Impian Gadis Yang Malang

Impian Gadis Yang Malang
Bab 12


__ADS_3

Pukul 5 pagi, Zahra sudah bersiap untuk dirias. Ijab qabul kali ini akan dilaksanakan di masjid yang ada di kampung itu.


Zulfa juga sudah bersiap dengan kebaya berwarna soft pink, serta rok panjang yang bermotif batik. Dia terlihat sangat cantik dan anggun, walau terkesan simpel.


Tepat pukul 7, Zahra sudah selesai dirias dan memakai kebaya. Zulfa menemui kakaknya untuk mengiringi bersama periasnya.


"Cantik!" puji Zulfa ketika sudah di kamar kakaknya.


"Terima kasih, Dek. Kamu juga cantik banget."


Zulfa langsung menggandeng tangan kakaknya lalu mereka bersiap berangkat ke masjid.


Sementara tak jauh dari rumah Zulfa, anak buah Dirga masih setia memperhatikan setiap kegiatan Zulfa. Kemana pun Zulfa melangkah, dia pasti akan terus mengikuti layaknya bayang-bayang yang tak kasat mata.


Sesampainya di masjid, Zahra langsung diantar ke dalam untuk melaksanakan ijab qabul. Amir dan kedua orang tuanya juga sudah ada di sana.


Zahra duduk di samping Amir yang berhadapan langsung dengan penghulu. Setelah dirasa semua sudah hadir, acara ijab qabul pun dimulai.


"Bismillahirrahmanirrahim, saya nikahkan dan kawinkan engkau Amir Rasyidi bin Sudrajat dengan Zahra Khairunisa binti Sudarto, dengan mas kawin emas seberat 15 gram dan uang satu juta rupiah dibayar tunai."


"Saya terima nikahnya Zahra Khairunisa binti Sudarto dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" ucap Amir dengan lantang dan lancar.


"Bagaimana para saksi? Sah?"


"Sah."


"Sah."


"Alhamdulillahirabbilalamin," ucap semua orang yang ada di sana. Penghulu lanjut memanjatkan do'a setelah ijab qabul dan mendo'akan pasangan suami istri baru itu.


"Selamat, sekarang kalian telah sah menjadi sepasang suami istri," ucap penghulu.


Zulfa yang merasa terharu langsung meneteskan air matanya. Kakaknya kini telah menemukan jodohnya.


Dia berdo'a semoga kelak rumah tangga kakaknya selalu bahagia dan rukun, walaupun akan ada badai menerpa nantinya.


"Selamat, Kak. Akhirnya, kakak menemukan pelabuhan cinta yang selama ini selalu ada disetiap do'a kakak," batin Zulfa sambil mengusap air matanya.


-

__ADS_1


-


-


-


Sementara itu, di sebuah ruangan yang ada di kantor pusat. Dirga tengah uting-uringan sebab anak buahnya belum memberikan informasi padanya.


Dia lantas mengambil ponsel dan mengetikkan sesuatu.


Kamu di mana? Kenapa belum ada info masuk sejak tadi? Begitulah isi pesan Dirga.


Ting


Sebuah balasan masuk pada ponselnya, anak buahnya mengirimkan foto ketika ijab qabul berlangsung di masjid tadi.


Brakkk


Dimas yang kebetulan baru masuk ruangan Dirga langsung terlonjak kaget. Dirga tampak menahan emosi lantaran melihat foto tadi tanpa bertanya dulu apa yang sebenarnya terjadi.


"Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya Dimas dengan hati-hati. Namun, bukan jawaban yang dia dapatkan, melainkan tatapan nyalang yang siap menerkam mangsanya.


Dimas seketika kesulitan menelan ludahnya. Akhirnya, dia memutuskan diam daripada nyawanya terancam karena kemarahan Dirga.


Tanpa menunggu lama, Dirga langsung menghubungi anak buahnya itu.


"Foto pernikahan siapa yang kamu kirimkan itu?" tanya Dirga tanpa basa basi.


"Itu pernikahan kakaknya gadis itu, Bos. Sejak tadi saya tidak mengirim informasi karena memang gadis itu baru keluar rumah untuk mengantar kakaknya," jelas anak buah Dirga.


