Impian Gadis Yang Malang

Impian Gadis Yang Malang
Bab 20


__ADS_3

Setibanya di kost, Zulfa bergegas mandi dan langsung istirahat. Selesai mandi dan berganti pakaian, dia merebahkan tubuhnya di kasur.


Dia memejamkan matanya untuk mengurangi rasa penat. Saat akan terbuai alam mimpi, Zulfa dikejutkan dengan bunyi ponselnya.


Dia segera meraih ponsel yang ada disampingnya, lalu melihat siapa yang menghubunginya.


"Assalamualaikum, Bry," sapa Zulfa setwlah menjawab panggilan telepon.


"Wa'alaikumsalam, Fa. Kamu lagi apa?"


"Lagi istirahat soalnya tadi aku masuk siang."


"Oh gitu. Gimana kuliahnya? Lancar kan?"


"Alhamdulillah untuk saat ini masih aman, Bry. Dan semoga tetap lancar sampai waktunya nanti."


"Aamiin. Yang penting jangan lupa berdo'a dan usaha, dan pastinya tetap semangat."


"Iya, Bry. Makasih ya."


"Sama-sama, Fa."


Untuk sesaat suasana hening, hingga ucapan Bryan memecah keheningan diantara keduanya.


"Aku kangen banget sama kamu, Fa. Seandainya kamu kuliah di sini pasti aku nggak bakal segalau ini, kita masih bisa ketemu walau cuma sebentar."

__ADS_1


"Kamu bisa aja, kalau udah waktunya pasti kita ketemu lagi kok. Kamu jangan khawatir, kan setiap hari juga komunikasi walau cuma lewat panggilan telepon."


"Iya, sih. Tapi lebih enak kalau face to face, bisa ngilangin penat pas lihat wajah kamu."


"Udah, ah. Jangan gombal mulu, udah berapa cewek yang kamu gombalin kayak gitu?"


"Astaga, aku nggak pernah gombalin cewek manapun kecuali kamu. Apa perlu aku buktiin ke kamu?"


"Bukti apa?"


"Bukti kalau aku cuma gombal ke kamu aja, atau aku datang ke rumah buat lamar kamu sekarang."


"Jangan ngaco kamu! Aku masih belum kepikiran buat nikah, aku masih pengen bahagiain kakakku dulu. Baru setelah itu aku pikirin perjalananku ke depannya."


"Padahal aku pengen langsung lamar kamu, biar nggak ada cowok lain yang lirik kamu."


"Baiklah, Tuan Putri. Kalau gitu aku tutup dulu teleponnya, kamu lanjut istirahat lagi. Assalamualaikum, kesayangan."


"Wa'alaikumsalam, Bryan."


Setelah panggilan terputus, Zulfa pun melanjutkan tidurnya.


***


Kumandang adzan maghrib, membangunkan Zulfa yang tidur nyenyak. Dia segera bangun lalu ke kamar mandi untuk mencuci muka.

__ADS_1


Setelah itu, dia menuju dapur untuk menghangatkan makanan yang tadi dibeli oleh Iwan saat perjalanan pulang.


Zulfa makan dengan lahap karena memang siang tadi hanya makan bakso saja. Selesai makan dia kembali ke kamar untuk mengambil buku. Dia menuju teras kost sambil membawa buku yang akan dibaca, sambil menikmati suasana malam.


"Hai, Mbak! Anak baru, ya?" sapa seorang gadis cantik yang seumuran dengan Zahra, kakaknya Zulfa.


"Iya, Mbak. Saya baru sebulan tinggal di sini. Silakan duduk, Mbak!"


"Terima kasih. Oh ya kenalin, aku Anis kamar kost ku ada di ujung sendiri," ucap Anis seraya mengenalkan dirinya.


"Saya Zulfa. Mbak di sini kuliah atau kerja?"


"Aku kerja di supermarket depan. Sebenarnya aku udah lama lihat kamu, tapi baru sekarang ada waktu buat kenalan."


"Iyakah? Maaf Mbak, saya enggak tahu. Soalnya jarang keluar, paling cuma ke warung depan aja."


"Enggak apa-apa, kamu kuliah Universitas P?"


"Iya, Mbak. Cari pengalaman baru sekalian belajar mandiri. Pengen bahagiain keluarga juga."


"Jarang, lho. Ada anak yang punya pemikiran kayak kamu gini. Semangat, ya. Pasti kamu akan menuai hasil yang lebih baik."


"Aamiin, terima kasih Mbak."


"Sama-sama. Kalau gitu aku balik, ya. Soalnya besok aku shift pagi."

__ADS_1


"Iya, Mbak."


Setelah Anis pergi, Zulfa melanjutkan membaca buku. Sampai waktu sudah semakin larut, Zulfa memutuskan untuk segera tidur agar tidak kesiangan.


__ADS_2