
Chap 45. Berpapasan
"Aku yang seharusnya bertanya padamu. Apa itu?"
Tak lantas menjawab pertanyaan Ben. Camila menyimpan kembali foto-foto itu ke dalam amplop. Lalu menaruhnya di meja Ben.
"Kau membuatku bingung. Foto siapa yang kau perlihatkan padaku? Seseorang yang kau kenal?" Menyandarkan punggungnya, Camila berusaha terlihat tenang, tidak tahu apa-apa, meski hati mendadak disergap cemas dan ketakutan.
Setahun menjalin hubungan, meski tak terlihat seperti sebuah hubungan yang dekat. Namun setidaknya, sedikit banyak Camila mengenal Ben. Ben adalah tipe orang yang mudah terpancing rasa penasarannya. Dan Ben adalah tipe orang yang tidak akan membiarkan rasa keingintahuannya tak terjawab. Ben akan berusaha mencari tahu jawabannya.
"Bukankah laki-laki yang ada dalam foto itu adalah saudara sepupumu? Tony. Ya. Tony namanya kan?" Ben berpura-pura masih belum mengingat semuanya. Karena ada beberapa hal yang terasa janggal baginya.
Camila menelan salivanya gugup. Ia berusaha mengatur napasnya agar tidak terlihat mencurigakan di depan Ben. Sebab Ben menatapnya intens.
Camila hanya perlu berpura-pura tidak tahu apa pun. Kendati dua tahun lalu dialah yang meminta Tony untuk mendekati Elea. Merayu wanita itu, lalu membuat wanita itu seolah berselingkuh di belakang Ben. Camila bahkan meminta Nyonya Roberta untuk membuat Ben kehilangan ingatannya tentang dua tahun lalu. Terutama tentang Elea.
Dengan membeberkan fakta mengenai Elea yang seorang yatim piatu, dibesarkan di panti asuhan sejak kecil, miskin dan hanya seorang pelayan, membuat Nyonya Roberta langsung berpihak kepadanya.
Camila tahu, sekuat dan sekeras apa pun ia berusaha memikat Ben, ia tidak akan pernah berhasil. Walaupun ia berhasil membuat Ben marah dan membenci Elea, namun tetap saja ia tidak akan pernah bisa menghapus perasaan Ben untuk Elea.
"Lalu apa hubungannya denganku?" tanya Camila berpura-pura.
"Oh, apa kau mau memberitahuku bahwa Tony berselingkuh? Dan perempuan itu adalah selingkuhannya? Itukah yang ingin kau beritahukan padaku?" sambungnya sebelum Ben menanggapi pertanyaannya.
"Foto itu foto dua tahun lalu."
Camila berpura-pura terkejut. "Oh ya? Jadi Tony sudah dua tahun selingkuh dengan perempuan itu? Kau dapat foto itu dari mana?"
"Itulah yang ingin aku tanyakan padamu. Kenapa foto ini bisa ada padaku?"
"Ma-maksudmu?" Camila menjadi tegang seketika. Dalam hati ia berharap jika Ben tidak akan membahas tentang Elea. Dan jangan sampai Ben tahu jika foto itu ia sendiri yang memotretnya.
__ADS_1
Menghela napasnya sejenak, Ben melipat tangan di depan. Menaruhnya bertumpu di atas meja. Ditelitinya raut wajah Camila yang terlihat tegang itu.
"Perempuan yang ada dalam foto itu, apa kau mengenalnya?"
Camila tertawa kecil. Untuk menutupi kekesalannya, karena harapannya tak sesuai kenyataan. Siapa sangka, Ben malah tertarik membahas perempuan yang sudah merebut kebahagiannya itu?
Sebelum menikahi Elea dua tahun lalu, Camila yang telah lebih dulu menaruh hati kepada Ben. Belum sempat Camila mengutarakan perasaannya, sebuah kecelakaan tragis malah menimpa Ben. Lalu mempertemukan Ben dengan Elea.
Lalu siapa sangka, perempuan yang telah menolong Ben saat Ben terluka parah saat itu, malah memikat hati Ben. Camila bahkan tak menyangka Ben menikahi perempuan itu, padahal Ben belum lama mengenalnya.
Kabar pernikahan Ben yang tanpa restu kala itu pun sampai ke telinga Camila. Sehingga membuat Camila terus memaksa keluarga Cartier untuk menjemput Ben di London.
Sebetulnya, meski Ben tidak kembali ke Paris sampai berbulan-bulan lamanya, namun Ben tetap memberi kabar kepada keluarganya. Dengan mengatakan dirinya baik-baik saja dan tidak perlu mengkhawatirkannya. Ben bahkan memberi kabar jika dirinya akan kembali sendiri ke Paris.
