
Sepulang dari acara wisuda, Zulfa serta kakaknya sedang sibuk di dapur. Keduanya tengah membuat makanan untuk makan bersama.
Sementara Iwan dan Amir sedang mengobrol di ruang depan.
"Kapan kamu mau nikah, Wan?" tanya Amir sembari menikmati teh hangat.
"Belum tahu, Mir. Masih cari yang cocok buat jadi istri, bukan asal nikah aja," jelas Iwan.
"Semoga saja cepat ketemu jodoh yang sesuai kriteria kamu."
"Aamiin."
Sementara itu di dapur, Zulfa juga mengobrol sambil memasak.
"Kakak nanti pulang duluan aja! Aku masih mau nikmatin hari terakhir di kota ini," ucap Zulfa sembari menggoreng ayam.
"Terus kamu gimana, kalau Kakak pulang duluan?"
"Nanti aku minta tolong Mas Iwan buat antar ke stasiun, Kak."
"Ya sudah, tapi hati-hati kalau pulang! Jangan lupa kabari kalau udah sampai stasiun, biar dijemput Mas Amir!"
"Iya, Kak."
Mereka melanjutkan memasak sambil mengobrol tentang pekerjaan yang ingin dicari Zulfa.
Setelah satu jam bergelut di dapur, makanan sudah matang dan siap dihidangkan. Zulfa membawa nasi serta lauk ke ruang depan, sedangkan Zahra membawa piring, sendok dan air minum.
"Makan dulu, Mas! Nanti dilanjut lagi ngobrolnya," ajak Zulfa lalu menghidangkan makanannya.
"Aduh, jadi ngerepotin kalian," ucap Iwan.
"Enggak apa-apa, Mas. Mulai besok Mas Iwan sudah nggak bisa makan masakanku lagi, kecuali kalau Mas Iwan pulang kampung," balas Zulfa.
"Iya juga, sih. Aku puas-puasin kalau gitu," canda Iwan membuat Zulfa dan yang lain tertawa.
Mereka menikmati makan siang bersama, setelah itu Zahra dan Amir akan pulang lebih dulu dan membawa sebagian perlengkapan Zulfa selama di sini.
__ADS_1
Setelah makan siang dan membereskan peralatan masak dan piring kotor. Zahra dan Amir pamit pulang, Zulfa mengantar kakaknya sampai depan.
"Hati-hati di jalan, Kak, Mas!" ucap Zulfa lalu mencium punggung tangan Zahra dan Amir bergantian.
"Iya, Dek. Kamu cepetan pulang, Kakak udah kangen pengen kumpul bareng lagi."
"Iya, Kak."
Setelah Zahra dan Amir pergi, tinggallah Zulfa dengan Iwan di teras kost Zulfa.
"Mas, anterin aku ke dokter buat konsultasi! Sekalian nanti minta resep obatnya," pinta Zulfa.
"Iya, Fa. Kamu yakin, masih mau sembunyikan penyakit kamu ini?"
"Selama Mas Iwan nggak keceplosan ataupun kakak curiga, aku nggak akan ngomong yang sebenarnya.
Karena aku nggak mau lihat kakak sedih lagi, aku mau lihat kakak bahagia meskipun kondisiku sedang nggak baik," jelas Zulfa.
"Terserah kamu, Fa. Yang pasti aku nggak mau terlibat kalau suatu saat kakakmu tahu kebenarannya. Karena dari awal aku sudah ingatkan kamu untuk jujur sebelum semuanya terlambat."
"Iya, Mas. Aku sudah pikirkan semuanya, aku nggak akan melibatkan Mas Iwan dalam masalah ini."
"Iya, Mas. Makasih sudah mau bantu."
"Sama-sama, aku pulang dulu!" pamit Iwan.
Usai Iwan pergi, Zulfa memutuskan masuk kamar lalu istirahat. Namun, sebelum tidur dia meminum obatnya karena tadi memang sengaja tak meminumnya, lantaran masih ada Zahra.
-
-
-
Pagi ini Zulfa sudah bersiap untuk pulang ke kampung halamannya. Tak banyak barang uang dibawanya, hanya beberapa saja karena sebagian sudah dibawa Zahra kemarin.
Sebelum berangkat ke stasiun, Zulfa menyempatkan diri berpamitan dengan Anis. Salah satu penghuni kost yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri.
__ADS_1
"Mbak, aku pulang, ya! Kapan-kapan kalau ada waktu main ke kampungku, atau aku yang main ke sini," pamit Zulfa.
"Iya, Fa. Itu masalah gampang, yang penting kamu fokus dengan kesehatanmu. Jangan sampai kamu drop! Obatnya juga harus rutin diminum!"
"Iya, Mbak. Makasih, ya selama ini selalu ada disaat aku butuh bantuan."
"Nggak perlu berterima kasih, aku ikhlas bantu kamu karena aku sudah anggap kamu seperti adikku sendiri," tutur Anis lalu memeluk Zulfa.
"Aku pasti bakal kangen Mbak Anis."
"Mbak juga pasti kangen kamu, Fa. Hati-hati di jalan, ya! Jangan lupa kabari kalau sudah sampai rumah!"
"Siap, Mbak. Aku berangkat, ya! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Zulfa melangkah pergi meninggalkan tempat kost yang banyak menyimpan kenangan untuknya. Dia langsung menghampiri Iwan yang menunggunya, Iwan telah memesan taksi online agar memudahkan Zulfa yang membawa barang bawaan.
Selama perjalanan, pandangan Zulfa hanya tertuju di luar jendela mobil. Dia ingin menikmati perjalanan di Kota P ini karena dia belum tahu kapan lagi akan ke kota tersebut.
"Fa, jaga diri kamu baik-baik! Jangan sungkan untuk hubungi aku kalau butuh sesuatu!" ucap Iwan disela-sela perjalanan.
"Iya, Mas. Terima kasih sudah banyak membantu aku selama di sini."
"Kapanpun kamu butuh bantuan, aku pasti akan bantu kamu."
"Iya, Mas."
Tak terasa mereka sudah tiba di stasiun, Iwan membantu Zulfa mengambil barang yang ada di bagasi lalu membawakannya sampai ruang tunggu.
Jadwal keberangkatannya jam 8, dan sekarang sudah pukul 7.45. 15 menit lagi kereta yang akan ditumpangi Zulfa akan berangkat.
"Sampai sini saja, Mas. Biar aku sendiri yang bawa masuk ke kereta."
"Iya. Hati-hati, ya! Jangan lupa kabari aku!"
"Iya, Mas. Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
Iwan memandang kepergian Zulfa sampai tak terlihat lagi, setelah memastikan Zulfa masuk kereta, dia langsung bergegas pulang karena taksinya masih menunggu.