
Kali ini Zulfa benar-benar menghindar dari Bryan, setiap kali dia bertemu atau melihat Bryan, dia langsung pergi karena tak ingin ucapan Rosa yang akan mempermalukan dirinya terjadi.
Bryan merasa heran dengan sikap Zulfa, setiap kali melihatnya walau jarak masih jauh, Zulfa selalu menghindar darinya.
Seperti sekarang ini, ketika mereka sama-sama di perpustakaan Bryan ingin menghampiri Zulfa dan ingin bertanya tentang perubahan sikapnya. Namun, lagi-lagi Zulfa pergi tanpa sepatah katapun.
"Kamu sebenarnya kenapa sih, Fa? Apa aku ada salah sampai-sampai kamu nggak mau ketemu aku lagi?" gumam Bryan.
Sementara itu, Zulfa duduk menyendiri di taman sekolah. Dengan buku yang dibawanya, dia berusaha menahan gejolak hatinya yang ingin menangis.
Dia merasa bersalah pada Bryan karena telah bersikap acuh. Tapi semua itu dia lakukan demi kebaikan dan nama baiknya.
Setelah bisa meredam gejolak hatinya, Zulfa bergegas kembali ke kelasnya. Dia ingin melanjutkan membaca buku untuk tambahan materi.
Jam sekolah pun telah usai, kini siswa dan siswi meninggalkan ruang kelas. Dan tinggallah Zulfa yang masih membereskan buku pelajaran, setelah selesai dia langsung menggendong tasnya menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku.
"Duh, kok kebelet buang air," ucap Zulfa lalu pergi ke toilet terlebih dulu.
"Ah, lega," ucap Zulfa setelah selesai buang hajat. Dia kemudian keluar dari toilet, tapi baru saja dia akan meninggalkan toilet, ada seseorang yang menarik tangannya dan membawanya ke lorong sekolah yang sepi.
"Lepasin!" ucap Zulfa sambil berusaha melepas cekalan tangan orang itu.
Setelah agak jauh dan dirasa tak ada orang yang tahu, Zulfa di dorong hingga tubuhnya menempel pada dinding.
"Kamu kenapa menghindar terus dari aku?" tanya Bryan dengan posisi tangannya mengungkung Zulfa.
"Apa-apaan sih, Bry? Lepasin aku mau pulang!" ucap Zulfa sambil mencoba memindah tangan Bryan dari sisi tubuhnya.
"Enggak. Jawab dulu pertanyaan aku, kenapa kamu menghindar terus dari aku?"
"Itu nggak penting, Bry. Mau aku menghindar atau enggak itu urusan aku, jadi kamu nggak perlu repot-repot untuk tahu alasan aku menghindar dari kamu," jelas Zulfa.
"Tapi ini penting buat aku, Fa."
__ADS_1
"Udahlah Bry, nggak usah diperpanjang lagi masalah sepele kayak gini. Jadi, tolong menyingkir aku mau pulang!"
"Enggak akan."
"Bryan, aku mohon me-" Belum sempat Zulfa menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Bryan mencium bibirnya.
Untuk sesaat Zulfa hanya mematung karena terkejut dengan tindakan Bryan, tangannya mencoba mendorong dada Bryan. Namun, bukannya menjauh Bryan justru menarik tengkuk Zulfa untuk memperdalam ciumannya.
Setelah beberapa saat Bryan melepas tautan bibirnya. Dia mengusap bibir Zulfa yang basah akibat perbuatannya.
"Maaf, Fa. Aku nggak suka kamu kayak gini, apa karena aku ngungkapin perasaanku ke kamu yang buat kamu menghindar terus dari aku?"
"Mungkin, iya," jawab Zulfa tanpa menatap Bryan.
Bryan menangkup wajah Zulfa agar menatap dirinya. "Aku butuh jawaban yang pasti, Fa. Jawab jujur pertanyaan aku!" tegas Bryan.
Mata Zulfa mulai berkaca-kaca, antara ingin jujur atau tidak. Kalau dia jujur, dia takut dengan ancaman Rosa tempo hari. Namun, sebaliknya kalau dia bohong, dia sama saja sudah menyakiti orang yang nggak bersalah.
"Fa, kamu kenapa?" tanya Bryan, tapi Zulfa hanya menggeleng.
Bryan menarik Zulfa dalam dekapannya, dan benar saja seketika air mata Zulfa mengalir membasahi seragam Bryan.
"Maaf kalau aku udah maksa kamu, Fa," ucap Bryan sambil mengelus punggung Zulfa.
Setelah tenang Zulfa menarik dirinya dari dekapan Bryan.
"Maaf, Bry. Sebaiknya kita nggak usah ketemu lagi."
"Tapi kenapa, Fa?
"Aku mohon, Bry. Kali ini aja turuti permintaan aku."
Bryan mengusap wajahnya frustasi, dia semakin yakin kalau ada yang tidak beres. Dia akan mencari tahu sendiri penyebab Zulfa menjauhinya.
__ADS_1
"Ok, kalau emang itu mau kamu. Mulai hari ini aku nggak akan menemui kamu lagi."
Bryan mencium kening Zulfa sejenak sebelum dia pergi.
Setelah Bryan pergi, Zulfa menangis sambil memegangi dadanya yang sesak.
"Maafin aku, Bry. Aku terpaksa lakuin ini, suatu saat kamu pasti akan tahu alasanku menjauhi kamu," gumam Zulfa.
-
-
-
-
Sementara itu, Bryan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Dia ingin pergi ke suatu tempat untuk meluapkan emosinya.
Sesampainya di sebuah danau yang sepi, Bryan melangkahkan kakinya sampai tepi danau. Dia mengambil sebuah batu lalu melemparkannya ke danau.
"Zulfa!" teriak Bryan.
"Aku tahu, kamu menjauhi aku bukan karena keinginanmu sendiri. Pasti ada orang yang sudah memaksa kamu untuk menjauhiku," ucap Bryan dengan lantang.
"Aku akan cari tahu sendiri, Fa. Karena aku tahu kamu pasti nggak akan mau jujur," gumam Bryan sambil bersimpuh di rerumputan dengan kepala menunduk.
Setelah puas meluapkan emosinya, Bryan kemudian beranjak pergi dari danau itu. Dia memutuskan untuk pulang sebelum papanya menelepon karena pulang terlambat.
"Kenapa baru pulang, Bry?" tanya papanya saat sudah tiba di rumah.
"Tadi masih ke perpustakaan, Pah. Cari tambahan materi buat belajar soalnya bentar lagi mau ujian," jelas Bryan lalu duduk disebelah papanya.
"Belajar yang rajin biar bisa lulus dengan nilai memuaskan!" ucap Papa Bryan sambil menepuk pelan pundak Bryan.
__ADS_1
"Iya, Pah. Bryan ke kamar dulu mau ganti baju," pamit Bryan kemudian berlalu dari tempat duduknya.
Bantu kasih semangat dong ๐, cukup like, komen dan favorit cerita ini ๐๐๐