In Your Memories

In Your Memories
Chap 60. Mulai Menerima


__ADS_3

Chap 60. Mulai Menerima


Pagi yang cerah. Sinar mentari menyembul dari ufuk timur, memberikan cahayanya menerangi seisi dunia.


Pagi ini Elea diminta untuk bersiap-siap. Sebab Tuan Albert hendak mengajaknya ke hotel. Yang kata Tuan Albert intuk urusan keluarga, sekaligus meninjau kinerja para karyawannya. Sebagai istri Ben, tentu saja kehadiran Elea diperlukan. Karena statusnya kini telah berganti, otomatis ia telah diberhentikan dari pekerjaannya di Benedict Star Hotel. Ia bukan seorang housekeeping lagi, melainkan istri seorang Direktur.


Elea tengah mengeluarkan beberapa lembar pakaiannya dari dalam koper. Sedangkan Ben baru saja keluar dari kamar mandi, masih mengenakan bathrobe membungkus raga atletisnya.


Berdiri mengangkat satu gaun casualnya, Elea hendak meninta pendapat Ben. Saat tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.


"Masuk!" Ben berseru. Bersamaan dengan pintu kamar didorong terbuka. Tampak seorang pelayan dengan seragam hitam putihnya serta rambut di sanggul rapi itu berdiri di ambang pintu dengan wajah tertunduk.


"Maaf, Tuan. Nyonya besar mendatangkan seorang Fashion Stylish dan seorang Make Up Artist untuk membantu Nyonya muda bersiap-siap. Pegawai butik langganan Nyonya besar juga datang membawakan gaun-gaun yang akan dikenakan oleh Nyonya muda." Pelayan itu berkata tanpa mengangkat pandangannya.


"Oh, begitu ya? Ya sudah, suruh masuk saja."


"Baik, Tuan." Pelayan itu pun undur diri. Beberapa detik berselang, satu per satu masuk ke kamar Ben. Mulai dari seorang Fashion Stylish berpenampilan menarik namun kemayu, alias makhluk setengah jadi yang jenis kelaminnya masih dipertanyakan. Menyusul seorang Make Up Artist perempuan sambil menggeret koper peralatan tempurnya, berikut seorang pegawai butik yang datang sambil mendorong gantungan baju yang berjejer puluhan gaun menggantung pada gantungan tersebut.


Elea yang melihat semua itu hanya bisa tercengang dengan mata melotot plus mulut menganga keheranan. Ia tak mengira jika ibu mertuanya mendatangkan seorang Fashion Stylish dan Make Up Artist profesional, serta membeli banyak gaun bermerek yang harganya terbilang fantastis itu. Elea bahkan hampir tak bisa bernapas membayangkan berapa koceh yang harus dirogoh untuk membayar semua itu.


"Selamat pagi, Tuan Benedict. Aku seorang Fashion Stylish, yang sering membantu Nyonya Roberta dalam memilih gaya berbusana. Aku diminta langsung oleh Nyonya untuk membantu istri Anda."  Stylish menyapa, menyunggingkan senyum manisnya. Bola matanya liar bergerak rakus, menyisir postur Ben dari ujung kaki sampai ujung rambut. Sorot matanya berbinar, gesturnya gemulai genit. Kentara menaruh minat pada si pria tampan rupawan yang justru terlihat seksi memikat dengan rambut setengah basah acak-acakan itu.


"Selamat pagi, Tuan." Sang Make Up Artist pun ikut menyapa.


"Selamat pagi, Tuan. Aku membawakan beberapa gaun. Nyonya muda silahkan memilih gaun mana yang hendak dikenakan. Nanti Stylish yang akan membantu Nyonya muda memilih gaun mana yang cocok agar bisa menciptakan image yang berbeda." Pegawai butik pun berkata.


"Ibuku yang meminta kalian?" tanya Ben.


Serempak mereka menjawab, "Ya, Tuan."


Ben mengangguk paham.


"Baby, come here (sayang, kemarilah)." Ben mengulurkan tangan kirinya. Elea bergegas menghampiri, berdiri di samping Ben yang langsung melingkarkan lengan kirinya di pundak sang istri.


"Silahkan kau bersiap-siap dengan dibantu oleh mereka. Terimalah pemberian ibu mertuamu ini dengan senang hati. Hm?" Ben mengulum senyum menatap Elea. Dalam hati ia bahagia, karena ibunya sudah mulai bisa menerima Elea sebagai menantunya. Terbukti dari perhatian yang diberikannya hari ini.

__ADS_1


"Tapi, Ben. Aku..."


"Kalau begitu aku ganti baju di kamar mandi saja. Enjoy your self." Ben kemudian melenggang ke kamar mandi. Namun sebelumnya ia berkata,


"Tolong layani istriku dengan baik. Pastikan hari ini dia berbeda." Kemudian bergegas masuk kamar mandi setelah mengambil pakaian gantinya.


"Mari, Nyonya. Silahkan Anda pilih gaunnya, aku akan membantumu," kata Stylish mengajak Elea mendekat, menghampiri deretan gaun dari brand-brand ternama.


Tak ada yang bisa Elea lakukan selain pasrah. Menuruti si Fashion Stylish membantunya memilih gaun yang cocok dengan postur tubuhnya yang tinggi semampai.


