
Sore harinya, Zahra, Zulfa serta keluarga dari Amir bergegas menuju rumah orang tua Amir. Lantaran resepsi pernikahan Zahra dan Amir akan diadakan di sana.
Mengingat tak ada sanak saudara yang dekat dengan Zahra. Jadi, resepsinya digelar di rumah orang tua Amir agar meringankan beban Zahra.
Setibanya di rumah orang tua Amir, Zahra langsung diantar ke kamar untuk dirias kembali. Begitupun dengan Zulfa yang juga ikut dirias sesuai permintaan Ibu Amir.
Selesai dirias dan berganti seragam yang sudah disediakan keluarga Amir, Zulfa memutuskan untuk menunggu kakaknya di luar rumah. Sekalian ingin melihat dekorasi pelaminan.
Tentu saja setiap pergerakan Zulfa tak luput dari pantauan anak buah Dirga. Dia juga memotret Zulfa yang sedang duduk di dekat panggung pelaminan.
"Pantas saja, Tuan Dirga sampai tergila-gila pada gadis itu. Walaupun masih sekolah, tapi dia memiliki aura kecantikan yang alami," gumam anak buah Dirga sambil melihat-lihat hasil tangkapan kameranya.
"Hai, boleh duduk di sini nggak?" tanya Iwan, sepupu Amir.
"Boleh, Mas. Silakan duduk!" jawab Zulfa dengan ramah.
"Kenalin, aku Iwan. Sepupunya Amir," ucap Iwan sambil menyodorkan tangannya.
"Aku Zulfa, adiknya Kak Zahra," balas Zulfa.
"Cantik!" puji Iwan spontan.
"Terima kasih," ucap Zulfa tersipu malu karena ini pertama kalinya dia mendapat pujian dari lawan jenis.
"Oh ya, kamu masih sekolah atau kuliah?"
"Sekolah, tapi sebentar lagi sudah mau lulus."
"Mau lanjut kuliah di mana?"
"Rencana mau ke Kota P, Mas."
"Satu kota dong dengan aku," sahut Iwan.
"Mas Iwan kuliah di sana juga?" tanya Zulfa.
"Enggak, aku dosen di sana," jawab Iwan sambil tersenyum.
"Oh, aku kira Mas juga kuliah di sana," ucap Zulfa.
"Kalau kamu mau, aku bisa bantu buat daftarin kamu ke sana," tawar Iwan.
"Iya, Mas. Nanti aja kalau udah selesai acara, kita bicarakan lagi. Enggak enak kalau aku nggak ngomong Kak Zahra dulu."
"Iya, nanti kamu kabari aku. Aku ke dalam dulu, ya!" pamit Iwan lalu beranjak dari kursi.
__ADS_1
"Iya, Mas," balas Zulfa.
Lagi-lagi, anak buah Dirga mengambil gambar Zulfa saat tengah membalas jabatan tangan Iwan dan tersenyum kala Iwan memujinya.
"Sepertinya saingan Anda banyak, Tuan," ucap anak buah Dirga. Dia langsung mengirimkan foto-foto Zulfa, sebelum dia yang kena semprot karena tidak kunjung memberi kabar.
*****
Brakkk
Dirga memukul meja di hadapannya dengan amarah yang siap meledak. Dimas yang mendengar suara itu langsung menghampiri Dirga ke ruangannya.
Ketika Dimas sudah membuka pintu, dia melihat wajah Dirga yang sudah merah padam menahan amarah.
"A-ada apa, Tuan?" tanya Dimas terbata-bata. Tanpa menjawab, Dirga menyodorkan ponsel miliknya agar Dimas melihat sendiri.
Dimas mengambil ponsel Dirga dengan tangan yang bergetar. Dia membuka kuncian layar ponsel Dirga, dan muncullah foto di mana Zulfa tengah tersenyum pada Iwan.
"Cantik!" puji Dimas tanpa sadar, yang membuat Dirga semakin murka lalu melemparkan bolpoin ke arah Dimas.
