In Your Memories

In Your Memories
Chap 57. Iri Hati


__ADS_3

Chap 57. Iri Hati


Untuk menghindari menarik perhatian khalayak, Harvey dan Catherine terpaksa harus menumpang mobil Tuan Albert menuju ke apartemen Ben sesuai alamat yang diberikan Ben. Sedangkan mobil yang biasa ditumpangi Harvey beserta dua mobil lainnya yang ditumpangi para pengawalnya, melaju pergi ke arah yang berlawanan. Sehingga terkesan iring-iringan pak menteri kembali ke kediamannya.


Tak sabaran Catherine menekan bel pintu. Tak berapa lama pintu unit apartemen itu pun dibuka dari dalam. Menampakkan Ben dengan raut wajah cemasnya.


"Di mana Camila?" tanya Harvey cemas. Kentara mengkhawatirkan kondisi putrinya.


"Elea ada bersamamu?" Lain lagi dengan Catherine. Ia malah mencemaskan Elea.


"Silahkan masuk, Tuan dan Nyonya. Lebih baik kalian lihat saja sendiri keadaan Camila," kata Ben, kemudian menggeser tubuhnya. Memberi jalan kepada Harvey dan Catherine masuk.


Di atas tempat tidur king size itu Camila terbaring lemah dengan wajah pucat pasi. Sementara Elea berdiri di depan jendela, mengarahkan pandangannya ke luar jendela tersebut.


Terdengar suara Harvey dan Catherine memanggil Camila. Dari nada dan intonasi suaranya, suami istri tersebut begitu mengkhawatirkan Camila. Namun Elea enggan menoleh. Ia enggan melihat pemandangan yang akan membuat hatinya iri. Iri melihat kasih sayang orangtuanya terhadap Camila.


"Camila, Sayang. Bangun. Bangunlah Camila." Catherine berkata sambil menepuk lembut pipi Camila.


"Camila, bangunlah. Camila." Harvey pun berseru, cemas luar biasa akan keadaan putri kesayangannya.


Mendengar suara-suara itu membuat hati Elea perih teriris. Perlakuan penuh perhatian serta penuh kasih seperti itu tidak pernah Elea dapatkan sejak kecil. Meski Ben melimpahinya banyak cinta, tetap saja hatinya gersang. Ia haus akan kasih sayang orangtua.


"Sebaiknya kita bawa saja dia ke rumah sakit." Harvey mengusulkan.


Catherine menganggukinya. Lantas ia menoleh, melirik ke arah Elea yang berdiri membelakangi. Ingin rasanya Catherine memeluk Elea erat. Namun apalah daya, Elea masih belum memberinya kesempatan untuk mencurahkan kasih sayangnya sebagai ibu. Elea masih menutup hati untuknya.


Mengerti dengan perasaan Elea saat ini, Ben pun menghampirinya. Menaruh tangannya di pundak Elea, membawa Elea berhadapan dengannya.


Elea tertunduk, enggan menatap mata Ben. Sampai akhirnya Ben membawa tangannya menyentuh dagu Elea. Menekannya sampai wajah Elea mendongak.


Namun begitu wajah Elea mendongak, air mata justru jatuh berderai di wajah itu. Membuat Ben terenyuh, lalu meraih wanita itu ke dalam pelukannya.


Isak tangis Elea tertahan, tak ingin isak tangisnya sampai ke telinga Catherine. Sebisa mungkin ia akan berusaha terlihat kuat. Agar Catherine tahu, seperti apa pribadinya terbentuk selama ini meski tanpa curahan kasih sayang orangtua.


"Aku tahu seperti apa perasaanmu saat ini." Tangan Ben bergerak lembut mengusap punggung Elea.

__ADS_1


Ben tahu, dalam hati Elea ada rasa cemburu melihat Camila mendapatkan limpahan kasih sayang dan perhatian dari orangtuanya, sedangkan dirinya? Hanyalah seorang anak yang mungkin tidak diinginkan. Begitu pikir Elea, sehingga telah memupuk rasa bencinya selama ini kepada orangtuanya.


"Ben, bisakah kita pergi dari sini sekarang?" pinta Elea dalam pelukan hangat Ben.


"Elea aku tahu kau anak yang kuat. Kau punya hati yang lapang, kau cerdas, kau dewasa dalam menyikapi hal seperti ini." Ben berusaha menghibur Elea yang merasa iri melihat sang ibu mengasihi Camila.


"Tapi tetap saja Ben. Hatiku hancur. Aku tak sanggup melihatnya. Sejak kecil aku tidak pernah diperlakukan seperti itu. Sejak kecil aku tidak merasakan kasih sayang seperti itu." Lirih Elea berkata, tak ingin ungkapan hatinya sampai ke telinga yang lain. Terlebih Catherine.


"Kalau begitu aku akan memberimu cinta yang lebih banyak lagi. Agar kau tidak merasa kekurangan. Elea kau punya aku sekarang. Kau bisa mengandalkanku dalam hal apapun. Dan aku akan selalu ada untukmu. Kau tidak perlu bersedih lagi. Bila perlu, aku akan memberikan semua ibu di dunia ini padamu. Hm?"


