamu, nggak mengharap imbal balik."
"Aku tahu, Mas. Tapi aku juga sadar diri, seandainya bukan karena bantuan dari Mas Iwan mungkin aku belum ada di sini."
"Ini udah rejeki kamu, Fa. Kamu harus optimis semoga apa yang kamu impikan selama ini bisa terwujud."
"Aamiin," jawab Zulfa sambil tersenyum.
Dari kejauhan, Keyla memandang penuh kebencian pada Zulfa, yang menurutnya saingan dalam mendapatkan perhatian Iwan.
"Aku nggak akan biarin kamu dekat-dekat dengan Pak Iwan lagi," gumam Keyla dengan tangan yang terkepal kuat.
__ADS_1