Impian Gadis Yang Malang

Impian Gadis Yang Malang
Bab 43


__ADS_3

Malam semakin larut, seluruh tamu undangan sudah pulang. Pengantin baru juga sudah masuk kamar hotel yang telah dipersiapkan Dirga. Dan sekarang menyisakan Zulfa, Dirga, Zahra serta Amir.


"Kakak pulang ya, Dek," pamit Zahra.


"Kenapa nggak nginep di sini aja, Kak? Pulang besok pagi, bareng mas Iwan dan mbak Anis juga," balas Zulfa.


"Mas Amir besok harus kerja, dan Kakak juga dapat pesanan dari orang buat besok pagi. Lain kali, kalau ada waktu kamu bisa main ke rumah."


Mendengar ucapan kakaknya, Zulfa langsung lesu. Pasalnya, dia masih sangat merindukan kakaknya, hampir satu tahun tak bertemu dan bertukar kabar membuat rindu di hati Zulfa semakin besar. Sekalinya ada kesempatan bertemu, tapi hanya sebentar.


"Sebaiknya kalian menginap saja! Besok pagi setelah sarapan kita pulang bersama," usul Dirga.


Zahra menatap Amir meminta pendapat, dan Amir langsung mengangguk sembari mengusap pelan kepala istrinya itu.


"Baiklah, kita akan menginap di sini," putus Zahra.


"Terima kasih, Kak, Mas," ucap Zulfa pada Zahra dan Amir sembari tersenyum.


Mereka pun keluar dari aula menuju tempat resepsionis untuk memesan satu kamar lagi. Setelah mendapatkan kuncinya, mereka bergegas ke kamar masing-masing.


......................


Dirga dan Zulfa pun sudah ada di kamar, keduanya tengah merebahkan diri di ranjang. Tak berselang lama, Dirga beranjak dari ranjang lalu membersihkan diri di kamar mandi.


Zulfa yang melihat suaminya sudah masuk kamar mandi, dia lantas menyiapkan baju ganti dan meletakkannya di atas sofa. Sembari menunggu sang suami selesai mandi, Zulfa memainkan ponselnya.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, lalu keluarlah Dirga dengan balutan handuk kimono.


"Ini bajunya, Mas!" ucap Zulfa lalu menunjukkan pakaian yang sudah dia siapkan tadi.


"Terima kasih," ucap Dirga kemudian memakai bajunya.


"Ayo, tidur!" ajak Dirga.

__ADS_1


"Aku kan belum mandi," jawab Zulfa.


"Udah malam, Yang. Mandi besok pagi aja, sekarang kamu ganti baju terus tidur."


"Baiklah," ucap Zulfa.


Zulfa lantas berganti baju lalu ikut merebahkan diri di ranjang bersama suaminya. Tanpa aktivitas apapun, keduanya langsung terlelap dengan posisi Zulfa dalam pelukan Dirga.


Pukul 5 pagi, Dirga terbangun karena mendengar suara Zulfa di dalam kamar mandi.


"Yang! Kamu baik-baik aja, kan?" Dirga memanggil Zulfa sembari mengetuk pintu.


"Yang! Aku masuk, ya!" Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, Dirga langsung saja masuk kamar mandi.


Dirga langsung menghampiri Zulfa yang duduk di lantai dengan kepala bersandar di dinding.


"Yang!" panggil Dirga sambil membelai wajah Zulfa.


"Badanku lemas, Mas," lirih Zulfa.


Tanpa menjawab ucapan sang istri, Dirga lantas menggendong Zulfa agar bisa istirahat.


"Aku nggak tahu, Mas. Tiba-tiba perut rasanya mual banget," balas Zulfa.


"Ya sudah, kamu istirahat lagi! Nanti aku pesankan teh hangat buat kamu."


Akhirnya, Zulfa kembali tidur untuk memulihkan tenaganya. Sementara Dirga menelepon pihak hotel agar mengantarkan segelas teh hangat.


......................


Pukul 6 pagi, semuanya sudah berkumpul untuk sarapan. Mereka sarapan di restoran yang ada di hotel tersebut. Ketika makanan sudah tersaji, baik Zahra maupun Iwan sama-sama terperangah kala melihat nafsu makan Zulfa yang tak seperti biasanya.


"Dek, kamu kenapa?" tanya Amir yang melihat istrinya tak kunjung sarapan.


"Eh, itu Mas, kayak ada yang aneh sama Zulfa."

__ADS_1


"Aneh kenapa?"


"Makannya banyak nggak kayak biasanya."


Amit pun lantas melihat ke arah Zulfa, dan memang benar, Zulfa terlihat begitu lahap menikmati sarapan yang ada di meja.


"Dek, tumben porsi makan kamu banyak?"


Mendengar pertanyaan dari kakaknya, Zulfa langsung menghentikan makannya. Zulfa menatap satu per satu dari mereka, yang ternyata juga sedang menantikan jawaban darinya.


"Semalam aku nggak makan, jadi lapar banget. Apalagi, tadi pagi sempat muntah, alhasil perut aku jadi makin kosong," jawab Zulfa.


"Kamu sakit?" tanya Zahra dengan raut wajah khawatir.


"Enggak kok, Kak. Aku baik-baik aja, cuma-" Zulfa menggantung ucapannya yang mana membuat Zahra semakin gemas dengan adiknya itu.


"Cuma apa? Jangan bikin Kakak penasaran!"


"Sebenarnya, aku-" Lagi-lagi Zulfa menjeda kalimatnya dan kali ini dengan kepala yang tertunduk.


"Ada apa, sih? Kamu jangan buat Kakak dan yang lain jadi khawatir! Sebenarnya kamu kenapa?"


"Dia lagi ngidam," sahut Dirga yang mulai gemas dengan tingkah istrinya.


"Hah?" Beneran?" tanya Zahra memastikan.


"Iya, usia kandungannya sudah berjalan 4 minggu," jawab Dirga, sedangkan Zulfa tak bisa menahan senyumannya melihat ekspresi semua yang ada di sana.


"Alhamdulillah," sahut Zahra dan yang lainnya.


"Selamat ya, Fa! Semoga kamu dan calon bayi kalian sehat," ucap Anis dengan tulus.


"Aamiin, makasih Mbak Anis. Semoga kalian juga cepat diberikan momongan," balas Zulfa sembari menatap Anis dan Zahra bergantian.


"Aamiin."

__ADS_1


"Jaga kesehatan kamu, Dek! Kakak ikut senang dengarnya, semoga kamu dan calon anak kalian sehat semua."


"Aamiin. Iya, Kak."


__ADS_2