
Chap 36. Kedatangan Keluarga Rodrigues
Sarapan bersama Ben menyita waktu Elea. Sehingga Elea terlambat berangkat ke tempat kerjanya. Beruntung Ben adalah atasannya, jika tidak, mungkin Elea sudah dipecat.
Keadaan Jane sudah lebih baik, sehingga hari ini Jane bisa bekerja kembali seperti biasanya. Tak henti Jane berterimakasih pada Elea karena sudah membantu melunasi hutangnya. Tetapi Elea masih berhutang penjelasan kepada Jane. Perihal dari mana Elea mendapatkan uang sebanyak itu.
Seperti biasanya, Elea dan Jane sudah bersiap dengan peralatan mereka untuk membersihkan kamar yang ditinggalkan tamu saat tiba-tiba terdengar suara memanggil nama Elea.
"Eleanor," panggil Connie, supervisor yang menangani bagian Housekeeping.
Elea menoleh. "Ya. Ada apa, Miss?"
Connie masih berstatus single, dan usianya beberapa tahun di atas Elea. Karenanya Connie lebih suka dipanggil Miss ketimbang dipanggil Bu, Nyonya, Madame, atau semacamnya. Connie juga berpenampilan menarik, menunjang rupa nya yang jelita.
"Hari ini kau bertugas di bagian catering, menggantikan karyawan catering yang tidak masuk hari ini. Cepat kau ke ruang ganti. Tidak lama lagi rombongan Pak Menteri akan datang. Ingat, jangan buat kesalahan melayani keluarga menteri. Sekali saja kau membuat kesalahan, kau akan langsung dipecat. Paham?"
"Paham, Miss."
"Ya sudah. Ayo cepat, ganti seragammu."
"Baik, Miss."
Setelah berkata Connie bergegas keluar dari ruangan Housekeeping.
"Wow, rombongan Pak Menteri akan datang ke hotel ini hari ini?" tanya Jane tak percaya. Sebenarnya Jane sudah mendengar hal ini jauh sebelumnya. Tetapi ia terkejut rombongan menteri akan datang hari ini.
"Ya, begitulah."
"Aku sangat penasaran melihat putrinya Pak Menteri. Yang katanya adalah calon tunangan Tuan Ben itu.. Katanya sih dia pernah datang ke hotel menemui Tuan Ben. Tapi sayang aku tidak melihatnya. Waaah ... Tuan Ben sangat beruntung ya kalau sampai menikahi putrinya Pak Menteri."
Untuk sesaat Elea terdiam mendengar ucapan Jane. Bayangan Camila pun sekilas melintasi benaknya. Mungkinkah yang dimaksud Jane adalah Camila?
Ben memang beruntung bisa mendapatkan putri seorang menteri. Bukan hanya cantik, wanita yang pernah berpapasan dengannya beberapa waktu lalu itu bahkan terlihat anggun berkelas. Terlihat pantas dari segi manapun bila disandingkan dengan Ben.
"Dari pada kau bicara tidak jelas seperti itu, lebih baik kau doakan aku saja agar aku tidak melakukan kesalahan." Elea membuang napasnya panjang sebelum akhirnya berlalu pergi.
"Semangat El. Aku doakan tugasmu berjalan lancar." Jane berseru untuk menyemangati sahabatnya itu.
...
Sementara di ruangannya, Ben tengah duduk berpangku kaki, bersandar punggung menghadap jendela besar di belakangnya. Ben menatap kosong jendela itu dengan pikiran menerawang jauh.
Mengingat soal semalam, sedikit kecewa karena harus menunda membuka jati dirinya di depan Elea. Karena Elea mabuk, momen yang Ben harapkan akan indah seperti ekspektasinya, malah berakhir sia-sia.
Namun setidaknya, ia bisa bersama Elea sepanjang malam. Meski wanita itu dalam keadaan mabuk dan kehilangan kesadarannya.
Dalam keadaan itu, Ben mempunyai kesempatan untuk bisa berada dekat dengan Elea. Menatap wajahnya, mengecup keningnya, membelai wajahnya. Hanya satu yang belum bisa Ben lakukan terhadap Elea. Yaitu ...
__ADS_1
"Oh sial!" Ben mengumpat, menghentikan pikirannya yang mulai mengelana. Membayangkan hal-hal indah bersama Elea. Imajinasinya tentang wanita itu mulai liar tak terkendali.
Namun sayangnya, Ben masih terhalang oleh obsesi orang tuanya untuk menjalin kekerabatan dengan keluarga bangsawan. Hubungan itu telah terlanjur terjalin. Ben hanya bisa menyesali mengapa dengan mudahnya ia menerima disaat orangtuanya menjodoh-jodohkannya dengan Camila. Padahal sedikitpun ia tidak memiliki perasaan terhadap Camila.
Selama dua tahun ini, setelah Ben kembali dari London, Ben seolah hidup tanpa tujuan. Begitu mudahnya ia menerima keinginan ibunya. Ben menjadi sangat mudah dikendalikan, seolah pikirannya dikuasai oleh ibunya.
Ben tidak tahu mengapa ia kehilangan arah hidup. Ia seperti orang linglung, menuruti saja perkataan ibunya. Sampai hadirnya sosok seorang wanita misterius dalam mimpinya, menghantui setiap malamnya, membangunkan rasa keingintahuannya akan sosok tersebut. Ben pun menuruti rasa penasarannya sejak saat itu.
