
Chap 10. Siapa Itu Eleanor?
"Benarkah?" tanya Nyonya Roberta tak percaya.
Dan Camila mengangguk malu-malu.
"Kalau begitu buat apa bertunangan? Kenapa tidak langsung menikah saja?"
Camila semakin tersenyum lebar mendengar kalimat yang dilontarkan Nyonya Roberta. Dan memang hal itulah yang ia inginkan selama ini. Sepanjang hubungannya dengan Ben, Nyonya Roberta lah yang paling antusias. Bahkan mungkin terobsesi ingin memiliki menantu putri seorang perdana menteri di negerinya.
"Ben mungkin tidak akan setuju, Nyonya Roberta," ucap Camila merubah raut wajahnya menjadi sedih.
"Kalau soal Ben, kau tidak perlu cemas. Biar calon mertuamu ini yang menanganinya. Kau tinggal berpangku kaki saja. Karena Ben tidak akan mungkin menolak permintaan ibunya. Hm?"
Camila kembali tersenyum. Ia sudah hapal betul seperti apa perangai Nyonya Roberta. Sehingga apapun tentang Ben, akan ia keluhkan kepada Nyonya Roberta. Sebab ia tahu, Ben tidak akan bisa menolak jika ibunya terus mendesaknya.
"Dan mulai sekarang, sebaiknya kau mulai membiasakan diri memanggilku Ibu. Hm?" ucap Nyonya Roberta mencubit gemas pipi mulus Camila.
Camila hanya tersenyum sembari mengangguk pelan. Akhirnya keinginannya untuk memiliki Ben seutuhnya hanya tinggal selangkah saja. Sungguh suatu keberuntungan menghampirinya begitu ia berhasil membuat Ben terjebak dalam permainannya. Hingga akhirnya Ben tak bisa mengendalikan diri, lalu berakhir dengan malam yang panas.
Camila merasa beruntung dengan menjadi putri perdana menteri. Apa pun yang diinginkannya akan mudah ia dapatkan. Termasuk seorang Benedict Cartier, seorang pria rupawan yang dikaguminya sejak lama.
"Tapi aku agak kecewa dengan Ben, Nyonya," keluh Camila memasang wajah muramnya sekali lagi.
"Kenapa, Sayang? Apa yang dilakukan Ben hingga membuatmu kecewa?"
"Wanita itu ..."
Nyonya Roberta mengerutkan dahi, menatap Camila serius. "Wanita itu? Ada apa dengan wanita itu?"
"Sepertinya Ben belum benar-benar melupakannya."
Nyonya Roberta membuang napasnya kasar. Gurat amarah pun mulai tergambar dari raut wajahnya.
"Apa Julian tidak mengerjakan tugasnya dengan baik?" gumam Nyonya dengan wajah kesal. Ia kemudian bangun dari duduknya sembari berkata,
"Kamu tunggu di sini dulu ya. Jangan pulang dulu. Aku hanya perlu menghubungi Julian sebentar saja."
"Iya, Nyonya Roberta. Aku tidak akan kemana-mana." Camila tidak perlu berkata banyak, Nyonya Roberta sudah mengerti apa yang ia maksud. Termasuk soal wanita masa lalu Ben.
...
Seperginya Elea, Ben masih dibuat tak tenang. Padahal Elea sudah meninggalkan ruangannya sejam yang lalu. Tetapi jantungnya masih saja berdegup tak karuan. Jantung itu tidak lagi berada pada kondisi yang aman sejak ia bertemu Elea.
Bayang wajah Elea malah bermain-main di benaknya, seolah mengusik ketenangannya saat ini. Entah dari mana datangnya wanita seperti Elea itu, yang mengaku-ngaku sudah dinikahinya dua tahun lalu.
__ADS_1
Bertemu Elea, tidak hanya membuat Ben penasaran, Elea bahkan telah membangkitkan gairah hidup Ben tanpa sadar. Baru kali ini ia bertemu wanita yang membuatnya tak tenang.
Ben berusaha menajamkan ingatan, mencari-cari sebagian memorinya yang hilang. Hatinya pun ikut bertanya-tanya, apakah benar ia telah menikahi Elea dua tahun yang lalu?
"Sial!" Ben mengumpat tak bisa mengingat apa pun, selain bayang-bayang samar seorang wanita misterius yang sering datang dalam mimpinya belakangan ini.
Ingin sekali Ben mengingat kembali apa yang terjadi kepadanya dua tahun lalu selain kecelakaan naas yang menimpanya waktu itu. Namun sayangnya, tak ada satupun yang bisa ia ingat. Semakin ia berusaha mengingat malah akan berujung frustasi. Meminta Julian membantu mengembalikan memorinya pun ternyata malah sama saja. Ia masih tidak bisa mengingat apapun.
Mengingat Julian, Ben pun berniat ingin menemuinya. Ben bangun dari kursinya, hendak mengayunkan langkahnya saat tiba-tiba pintu ruangannya didorong terbuka oleh seseorang dari luar.
Dari pintu itu datang Mark menghampiri sambil membawa sebuah map.
"Ada berkas yang harus Tuan tanda tangani," ucap Mark sembari mengangsurkan map tersebut kepada Ben.
Ben menerima map itu kemudian duduk kembali. Tanpa perlu berlama-lama Ben segera membubuhkan tanda tangannya lalu menyerahkan kembali map tersebut kepada Mark.
