In Your Memories

In Your Memories
Chap 44. Posesif


__ADS_3

Chap 44. Posesif


Dering ponsel di atas nakas membangunkan Ben dari tidur lelapnya. Menarik kantuk, memaksa kelopak mata membuka. Di luar, hari sudah gelap.


Tangan Ben menggapai-gapai, meraih ponsel dari nakas.


Pada layar yang menyala terang itu tertera nama sang ibu. Ini adalah panggilan yang kesekian kali, namun Ben malah enggan mejawabnya.


Panggilan pun berakhir begitu pesan teks menyusul. Memenuhi bar notifikasi di bagian atas layar, berurutan dengan pesan serta beberapa panggilan tak terjawab dari Camila.


Bukannya memeriksa pesan yang masuk, Ben justru me-nonaktifkan si benda persegi panjang canggih tersebut. Tak ingin quality time di waktu sempit bersama Elea terganggu.


Menaruh kembali ponsel di nakas, Ben kemudian menarik selimut lebih menutupi Elea. Lalu mendaratkan satu kecupan kasih di kening Elea, membelai lembut wajahnya sembari berkata.


"Tidurlah yang nyenyak, sayang. Mimpi yang indah."


Menyibak selimut, Ben kemudian turun dari tempat tidur. Dipungutnya pakaian yang berserakan tak karuan di lantai, lalu mengenakannya kembali. Ben kemudian berjalan ke mini kitchen di sudut kamar, mengambil kopi instan dari laci bufet.


Wangi aroma khas kopi menyeruak, mencuri indera penciuman begitu Ben menyeduhnya. Kepulan asapnya terbawa angin ketika Ben membuka pintu menuju balkon kamarnya.


Ben mengambil duduk di sofa bed, memangku kaki sambil menikmati secangkir kopi instan buatannya. Biasanya di balkon kamar ini, Ben akan menghabiskan waktunya seorang diri. Melepas penat sejenak dari hiruk pikuk kota yang membuatnya kalut dan pikiran suntuk.


Sekarang ada Elea. Yang telah hadir kembali dalam hidupnya. Yang tak akan disia-siakannya lagi. Mungkin kedengarannya naif, agak konyol, tetapi inilah isi hati Ben yang sesungguhnya. Elea akan menjadi alasannya hidup di dunia ini.


Menadahkan pandangan, menikmati gemerlap bintang di atas sana, sebuah rangkulan di pundak mengagetkan Ben.


"Kau sedang apa?" bisik Elea sembari menopang dagu di pundak Ben.


"Kau sudah bangun?" Terkejut, Ben menaruh kopi di meja kecil di sisi sofa. Lalu ia meraih tangan Elea, menuntunnya untuk duduk di sampingnya.


"Aroma kopimu yang membuatku terbangun."


"I am sorry (maafkan aku)."


Elea mengulum senyum. "Malam ini sangat dingin, kenapa kau malah duduk di luar? Apa kau tidak kedinginan?"


"Kalau aku kedinginan, aki tinggal memelukmu seperti ini." Sembari merangkul Elea.


"Ben?"


"Hm?"

__ADS_1


"Aku harus pulang."


"Tidak. Ini sudah larut. Aku tidak mungkin membiarkanmu pulang. Dan aku juga tidak ingin mengantarkanmu pulang. Kau tinggallah di sini."


"Tidak, Ben. Aku harus pulang."


Ben malah mempererat pelukannya, mengecup pipi Elea.


"Mulai saat ini kau akan tinggal di tempat ini. Kau harus selalu berada di dekatku. Aku tidak mau jauh dari istriku lagi."


"Tapi, Ben. Bagaimana soal pernikahanmu dengan putri perdana menteri itu?"


"Sejak awal aku sudah memberitahumu, kalau aku tidak menyukai Camila. Orang tuaku yang menyukainya."


"Namanya Camila?" Mengangkat wajahnya, Elea menatap Ben sembari mengulum senyum tipis. Namun malah mendapat balasan satu kecupan singkat di bibirnya.


"Nama yang cantik. Secantik orangnya."


"Tapi bagiku, kaulah yang paling cantik."


"Gombal."


"Sayangnya aku lebih suka merayumu daripada menggombalimu."


Ben bangun, menyusul Elea. Lalu memeluk wanita itu dari belakang.


"Jangan risaukan soal kedua orangtuaku, Elea. Dengan ataupun tanpa restu, aku sudah menikahimu. Mereka hanya membutuhkan waktu untuk bisa menerimamu. Dan tentang Camila, sejak awal orangtuaku juga tahu kalau aku tidak mencintai Camila. Jadi mereka tidak punya alasan memaksaku untuk tetap menikahi Camila. Aku hanya mencintaimu, Eleanor. Hanya dirimu. Kau mengerti?" ucap Ben mendekap erat Elea. Seakan tak ingin terlepas lagi.


"Tapi, Ben ..."


