In Your Memories

In Your Memories
Chap 25. Mulai Bertanya-tanya


__ADS_3

Chap 25. Mulai Bertanya-tanya


"Oh ya, Tony. Apakah kau pernah ke London dua tahun lalu?" tanya Ben tiba-tiba. Dan Camila pun sontak terlihat tegang.


"Ke London dua tahun lalu?" Tony mengulang pertanyaan itu. Sembari melirik Camila sejenak. Yang berusaha memberi kode kepadanya agar tidak mengatakan apa-apa. Atau paling tidak berbohong.


"Ee ... Iya. Aku pernah ke sana dua tahun lalu. Itu pun karena ada yang memintaku ke sana." Sayangnya Tony tidak mengerti kode yang diberikan Camila melalui kerlingan matanya.


"Oh ya? Siapa yang memintamu ke sana? Seseorang yang spesial?"


Tony tertawa kecil mendengarnya. "Tidak juga. Aku ke sana untuk urusan pekerjaan. Aku sudah menikah, sudah tiga tahun." Sembari memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya kepada Ben.


"Oh, begitu ya?" Ben berpikir, sembari melirik-lirik sebentar kepada Camila. Yang terlihat tegang, seperti sedang mencemaskan sesuatu. Dalam hatinya Ben pun mulai bertanya-tanya.


"Maaf, kalau boleh aku tahu, apa pekerjaanmu di London?" tanya Ben kemudian.


"Tidak. Kebetulan aku ke London waktu itu karena Cam..."


"Tony, kau bersama siapa ke sini?" Cepat Camila menyela ucapan Tony. Tony pun menoleh dan mendapati ekspresi wajah aneh Camila.


Camila masih berusaha memberi kode melalui kedipan matanya agar Tiny tidak mengatakan apa pun soal apa yang dilakukannya di London dua tahun lalu. Sebab saat itu Tony hanya menuruti apa yang Camila minta saja.


"Oh iya, aku hampir lupa. Aku ke sini bersama istriku. Dia lagi ke toilet sebentar," sahut Tony.


"Kau bersama Tania? Dia ke toilet kan? Kalau begitu aku ke sana sekarang. Kebetulan ada yang ingin aku bicarakan dengannya. Permisi." Bergegas Camila pergi ke toilet wanita. Sembari berjalan menuju toilet, cepat ia mengetikkan pesan yang dikirimkannya ke ponsel Tony.


Camila


[Tolong jangan kau menjawab lagi apa pun pertanyaan yang diajukan Ben kepadamu. Cari alasan agar kau bisa segera pergi meninggalkannya]


Begitulah isi pesan Camila yang masuk ke ponsel Tony. Dan Tony pun langsung mengikuti keinginan Camila tanpa bertanya alasannya lagi. Kebetulan juga, Tania, istrinya baru saja selesai dengan urusannya di toilet. Sehingga Tony memiliki alasan untuk menghindari Ben.


...


Di dalam toilet restoran, Camila masih sempat bertemu Tania. Camila lalu meminta Tania agar mengajak Tony pulang saja, demi menghindari Ben.


Di dalam toilet itu pun Camila lalu menghubungi seseorang. Sudah berkali-kali ia mencoba menghubungi, dan berkali-kali pula panggilannya malah berakhir dengan panggilan tak terjawab.

__ADS_1


"Kenapa Nyonya Roberta tidak mengangkat teleponku?" gumam Camila cemas. Sedari tadi, jantungnya berdebar-debar saat ia melihat sosok wanita yang mirip dengan wanita masa lalu Ben. Hatinya bahkan meyakini bila wanita itu adalah wanita yang sama. Wanita yang dinikahi Ben dua tahun lalu di London. Wanita yang membuatnya sakit hati karena telah merebut Ben darinya.


Wanita itu bahkan melukai harga dirinya sebagai putri  perdana menteri. Bagaimana bisa, wanita berkelas seperti dirinya, bahkan berasal dari keluarga terpandang kalah bersaing dengan seorang wanita rendahan, miskin, dan tidak jelas asal usulnya seperti Eleanor.


Untuk kesekian kali Camila berusaha menghubungi Nyonya Roberta. Namun yang terjadi masih saja hal yang sama. Panggilannya berakhir dengan panggilan tak terjawab. Membuat Camila kesal dan hampir saja melempar ponselnya.


"Akh ... Kenapa bisa jadi seperti ini? Siapa perempuan itu sebenarnya? Dan kenapa dia malah berada di sekitar Ben? Kau ke mana saja nenek tua sialan. Kenapa kau tidak menjawab teleponmu?" kesal Camila menggerutu di depan cermin wastafel toilet. Ia terlihat jengkel memandangi pantulan wajahnya sendiri di depan cermin itu.


