
Chap 46. CCTV
Jadwal kegiatan kerja Harvey untuk sebulan ke depan full. Ada beberapa kegiatan yang mengharuskan seorang Harvey Rodrigues didampingi istri tercintanya. Oleh sebab itulah, Catherine menjadi kesulitan menemukan waktu yang tepat untuk pergi menemui Elea.
Hari ini kebetulan ada rapat penting dengan presiden yang harus dihadiri Harvey. Tidak didampingi sang istri pun tidak masalah. Melihat kesempatan ini, Catherine pun tak ingin menyia-nyiakannya begitu saja.
Dengan melakukan penyamaran menggunakan hoodie dipadu celana jeans, kacamata hitam, serta tanpa menggunakan riasan Catherine keluar dari rumah diam-diam. Dengan bantuan kepala chief mansion nya, Catherine keluar melalui pintu belakang.
Di jalan belakang mansion itu telah menunggu taksi online yang telah dipesan kepala chief beberapa menit sebelumnya. Sembari celingukan ke kiri dan ke kanan, bergegas Catherine naik. Sejurus kemudian taksi tersebut melaju pergi membawa Catherine menuju Benedict Star Hotel. Tempat di mana Elea sedang bekerja.
...
Sementara itu ...
"Eleanor?"
Mendengar namanya dipanggil, Elea pun menghentikan langkahnya. Lalu memutar tubuhnya berhadapan dengan perempuan yang berpapasan dengannya.
Namun senyum Elea surut begitu melihat perempuan itu.
"Camila?" gumam Elea membatin. Ia lantas membungkukkan badannya sebagai bentuk rasa hormatnya kepada putri perdana menteri. Bukan sebagai calon istri atasannya, Ben.
"Kau yang menumpahkan wine di baju ibuku bukan?"
"Ya. Kau benar, Nona. Aku minta maaf. Aku sungguh tidak sengaja."
"Ibuku sudah bercerita tentangmu. Oh ya, Eleanor. Dari mana asalmu?" Dengan berpura-pura ramah Camila mungkin bisa mencaritahu tentang Elea secara langsung.
"London, Nona."
"London? Oh ya, sudah berapa lama kau bekerja di hotel ini?"
"Baru beberapa bulan, Nona."
"Di kota ini kau tinggal bersama siapa? Keluargamu?"
Elea mengulum senyum mendengar pertanyaan Camila. Jika tidak mengingat Camila adalah putri perdana menteri, Elea tidak akan sudi menjawab setiap pertanyaannya. Yang terlalu mengorek jauh tentang dirinya.
Sebetulnya Camila tengah menahan kesal saat ini. Mamun ia berusaha santun demi informasi yang ingin diketahuinya.
"Bersama sahabatku, Nona. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini," ucap Elea.
"Jadi kau yatim piatu?"
Elea cukup menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Sementara Camila terkejut, namun berusaha terlihat tenang. Dugaannya sejak awal ternyata benar. Elea adalah wanita masa lalu Ben. Dan sudah beberapa bulan ini wanita itu berada di sekitar Ben. Jika sudah begini, apa yang harus dilakukannya?
__ADS_1
Haruskah ia menyingkirkan wanita itu untuk kedua kalinya? Lalu bagaimana caranya?
"Elea, ya ampuuun. Aku mencarimu ke mana-mana. Di sini kau rupanya." Tiba-tiba Jane datang menghampirinya tergesa-gesa.
"Ada apa, Jane."
"Kau harus membersihkan kamar 301, sendiri. Maaf aku tidak bersamamu kali ini."
Elea menyunggingkan senyumnya. "Tidak apa-apa," ucapnya kemudian menoleh, membungkukkan badannya sembari berkata.
"Mari, Nona. Aku permisi." Kemudian berlalu pergi bersama Jane meninggalkan Camila yang masih terpaku di tempatnya. Dipandanginya lurus punggung Elea yang semakin menjauh.
...
Elea mendorong daun pintu perlahan, membawa masuk peralatan bersih-bersihnya. Kemudian menutup kembali pintu itu.
Namun dahi Elea berkerut ketika dilihatnya kamar presidential suite yang hendak dibersihkannya itu tampak bersih dan rapi. Sedikitpun tidak terlihat berantakan.
"Apa-apaan ini? Apa Jane sedang mengerjaiku?" gumamnya menyapukan pandangan ke seisi ruangan.
Elea pun menghembuskan napasnya kesal. Percuma ia datang ke kamar ini jika kamar yang hendak dibersihkannya malah rapi dan bersih.
Kesal, Eela pun hendak meninggalkan kamar tersebut. Ia hendak memutar tubuhnya saat tiba-tiba sepasang tangan kekar melingkari pinggangnya. Disusul sebuah kecupan di ceruk lehernya. Membuatnya terkejut lalu menoleh cepat.
"Ben?"
"Kami hanya tidak sengaja berpapasan. Dia ingat aku yang menumpahkan wine ke baju ibunya. Kau tahu ini dari mana?"
Ben melepas dekapannya, menaruh kedua tangannya di pundak Elea, lalu memutar tubuh wanita itu berhadapan dengannya.
"Hotel ini punya banyak CCTV. Selain di ruang keamanan, aku juga bisa mengakses CCTV di ruangan pribadiku. Jadi, semua gerak-gerikmu bisa kuawasi." Ben tersenyum culas. Baru saja ia meminta Mark untuk menghubungkan akses CCTV ke ruangan pribadinya, semata-mata hanya untuk mengawasi Elea. Ia hanya tak ingin wanitanya melakukan pekerjaan berat. Terpaksa ia harus menuruti permintaan Elea, yang masih ingin bekerja untuk mengisi waktunya. Padahal ia sudah menegaskan bahwa ia yang menanggung semua biaya hidup Elea. Tetapi wanita itu masih saja keras kepala.
