In Your Memories

In Your Memories
Chap 21. Tawar Menawar


__ADS_3

Chap 21. Tawar Menawar


"Kau berhutang banyak penjelasan padaku, Eleanor. Katakan padaku, siapa laki-laki itu."


Elea terdiam, namun kebingungan. Ia tak mengerti dengan apa yang diucapkan Ben.


"Siapa laki-laki itu? Kekasihmu?" tanya Ben lagi, yang membuat Elea semakin kebingungan. Sembari mempererat genggamannya, sehingga Elea kesakitan. Wine yang ada di tangannya hampir saja tumpah jika Ben tidak segera melepas genggamannya.


"Aku sungguh tidak mengerti apa maksudmu, Tuan. Laki-laki yang mana?" Elea melempar kembali pertanyaan itu sambil mengusap pergelangannya yang terasa sakit.


Ben terlihat salah tingkah. Hampir saja ia membuka jati dirinya yang sebenarnya. Belum saatnya Elea tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Ia akan memberikan Elea kesempatan untuk mencari dan mengenali siapa dirinya.


"Selama hidupku, aku hanya punya satu laki-laki dalam hidupku. Yaitu suamiku. Aku ini yatim piatu. Aku dibesarkan di panti asuhan. Aku bahkan tidak pernah merasakan kehadiran seorang laki-laki dalam sosok seorang ayah. Satu-satunya laki-laki dalam hidupku adalah suamiku. Tapi sayangnya, dia malah pergi meninggalkanku," sambung Elea dengan wajah sedih.


Ucapan Elea tersebut menghadirkan rasa bersalah di hati Ben. Ia merasa bersalah telah pergi meninggalkan Elea. Seharusnya ia mencaritahu dulu siapa laki-laki yang terlihat memeluk Elea dalam foto itu. Tidak seharusnya ia meninggalkan Elea sementara Elea tidak tahu menahu apa alasan yang membuatnya pergi tanpa pamit.


Dalam seketika Ben merasa dirinya tak lebih dari seorang pengecut.


Ya. Pengecut.


Sebab hanya pengecut yang menghakimi seseorang tanpa bukti yang jelas.


"Entah apa kesalahanku. Aku tahu suatu hari ini akan terjadi. Aku tahu suatu hari dia harus kembali ke kota asalnya. Tapi, aku istrinya. Seharusnya dia membawaku serta, memperkenalkanku pada keluarganya. Bukannya malah meninggalkanku tanpa sebab," tambah Elea semakin sedih mengingat kepergian Ben kala itu. Padahal pernikahan mereka saat itu baru seumur jagung.


"Astaga. Apa yang telah aku lakukan?" gumam Ben membatin. Ia semakin merasa bersalah, perasaannya ikut hancur saat ia melihat bulir-bulir air mata mengalir di pipi Elea.


Wanita itu adalah wanita yang dirindukannya, tetapi sayangnya terhapus dari memorinya dua tahun lamanya.


Ben pun mengulurkan tangannya hendak menyentuh pundak Elea, saat Elea menoleh. Namun terkejut saat melihat tangan Ben yang terulur.


"Kau mau apa, Tuan? Jangan coba-coba menyentuhku jika kau tak ingin tulang-tulangmu patah." Elea langsung memasang mode waspada. Waspada jika hal-hal yang tak diinginkan terjadi. Seperti apa yang terjadi beberapa jam lalu.

__ADS_1


"Aku tidak yakin jika kau punya nyali sebesar itu. Kau tidak cukup kuat melawanku. Menghindari ciumanku saja kau bahkan tidak bisa." Ben tersenyum sinis meledek Elea.


"Berikan itu padaku." Ben meraih cepat gelas wine di tangan Elea. Lalu langsung meneguk minuman itu sampai habis.


"Tuangkan lagi." Ben menyodorkan gelas kosong itu kepada Elea. Elea pun mengisinya kembali sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya satu botol wine telah dihabiskan Ben. Dan wajah Ben mulai terlihat kemerahan.


Ben semakin diliputi rasa bersalahnya karena meninggalkan Elea tanpa Elea tahu penyebabnya. Namun ia pun tak bisa melupakan begitu saja foto-foto Elea yang tengah dipeluk oleh seorang laki-laki. Yang kata ibunya saat itu, laki-laki itu adalah kekasih gelap Elea. Yang artinya bahwa Elea telah berselingkuh di belakang Ben.


Ben sangat mudah terhasut oleh Nyonya Roberta, ibunya saat itu. Nyonya Roberta tidak setuju putra semata wayangnya menikahi seorang perempuan dari kalangan rendahan, perempuan yang tidak jelas asal-usulnya. Seperti Elea.


Sehingga segala macam cara dilakukan oleh Nyonya Roberta untuk memisahkan Ben dari Elea. Termasuk menghapus Elea dari memori Ben.