Dirga menghela napas lega sebab apa yang dia pikirkan tidak terjadi. Ya, dia menyangka jika itu adalah pernikahan Zulfa dengan Bryan.


"Baiklah, kalau saja itu pernikahan gadisku maka kepalamu sudah terpisah dengan tubuhmu saat ini juga. Karena kamu sudah lalai dalam menjalankan tugasmu," tukas Dirga penuh penekanan lalu mematikan panggilannya secara sepihak.


"Sejak kapan kamu di sini, Dim?" tanya Dirga dengan santainya. Sementara Dimas langsung melongo mendengar pertanyaan konyol bosnya itu.


"Apakah Anda amnesia, Tuan? Bahkan Anda sudah memberikan tatapan nyalang pada saya," gerutu Dimas dalam hati.


"Baru saja, Tuan. Saya ingin menanyakan apakah anda membutuhkan sesuatu?"

__ADS_1


"Hem, buatkan aku secangkir kopi dan roti panggang!" pinta Dirga sambil duduk di kursi kebesarannya.


"Baik, Tuan," jawab Dimas lalu keluar dari ruangan Dirga.


Setelah di luar ruangan, Dimas berjalan sambil menggerutu.


"Untung saja Anda bos saya, kalau bukan mungkin sudah ku tendang dari sini. Jatuh cinta tapi seperti orang gila."


****


Setelah pelaksanaan ijab qabul tadi, kini keluarga Amir dan juga kerabatnya menuju rumah Zahra.


"Mas Amir pinter cari istri, udah cantik, baik, rajin, pinter masak lagi," puji salah satu sepupu Amir.


"Kamu benar, Zahra memang gadis yang luar biasa tangguh. Itulah yang membuat Mas Amir semakin yakin untuk menikahinya," imbuh Amir sambil menggenggam tangan Zahra.


"Oh ya, katanya Zulfa udah selesai ujian. Rencana mau lanjut kuliah di mana?" tanya Ibu Amir.


"Rencana mau lanjut kuliah di Kota P, Bu."


"Kok jauh banget. Kenapa nggak di kota sini aja?"


"Zulfa mau belajar mandiri, Bu. Zulfa nggak mau terlalu bergantung dengan Kak Zahra, apalagi Zulfa udah beranjak dewasa nggak mungkin kalau harus ngerepotin kakak terus," jelas Zulfa.


"Dek!" Tegur Zahra.


"Udah berapa kali Kakak bilang? Kamu itu sudah jadi tanggung jawab Kakak, nggak ada kata repot ataupun susah bagi Kakak jika itu menyangkut masa depan kamu," tegas Zahra dengan mata yang berkaca-kaca.


Sementara Zulfa hanya bisa menundukkan kepalanya menahan tangis. Sebenarnya dia memang tak bisa jauh dari kakaknya, tapi apa boleh buat dia harus bisa jadi anak yang mandiri.


"Sudah, Ra. Biarkan adikmu mencoba menikmati masa mudanya, asalkan masih dalam batas kewajaran," sela Bapak Amir.


"Bapak benar, Ra. Zulfa kelak akan menjalani kehidupan seperti kamu, menikah dan memiliki keluarga sendiri. Dia tidak mungkin terus bergantung pada kamu," imbuh Amir sambil mengelus bahu Zahra yang mulai bergetar karena menahan tangisnya.


"Kak, aku janji akan selalu jadi adik kecil Kakak. Tapi untuk kali ini biarkan aku belajar untuk menentukan masa depanku kelak," ucap Zulfa yang sudah bersimpuh di hadapan Zahra.


Tanpa menjawab perkataan adiknya, Zahra langsung menarik Zulfa dalam pelukannya. Keduanya menangis tersedu-sedu, sungguh bukan takdir hidup seperti ini yang mereka inginkan.


Mereka layaknya anak yatim piatu yang tak memiliki arah dan tujuan. Meskipun, mereka masih memiliki seorang ibu, tapi nyatanya sejak kepergiannya hingga sekarang tak ada kabar yang mereka terima dari ibunya.

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komen ๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2