"Jadi begitu ya Tuan Ben tersayang. Kau mulai memata-mataiku? Kau ingin menjadi penguntit?"
Ben tertawa kecil dicandai seperti itu.
"Aku hanya ingin mengawasi istriku. Dua tahun mataku ini tidak melihatmu. Aku hanya ingin mengganti dua tahun itu dengan mengawasimu melalui CCTV. Kau tahu, bahkan sampai detik ini aku masih sangat merindukanmu."
"Kau keterlaluan Tuan Ben." Sembari mengulum senyumnya dan mengalungkan kedua lengannya di pundak Ben.
"Apa kau tidak malu menjalin hubungan dengan bawahanmu? Bagaimana jika orang-orang tahu tentang hubungan kita? Jujur, aku sangat takut Ben," sambungnya dengan raut wajah cemas.
"Kau tidak perlu mencemaskan apa pun. Semua itu akan menjadi urusanku. Tugasmu hanya melayani suamimu ini. Hm?"
"Tapi, Ben. Orang tuamu. Aku sangat yakin mereka tidak akan mau menerimaku. Kau tahu apa alasannya. Aku ini bukan wanita yang pantas untukmu. Aku tidak berasal dari keluarga yang sederajat denganmu. Aku_"
"Elea. Stop it (hentikan)." Ben menyela setengah lancang. Yang membuat Elea terkesiap, menelan kembali kalimat yang hendak dilontarkannya.
__ADS_1
"Sekali lagi kau membahas masalah perbedaan diantara kita, maka aku tidak akan segan-segan memberimu hukuman yang pantas," sambungnya menatap tajam, hingga mampu menembus dinding hati Elea.
"Akan aku perlihatkan padamu seberapa pantasnya dirimu untukku." Sembari Ben membawa satu tangannya menyusuri punggung Elea. Menarik ke bawah resleting di balik punggung itu sampai terbuka seragam yang dikenakan Elea.
"Ben?" Elea hanya bisa menelan salivanya gugup ketika seragam yang melekat di tubuhnya melorot, jatuh bebas menyentuh lantai.
Elea bisa apa lagi jika sudah seperti ini. Elea hanya bisa pasrah saat Ben mulai menuntut. Elea hanya bisa mengikuti saja permainan Ben. Berusaha mengimbangi ketika pria itu mengajaknya mengarungi lautan asmara, menerjang ombak bersama. Lalu karam di palung kenikmatan yang dalam dengan bermandikan peluh berdua.
...
Sementara di lobi Benedict Star Hotel, Catherine yang ingin masuk ke hotel itu dicegah oleh pihak keamanan hotel. Pasalnya, penampilan Catherine terlihat mencurigakan dari ujung kaki sampai ke ujung kepalanya. Sehingga mengundang kecurigaan pihak keamanan.
"Maaf, Anda tidak bisa masuk." Begitu kata pihak keamanan.
Terdorong oleh keinginan kuatnya ingin bertemu Elea, terpaksa Catherine harus membuka jati dirinya. Pihak keamanan hotel sangat terkejut, refleks langsung membungkukkan badannya memberi hormat.
Akhirnya Catherine pun diperbolehkan masuk. Namun Catherine sempat meminta pihak keamanan hotel untuk tidak memberitahu siapapun tentang kedatangannya. Sebab kedatangannya kali ini bersifat pribadi. Sebab ada seseorang yang sangat ingin ditemuinya. Dan waktunya sangat mendesak.
Pihak keamanan menawari Catherine mengantarkannya untuk menemui orang tersebut. Tetapi Catherine menolak. Catherine ingin mencarinya sendiri.
Kebetulan Jane berpapasan dengan Catherine. Catherine pun mencegatnya.
"Maaf, apa kau tahu di mana Eleanor?" Catherine bertanya.
"Elea maksud Anda?"
"Ya, Elea. Aku ingin bertemu dengannya."
"Maaf, kalau boleh tahu Anda siapa ya?"
"Aku hanya kenalannya. Tolong beritahu di mana Elea."
"Anda tunggu saja di sini. Biar aku panggilkan Elea."
"Tidak, tidak. Biar aku menemuinya langsung. Tolong kau beritahu saja di mana dia."
"Em ... Baiklah." Jane mengerutkan dahi curiga melihat penampilan Catherine.
"Dia sedang membersihkan kamar 301 di lantai 20. Anda ke sana saja langsung."
Catherine mengangguk. "Terimakasih."
Bergegas Catherine pergi ke lantai 20. Pandangannya mengedar mencari-cari kamar 301. Kamar yang ia cari pun sudah ia temukan. Ia tersenyum lebar ketika dilihatnya Elea keluar dari kamar itu. Namun senyumnya harus surut begitu dilihatnya Ben pun keluar dari kamar itu.
Refleks saja Catherine menyembunyikan diri dibalik tembok, mengintip Elea dan Ben dari balik tembok itu. Dan hal tak terduga membuat Catherine sangat terkejut sampai membelalakkan matanya. Ben menarik Elea, lalu mencumbu Elea. Mereka berciuman di depan kamar itu.
Catherine membekap mulutnya tak percaya. Dadanya pun mulai bergemuruh hebat. Ternyata dugaannya tidak meleset. Elea adalah wanita yang berada diantara hubungan Camila dan Ben.
__ADS_1
*