
Zulfa mulai mengganti bajunya di kamar, kemudian dia merebahkan diri di kasur. Sebenarnya dia bingung, kenapa tidak ada seorangpun yang melamar di perusahaan besar tadi.
"Kok aneh, ya. Kalau memang membuka lowongan pekerjaan, seharusnya ada peserta yang melamar, kan," gumam Zulfa.
Semua memang sudah direncanakan dengan baik oleh Dirga, setelah dia mendengar perkataan Dimas jika Zulfa akan datang ke kantor, Dirga langsung memanggil security dan resepsionis agar ke ruangannya.
Dirga memberi perintah pada security dan resepsionis jika ada seorang gadis yang bertanya tentang lowongan pekerjaan, maka mereka harus menjawab sesuai yang dikatakan Dirga.
"Assalamualaikum!" ucap seseorang.
"Wa'alaikumsalam, sebentar!" sahut Zulfa.
Zulfa langsung beranjak dari rebahannya dan membukakan pintu.
"Bryan! Ada perlu apa ke sini?" tanya Zulfa.
"Ada yang mau aku bicarakan, Fa," jawab Bryan.
"Maaf, aku lagi sibuk. Lebih baik kamu pulang karena aku nggak mau dicap sebagai pelakor," ujar Zulfa lalu menutup pintu rumah, tapi tangan Bryan mencoba menghalanginya.
"Fa, aku mohon kasih aku waktu untuk bicara!" pinta Bryan sambil menahan pintu yang akan ditutup Zulfa.
"Enggak ada yang perlu dibicarakan, apalagi status kamu sekarang sudah suami orang. Jadi, aku harap kamu sadar akan posisi kamu," ketus Zulfa.
Tak jauh dari rumah, Zahra dan Amir yang melihat Bryan berusaha membuka pintu langsung menghampiri.
"Ada apa ini? Bryan, ngapain kamu ke sini? Ada perlu apa?" cecar Zahra.
Zulfa yang mendengar suara kakaknya langsung lega, dia meminta kakaknya agar menyuruh Bryan pergi dari rumah mereka.
"Mbak Zahra! Aku ada perlu sebentar dengan Zulfa," ucap Bryan.
"Maaf, Bry. Bukannya saya nggak menghargai kamu, tapi kamu itu sudah punya istri. Nggak baik kalau bertamu ke sini hanya untuk berbicara dengan Zulfa.
Apa kata orang kalau ada yang tahu kamu di sini sedang berduaan dengan Zulfa, meskipun hanya mengobrol?" jelas Zahra.
"Sebaiknya kamu pulang, Bry! Dan jangan datang lagi kalau hanya ingin menimbulkan masalah bagi keluarga kami," imbuh Amir.
__ADS_1
Dengan berat hati dan rasa kecewa, Bryan pun meninggalkan rumah Zulfa dengan perasaan hancur. Dia hanya ingin menjelaskan yang sebenarnya terjadi karena dia tidak ingin kehilangan Zulfa. Karena kejadian setahun lalu, dia harus terikat pernikahan dengan orang yang paling dia benci, yakni Rosa.
#flashback on
Malam ini Bryan mendapatkan undangan reuni dari teman SMA, acaranya memang digelar di sebuah hotel karena yang membiayai acara tersebut adalah Rizky, salah satu murid yang berasal dari keluarga kaya.
Saat itu, Bryan hanya datang sendiri karena Zulfa tak bisa hadir. Sesampainya di sana, Bryan langsung bergabung dengan teman-temannya yang lain.
Dan tak jauh dari tempat Bryan, Rosa tengah tersenyum licik sambil memandang Bryan.
"Sebentar lagi kamu akan jadi milikku selamanya, Bry," gumam Rosa.
Rosa mendatangi pelayan yang akan mengantarkan minuman pada tamu, dia membisikkan sesuatu pada pelayan itu sambil menunjuk ke arah Bryan lalu memberikan sebuah botol kecil, entah apa isinya.
Pelayan itu langsung mengangguk paham dengan apa yang dibisikkan Rosa, setelah itu Rosa meninggalkan pelayan yang akan mengantarkan minuman.
Pelayan yang diperintahkan Rosa, memberikan minuman yang telah dicampur dengan sesuatu yang diberikan oleh Rosa tadi.
Bryan yang menerima minuman itu langsung meneguknya karena kebetulan dia sedang haus. Tak lama kemudian, Bryan terlihat sedang memegangi kepalanya dengan tubuh yang sempoyongan.