"Seharusnya aku paksa saja nenek tua sialan itu agar secepatnya menikahkanku dengan Ben, sebelum ingatan Ben kembali. Seharusnya aku..."


"Ehem ..." Suara deheman yang terdengar menyela kalimat Camila tiba-tiba.


Sontak Camila pun menoleh. Lalu ia salah tingkah seketika saat melihat Ben tengah berdiri di ambang pintu toilet itu. Menatapnya tajam sembari melipat tangan di depan dada.


"B-Ben? Sudah berapa lama kau berdiri di situ?" tanya Camila gugup sembari menghampiri. Ia gugup karena tiba-tiba saja Ben malah datang menyusulnya ke toilet. Ia juga cemas jika Ben mendengar ucapannya.


"Lumayan." Dengan santainya Ben menyahuti pertanyaan Camila.


"A-apa kau mendengar apa yang aku katakan tadi?"


"Ya. Aku mendengar kau menyebut nenek tua. Memangnya siapa yang kau panggil nenek tua itu?"


"Sudahlah. Aku tidak mau tahu tentang nenek tua itu. Oh ya ..." Sembari melirik arloji di pergelangan kirinya.


"Aku harus kembali sekarang. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," sambung Ben melangkahkan kakinya meninggalkan toilet itu.


"Tapi kita belum makan, Ben. Kita sudah memesan makanannya."


"Maaf, tapi aku tidak bisa." Ben tak menghiraukan lagi Camila. Ia terus saja melangkah panjang meninggalkan restoran.


Sementara Camila kesusahan menyusul langkah Ben. Camila masih berusaha membujuk Ben agar mau melanjutkan makan siang mereka. Ia tidak mau rugi. Sebelum mengajak Ben, ia harus merendahkan harga dirinya, berusaha mengambil perhatian Nyonya Roberta agar mau menekan Ben.


"Tapi, Ben, bisakah lain waktu kita makan malam bersama?"


"Tidak bisa." Tentu saja Ben menolak. Karena sebelumnya, Camila berhasil menjebaknya. Dan akhirnya makan malam mereka malah berakhir di sebuah kamar hotel. Tentu saja Ben tidak mau melakukan kesalahan yang sama.


Ben tak menggubris setiap tawaran yang diajukan Camila. Ia terus melangkah, hingga tibalah ia di tempat parkir. Ia langsung masuk ke mobil begitu membuka kuncinya.

__ADS_1


"Maaf, Camila. Aku harus kembali ke hotel. Aku tidak bisa mengantarmu pulang. Maafkan aku." Ben langsung memacu mobilnya setelah menghidupkan mesinnya. Ia meninggalkan Camila begitu saja di pelataran parkir seorang diri.


Ucapan Camila di toilet beberapa saat lalu mengganggu pikiran Ben. Hatinya semakin bertanya-tanya, ada hubungan apa gerangan antara Camila, ibunya, juga Eleanor.


Ada keterkaitan apa diantara mereka, sehingga kehadiran Eleanor begitu mengganggu Camila. Ben diliputi rasa penasarannya.


...


Sementara di Benedict Stat Hotel.


Eleanor baru saja selesai dengan pekerjaannya saat seseorang memanggilnya.


"Eleanor."


Elea menoleh. Seorang rekan kerjanya memanggil namanya sembari menghampiri.


"Ada apa?" tanya Elea.


"Kamar presidential suite yang berada di lantai lima membutuhkan layanan kamar. Kau diminta ke sana."


"Baiklah." Bergegas Elea pun pergi ke lantai lima. Langkahnya terhenti tepat di depan kamar yang dimaksud oleh rekannya tersebut.


Elea menekan bel pintu. Tak lama pintu itu pun terbuka. Elea hendak melayangkan pertanyaan terkait layanan kamar yang diinginkan oleh tamu. Namun dahinya berkerut saat dilihatnya yang berdiri di ambang pintu adalah Mark, asisten Ben.


"Maaf, aku dipanggil kemari untuk layanan kamar. Apakah a..."


"Masuklah." Mark menyela ucapan Elea.


Elea terlihat ragu, bahkan hatinya bertanya-tanya. Bukankah tamu yang meminta layanan kamar? Lalu mengapa malah Mark yang berada di dalam kamar itu?


"Maaf, tapi..."


"Suruh dia masuk, Mark!" Terdengar sahutan dari dalam kamar tersebut. Suara itu sudah sangat familiar di telinga Elea.


"Tuan, Ben sedang menunggumu di dalam. Masuk dan jangan banyak bertanya."


*

__ADS_1


Mohon maaf baru bisa up. Si kecil kesehatannya sedsng tergsnggu dan membutuhkan perhatian lebih. Semoga msh bisa menghibur ya☺️☺️


Buat teman² jangan lupa tetap jaga kesehatan.


__ADS_2