"Tuan mau ke mana?" tanya Mark melihat Ben bangun kembali dari kursinya dan hendak beranjak.
"Aku ada urusan sebentar."
"Perlu aku temani?"
"Tidak perlu. Aku hanya akan pergi menemui Julian. Oh ya ..." Ben menghentikan langkahnya di depan pintu untuk kemudian menoleh.
"Mengenai karyawan baru itu, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku," ucapnya.
"Ya, dia. Tolong kau cari tahu tentang perempuan itu. Aku ingin tahu semua informasi mengenai perempuan itu."
"Baik, Tuan."
"Dan satu lagi." Ben menajamkan tatapannya kepada Mark. Membuat Mark memilih menunduk daripada menerima tatapan mengintimidasi tuannya.
"Jangan kau beritahukan hal ini kepada ibuku!" seru Ben dengan memberi penekanan pada setiap katanya. Sebab Ben tahu ibunya senantiasa mengawasi setiap gerak-geriknya itu melalui asistennya.
"Baik, Tuan." Mark pun menyanggupi perintah Ben.
Ben bergegas keluar dari ruangannya. Disusul oleh Mark kemudian.
...
Elea sedang duduk termenung seorang diri setelah menyelesaikan pekerjaannya. Pikirannya masih dipenuhi oleh Ben. Ia masih belum bisa mengalihkan pikirannya oleh keanehan-keanehan yang ada pada Ben. Terutama mengapa Ben melupakannya selama ini.
Apakah ini yang menjadi penyebab mengapa selama dua tahun meninggalkan London, tak sekalipun Ben kembali mengunjunginya?
Bukan hanya melupakannya saja, Ben bahkan telah memiliki calon tunangan. Apakah Ben benar-benar telah melupakannya? Ataukah memang Ben tidak mencintainya sedari awal?
__ADS_1
Bila dipikir-pikir, jika memang Ben atasannya itu adalah Ben suaminya, maka wajar bila Ben enggan mengakui dirinya sebagai istri. Sebab ia bukanlah wanita yang pantas berada di sisi Ben. Ia hanyalah seorang wanita yatim piatu miskin. Seorang wanita yang berada di kasta terendah. Sedangkan Ben adalah seorang pria dari kalangan atas.
Sungguh akan menjadi sebuah perbedaan mencolok bila mereka tetap bersama. Dan Elea baru menyadari hal itu sekarang. Lantas apakah hal itu akan membuatnya menyerah?
Tentu saja tidak!
Sebelum Elea memastikan bila Ben atasan mereka itu adalah Ben suaminya. Elea tidak akan menyerah dan tidak akan mundur walau selangkah.
"Kau sedang memikirkan apa, El?" Jane datang mengagetkan Elea dan mengambil duduk di samping Elea.
"Banyak hal."
"Laki-laki misterius itu lagi?"
Elea cukup tersenyum getir sebagai jawaban atas pertanyaan Jane.
"Kau hanya membuang-buang waktu dan energimu saja dengan memikirkan laki-laki itu. Sudahlah, anggap saja laki-laki itu sudah tidak ada di dunia ini. Lagipula dia sendiri kan yang pergi meninggalkanmu? Jadi mulai sekarang berhenti memikirkan dia. Mengerti?"
Elea menghela napasnya pelan. "Tidak semudah itu aku melupakannya Jane." Sembari menundukkan wajahnya sedih.
Memang masih terlalu sulit bagi Elea melupakan Ben. Sebab Ben adalah pria pertama yang membuatnya jatuh hati. Meski sejujurnya ia kecewa dan sakit hati saat ditinggalkan, namun jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ia masih mencintai Ben.
...
Sementara di lain tempat.
Terkejut saat membukakan pintu, Julian hanya bisa terdiam. Bingung antara membiarkan Ben masuk ke dalam ruang kerjanya, atau mencari cara untuk menghindari Ben kali ini.
Pasalnya, beberapa saat lalu Nyonya Roberta menghubungi Julian. Dan lagi-lagi berpesan agar melakukan perintahnya dengan baik.
"Kenapa kau kaget dengan kedatanganku?" tanya Julian kemudian membawa langkahnya masuk tanpa menunggu Julian mempersilahkan.
Ben langsung mengambil duduk di kursi hipnoterapi seperti biasanya. Kedatangannya kali ini tiba-tiba, tanpa mengabari Julian terlebih dahulu. Jadi wajar saja bila Julian terkejut dengan kedatangannya.
"Apa yang harus kulakukan untukmu? Bukankah keadaanmu sudah jauh lebih baik?" Sembari Julian menghampiri dan mengambil duduk di sebuah bangku kecil di sebelah Ben.
"Kau sudah bisa menerima apa yang pernah terjadi kepadamu. Dan bahkan trauma mu itu perlahan sudah mulai menghilang. Lalu apalagi yang kau inginkan?" sambung Julian bertanya.
"Aku hanya ingin kau mengingatkanku kembali tentang seseorang," ucap Ben.
"Siapa?"
"Eleanor!"
Julian terdiam. Sejauh ini ia mengira nama itu tidak akan kembali muncul di dalam memori Ben. Lalu bagaimana bisa?
__ADS_1
"Siapa itu Eleanor?"
*