
Seperti yang dikatakan Dimas kemarin, Zulfa pagi ini sudah bersiap untuk mendatangi kantor Dirga. Usai mandi, Zulfa memakai pakaian yang cocok untuk melamar pekerjaan. Tak lupa dia merias wajahnya agar terlihat lebih segar, walaupun sekedar memakai bedak dan lipstik tipis.
Dia juga merapikan rambutnya agar semakin menyempurnakan penampilannya. Namun, saat sedang menyisir rambut, Zulfa dibuat gemetar karena rambutnya rontok parah.
Dia memegang rambutnya lalu menyisir dengan jari tangannya, dan rambutnya rontok juga. Dia memandang wajahnya di cermin, mendadak perasaannya semakin kacau. Apakah, penyakitnya sudah semakin parah?
Karena tak ingin membuat sang kakak curiga, Zulfa memutuskan untuk memakai hijab. Dengan begitu, dia bisa menyembunyikan apa yang sedang dialaminya. Selesai bersiap, dia langsung keluar dari kamar dan mencari kakaknya.
"Kak!" panggil Zulfa.
"Iya, Dek. Kakak di belakang rumah," sahut Zahra.
Zulfa langsung ke belakang rumah, dan kakaknya sedang memetik sayuran yang sudah siap di panen.
"Aku mau berangkat melamar kerja!" pamit Zulfa.
Zahra tertegun sejenak karena melihat penampilan adiknya, dia meletakkan bakulnya di tanah lalu menghampiri Zulfa.
"Masya Allah, ini beneran kamu, Dek?" kagum Zahra yang seakan tak percaya jika di depannya ini adalah Zulfa.
"Iya, Kak. Aku nggak cocok ya, pakai hijab?"
"Kamu malah terlihat cantik dengan hijab, Dek. Kakak juga senang kalau kamu mau berhijab," ucap Zahra sambil mengenggam tangan Zulfa.
"Berarti, aku boleh pakai hijab terus?"
"Boleh, semoga bisa istiqomah mempertahankan diri untuk selalu berhijab."
"Terima kasih, Kak. Kalau gitu aku berangkat, Kak. Biar nggak kesiangan datang ke kantornya."
"Iya, Dek. Semoga kamu diterima bekerja di sana."
"Aamiin."
Setelah berpamitan dengan kakaknya, Zulfa langsung berangkat ke perusahaan Dirga. Dia berangkat menggunakan jasa ojek online, kebetulan jalanan belum terlalu macet. Jadi, Zulfa bisa sampai perusahaan tepat waktu.
Dia memasuki gerbang perusahaan lalu bertanya pada security.
"Maaf, Pak. Apa benar perusahaan ini membuka lowongan pekerjaan?" tanya Zulfa.
"Benar, Mbak. Mbak mau melamar juga?"
"Iya, Pak."
"Mbak langsung masuk saja dan temui resepsionis!"
"Baik, Pak. Terima kasih."
"Sama-sama, Mbak."
Zulfa langsung bergegas menemui resepsionis, tak lupa dia juga mencari kartu nama yang diberikan Dimas kemarin.
__ADS_1
"Permisi, Mbak! Saya mau ketemu dengan Pak Dimas, apa beliau sudah datang?"
"Apa sudah membuat janji dengan beliau?"
"Iya, kemarin beliau memberikan saya kartu namanya. Dan beliau bilang kalau di kantor ini sedang membuka lowongan pekerjaan," jelas Zulfa.
"Baiklah, saya hubungi dulu! Mbak, tunggu sebentar!"
"Baik, Mbak."
Zulfa memilih duduk di kursi ruang tunggu yang tak jauh dari resepsionis, sedangkan resepsionis tadi masih menghubungi Dimas.
Selang 5 menit, resepsionis tadi menghampiri Zulfa dan mengantarnya ke ruangan Dimas.
"Mari, saya antarkan ke ruangan Pak Dimas!" ajak resepsionis tersebut.
"Iya, Mbak."
Zulfa pun melangkahkan kakinya mengikuti resepsionis tadi. Zulfa ikut masuk lift dan melihat resepsionis tadi menekan angka 20. Itu berarti ruangannya ada di lantai paling atas.
Ting
Pintu lift terbuka, Zulfa langsung keluar mengikuti resepsionis ke ruangan Dimas. Dan tibalah dia di ruangan yang tak jauh dari ruangan CEO.
