
Usai mendapat penolakan dari Zulfa, sikap Dirga berubah dingin dan terkesan acuh. Zulfa sendiri juga menyadari akan perubahan sikap atasannya itu, semua karena Zulfa yang menolak lamaran dari Dirga.
Zulfa hanya tak ingin Dirga menyesali keputusannya, jika wanita yang dia nikahi tak akan hidup lama. Daripada harus melihat kesedihan Dirga disaat masa-masa bahagia, lebih baik dia mundur sebelum semua terjadi.
Dirga yang biasanya selalu mengajak makan siang Zulfa, sekarang memilih untuk makan siang diluar dengan Dimas. Namun, Zulfa tak terlalu mengambil hati hal itu, mungkin memang ini yang terbaik untuk mereka.
Saat akan menuju kantin, ada pesan masuk dari ponsel Zulfa. Ternyata, Iwan ada di depan kantor membawakan makan siang untuk Zulfa.
"Mas Iwan, nggak perlu repot begini," ucap Zulfa saat sudah menemui Iwan.
"Enggak apa-apa, dulu kamu sering kasih aku bekal kalau ke kampus. Dan sekarang gantian aku yang kasih kamu bekal, mumpung aku masih di sini."
"Terima kasih, Mas. Aku balik ke dalam, ya! Nanti sore datang ke rumah, biar aku buatin sesuatu buat Mas Iwan!"
"Ok, aku duluan. Semangat bekerja!" ucap Iwan lalu melajukan motornya meninggalkan Zulfa.
Zulfa langsung kembali ke ruangannya dengan membawa makan siang dari Iwan. Zulfa sangat senang, meskipun dia jauh dari keluarganya, masih ada orang lain yang memperhatikannya. Tanpa Zulfa sadari, Dirga menyaksikan sendiri saat Zulfa tersenyum ketika menerima pemberian Iwan.
Dirga sudah berusaha untuk tidak peduli, tapi semakin dia berusaha, rasa cintanya semakin tumbuh subur. Apalagi, saat melihat pemandangan tadi, hatinya sangat sakit. Dirga berpikir, apa karena lelaki itu Zulfa menolak lamarannya.
Selesai makan siang, Zulfa segera meminum obatnya sebelum Dirga dan Dimas kembali. Zulfa membuka bungkus obat lalu meminum obatnya, saat akan memasukkan obatnya ke dalam tas, ada yang merebut obat yang dia pegang.
"Pa-pak Dirga!" lirih Zulfa saat tahu Dirga sudah ada di depan mejanya.
"Obat apa ini?" tanya Dirga masih dengan ekspresi dinginnya.
"Bu-bukan obat kok, Pak. Hanya suplemen dan vitamin," sanggah Zulfa berusaha bersikap setenang mungkin.
"Kamu nggak bisa berbohong, Zulfa! Dari ekspresi wajahmu sudah kelihatan, kalau kamu sedang menyembunyikan sesuatu," ujar Dirga.
"Saya nggak bohong, Pak. Itu memang benar vitamin," ucap Zulfa masih berusaha mengelak.
"Ikut saya, sekarang!" ucap Dirga lalu menarik tangan Zulfa agar mengikutinya.
__ADS_1
Dirga membawa Zulfa masuk ruangannya lalu mengunci pintunya agar tak ada yang bisa masuk. Dirga mendorong tubuh Zulfa hingga ke dinding kemudian mengungkungnya.
"Sekarang jawab jujur! Apa yang sedang kamu sembunyikan?"
"Saya tidak menyembunyikan apapun, Pak!" elak Zulfa.
"Baiklah, kalau kamu masih kukuh dengan pendirianmu, maka saya sendiri yang akan mencari tahu tentang obat ini."
"Ja-jangan, Pak!"
"Apa ini ada hubungannya dengan penolakan kamu waktu itu?"
Terpojok, Zulfa bingung harus berbuat apa, ibarat maju kena mundur kena. Jika dia tak jujur, maka Dirga akan bergerak untuk mencari tahu. Pun sebaliknya, jika dia jujur maka akan ada banyak orang yang tahu tentang penyakitnya.
Zulfa hanya bisa menundukkan kepalanya karena dilanda kebimbangan. Dirga menyentuh dagu Zulfa agar menatap wajahnya.
"Kenapa? Apa benar yang aku katakan?" Dirga mulai berbicara non formal dengan Zulfa.
Melihat sorot mata Dirga membuat Zulfa tak sanggup membendung air matanya, Dirga segera merengkuh tubuh Zulfa ke dalam pelukannya. Dirga mengelus kepala Zulfa agar tenang, dan membiarkan Zulfa mengurangi beban yang ditanggungnya.
"Aku mohon, Fa! Katakan yang sebenarnya! Apa yang sedang kamu sembunyikan?" tutur Dirga dengan menangkup kedua pipi Zulfa.
"Sebenarnya, sa-saya mengidap leukimia."
"Leukimia? Sejak kapan?" tanya Dirga.
"Dua tahun yang lalu, saat masih kuliah."
Sudah selama itu, tapi Dirga tak tahu sama sekali. Tunggu! Dirga kembali mengingat saat Marco memberinya jika Zulfa dirawat di rumah sakit. Mungkinkah, sejak saat itu?
"Apa keluargamu sudah tahu?" tanya Dirga, tapi Zulfa hanya menggeleng.
"Lalu siapa yang menemani kamu saat harus berobat?"
__ADS_1
"Mas Iwan," lirih Zulfa.
"Pria yang datang ke sini waktu itu?"
"Iya, dia yang membawa saya ke rumah sakit saat pertama kali tahu kalau divonis leukimia."
Mendengar ucapan Zulfa, Dirga sangat cemburu karena dia bukan orang pertama yang mengetahui kondisi Zulfa.
"Kenapa kamu tidak memberitahu keluargamu?"
"Saya nggak mau membuat mereka harus ikut menanggung sakit yang saya rasakan."
"Mereka juga berhak tahu kondisi kamu," ucap Dirga.
"Saya tahu, tapi cukup kali ini mereka tak harus tahu keadaan saya. Jika sewaktu-waktu saya pergi, mereka tak akan kerepotan harus merawat saya yang penyakitan."
"Kamu ngomong apa? Apa kamu Tuhan yang bisa menentukan umur seseorang?
Kamu pasti sembuh! Aku yang akan mengusahakan mencari pengobatan untuk kamu sampai sembuh."
"Jangan! Percuma, penyakit ini sudah semakin menggerogoti tubuh saya. Bapak nggak perlu membuang uang dan waktu hanya untuk pengobatan saya."
"Jadi, ini alasan kamu menolak lamaranku?"
"Iya, saya hanya nggak ingin Bapak menyesal dikemudian hari ketika tahu umur saya tak lama lagi."
"Memangnya aku pernah bilang jika mencintaimu karena ada apanya? Aku tulus mencintai kamu, Fa. Apapun kondisimu aku terima dengan ikhlas."
"Saya nggak pantas jadi pendamping Bapak, Bapak terlalu sempurna untuk saya yang lemah ini.
Saya hanya ingin pergi dengan tenang, tanpa membebani orang lain."
"Cukup, Fa! Hentikan omong kosongmu itu! Aku akan tetap menikahi kamu apapun kondisimu, jika perlu saat ini juga kita menikah."
__ADS_1
"Pak!"
"Berhenti memanggil saya Bapak! Karena kamu akan menjadi pendamping hidupku dan itu berarti aku bukan atasanmu lagi."