Setelah mendapatkan gaun yang sesuai, Elea lantas dibantu oleh MUA profesional langganan Nyonya Catherine, yang memiliki jam terbang tinggi. Tentu saja hasil riasannya sudah tidak diragukan lagi.


Selesai wajahnya di poles, serta rambutnya di tata rapi, seorang pelayan datang membawakan kotak hitam persegi berbahan beludru. Yang kata si pelayan kotak tersebut berisikan perhiasan dari si Nyonya besar Roberta.


Lagi-lagi Elea hanya bisa pasrah, meski ia sungkan menerima kemewahan yang disuguhkan sang mertua kepadanya.


Padahal mereka hanya akan berkunjung ke hotel saja, tetapi sang mertua memperlakukannya bak seorang putri yang akan menghadiri pesta saja.


Namun meski begitu, Elea tak henti bersyukur. Sebab pada akhirnya Nyonya Roberta sudah mulai bisa menerimanya. Padahal pada awalnya yang paling menentang hubungannya dengan Ben. Bahkan turun tangan langsung dengan memisahkan Ben darinya.


Sepasang lengan kekar pun tiba-tiba menelusup, melingkari pinggangnya. Ben tersenyum puas memandangi pantulan diri Elea dalam cermin. Sesuai seperti apa yang diinginkannya.


"You are so beautiful, Baby (kau sangat cantik, Sayang)." Ben memuji sembari melabuhkan kecupan di pipi Elea. Yang dibalas Elea dengan senyuman manisnya.


...


Semula Elea pikir kedatangan mereka ke hotel hanya sekedar kunjungan biasa, mendampingi Ben sesekali melakukan rutinitasnya. Namun ternyata sebuah penyambutan tak terduga telah menyambut kedatangan mereka.


Penyambutan sekaligus kejutan itu telah disiapkan mendadak pagi-pagi sekali atas perintah Tuan Albert. Bukan hanya rekan housekeeping saja yang terkejut, salah satu diantaranya ada Jane. Yang hampir tidak mengenali sahabatnya itu.


"Ya ampun Elea. Aku tidak menyangka, ternyata Tuan Ben itu adalah suamimu? Dia yang menikahimu dua tahun lalu di London?" Jane terperangah tak percaya. Merasa semua ini seperti sudah takdir. Berkatnya Elea mendapatkan pekerjaan di Benedict Star Hotel. Yang ternyata Direktur dari hotel tersebut adalah suami Elea. Dan tujuan Elea datang ke Paris ini adalah untuk menemukan suaminya itu.


"Aku saja bahkan hampir tidak mempercayai ini. Aku merasa ini bukan kebetulan, Jane. Tapi memang sudah takdir."


"Selamat ya, El?"

__ADS_1


Sembari tersenyum Elea merangkul Jane. Disaat Elea dan Jane saling merangkul, tiba-tiba terdengar sebuah suara lembut menyapa.


"Eleanor."


Sontak Elea dan Jane saling melepas rangkulan. Lalu menoleh cepat ke arah sumber suara.


Di seberang, Catherine tengah berdiri. Wanita itu memakai tampil dengan pakaian kasual, tak terlihat seperti istri seorang menteri.


Sembari mengulum senyumnya, wanita itu melepas kacamata hitam yang membingkai wajahnya. Jane sontak langsung membungkukkan badannya begitu mengenali siapa Catherine. Yang Jane tahu adalah istri seorang menteri.


Kecuali Elea. Ia bergeming. Enggan menyapa apalagi membalas senyuman Catherine.


"Boleh kita bicara sebentar, Elea?" pinta Catherine sedikit memelas.


Paham dengan kalimat permintaan yang diutarakan Catherine, Jane pun beranjak pergi, meninggalkan Catherine dan Elea berdua. Agar mereka leluasa dalam berbincang.


Dalam ruangan housekeeping itu kebetulan sepi, hanya ada mereka berdua.


Menyeret langkahnya perlahan, Catherine menghampiri Elea. Yang berwajah datar, bahkan tak menoleh sedikitpun.


Catherine menghela napasnya sejenak. Sebelum ia berkata.


"Ibu hanya ingin berpamitan denganmu. Ibu akan berangkat ke Amerika menemani Camila melakukan pengobatan di sana. Mungkin akan memakan waktu yang cukup lama. Sebenarnya, bisa saja Camila berobat di sini. Tapi Daddy nya tidak ingin kondisi Camila diketahui media. Lalu menjadi trending topik. Kabar tentang gagalnya Camila menikah dengan Ben saja sudah cukup membuatnya frustasi. Ibu hanya ingin bilang, jaga dirimu baik-baik."


Catherine kemudian berbalik badan, hendak beranjak. Namun, belum juga kaminya melangkah, terdengar suara Elea memanggil. Yang membuat Catherine tertegun seketika.


"Ibu."


*


Hai teman² 😊


Kita pelan² aja menuju ending ya. Author ucapkan terimakasih banyak buat teman² yang masih stay nungguin kelanjutannya. Love u sekebon 😘😘😘.


Jangan lupa jaga kesehatan.

__ADS_1


By the way, SELAMAT TAHUN BARU YA SEMUANYA😊


__ADS_2