Hingga ketika memorinya telah kembali, Ben menyesali telah melupakan wanita yang dicintainya dua tahun lamanya. Kenangan-kenangan indah saat mereka bersama terhapus dari memorinya entah bagaimana caranya.
Dan kini, saat wanita yang dicintainya berada dekat dengannya, Ben pun menemukan kembali tujuan hidupnya. Elea adalah arah hidup yang harus diperjuangkannya, dimulai dari sekarang.
Namun masih ada beberapa hal janggal yang mengusik pikirannya. Salah satunya adalah foto perselingkuhan Elea.
Oh, bukan!
Memang dari yang terlihat, sekilas, mirip foto perselingkuhan. Tetapi bila diperhatikan dengan seksama, dalam foto itu terlihat si pria lah yang merangkul Elea.
Sebenarnya, masih banyak hal lagi yang membuat Ben penasaran. Namun ia membutuhkan waktu untuk mengetahui itu semua.
Disaat lamunan Ben kian melambung, suara decitan pintu terbuka pun membuyarkannya seketika. Ben memutar kursinya, menghadap Mark yang sudah berdiri di depan mejanya.
"Rombongan Pak Menteri sudah tiba, Tuan," kata Mark.
Ben tak langsung menanggapi. Ben diam sejenak, tampak seperti sedang berpikir.
"Baiklah." Ben bangun dari kursinya, beranjak keluar dari ruangannya bersama Mark.
Sementara di luar ruangan, Elea yang tengah berjalan menuju ballroom, berkali-kali menerima panggilan dari nomor yang tak dikenalnya. Yang ia abaikan dan berakhir dengan panggilan tak terjawab. Sampai akhirnya sebuah pesan teks menyusul.
[Hai Eleanor. Maaf mengganggumu. Ini aku, Julian]
Elea menghentikan langkahnya sejenak, membalas pesan dari Julian.
Elea
[Maaf tak sempat menjawab panggilan darimu, Tuan]
Julian
[Berapa kali aku bilang, jangan panggil aku Julian. Panggil saja namaku]
Elea
[Ya, Julian. Ada yang bisa aku bantu]
Julian
__ADS_1
[Apa kau punya waktu hari ini? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat]
Elea
[Maaf, Julian. Aku tidak bisa. Aku sedang ada pekerjaan]
Julian
[Oh begitu ya. Baiklah, tidak apa-apa. Lain waktu mungkin kau bisa]
Elea
[Akan aku pikirkan😊]
Elea tersenyum-senyum berbalas pesan dengan Julian. Dan senyuman Elea itu sempat tertangkap pandangan Ben yang datang dari arah berlawanan dengan Elea.
Ben meliriknya sejenak tanpa menghentikan langkahnya. Lirikan Ben terputus saat ia memasuki ballroom.
Di dalam ballroom itu, keluarga Rodrigues dan keluarga Cartier sedang duduk dalam satu meja bundar. Di setiap sudut ruangan, ada banyak pengawal keamanan Harvey Rodrigues. Yang senantiasa bertugas dalam keadaan apa pun demi keamanan serta keselamatan menteri tersebut.
Sementara di luar gedung hotel, banyak para awak media yang berkumpul ingin meliput kedatangan Harvey Rodrigues ke Benedict Star Hotel. Banyak kabar yang mulai berembus, bahwa putri pak menteri akan dipersunting oleh seorang pebisnis muda, pimpinan Benedict Star Hotel.
Dan kedatangan keluarga Rodrigues ke Benedict Star Hotel kali ini dikabarkan adalah kunjungan pribadi. Yang banyak awak media menebak kedatangan mereka adalah untuk membicarakan masalah pernikahan. Untuk itulah para awak media tidak 95diperbolehkan untuk meliputnya.
Setelah berbalas pesan dengan Julian, bergegas Elea membawa langkahnya memasuki ballroom, langsung bergabung bersama rekan bagian catering yang berdiri di sisi meja mini bartender.
Ben yang telah bergabung dengan dua keluarga tersebut, melayangkan pandangannya sesaat ke arah Elea.
Camila yang duduk di samping Ben, tersenyum-senyum menatapnya.
"Ternyata kau pekerja keras, sangat sibuk sehingga tidak punya waktu menyambut kedatangan kami." Harvey mulai berbasa-basi, namun terdengar menyindir. Sebab ia merasa sedikit kurang dihargai oleh calon menantunya tersebut.
"Ehem!" Catherine pun berdehem untuk menegur sang suami. Catherine hanya menjaga agar kalimat suaminya itu tak terdengar menyinggung keluarga calon besan.
"Seperti itulah, Tuan. Maaf untuk soal itu." Ben mengerti maksud Harvey, namun tidak menanggapinya serius.
Albert mengangkat tangan kanannya, memanggil pelayan di bagian.
Pelayan yang sudah bersiap di meja bartender pun segera menyiapkan wine yang diminta oleh Albert.
Satu pelayan mendorong membawa baki yang berisi satu botol wine. Sedangkan Elea bertugas menuangkan wine tersebut ke dalam gelas.
Lantara asik dengan obrolannya, Camila sampai tidak menyadari kehadiran Elea. Sampai tiba-tiba, tanpa sengaja Elea menumpahkan wine. Dan tumpahan wine itu mengenai baju Catherine.
"Hei, kau. Hati-hati. Apa kau tidak bisa bekerja dengan baik?" omel Nyonya Roberta berang. Namun detik kemudian, wanita paruh baya itu terdiam.
*
__ADS_1