Tok tok tok
"Masuk!" Terdengar sahutan dari dalam.
"Permisi, Pak. Saya hanya mengantar orang yang mencari Bapak tadi."
"Baik, Pak."
Setelah resepsionis tadi pergi, Zulfa mulai melangkah masuk ke ruangan Dimas.
"Selamat pagi, Pak!" sapa Zulfa sambil menundukkan kepala tanda hormat.
"Selamat pagi! Silakan, duduk!"
Zulfa duduk di kursi yang berhadapan dengan Dimas, hanya terhalang oleh meja.
"Boleh saya lihat berkas yang kamu bawa?"
"Boleh, Pak," Zulfa memberikan map coklat berisi berkas untuk melamar kerja.
Dimas memeriksa berkas milik Zulfa, dan alangkah terkejutnya dia, ternyata Zulfa lulusan terbaik dengan IPK tertinggi. Usai memasukkan berkas ke amplop lagi, Dimas langsung menghubungi seseorang agar ke ruangannya.
Ceklek
Pintu ruangan Dimas terbuka, dan muncullah Dirga dengan ekspresi datarnya. Dimas langsung beranjak dari duduknya, agar Dirga bisa duduk.
Dirga duduk di kursi Dimas kemudian meraih amplop yang tadi dibuka Dimas. Dia membaca dengan seksama sebelum akhirnya, dia memutuskan untuk menerima Zulfa bekerja.
__ADS_1
"Zulfa Nabila, umur 23 tahun. Lulusan terbaik di Universitas P," gumam Dirga.
"Baiklah, saya akan putuskan hari ini juga. Mulai besok kamu bisa langsung bekerja di sini, untuk 3 bulan ke depan adalah masa training kamu. Jika dalam waktu 3 bulan kamu bisa bekerja dengan sangat baik, maka kamu bisa langsung menandatangani kontrak kerja," ucap Dirga dengan wibawanya.
"Baik, Pak. Terima kasih banyak, saya akan berusaha semaksimal mungkin," tutur Zulfa senang dan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Kamu bisa pulang sekarang. Dan ingat, kamu harus tiba di kantor sebelum pukul 7!"
"Baik, Pak. Saya permisi!"
Setelah Zulfa keluar dari ruangan Dimas, Dirga langsung menyandarkan tubuhnya. Dia mengusap wajahnya pelan, tubuhnya berasa panas dingin saat bertatap muka langsung dengan gadis pujaannya.
-
-
-
Saat sudah keluar dari area perusahaan, Zulfa langsung menghubungi Iwan. Karena sudah lama dia tak bertukar kabar dengan pria itu.
"Assalamualaikum, Mas!" ucap Zulfa saat panggilan sudah tersambung.
"Waalaikumsalam, Fa! Aku pikir kamu sudah lupa, soalnya lama nggak pernah hubungi aku."
"Hehe, maaf. Oh, ya aku mau kasih kabar baik buat Mas Iwan."
"Kabar baik apa?"
"Aku diterima kerja jadi sekretaris di perusahaan."
"Serius kamu, Fa?"
"Iya, Mas. Besok aku sudah mulai kerja."
"Alhamdulillah, selamat ya, Fa! Semoga suatu saat apa yang menjadi impianmu bisa terwujud."
"Aamiin, terima kasih untuk doanya, Mas. Mas Iwan kapan main ke sini? Aku kangen pengen kulineran bareng lagi."
"Sabar, ya. Kalau sudah ada jadwal cuti pasti aku usahain buat main ke sana."
"Ok, aku tunggu kedatangan Mas Iwan!"
"Siap, Tuan Putri."
"Kalau gitu aku matiin teleponnya, Mas. Aku mau pulang."
"Iya, Fa. Hati-hati di jalan!"
Setelah panggilan terputus, Zulfa memasukkan ponselnya ke tas. Lalu dia menunggu ojek online yang sebelumnya sudah dipesan.
Sesampainya di rumah, Zulfa meletakkan tasnya di kamar kemudian berganti baju. Selesai berganti baju, dia mencari kakaknya, tapi dia tak menemukan keberadaan kakaknya.
__ADS_1
"Mungkin kakak ke pasar atau ke bengkel Mas Amir," gumam Zulfa.
Zulfa pun kembali ke kamarnya dan beristirahat sejenak karena jika kelelahan sedikit saja, penyakitnya langsung kambuh dan dia tak ingin kakaknya tahu kondisi tubuhnya saat ini.