
Chap 38. Menjadi Temanmu
"Eleanor Wisse."
Catherine pun terperangah. Tangannya lebih gemetaran dari tangan Elea. Bahkan Elea bisa merasakan itu.
"Nyonya, Anda tidak apa-apa kan? Tangan Nyonya gemetaran sekali." Elea memperhatikan raut wajah Catherine. Yang terkejut begitu ia menyebutkan namanya.
Catherine terhenyak. Menarik kembali tangannya dari genggaman Elea.
"Nyonya tidak apa-apa kan? Apa Nyonya sakit?" tanya Elea sekali lagi. Sebab wanita di hadapannya itu terlihat menegang, wajahnya memucat, bahkan bulir-bulir keringat mulai mengembun di dahinya.
"Ah, ti-tidak. Aku tidak apa-apa. Aku hanya terkejut saja mendengar namamu. Kebetulan kita memiliki nama belakang yang sama." Catherine berkilah untuk menutupi perasaan haru yang mulai menyeruak memenuhi rongga dadanya.
Hampir saja ia menjatuhkan air matanya melihat putri yang sangat dirindukannya berdiri di depan matanya dalam keadaan sehat.
Sepanjang hidupnya, setiap hari Catherine tak pernah lupa memanjatkan doa untuk putrinya yang satu ini. Yang terpisah darinya karena suatu keadaan. Sengaja Catherine memberi Elea nama belakangnya, agar ia mudah mengenali bila bertemu.
Dan kini, putri yang hampir setiap hari memenuhi ruang pikirnya hadir di hadapannya. Jika tak ingat situasi, mungkin Catherine telah merengkuh Elea ke dalam pelukannya. Menumpahkan tangisnya yang tertahan atas luapan perasaan haru dan bahagianya.
Namun sayangnya, Catherine tidak bisa melakukan itu sekarang. Ada banyak hal yang harus ia jaga. Salah satunya adalah nama baik Harvey, suaminya. Catherine pun hanya bisa pasrah, menahan rindu itu hingga menyesakkan dadanya.
"Oh ya?" Elea membeliak tak percaya.
"Ya. Catherine Wisse. Namaku Catherine Wisse." Catherine mengulum senyum. Namun dibalik senyum itu tersimpan sejuta getir di dada. Yang membuatnya hampir tak bisa menahan diri. Ingin rasanya ia menghambur memeluk Elea.
"Oh ya, Eleanor. Bolehkah aku meminta nomor ponselmu?" tanyanya kemudian, menatap penuh harap.
"Tapi untuk apa Nyonya meminta nomor ponselku?"
"Aku hanya ingin mengobrol saja denganmu. Sejak pertama melihatmu aku merasa kita akan sangat cocok menjadi teman ngobrol. Entah mengapa aku sangat tertarik padamu. Apakah mungkin karena kita memiliki nama belakang yang sama?" Catherine menyelingi ucapannya dengan tertawa kecil. Agar terkesan ia sedang bercanda. Demi mengurai canggung serta mengikis jarak. Sebab terdapat perbedaan strata sosial yang mungkin akan membuat Elea tidak nyaman.
Catherine mencoba menciptakan suasana yang nyaman, mengalir seperti adanya. Demi bisa berada dekat dengan Elea.
"Tapi apakah pantas orang seperti ku ini menjadi teman ngobrol Nyonya? Aku hanya merasa tidak pantas saja. Nyonya adalah orang terpandang di negeri ini, sedangkan aku?" Elea meringis malu akan keadaan dirinya yang benar-benar tidak pantas berada dekat dengan Catherine.
Hampir saja Catherine menangis mendengar ucapan Elea. Yang membuat hatinya terenyuh, mengingat kesulitan yang dihadapi Elea. Ia iba melihat putrinya harus bekerja keras demi bisa menyambung hidup. Sedangkan dirinya hidup dalam kenyamanan, bergelimang harta.
Sebagai seorang ibu, Catherine merasa sangat bersalah dan berdosa karena telah menelantarkan putri yang dikasihinya. Ada harga yang harus ia bayar demi mencapai taraf hidup seperti sekarang.
"Eleanor, aku tidak pernah memandang seseorang dari segi apa pun. Bagiku, kita semua sama. Tidak terkecuali dirimu. Bolehkah aku menjadi temanmu?"
__ADS_1
Elea terperangah, bingung harus menjawab apa. Sungguh ia merasa sangat tidak pantas menjalin pertemanan dengan Catherine.
"Nyonya sedang bercanda kan?" tanyanya canggung.
"Tidak, aku tidak bercanda Eleanor. Aku sungguh ingin menjadi temanmu."
"Em ..." Elea masih terlihat ragu untuk memberikan nomor ponselnya.
"Please (kumohon)" Catherine bahkan sampai memohon demi bisa berada dekat dengan putrinya. Wajahnya menghiba untuk menunjukkan ketulusan hatinya.
Elea pun tersenyum. "Baiklah, Nyonya." Elea merogoh kantong rok mini yang ia kenakan. Mengambil ponsel dari dalam sana. Namun, belum sempat Elea membaca nomornya, seorang pengawal datang memanggil Catherine.