Namun lama menunggu Ben belum juga kembali. Sehingga kabar pernikahan Ben pun menjadi alasan Camila memaksa keluarga Cartier untuk menjemput paksa Ben. Bahkan Camila berhasil mengompori Nyonya Roberta dengan mengatakan hal yang buruk tentang perempuan yang dinikahi Ben.
Nyonya Roberta yang memang menginginkan Ben menikah dengan perempuan yang sederajat dengan keluarganya pun akhirnya dengan mudah terpedaya oleh Camila. Sampai Nyonya Roberta menuruti setiap perkataan dan permintaan Camila. Dengan bermodalkan putri seorang perdana menteri.
Ben tertawa kecil. Namun bukan berarti ia akan berhenti mencaritahu. Reaksi dan gelagat Camila terlihat berbeda. Dan hal itu mengusik pikiran Ben.
"Ini bukan tentang sepupumu selingkuh atau tidak. Tapi ada hal lain yang ingin aku tanyakan padamu, Camila. Aku ingin tahu apakah kau mengenal perempuan yang ada dalam foto itu?"
"Em ... Ben, maaf aku tidak mengenalnya."
"Kau yakin?" Ben menajamkan tatapan. Membuat Camila harus menelan saliva cemas.
"Tentu saja. Aku bahkan tidak mengerti kenapa kau bertanya tentang perempuan itu."
Ben meraih kembali amplop itu, mengeluarkan isinya dan menunjukkannya kepada Camila.
"Coba kau perhatikan ini baik-baik." Ben menunjuk deretan huruf kecil di sudut kanan foto. Dimana tertera tanggal, bulan, dan tahun saat foto itu diambil. Bahkan di situ tertera sebuah inisial nama CR.
__ADS_1
Camila mengerutkan dahinya.
"Foto ini diambil menggunakan kamera ponsel dua tahun lalu. Dan anehnya inisial nama dalam foto ini sama dengan inisial namamu. Camila Rodrigues. Jadi aku berpikiran kau mengenal perempuan yang ada dalam foto itu. Karena foto ini kemungkinan diambil menggunakan kamera ponselmu. Aku sih berpikir wajar, karena laki-laki itu adalah sepupumu. Tapi yang tidak aku mengerti adalah apa hubungannya foto ini denganku," terang Ben panjang lebar. Dengan berpura-pura masih kehilangan ingatannya.
Camila pun salah tingkah seketika. Ia merutuki kebodohannya dalam diam. Mengapa ia bisa sampai seceroboh itu. Mengapa ia tidak memperhatikan hal-hal kecil seperti tadi?
Bagaimana jika Ben tahu bahwa dirinya adalah dalang dibalik perpisahan Ben dan Elea? Saking cinta dan terobsesinya ia kepada Ben, sehingga mampu membuatnya melakukan apa pun demi mendapatkan Ben.
Masih untung Camila hanya memisahkan Elea dari Ben. Jika ia mau, ia bahkan sanggup menyakiti dan melukai Elea asalkan Ben bisa terpisah dari Elea.
Perempuan miskin dan yatim piatu itu telah sangat melukai harga dirinya sebagai putri bangsawan. Ia tak terima perempuan anggun dan berkelas seperti dirinya malah kalah bersaing dengan perempuan dari keluarga yang tidak jelas seperti Elea.
"Em itu ... Mungkin salah alamat. Tapi aku lupa seperti apa kejadiannya." Camila sangat gugup. Ia sungguh tak ingin Ben mengingat segalanya. Lalu pada akhirnya kembali kepada perempuan itu.
"Benarkah? Apa kau sudah sepikun itu?"
...
Hampir sejam lamanya ia seperti seorang narapidana yang tengah diinterogasi. Susana mendadak mencekam, membuatnya serasa tercekik. Sehingga Camila memutuskan untuk menghindar dengan berpura-pura mempunyai jadwal kunjungan amal yang mengharuskan kehadirannya.
Berjalan kesal menyusuri koridor, tiba-tiba saja langkah Camila harus terhenti. Dari arah berlawanan, seorag perempuan dalam balutan seragam housekeeping tengah berjalan gontai sambil tersenyum-senyum sendiri menatap layar gawai di tangannya.
Berpapasan dengannya, Camila tak tahan menyaksikan. Tentang siapa perempuan ini sebenarnya, Camila pun ingin segera mengetahuinya. Sehingga tanpa terkontrol, mulut Camila memanggil namanya.
"Eleanor?"
Mendengar namanya dipanggil, Elea pun menghentikan langkahnya. Lalu memutar tubuhnya berhadapan dengan perempuan yang berpapasan dengannya.
Namun senyum Elea surut begitu melihat perempuan itu.
"Camila?" gumam Elea membatin.
__ADS_1
*