Elea semakin mempererat rangkulannya di pinggang Ben. Uang dibalas Ben dengan kecupan penuh kasih di puncak kepalanya.


"Aku mencintaimu, Ben."


"Aku juga mencintaimu, Elea."


"Maaf ... Ben, Elea." Terdorong oleh perasaan haru juga sedih disaat bersamaan, Catherine pun datang menghampiri Ben dan Elea yang sedang saling memeluk. Sementara Harvey tengah menunggui Camila sambil melakukan panggilan telepon.


Sontak Ben dan Elea pun saling melepaskan pelukan. Lalu menoleh ke arah sumber suara. Terkecuali Elea. Ia malah berpaling muka ke lain arah.


"Maaf mengganggu. Aku hanya ingin tahu bagaimana Camila bisa ada di tempat ini?" tanya Catherine tanpa menanggalkan kesopanan, menjaga intonasi suaranya. Sembari sesekali matanya melirik Elea yang tengah berpaling muka.


Catherine gelagapan. Diusapnya kasar wajahnya gusar. Ia tak habis pikir dengan kenekatan Camila. Yang dengan beraninya mengaku hamil padahal ia sendiri tahu persis keadaan dirinya sendiri. Ia hanya tak menyangka cinta sampai membutakan Camila seperti ini.


"Sekali lagi maaf, Ben. Maaf jika Camila mengganggu kenyamanan kalian. Camila sedang tidak sehat. Dia ... Dia ..." Catherine melirik sejenak Elea yang masih enggan berpaling kepadanya. Bahkan kini Elea hendak beranjak menjauh, namun tangan Ben cepat menahan pergelangan tangannya.


"Sejujurnya Camila saat ini sedang kritis. Dia mengidap kanker darah. Dia terpaksa berbohong dengan berkata dirinya hamil karena dia tidak ingin kehilanganmu, Ben," sambungnya. Yang seketika membuat Ben terkejut, dan membuat Elea berpaling pada akhirnya.


"Kanker darah?" Ben sungguh tak mengira, Camila yang terlihat baik-baik saja justru dalam keadaan kritis.


"Mommy?" Terdengar suara Camila memanggil. Serentak mereka pun menoleh. Harvey yang tengah berteleponan pun mengakhiri obrolannya seketika.


"Camila?" Catherine bergegas menghampiri. Duduk di tepian tempat tidur, memandangi putrinya yang terbaring lemah.


Sementara Elea memilih tak mendekat. Ia bergeming di tempatnya, dirangkul penuh kasih oleh Ben.

__ADS_1


"Camila, bagaimana keadaanmu Sayang?" tanya Catherine lembut menunjukkan sisi keibuannya.


"Camila. Bagaimana keadaanmu? Katakan pada Daddy. Berterus teranglah, jangan ada yang ditutup-tutupi. Karena Daddy harus tahu kondisimu yang sebenarnya. Agar Daddy bisa mengupayakan perawatan terbaik untukmu." Harvey berkata. Kentara sangat mencemaskan sang putri.


"Mom, Dad, aku tidak bisa terima ini." Camila memasang mode merajuk.


"Apa maksudmu, Sayang?" tanya Catherine.


"Aku tidak bisa terima Ben mengabaikanku seperti ini. Aku tidak mau kalau sampai pernikahanku batal. Pokoknya Ben harus jadi milikku. Dan satu lagi ... Aku tidak mungkin punya kakak!"


Catherine pun terdiam.


...


Sementara itu di lain tempat.


Tuan Albert melangkah panjang memasuki mansionnya. Di ruang utama Nyonya Roberta tengah berbincang dengan sahabat-sahabat sosialitanya.


Nyonya Roberta beranjak dari duduknya ketika didengarnya sang suami tengah memanggil para pelayannya.


Para pelayan yang jumlahnya lima orang itu datang tergopoh-gopoh memenuhi panggilan tuannya.


"Ada apa ini, Suamiku? Kenapa tiba-tiba kau mengumpulkan para pelayan?" tanya Nyonya Roberta begitu menghampiri.


Namun Tuan Albert mengabaikan pertanyaan sang istri.


"Dengar semuanya. Mulai saat ini, aku yang paling berhak mengambil keputusan di rumah ini. Selain aku, tidak ada yang berhak." Tuan Harvey berkata.


Dan Nyonya Roberta pun kalang kabut. Jika keputusan ada di tangan Tuan Albert, lalu bagaimana dengannya? Jelas ia takkan bisa berbuat apa-apa lagi.


"Dan satu lagi. Aku minta kalian bersihkan kamar Ben. Karena mulai malam ini, Ben akan kembali ke rumah ini bersama istrinya. Menantu rumah ini."


Nyonya Roberta pun terperangah. Ingin protes, tapi tak bisa berbuat apa-apa.


"Aku minta kalian perlakukan menantu rumah ini dengan baik. Ada yang melanggar, aku pecat. Mengerti?"

__ADS_1


"Mengerti, Tuan."


*


__ADS_2