Cletak
"Aduh!" rintih Dimas sambil mengusap dahinya yang terkena lemparan bolpoin.
"Siapa yang nyuruh kamu untuk memuji gadisku?" geram Dirga.
"Berani kamu memuji ataupun mengagumi gadisku, habis kamu!" ancam Dirga dengan sorot mata tajam.
"Ba-baik, Tuan. Saya permisi dulu!" pamit Dimas lalu segera keluar dari ruangan Dirga yang suasananya semakin panas.
"Argghhhh, kenapa banyak sekali laki-laki yang mendekati dia? Bisa gila aku," gerutu Dirga sambil menyugar rambutnya kasar.
"Aku harus bergerak cepat agar gadis itu jatuh kepelukanku, tak akan aku biarkan laki-laki lain memilikimu," gumam Dirga.
-
-
-
-
Resepsi pernikahan pun sudah dimulai, pengantin juga sudah berada di pelaminan. Rangkaian acara demi acara berjalan lancar, kini saatnya untuk sesi foto bersama keluarga.
"Fa, naik yuk! Ikut foto sekalian," ajak Iwan yang menghampiri Zulfa.
__ADS_1
"Nggak usah, Mas. Aku di sini aja, kalau Mas Iwan mau ikut, ikut aja," tolak Zulfa.
"Ayolah, Fa! Jangan gitu, kamu kan juga keluarga Amir."
"Tapi, Mas."
"Enggak ada tapi, ayo!" Iwan meraih tangan Zulfa lalu mengajaknya ke pelaminan untuk foto bersama.
Sepertinya kali ini akan menjadi hari menyebalkan bagi Dirga. Sebab posisi Zulfa saat foto berada didekat Iwan, tepatnya di sebelah pengantin wanita.
Tak terasa, acara resepsi sudah selesai. Amir dan Zahra sudah berada di kamar pengantin. Kini tinggal Zulfa yang masih berada di luar rumah, duduk termenung di tengah gelapnya malam.
"Kenapa masih di sini? Jangan terlalu sering kena angin malam!" ucap Iwan sambil menyampirkan jaketnya pada Zulfa.
"Iya, Mas. Cuma lagi pengen lihat bintang aja." Keduanya saling diam karena bingung harus memulai pembicaraan.
"Mas!" panggil Zulfa.
"Iya, Fa."
"Boleh minta tolong nggak?"
"Minta tolong apa?"
"Aku pengen pulang aja, enggak enak kalau harus ikut nginap di sini. Tapi aku takut pulang sendiri."
"Kamu jangan ngada-ngada deh, Fa. Ini udah mau tengah malam, ngapain juga mesti pulang? Kan masih ada tempat untuk tidur," ucap Iwan yang membuat Zulfa langsung menundukkan kepalanya.
"Bukannya aku nggak mau antar, tapi kalau ada orang lihat dan salah paham malah runyam nantinya," imbuh Iwan ketika melihat wajah murung Zulfa.
"Iya, Mas. Maaf."
"Enggak apa-apa. Mending kamu sekarang masuk terus tidur. Besok kita bahas masalah pendaftaran kamu ke kampus."
"Iya, Mas. Aku masuk dulu!" pamit Zulfa.
"Pakai aja jaketnya!" pinta Iwan ketika Zulfa akan melepas jaket miliknya.
"Ini kan punya Mas Iwan."
"Pakai aja! Aku masih ada jaket satu lagi."
"Makasih, Mas." Setelah mengucapkan itu, Zulfa masuk ke rumah dengan jaket yang masih melekat di tubuhnya.
Iwan yang sudah tak melihat Zulfa lagi, langsung menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
__ADS_1
"Sepertinya, aku menyukaimu, Fa. Saat pertama kali melihatmu, aku begitu terpesona dengan sikapmu yang sopan dan sifatmu yang lemah lembut," batin Iwan lalu memejamkan matanya, meresapi perasaan yang sedang dia rasakan.
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian, berikan like dan komen ya ๐๐๐