"Kepalaku tiba-tiba pusing," jawab Bryan yang kemudian langsung terjatuh karena pingsan.
"Bryan!" teriak teman Bryan.
Dia berusaha membangunkan Bryan, tapi tak kunjung sadar. Tiba-tiba Rosa datang menghampiri mereka.
"Bryan kenapa?" tanya Rosa pura-pura tak tahu.
"Dia tiba-tiba pingsan," jawab teman Bryan.
"Sebaiknya bawa dia ke kamar yang ada di hotel ini, biar aku yang ke tempat resepsionis," ucap Rosa lalu diangguki teman Bryan tanpa ada rasa curiga.
Usai memesan satu kamar, Rosa langsung menuju kamar yang dipesan. Dia membuka pintu kamar lalu meminta teman Bryan agar Bryan dibaringkan di ranjang.
"Sebaiknya kalian kembali ke acara, biar aku yang jaga Bryan," pinta Rosa.
"Baiklah, kita kembali ke aula," ucap teman Bryan.
__ADS_1
Setelah teman Bryan pergi, Rosa langsung menutup pintu kamar dan menguncinya.
"Akhirnya, kamu masuk dalam perangkapku," ucap Rosa dengan senyum liciknya.
Dia melangkah mendekati Bryan, lalu membuka semua pakaian yang dikenakan Bryan. Usai membuka pakaian Bryan, kini giliran dirinya yang membuka pakaiannya sendiri lalu ikut berbaring di sebelah Bryan yang tak sadarkan diri. Tak lupa, Rosa menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
#flashback off
Karena kejadian itulah, mau tidak mau Bryan harus bertanggung jawab. Namun, dia sangat yakin jika malam itu tidak terjadi apa-apa antara dia dan Rosa.
Setelah Bryan sudah pergi, Zulfa mengelus dadanya. Sementara Zahra memandang Zulfa dengan tatapan tajamnya, hal itu langsung membuat Zulfa takut jika kakaknya akan marah karena kedatangan Bryan tadi.
"Duduk, Kakak mau bicara!" Zahra berkata tanpa melihat adiknya lalu dia duduk di kursi ruang tamu.
Zulfa pun duduk berhadapan dengan kakak dan kakak iparnya. Bahkan, Zulfa tak berani menatap wajah kakaknya, dia hanya menundukkan kepala sambil meremas kedua telapak tangannya.
"Sekarang jelaskan! Ada hubungan apa kamu dengan Bryan?" tanya Zahra.
"A-aku nggak ada hubungan apapun dengan Bryan, Kak," jawab Zulfa dengan pelan.
"Jangan bohong! Kalau kalian nggak ada hubungan apapun, lalu untuk apa Bryan bela-belain datang ke sini dan ingin menemui kamu?" cecar Zahra dengan dada yang bergemuruh menahan emosi.
"Demi Allah, Kak! Aku nggak punya hubungan apapun dengan Bryan."
Ya, memang selama ini Zulfa tak memiliki hubungan khusus dengan Bryan. Karena Zulfa tak ingin berpacaran, dia ingin fokus pada kuliahnya. Bisa dikatakan, kalau keduanya hanya menjalani hubungan tanpa status.
"Lalu, kenapa Bryan datang ke sini?" tanya Zahra yang seakan memaksa.
"Kak! Harus berapa kali aku bilang? Aku nggak pernah menjalin hubungan apapun dengan Bryan, lalu apa yang harus aku jelaskan?
Kalau memang kakak merasa nggak nyaman dan terganggu karena masalah tadi, aku akan pergi dari rumah. Maaf, kalau kepulanganku hanya mendatangkan masalah," pungkas Zulfa lalu beranjak ke kamarnya dengan hati yang terluka.
Dia merasa bahwa kakaknya sudah mulai tak percaya padanya, harusnya dia tak perlu kembali ke sini, kalau akhirnya akan menimbulkan masalah.
Setibanya di kamar, Zulfa langsung mengemasi pakaiannya ke dalam tas. Dia juga membawa semua berkas penting miliknya, dan yang paling utama adalah obat yang harus dia konsumsi setiap harinya.
Zulfa menatap seluruh sudut ruangan kamarnya, hatinya sangat sakit harus meninggalkan tempat yang menjadi saksi hidupnya selama ini.
__ADS_1