Impian Gadis Yang Malang

Impian Gadis Yang Malang
Bab 26


__ADS_3

Setelah 3 hari dirawat di rumah sakit, pagi ini Zulfa sudah diperbolehkan untuk pulang dengan catatan harus rutin minum obat dan kontrol.


Berhubung Iwan harus masuk pagi, Zulfa pulang dijemput oleh Anis yang kebetulan shift siang.


"Maaf ya, Mbak. Jadi ngerepotin," ucap Zulfa sambil membantu Anis membereskan keperluannya.


"Santai aja, Fa. Anggap aja kita ini saudara, jadi sudah sewajarnya saling membantu."


Zulfa tersenyum menanggapi perkataan Anis, bahkan matanya juga ikut berkaca-kaca karena teringat dengan kakaknya.


"Fa, kenapa nangis? Apa ada yang sakit?" tanya Anis dengan raut wajah khawatir.


Sementara Zulfa hanya menggelengkan kepalanya tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.


Anis langsung memeluk Zulfa sambil mengusap lembut rambutnya untuk memberikan kenyamanan. Dan benar saja, setelah di pelukan Anis, Zulfa menumpahkan air matanya.


"Ada apa, Fa? Apa ada sesuatu yang mengganjal di pikiran kamu?"


"Aku rindu kakakku, Mbak. Kalau aku sakit, dia selalu menemani dan merawatku sampai sembuh."


"Lalu, kenapa kamu nggak hubungi kakakmu saja?"


"Aku nggak mau merepotkan kakak, Mbak. Selama ini dia sudah berjuang dan berkorban untuk aku, biarkan dia bahagia dengan keluarga kecilnya tanpa harus tahu kondisiku sekarang."


"Fa, tapi biar bagaimanapun kakakmu wajib tahu kondisi kamu yang sebenarnya. Mau sampai kapan kamu akan bersikap baik-baik saja, tapi kenyataannya malah sebaliknya."


"Aku nggak mau kakak sedih karena tahu penyakitku, aku nggak mau kakak terpuruk karena aku."


"Tapi dia akan hancur ketika tahu kebenarannya disaat kamu semakin drop. Dia akan merasa gagal menjadi kakak yang baik, yang selalu ada buat kamu saat senang dan susah.


Dia pasti akan merasa bersalah, disaat dia sedang hidup bahagia dengan keluarga kecilnya, tapi kamu malah mengalami hal sebaliknya."


"Sebaiknya kamu jujur tentang kondisimu sekarang, jangan membuat kakakmu hidup dalam penyesalan," sambung Anis.

__ADS_1


"Permisi! Saya mau cek tekanan darah Nona Zulfa dulu!" ucap suster, membuat Zulfa langsung melepas pelukan Anis dan menyeka air matanya.


"Baik, Sus. Silakan!"


Anis memberikan ruang agar suster bisa mengecek tekanan darah Zulfa dengan leluasa.


"Tekanan darahnya normal, terapkan pola hidup sehat dan yang penting obatnya jangan sampai lupa diminum," ucap suster.


"Baik, Sus," jawab Zulfa.


"Baiklah, saya permisi dulu. Semoga lekas sembuh!"


"Terima kasih, Suster."


Setelah suster keluar, Zulfa dan Anis bersiap meninggalkan rumah sakit. Mereka pulang dengan taksi online yang sudah dipesan Anis sebelumnya.


Sesampainya di kost, Zulfa diantar ke kamarnya langsung agar bisa istirahat. Sementara Anis bergegas ke dapur setelah mengantar Zulfa ke kamar.


Dia akan membuat makanan untuk Zulfa agar saat dia berangkat kerja, sudah ada makanan yang bisa dimakan Zulfa.


Hari-hari berlalu, Zulfa sudah mulai aktif masuk kuliah lagi. Meski begitu, dia tetap mengkonsumsi obat setiap harinya tanpa terlewat.


Saat di kampus dia diberondong pertanyaan dari temannya yang paling cerewet, siapa lagi jika bukan Giska. Karena dia akan sangat cerewet jika berhubungan dengan Zulfa.


"Kamu ke mana aja sih, Fa? Nggak kasih kabar sama sekali, dihubungi juga nggak bisa. Aku ke kost kamu tapi sepi nggak ada orang," cerocos Giska panjang lebar.


"Udah ngomongnya?" tanya Zulfa sambil menikmati segelas jus melon.


"Bisa nggak kalau tanya satu-satu? Pertanyaan satu paragraf diborong semua," sambung Zulfa.


"Hehe, habisnya aku khawatir banget sama kamu. Kamu sebenarnya sakit apa, sih?"


"Cuma kecapekan aja," jawab Zulfa dengan tenang.

__ADS_1


"Serius, cuma kecapekan? Kamu lagi nggak sembunyikan sesuatu dari aku kan, Fa?" tanya Giska dengan tatapan mengintimidasi.


Dia merasa tak percaya jika Zulfa hanya kecapekan. Karena dari raut wajah Zulfa terlihat sedang tidak baik-baik saja.


"Enggak, Gis. Aku cuma kecapekan aja nggak ada yang lain."


"Ok, tapi awas aja kalau sampai aku tahu kamu sembunyikan sesuatu dari aku!" gertak Giska.


"Udah, ah. Ke kelas aja, yuk! Nanti keduluan sama dosennya," ajak Zulfa lalu beranjak dari duduknya.


"Ayo!" balas Giska kemudian menyusul Zulfa yang berjalan lebih dulu.


****


3 tahun kemudian.


Hari ini akan menjadi hari yang bersejarah dalam hidup Zulfa. Ya, dia akan diwisuda setelah perjalanannya menempuh pendidikan di sebuah universitas yang ada di Kota P.


Tak tertinggal Zahra dengan suaminya serta Iwan yang akan menyaksikan berlangsungnya acara. Hingga tak lama kemudian acara dimulai.


Berbagai rangkaian acara sudah dilaksanakan, kini tiba saatnya pemandu acara membacakan nama mahasiswa yang menjadi lulusan terbaik dengan IPK tertinggi.


"Baiklah, hadirin sekalian. Tiba saatnya kita dipuncak acara yang mana, saya akan memanggil salah satu mahasiswa lulusan terbaik dengan IPK tertinggi, yakni saudari Zulfa Nabila."


Semua yang hadir langsung memberikan tepuk tangan meriah. Sementara Zulfa, dia merasa tak percaya jika akan menjadi lulusan terbaik di kampusnya.


Begitupun Zahra yang menyaksikan secara langsung acara itu, dia sangat bangga pada adiknya itu. Dia merasa usahanya untuk mengantarkan adiknya pada keberhasilan dalam pendidikan berhasil.


Zulfa langsung naik ke panggung untuk memberikan ucapan terima kasih.


"Sebelumnya, saya ucapkan rasa syukur pada Allah SWT karena atas ridho-Nya saya bisa sampai dipuncak ini. Tak lupa saya ucapkan terima kasih pada dosen yang telah membimbing sampai saat ini.


Dan hasil terbaik ini akan saya persembahkan untuk kakak saya, yang selalu mendukung dan membimbing sampai seperti ini. Terima kasih, Kak. Berkat pengorbanan Kakak, aku bisa berdiri di sini," ucap Zulfa diiringi tangis bahagia.

__ADS_1


__ADS_2