
Chap 51. Layu Sebelum Berkembang
"Sebaiknya kau pergi saja dari sini Nyonya yang terhormat." Elea mengusir Catherine terang-terangan. Ia bangun dari duduknya, berjalan ke arah pintu, membuka pintu kamar itu lebar-lebar.
Catherine pun bangun dari duduknya. Tetapi tidak mengindahkan perkataan Elea. Ia bergeming di tempatnya, menatap lurus Elea yang tengah memegangi handel pintu dengan berpaling muka.
"Kau yang pergi atau aku saja yang pergi? Atau kau mau diseret paksa?" Elea terdengar semakin lancang, terdorong oleh rasa bencinya kepada sang ibu. Ia bahkan tak ingin menerima kenyataan.
"Baiklah, jika kau memang ingin Ibu pergi dari sini. Ibu akan pergi. Tapi ingat, Ibu pasti akan kembali lagi. Ibu tidak akan pernah berhenti sampai kau memberi Ibu kesempatan." Catherine pun hanya bisa menuruti keinginan Elea dengan berat hati. Catherine tidak akan memaksa. Ia akan bersabar menunggu sampai terketuk pintu hati Elea.
Catherine menghentikan langkahnya sejenak di depan Elea yang masih enggan berpaling menatap wajahnya.
"Ibu senang kau menemukan seorang suami seperti Ben. Maaf Ibu tidak sempat melihatmu menikah." Catherine mengulas senyum walau Elea tidak melihatnya.
"Kau pasti sudah tahu tentang rencana pernikahan adikmu Camila dengan Ben bukan? Kau tidak usah cemas. Ibu sudah mendengar semuanya dari Ben. Dan restu Ibu akan selalu bersamamu." Setelah berkata demikian, Catherine pun bergegas pergi.
Sepeninggal Catherine, tak berapa lama Ben datang. Baru saja Elea menutup pintu kamar itu, ia berjalan lesu menuju tempat tidur, Ben datang mengagetkannya.
Elea menoleh ke belakang dengan wajah dinginnya.
"Kupikir kau sibuk," ucapnya lesu tak bersemangat.
"Kau sungguh keras kepala." Ben menghampiri Elea, lalu merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya. Sedari tadi Ben mengamati Elea dan Catherine dari layar monitor di ruangannya. Jadi ia tahu betul jika Elea masih belum mau membuka hatinya. Sehingga membuat pria itu harus turun tangan.
Namun siapa sangka, di dalam pelukan Ben tangis Elea justru pecah tak tertahankan lagi. Melingkarkan kedua tangannya erat pada pinggang Ben, Elea membenamkan wajahnya dalam pelukan itu. Isak tangis pilunya yang terdengar menyayat kalbu membuat Ben semakin mempererat pelukannya.
"Menangislah sepuasmu, sayang. Setidaknya itu bisa sedikit mengurangi beban di hatimu."
Ben membiarkan Elea menumpahkan tangis di dadanya. Ia memberi Elea kesempatan untuk melepaskan segala beban di hatinya.
Sementara hal yang sama pun terjadi pada Catherine. Di dalam taksi yang ditumpanginya, Catherine menumpahkan tangisnya. Catherine menangis tersedu-sedu, sampai-sampai supir taksi mengintipnya dari kaca spion diatas dashboard. Beruntung si supir taksi tidak mengenalinya. Jika tidak, mungkin saja berbagai gosip buruk tentangnya akan tersebar ke mana-mana.
Sedangkan di lain tempat, Camila duduk termenung sendiri di dalam mobilnya. Sudah setengah jam berlalu setelah ia menemui dokter. Namun ia masih belum menghidupkan mesin mobil.
Pikirannya kalut saat ini. Dipenuhi oleh kemungkinan-kemungkinan buruk akan penyakit yang datang kepadanya tanpa permisi. Diantara kemungkinan-kemungkinan buruk itu terselip satu ketakutannya. Yaitu, Ben.
Otaknya bekerja keras, bagaimana caranya agar pernikahannya dipercepat. Sementara wanita masa lalu Ben berada disekitarnya. Tidak menutup kemungkinan Ben akan mengingat segalanya, lalu pada akhirnya membatalkan pernikahannya.
Tidak!
Camila tak ingin hal itu terjadi!
...
"Kau sudah lebih baik?" tanya Ben sembari mengusap lembut puncak kepala Elea yang tengah bersandar kepala di pundaknya. Satu tangan Ben merangkulnya.
Di atas tempat tidur itu mereka duduk berselonjoran. Ben menunda sejenak pekerjaannya demi menemani si pujaan hati yang tengah bersedih.
Elea mengangguk. Lantas mendongak, menatap Ben.
"Ben?" panggilnya lirih.
Ben pun menurunkan pandangannya.
"Apa kau akan menikahi Camila?"
"Kau sudah tahu apa jawabanku. Walau apapun yang terjadi, jawabanku akan tetap sama."
__ADS_1
"Tapi Ben, aku masih takut dengan orangtuamu. Aku takut mereka tidak akan mau memberi restu."
"Aku sudah pernah bilang padamu, jangan cemaskan soal kedua orangtuaku. Apa kau mau jika aku menikahi Camila? Apa kau akan menyerahkan suamimu ini kepada adikmu? Hm?"
"A-adik?" Mendadak Elea didera perasaan aneh. Mendengar kata 'adik', yang berarti bahwa ia memiliki saudara, walau tak sekandung. Bahkan kini ia memiliki seorang ibu dan ayah tiri. Tidak sendirian lagi di dunia ini justru terasa aneh baginya.