"Maaf, Nyonya. Pak Menteri sedang mencari Anda. Kita harus segera kembali, karena Pak Menteri memiliki pertemuan lain."
"Tunggu sebentar. Katakan padanya aku tidak akan lama," kata Catherine.
"Baik, Nyonya." Pengawal itu pun bergegas pergi.
"Cepat berikan nomormu," pinta Catherine.
"Ya, baiklah. Aku bacakan sekarang."
Catherine tahu Harvey tidak menyukai bila dirinya berinteraksi terlalu lama dengan kalangan bawah. Terlebih lagi Elea adalah seorang pelayan. Hal itu dianggap Harvey seperti merendahkan citranya.
"Untuk apa kau menemui pelayan itu?" tanya Harvey.
"Dia hanya meminta maaf padaku. Padahal aku sudah memaafkannya, tapi dia bersikeras. Aku hanya merasa kasihan saja padanya." Catherine berkilah, menggamit lengan Harvey, lalu beranjak meninggalkan ballroom.
"Ingat siapa dirimu. Jangan merendahkan dirimu dengan berinteraksi dengan orang-orang rendahan seperti itu."
Catherine menelan saliva kasar. Kalimat tajam Harvey terdengar menohok sampai ke ulu hatinya. Hatinya tak terima putrinya dikatai 'orang rendahan'. Tetapi apalah daya, Catherine belum bisa berbuat banyak selama Harvey masih menjabat sebagai perdana menteri. Ia diharuskan menjaga nama baik suaminya.
...
Elea meniupkan napasnya lega ketika Catherine berlalu. Sedari tadi jantungnya dibuat berdebar saat berada dekat dengan Catherine. Ia bahkan diserang gugup dan canggung yang hampir membuatnya kehilangan kata-kata. Ia hanya tak menyangka bisa mengobrol dengan orang penting di negeri ini.
Padahal hanya mengobrol. Dan ini adalah pertemuan pertama Elea dengan Catherine. Namun entah mengapa, hatinya seakan merasa dekat dengan Catherine. Ia merasa seolah sudah mengenal lama Catherine.
Sosok Catherine yang hangat dan bersahaja, membuat Elea melihat sosok seorang ibu yang baik dalam diri Catherine. Melihat Catherine, membuat Elea pun ingin memiliki ibu seperti Catherine.
Namun sayangnya, Elea terlanjur membenci orangtuanya yang telah menelantarkannya sejak bayi. Bagi Elea mereka sudah tidak ada lagi di dunia ini.
__ADS_1
Elea kembali melanjutkan pekerjaannya membereskan meja. Berharap kesalahannya tidak akan berakibat fatal. Semoga saja ia masih diberi kesempatan untuk mengais rejeki di hotel ini.
Melangkah gontai Elea keluar dari ballroom. Ia hendak kembali ke ruang ganti untuk mengganti kembali seragamnya dengan seragam housekeeping. Namun suara yang terdengar memanggil namanya, membuatnya harus menghentikan langkah. Lalu menoleh ke belakang.
"Julian?" sapa Elea.
"Maaf mengganggumu. Eleanor, apa kau bekerja di tempat ini?"
"Ya. Baru beberapa bulan ini."
"Oh." Julian mengangguk mengerti.
"Tapi apa aku masih bisa bekerja paruh waktu di tempatmu? Aku terdesak kebutuhan. Jadi aku masih membutuhkan pekerjaan itu." Elea meringis malu karena terlalu jujur kepada Julian. Ia hanya ingin mengumpulkan uang untuk mengganti uang Ben. Agar ia terbebas dari kesepakatan yang dibuatnya bersama Ben.
"Boleh. Jangankan bekerja di tempatku, menjadi temanku pun boleh. Aku bahkan merasa sangat senang jika kau mau menjadi temanku."
"Te-teman?" Elea tertawa kecil. Hari ini ia merasa aneh dengan dirinya. Kejadian yang dialaminya hari ini, entah keberuntungan atau malah kesialan. Mana mungkin Catherine dan Julian, yang berada di taraf berbeda dengannya, ingin berteman dengannya. Bukankah itu aneh?
"Kenapa tertawa?" tanya Julian.
"Kau sangat lucu."
"Aku lucu?" Julian mengarahkan telunjuk ke wajahnya.
Elea mengangguk. "Ya. Kau sangat lucu Julian. Mana mungkin orang sepertimu mau berteman denganku."
"Kenapa tidak? Eleanor, kau wanita yang menyenangkan. Sejak pertama bertemu denganmu, aku merasa nyaman berada di dekatmu. Kau ..."
"Ehem!" Suara deheman seseorang itu memutus kalimat Julian.
Serentak Julian dan Elea menoleh. Mereka terkejut melihat Ben berdiri tak jauh, menghunuskan tatapan tajamnya.
"Ben?" sapa Julian.
"Apa kau ingin merebut milik orang?"
*
Benedict Cartier
__ADS_1