Namun siapa sangka, meski Elea terhapus dari memori Ben, tetapi debaran di jantungnya masih sama seperti sewaktu pertamakali bertemu. Disaat Ben jatuh hati kepada Elea. Getaran dan debaran itu masih sama.


"Tuan, kau sudah terlalu banyak minum," cegah Elea saat Ben hendak kembali meneguk minuman kerasnya untuk yang kesekian kali. Sudah tiga botol wine dihabiskan Ben. Wajah Ben terlihat memerah juga matanya terlihat sayu.


Elea merebut gelas itu dari tangan Ben dan menaruhnya di atas meja. Ben berusaha mengambilnya kembali tetapi Elea mencegahnya.


"Apa hak mu melarangku? Kau siapa berani mencegahku?" cecar Ben mulai tak karuan.


"Kau memang mabuk, Tuan. Akan aku panggilkan manajer, biar dia yang menanganimu. Aku tidak bisa menemanimu terlalu lama. Aku harus pulang. Jane sedang menunggu. Dan dia sedang terluka. Permisi, Tuan." Elea bergegas bangun dari duduknya, hendak beranjak dari tempat itu. Namun tangan kekar Ben cepat menahan pergelangan tangannya.


Ben pun bangun dari duduknya tanpa melepaskan genggamannya dari pergelangan Elea. Dengan sorot mata sayu, Ben menatap mata Elea.


"Kau mau meninggalkanku? Bukankah sudah aku katakan, kau harus menemaniku sepanjang malam ini? Sampai aku merasa bosan denganmu," ucap Ben pelan dengan nada suara yang tak biasanya.


"Jika kau memang butuh seseorang untuk menemanimu malam ini, kenapa tidak kau hubungi saja tunanganmu itu? Kalian bisa melakukan banyak hal bersama."


"Camila? Aku tidak menyukainya."


"Kenapa? Bukankah dia tunanganmu?"

__ADS_1


"Ibuku yang menyukainya, bukan aku. Kau tetaplah disini bersamaku, jangan tinggalkan aku. Kau temani aku malam ini. Kau mengerti?"


"Maaf, Tuan. Aku tidak bisa." Cepat Elea memutar tubuhnya hendak beranjak dari tempatnya. Namun lagi-lagi Ben menahan pergelangan tangannya, menariknya kuat sampai tubuhnya jatuh ke dalam dekapan Ben. Ia merasakan lengan Ben merangkul erat pinggangnya.


"Tuan, tolong lepaskan aku. Aku harus pergi," pinta Elea.


"Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu. Aku ingin kau menemaniku malam ini." Ben mulai ngawur karena mabuk.


"Maaf, Tuan. Tapi aku tidak bisa."


"Kalau begitu berapa harga yang harus kubayar untuk satu malammu?" Tatapan Ben semakin sendu dengan deru napas yang mulai memburu. Ada gejolak hasrat dalam dirinya yang mulai menguasai akal sehatnya. Ben tak bisa menahan reaksi yang diberikan tubuhnya saat berdekatan dengan Elea. Gejolak itu pun masih sama seperti dahulu.


"Kau mabuk, Tuan. Sebaiknya aku panggilkan manajer." Elea berusaha sebisa mungkin menguatkan diri. Ia masih belum menemukan Ben nya. Meski Ben yang berada di depan matanya sangat mirip dengan Ben suaminya, namun Elea masih harus memastikannya. Elea hanya membutuhkan satu bukti jika benar Ben adalah suaminya. Ya, hanya satu bukti.


"Aku tidak butuh siapa-siapa selain dirimu, Eleanor. Hanya kau yang aku butuhkan. Sebutkan saja berapa pun yang kau inginkan."


"Apa maksudmu, Tuan?"


"Aku ingin membeli satu malammu. Berapa pun yang kau minta akan aku berikan."


Elea diam sejenak, sembari menghela napasnya panjang. Seketika Elea pun teringat akan hutang piutang Jane yang harus segera dilunasi. Jika tidak, nyawa Jane yang akan jadi taruhannya. Haruskah Elea memanfaatkan kesempatan ini?


"Berapa pun yang aku minta kau akan memberikannya padaku?" tanya Elea memastikan. Sebab biasanya omongan orang mabuk itu hanya sekedar melantur saja.


"Apa kau pikir aku terlalu mabuk? Aku akan membayar satu malammu bersamaku berapa pun yang kau inginkan."


Elea menelan salivanya dalam. Tawar menawar ini membuat jantung Elea berdetak kencang. Membayangkan satu malam bersama Ben, pria yang memiliki kemiripan dengan suaminya itu sungguh membuat darahnya berdesir. Helaan napas nya bahkan serasa sesak.


"Hanya satu malam?"


"Ya. Hanya satu malam."

__ADS_1


*


__ADS_2