"Ya, adik. Apa kau rela melihat suamimu ini menikah dengan adikmu?" Ben mengulangi pertanyaan yang sama. Ia ingin tahu seperti apa tanggapan Elea. Setelah tahu jika dirinya telah dijodohkan dengan adiknya sendiri, terlebih lagi hubungan mereka tidak mengantongi restu. Apakah Elea akan memilih mundur?
"Tidak. Aku tidak membiarkan hal itu terjadi. Kau hanya milikku, Ben."
Senyum Ben terkembang. Ia senang juga puas dengan jawaban Elea.
"Malam ini kita ke suatu tempat. Kau persiapkan dirimu dengan baik. Hm?" ucap Ben, mulai menatap sayu Elea.
"Kau akan mengajakku ke mana?"
"Nanti kau akan tahu sendiri. Dan sekarang, aku hanya ingin menikmati waktuku bersama istri tercintaku." Sembari mulai mendekat, mengikis jarak perlahan-lahan. Lalu melabuhkan cepat bibirnya di atas permukaan bibir Elea. Menyesapnya lembut, menghayati penuh perasaan.
Tak lupa pula jemarinya mulai berkeliaran tak tahu aturan. Bebas menyusuri setiap lekuk tubuh yang dilaluinya. Hendak memancing kembali hasrat yang baru saja padam. Namun tiba-tiba ...
"Ben, hentikan." Elea menginterupsi saat jemari Ben terlalu nakal, menggelitik setiap titik sensitifnya. Lalu hendak berbuat nekat, mulai melepas satu per satu kancing kemeja Elea.
Ben menghirup udara panjang. Hasrat yang mulai tersulut itu harus padam. Kecewa namun harus berlapang dada. Kondisi Elea memang belum memungkinkan. Apalagi baru beberapa jam lalu mereka melakukannya. Beradu sengit, berpadu peluh dan nikmat.
"Aku kecewa," rajuk Ben berbungkus candaan.
Membuat Elea terkikik geli, lalu menyandarkan kepala di dada bidang Ben.
"Kau terlalu cepat dahaga. Tidak bisakah kau menahannya sebentar saja?"
Elea semakin terkikik geli, memukul dada Ben gemas, lalu berkata.
"Aku mencintaimu, Ben."
"Sama."
"Apanya yang sama?"
"Cinta."
"Hei, ucapkan dengan benar."
"Aku mencintaimu, Eleanor."
Elea tersenyum, semakin membenamkan wajahnya di dada Ben. Tangannya merangkul erat pinggang Ben. Sejenak, Elea terlupakan oleh kesedihan yang menderanya tiba-tiba.
...
Malam hari di mansion Cartier.
Nyonya Roberta tengah memperbaiki dandannya di depan cermin meja rias. Menyapukan blush on, serta menutup dandanannya dengan memulas bibirnya.
"Belakangan ini Ben sering tidak pulang. Memangnya kesibukan apa yang dimiliki putramu itu?" ucapnya melirik sang suami yang tengah memeriksa beberapa pesan penting pada ponsel pintarnya. Diantara pesan-pesan penting tersebut, terselip satu pesan dari Benedict.
"Ben mengirimkan pesan."
"Apa pesannya?"
__ADS_1
"Katanya ada hal penting yang harus dia sampaikan. Dia meminta kita menunggunya."
"Hal penting? Hal penting apa?"
"Aku tidak tahu. Sebaiknya kita tunggu saja Ben datang."
Tuan Albert hendak menelepon seseorang saat tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.
"Masuk," kata Tuan Albert.
Pintu kamar itu pun dibuka seseorang dari luar. Tampak kepala pelayan berdiri di ambang pintu kamar itu.
"Ada apa, Carlota?" tanya Tuan Albert.
"Maaf, Tuan. Di luar ada Tuan Julian." Carlota berlalu setelah menyampaikan kedatangan Julian.
...
Di ruang utama mansion tersebut Julian baru saja mengambil duduk saat Tuan Albert dan Nyonya Roberta datang menyapanya.
"Julian?" sapa Tuan Albert.
Julian bangun berdiri, menyambut uluran tangan Tuan Albert, bersalaman dengan santun.
"Ada keperluan apa kau datang kemari?" tanya Tuan Albert.
"Kau tidak mengajak kekasihmu?" Belum juga Julian menjawab pertanyaan Tuan Albert, Nyonya Roberta sudah menyusul dengan pertanyaan lain.
"Aku tidak bisa menghubunginya, Aunty. Sejak kemarin ponselnya tidak bisa dihubungi." Julian tersenyum kecut.
"Oh ya, di mana Ben?" tanyanya kemudian.
"Dia belum datang." Kemudian mengambil duduk di sofa sebelah. Disusul oleh Nyonya Roberta duduk disampingnya.
"Loh, bukannya dia memintaku ke sini? Kenapa dia malah pergi?"
"Ben yang memintamu ke sini?"
"Ya." Julian mengangguk.
Tiba-tiba saja di tengah obrolan tersebut, terdengar suara bariton menyapa.
"Selamat malam semuanya."
Serentak mereka pun menoleh ke arah sumber suara. Tampak Ben berdiri di seberang, mengukir senyum tipisnya. Di sampingnya, berdiri seorang wanita cantik dalam balutan busana cantik nan elegan. Wanita itu tengah menggamit lengan Ben dengan wajah tertunduk.
"Ben?" Sapa mereka berbarengan.
Ben mengajak wanita cantik tersebut menghampiri keluarganya.
"Perkenalkan, ini adalah Eleanor, istriku." Ben berkata tanpa basa-basi lagi.
Membuat semuanya terperangah. Terutama Julian. Yang terkejut begitu mengenali siapa wanita cantik tersebut. Wanita yang ditaksirnya belakangan ini.
Namun agaknya, bunga asmaranya harus layu sebelum berkembang.
*
__ADS_1