
15 tahun kemudian
Tak terasa Assyifa yang dulu seorang gadis kecil yang manis, kini telah beranjak dewasa. Di usianya yang ke 22 tahun ini, dia tengah menempuh pendidikan di sebuah universitas di Kota P. Universitas yang menjadi tempat Zulfa menimba ilmu, hingga dia bisa dipertemukan dengan Dirga.
Awalnya, Dirga ingin Assyifa melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Namun, hal itu ditolak oleh Syifa sendiri, dengan alasan tak ingin meninggalkan tempat dia dilahirkan. Hingga akhirnya, Dirga menyetujui keputusan sang putri.
"Pagi, Ma, Pa," sapa Assyifa yang sudah rapi.
"Pagi, Sayang. Tumben sudah rapi, mau ke mana?" tanya Dirga.
"Aku mau ke luar, Pa."
"Ke mana? Sama siapa?" cecar Dirga.
"Cuma ke mall bareng temen Syifa, Pah. Setelah itu terus pulang."
"Papa akan izinkan kamu ke luar asal dengan teman perempuan, kalau ada teman laki-laki sebaiknya kamu nggak usah pergi."
"Papa kok gitu, sih. Kan aku udah janjian sama mereka," protes Syifa.
"Sudah-sudah, sebaiknya kita sarapan dulu," ucap Zulfa menengahi obrolan suami dan putrinya.
Usai sarapan, Assyifa pergi ke dapur untuk menemui Zulfa yang sedang mencuci piring bekas sarapan tadi.
"Mama!" panggil Assyifa.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Ada apa?" Zulfa menyahuti panggilan sang putri tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Bujuk papa, ya, Ma! Kasihan teman-teman Syifa, mereka pasti nungguin."
Zulfa menghentikan kegiatannya mencuci piring, lalu menghampiri putrinya.
"Syifa, mama dan papa nggak akan melarang kamu pergi dengan teman kamu. Asalkan itu teman perempuan."
"Terus gimana, Ma?" tanya Assyifa dengan lesu.
"Ajak Abang Reyhan buat temenin kamu, ya."
"Bang Reyhan nggak bisa, Ma. Kemarin Syifa udah hubungi abang, tapi dia mau ke rumah temannya."
Zulfa terdiam sejenak memikirkan sesuatu, kemudian berkata, "Biar mama hubungi Samuel, semoga aja dia nggak sibuk."
"Kenapa lagi?"
"Males pergi sama Kak Muel, dia orangnya cuek banget."
"Sekarang kamu pilih mana? Pergi ditemani Samuel atau batalin acara kamu," tawar Zulfa.
"Ya udahlah, daripada nggak jadi pergi."
Akhirnya, Zulfa ke kamar untuk menghubungi Samuel. Samuel adalah anak pertama Iwan dan Anis, meski mereka jauh, tapi komunikasi tetap berjalan dengan baik.
__ADS_1
"Kamu telepon siapa, Ma?" tanya Dirga.
"Samuel, Pa."
Dirga mengerutkan keningnya mendengar jawaban sang istri.
"Mau ngapain?"
"Buat temenin Syifa ke luar bareng temannya. Soalnya Reyhan ada acara sendiri."
......................
Di sebuah mall, Assyifa beserta teman-temannya sedang menuju bioskop. Sementara Samuel hanya mengikuti dari belakang layaknya pengawal.
"Syifa, dia abang yang pernah kamu ceritain itu bukan?" bisik Keysa, teman Assyifa.
"Iya, tapi dia anak om dan tante. Kalau Abang Reyhan orangnya ramah dan humoris."
"Emangnya dia enggak ramah?" lanjut Keysa bertanya.
"Dia orangnya cuek, dingin, tapi akan jadi sosok yang hangat kalau lagi bareng keluarga."
Sesampainya di bioskop, Assyifa membeli tiket lebih dulu, sedangkan Keysa membeli camilan. Dan Samuel hanya mengawasi Assyifa dari tempat yang tak terlalu jauh.
Tiba-tiba Andri mendekati Assyifa karena ingin tahu film apa yang akan ditonton. Namun, hal itu justru membuat Samuel mengepalkan kedua tangannya. Dia paling tidak suka jika ada pria yang mendekati Assyifa, meskipun itu teman Assyifa sendiri.
__ADS_1
Saat akan melangkahkan kakinya menyusul Assyifa, Keysa sudah datang dengan membawa camilan. Samuel pun mengurungkan niatnya, kemudian berjalan di samping Assyifa untuk ikut masuk bioskop.