"Dan satu lagi, aku mau kau berhenti dari pekerjaanmu. Aku tidak bisa melihat istriku kelelahan. Besok kau kemasi barang-barangmu dan pindah ke tempat ini. Apartemen ini akan menjadi milikmu."


"Tapi, Ben ..."


"Tidak ada tapi-tapian lagi. Kau turuti saja semua kata-kataku. Jangan membantah lagi. Eleanor Wisse, kau dipecat dari Benedict Star Hotel. Mengerti?"


"Tapi, Ben ..." Elea protes, lalu memutar tubuhnya berhadapan dengan Ben.


"Aku bosan jika tidak melakukan apa-apa. Baiklah, aku akan menuruti kata-katamu. Tapi tolong biarkan aku tetap bekerja di tempatmu. Atau kalau tidak, biarkan aku bekerja di tempatnya Julian. Please (kumohon)," memasang wajah memelas.


Elea memang dikenal pribadi yang kuat setelah ditempa keadaan. Elea yang dibesarkan di panti asuhan sudah terbiasa mandiri sejak kecil. Pantang bagi Elea meminta meski ia kesusahan.

__ADS_1


"Julian itu seorang pria dewasa dan single. Mana mungkin aku membiarkan istriku bekerja di tempat pria lain? Apalagi jika dilihat dari gelagatnya, sepertinya Julian itu menyukaimu."


Tawa Elea terdengar memecah heningnya malam. Ada yang menggelitik hatinya dengan ucapan Ben tentang Julian. Dan bagi Elea itu adalah sesuatu hal uang tidak akan mungkin terjadi.


"Kenapa malah tertawa?" tanya Ben.


"Tuan Benedict, apa kau cemburu?" Elea memicing menggoda. Baru kali ini ia melihat ada raut cemburu di wajah Ben. Yang malah membuat Ben terlihat begitu menggemaskan.


"Aku cemburu?" Ben mengarahkan telunjuk ke dadanya sendiri.


Tersenyum manis, Elea mengangguk.


"Tentu. Tentu saja aku cemburu." Dan Ben berani mengakui hal itu di depan Elea. Ini bukan hanya sekedar asumsinya saja. Julian adalah saudara sepupunya. Sedikit banyak ia sudah mengenal Julian sejak kecil. Dan sampai detik ini belum ada satu wanita pun yang berhasil memikat Julian.


Hanya dari cara Julian menatap Elea saja, Ben bisa menerka jika Julian memiliki ketertarikan terhadap Elea.


Sembari membawa jemari kokohnya mendekap kedua sisi wajah Elea, Ben menatap lekat sepasang bola mata indah berbulu lentik itu. Yang tengah menatapnya berbinar.


"Dengarkan aku. Tidak ada satu pria pun di dunia ini yang rela wanitanya didekati oleh pria lain. Termasuk aku, Elea. Mungkin bagimu aku ini adalah suami yang pencemburu. Tapi aku ini lebih dari sekedar cemburu. Aku ini pria yang posesif terhadap wanita yang aku cintai. Seujung rambut pun, aku tak sudi jika sampai ada pria lain yang menyentuhmu. Karena aku terlalu mencintaimu, Eleanor."


Ungkapan hati Ben membuat sudut bibir Elea tertarik, membentuk lengkungan indah semanis senyumnya. Elea bahkan terharu hingga menjatuhkan bulir-bulir air mata di pipinya.


"Aku mencintaimu, Ben." Teramat lirih Elea berkata. Namun mampu menggetarkan sudut terdalam hati nurani seorang Benedict.


"Elea, mohon bersabarlah sebentar. Beri aku waktu untuk memperjuangkanmu di sisiku. Kau cukup berdiam diri di tempatku, biar aku yang menyelesaikan semuanya. Hm?"


Elea mengangguk haru, semakin menjatuhkan bulir-bulir air mata. Membuat Ben membawa jemarinya menghapus air mata itu. Lalu menyusul kecupan manis di bibirnya. Menyesapnya lembut penuh kasih.


Di bawah sinar rembulan malam, dua insan yang dimabuk asmara, diporak-porandakan oleh rindu itu tengah saling memadu kasih. Saling memuja penuh damba satu sama lain.


...


Keesokan hari.


Tak terima Ben masih saja mengabaikannya dan terkesan seakan tak peduli perasaannya, Camila memutuskan datang menemui Ben di hotel. Ia hendak menuntut penjelasan Ben akan perlakuan keji Ben terhadapnya.


Namun, ketika sampai di ruangan Ben, Camila malah disuguhi sebuah amplop cokelat yang berisi foto-foto Elea bersama seorang pria dua tahun lalu.


Camila berkerut dahi memandangi foto-foto tersebut.


"Apa ini?" tanya Camila resah. Sebab ia sudah bisa menerka apa maksud Ben memberinya foto tersebut. Sebab pria yang ada dalam foto itu adalah Tony, saudara sepupunya.

__ADS_1


"Aku yang seharusnya bertanya padamu. Apa itu?"


*


__ADS_2