
Chap 49. Tidak Bisa Menikah
Terkejut luar biasa. Seperti detak jantungnya berhenti mendadak ketika Ben berkata 'dia istriku'. Berulang kali Catherine meyakinkan dirinya jika ini hanyalah mimpi.
Ya.
Hanya mimpi.
Namun nyata hatinya yang begitu nyeri, menariknya kembali kepadanya kenyataan. Memaksa logikanya untuk menerima semua hal yang terjadi di sekelilingnya dengan lapang dada.
Melihat Elea dibopong Ben dalam keadaan tak sadarkan diri, membuat langkah Catherine tak bisa dikendalikan untuk tidak mengikuti ke mana Ben akan membawa Elea. Mengekor dengan mengambil jarak cukup jauh Catherine lakukan hanya demi mengetahui keadaan putrinya.
"Maaf, Nyonya Catherine. Apa yang kau lakukan di tempat ini?" Ben bertanya, menatap Catherine risau juga heran.
"Aku datang untuk menemui putriku."
"Camila? Dia sudah pergi beberapa jam lalu."
Catherine menggeleng. "Bukan. Aku datang untuk menemui Elea. Elea adalah putriku. Putri kandungku."
Ben pun terdiam. Sama halnya dengan Mark yang mendengar jelas semuanya. Fakta bahwa Elea ternyata adalah istri Ben sudah cukup mengejutkan si asisten tersebut. Dan kini fakta lain tentang siapa Elea yang sebenarnya itu pun cukup membuat Mark terkejut.
Di waktu bersamaan Jane datang, dan langsung diminta oleh Ben untuk membawakan pakaian kering untuk Catherine. Jane patuh, lalu bergegas pergi.
Mark pamit ke apotik hendak menebus obat Elea. Namun sebelum itu, Mark terlebih dahulu membawakan pakaian ganti untuk Ben.
...
Ben mengajak Catherine berbincang di ruangannya. Sedangkan Elea masih belum sadarkan diri, dijaga penuh perhatian oleh Jane.
"Jujur aku sangat terkejut mendengar ini." Ben berkata sembari menaruh secangkir kopi panas ke meja, tepat di depan Catherine. Kepulan asapnya yang berbaur dengan aroma khas kopi itu merayu penciuman.
"Aku juga sangat terkejut mendengar jika Elea adalah istrimu. Kapan kalian menikah?" tanya Catherine mengangkat pandangan. Menatap kecewa pria tampan berlengan panjang t-shirt turtleneck yang menutupi lehernya itu.
Ben mengambil duduk di sofa sebelah kanan Catherine.
"Silahkan di minum. Kau kedinginan Nyonya Catherine. Kopi ini bisa menghangatkanmu."
__ADS_1
"Terimakasih." Catherine meraih kopi tersebut, menyesapnya sedikit demi sedikit. Menaruhnya kembali ketika ia sudah selesai.
"Sudah berapa lama kalian menikah?" tanya Catherine kembali dengan kalimat berbeda.
Ben menghela napasnya sejenak. "Dua tahun."
"Dua tahun? Tapi kenapa baru sekarang kau mengatakannya? Lalu bagaimana dengan Camila?" Sungguh Catherine tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Camila jika mengetahui ini.
Camila itu berbeda dari yang apa yang terlihat. Dari tampilan luar, baik fisik maupun caranya bersikap, Camila memang terlihat anggun dan berkelas. Namun sejatinya gadis itu belum matang dalam mengelola perasaannya. Bisa dikatakan Camila masih memiliki sifat egois dan pencemburu. Camila adalah tipe orang yang terbilang sulit menerima kenyataan.
"Aku bingung bagaimana menceritakan ini. Aku menikahi Elea di London dua tahun lalu ..." Ben pun mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Elea. Sampai akhirnya mereka saling jatuh cinta lalu memutuskan mengabadikan kisah cinta mereka ke dalam satu ikatan sakral pernikahan.
"Untuk itu aku minta maaf karena aku tidak bisa menikahi Camila. Sejak awal aku tidak punya perasaan apa pun padanya. Aku hanya mencintai Elea. Aku harap Nyonya bisa mengerti," ungkapnya jujur tanpa menanggalkan tata krama dan kesantunan dalam bertutur.
Catherine tersenyum getir. Ada perasaan senang ketika ia mengetahui putri yang ia tinggalkan hidup dengan baik dan tidak kekurangan cinta dari orang yang mengasihinya.
Namun perasaan sedih pun ikut menyertai jika mengingat putrinya yang lain akan tersakiti dengan kenyataan ini. Ia tak sanggup membayangkan reaksi Camila nanti.
"Bagaimana caranya aku mengatakan ini pada Camila?" gumam Catherine dalam kecemasan. Cemas akan kondisi mental Camila nanti.
"Aku akan mengatakan ini pada Camila secara langsung. Aku bahkan sudah berencana untuk mengenalkan Elea pada keluargaku. Setelah itu ke publik."
Lalu Harvey? Bagaimana dengan Harvey? Apakah akan semudah itu Harvey menerima Elea dan Ben? Terlebih lagi, masa jabatan Harvey masih belum berakhir. Harvey tentu tidak akan mau menerima hal yang bisa merusak reputasinya. Harvey tidak akan pernah mau menjadi bahan perbincangan publik terkait masalah keluarganya. Harvey hanya akan menyukai jika publik memperbincangkan prestasinya.
...
Membuka mata perlahan, pandangannya nanar menatap langit-langit kamar. Elea bingung, entah di mana kini ia berada. Beberapa saat lalu ia merasa seperti berada di alam mimpi. Ia bermimpi indah memiliki seorang ibu seperti Catherine.
Sempat ia berharap Tuhan mengabulkannya. Tak disangka Tuhan malah mengabulkan harapannya begitu cepat. Namun ia tak bisa menyangka jika harapan tak seindah kenyataan.
Dalam angannya, harapan itu terasa indah. Sehingga membuatnya sejenak lupa akan kebenciannya terhadap ibu yang menyia-nyiakannya.
Lalu ketika harapan itu menjadi kenyataan, justru sakit yang ia dapat. Kenyataan itu laksana ujung tombak yang menembus jantungnya. Sampai-sampai jantung itu pun berhenti berdetak untuk sesaat.
Perih yang menusuk sampai ke dasar kalbunya bahkan tak mampu menumpahkan air matanya. Air mata itu telah terlanjur kering, terkuras habis oleh kebencian yang mengendap di dasar kalbu bertahun-tahun lamanya.
Menoleh, matanya disuguhi keindahan interior kamar suite. Juga sahabat satu-satunya yang tengah asik bermain ponsel di sofa sudut ruangan.
__ADS_1
Bangun dari berbaringnya, Elea hendak turun dari tempat tidur. Matanya lantas memindai tubuhnya yang mengenakan pakaian berbeda. Dahinya pun berkerut, mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
"Elea, kau sudah bangun?" Jane bergegas menghampiri begitu dilihatnya Elea sudah siuman.
"Jane ... Di mana ponselku?" tanyanya memindai ruangan. Mencari-cari si benda pipih miliknya.
"Ponselmu rusak, terkena air hujan."
"Jane, aku harus pulang. Bisakah kau mintakan aku ijin? Aku harus pulang sekarang."
"Tapi, El. Tuan Ben memintaku untuk menjagamu sampai Tuan Ben kembali. Tuan Ben bahkan memintaku untuk memastikan kau meminum obatmu."
"Tidak bisa, Jane. Aku harus pulang sekarang."
"Elea, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Belakangan ini kau terlihat aneh. Kau bahkan tidak pulang semalam. Jujur aku mencemaskanmu, El."
"Maaf, aku belum bisa menceritakannya padamu, Jane."
"Kau bahkan belum cerita padaku, dari mana kau mendapatkan uang untuk melunasi hutangku. Dan ... Ada hubungan apa antara kau dengan Tuan Ben. Kenapa Tuan Ben bisa se-perhatian itu padamu."
"Ada banyak hal yang belum bisa aku ceritakan padamu, Jane. Maafkan aku. Aku harus pergi sekarang." Bergegas Elea turun dari tempat tidur itu. Belum juga kakinya melangkah, pintu kamar telah terbuka.
Dari pintu itu terlihat Ben datang bersama seorang wanita yang membuat mimpi indahnya menjadi mimpi yang mengerikan dalam sekejap.
"Kau mau ke mana?" Dari layar monitor, Ben melihat Elea sudah siuman. Untuk itu ia mengajak Catherine untuk melihat keadaan Elea langsung. Terlepas dari apa yang telah terjadi, walau bagaimanapun, Elea membutuhkan penjelasan. Sebab bertahun-tahun lamanya Elea hidup dalam kubangan kebencian terhadap orangtuanya.
Cukup dengan memberi kode saja, Jane sudah bisa memahami maksud Ben. Maka cepat Jane pun pamit meninggalkan kamar tersebut.
"Nyonya Catherine ingin bicara denganmu," kata Ben.
"Maaf, aku tidak bisa." Terang-terangan Elea menolak.
"Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah tahu siapa Nyonya Catherine. Aku tidak bermaksud berpihak pada siapapun. Tapi sebaiknya, kau beri dia kesempatan untuk menjelaskan semuanya padamu."
"Tidak perlu memberikan penjelasan apa pun padaku. Karena itu tidak akan pernah bisa merubah apa yang telah terjadi. Aku benci melihatnya."
"Elea. Apa kau tidak merindukan ibumu? Hey, baby (hey, sayang), kau tidak sendiri lagi di dunia ini. Bukan hanya ibu, kau bahkan memiliki seorang adik."
__ADS_1
*