
Chap 61. Cepat Kembali
"Ibu."
Kata itu menggema. Tak hanya mengisi ruang pendengaran Catherine, bahkan mengisi kegersangan kalbunya. Kata itu bahkan menggetarkan jiwanya. Terdengar merdu, terucap dari mulut seseorang yang paling dirindukannya selama hidupnya.
Dalam hitungan detik saja, genangan air begitu cepat memenuhi pelupuk mata Catherine. Membuat pandangan matanya mulai mengabur.
"Cepatlah kembali." Elea berkata sambil memandangi punggung Catherine.
Bukannya Elea tak ingin memberi kesempatan kepada Catherine untuk menjadi seorang ibu untuknya. Elea hanya takut jika Catherine akan pergi meninggalkannya untuk kedua kalinya.
Tak ingin munafik, Elea membutuhkan kehadiran ibunya. Elea butuh sosok ibu kandungnya di sisinya. Elea pun ingin merasakan kehangatan kasih seorang ibu.
"Aku akan sangat merindukanmu, Ibu."
Dalam seketika rongga dada Catherine kembang kempis menahan tangisnya. Ia pun berbalik, seiring derai air matanya membasahi pipi. Ia tak kuat menahan luapan perasaan haru juga bahagia yang menerjang bersamaan.
"Bi-bisakah..." Catherine terisak hingga kalimatnya terjeda sejenak.
Sementara Elea menatap Catherine sendu, menghiba kasih sayang ibunya.
"Elea, bisakah Ibu mendengarnya sekali lagi?" Catherine meminta disela isak tangisnya.
Elea menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dadanya mulai sesak, berusaha terlihat tegar. Namun sesungguhnya hatinya rapuh. Sekuat apa pun ia mencoba, air mata itu tetap saja bandel. Jatuh tanpa permisi, berlinangan di pipinya.
"Aku merindukanmu, Ibu."
Hampir saja pernapasannya terhenti. Catherine tak kuat lagi menahan tangisnya, hingga isakan tangisnya terdengar mendayu pilu mengiris kalbu.
"Bolehkah Ibu memelukmu, putriku?"
Tanpa aba-aba Elea pun menerjang, menghambur ke pelukan Catherine. Mengurai tangisnya di pelukan Catherine.
"Hiks ... Hiks ..."
Catherine dan Elea pun terisak dalam tangisnya. Sebagai bentuk luapan rasa rindu, haru, serta bahagia yang menyerbu berbarengan. Dalam pelukan itu keduanya saling mencurahkan perasaan yang selama ini terpendam.
Bertahun-tahun terpisah bukanlah waktu yang singkat. Bertahun-tahun itu ada rindu yang terbendung, semakin membukit seiring waktu berjalan. Menyisakan sakit saat rindu itu tak kunjung berbalas, lalu raib di ujung pengharapan.
Itulah yang Elea rasakan bertahun-tahun lamanya. Cinta kasih orangtua yang ia dambakan, hanya menjadi angan belaka yang senantiasa memenuhi ruang imajinya.
Sampai suatu ketika, Tuhan mempertemukannya dengan Ben. Saat itulah tabir yang menghalangi setiap harapannya, mulai tersingkap perlahan-lahan. Salah satunya adalah harapan bertemu orangtuanya.
__ADS_1
Melepas pelukan, Catherine membawa jemarinya mendekap kedua sisi wajah Elea. Sembari mengulas senyum bahagianya ia berkata,
"Putri Ibu cantik sekali hari ini. Ibu hampir tidak mengenalimu. Ibu hanya ingin bilang, terimakasih sudah memberi Ibu kesempatan untuk menebus kesalahan Ibu. Kau tak memberi Ibu maaf pun, Ibu tidak keberatan. Yang Ibu inginkan hanya selalu bisa berada di dekatmu. Ibu janji, Ibu akan cepat kembali untukmu. Kita akan mengukir kenangan lebih banyak lagi bersama." Catherine berkata dengan berderai air mata. Didera perasaan haru dan sukacitanya bisa berkumpul kembali dengan putri tercintanya.
Meraih jemari Catherine dari wajahnya, Elea menggenggam jemari itu dengan erat.
"Aku sudah memaafkanmu, Ibu. Maafkan aku yang sempat membencimu."
"Tidak apa-apa. Ibu tidak pernah memikirkan soal itu. Kau membenci Ibu pun, Ibu tidak apa-apa." Catherine mengulum senyumnya, lalu mengecup sayang punggung jemari Elea. Sebagai bentuk kasih sayangnya kepada sang putri.
Tanpa mereka sadari, di ambang pintu, berdiri keluarga Cartier. Yang menyaksikan momen mengharukan tersebut dengan penuh suka cita. Mereka pun ikut berbahagia melihat Elea bisa berdamai dengan sang ibu.
Dan pada akhirnya, Nyonya Roberta pun bisa menerima Elea sepenuhnya begitu mengetahui siapa Elea. Hanya saja sampai detik ini, ia masih gengsi menunjukkan secara langsung perhatiannya kepada sang menantu. Seperti pagi ini, perhatian itu ia berikan melalui memberikan pelayanan terbaik kepada sang menantu agar tidak dipandang remeh.
Nyonya Roberta mendadak berwajah sendu, matanya bahkan memerah lantaran menahan tangis melihat pemandangan mengharukan tersebut.
"Kasihan menantu kita. Puluhan tahun lamanya dia mendambakan kasih sayang seorang ibu. Dan hari ini, Tuhan telah mengabulkan keinginannya." Tuan Albert berkata sembari melirik-lirik Nyonya Roberta yang menyeka air matanya. Yang jatuh tanpa bisa dicegahnya.
Sementara Ben, tengah memfokuskan pandangan kepada Elea. Ben ikut berbahagia melihat Elea akhirnya bisa menerima ibunya. Ia lega, Elea tak berkeras hati lagi. Ia senang Elea menuruti perkataannya.
Sayangnya pertemuan Catherine dan Elea tak bisa berlangsung lama. Karena Catherine sudah harus melakukan perjalanan. Camila akan melakukan pengobatan di Amerika. Dan Catherine sebagai ibunya, sudah barang tentu harus mendampingi sang putri. Dan dengan berat hati harus berpisah kembali dengan putri lainnya yang masih dirindukannya itu.
Namun beruntungnya, ditengah perkembangan jaman yang semakin pesat ini, melahirkan perkembangan teknologi yang semakin mutakhir. Masalah jarak bukan lagi menjadi soal. Setiap hari Catherine dan Elea bisa berkomunikasi via telepon ataupun video call.
"Aku tidak menyangka, ternyata menantuku itu adalah putrimu Nyonya Catherine." Nyonya Roberta berkata ketika Catherine berpamitan.
Catherine tersenyum. "Iya Nyonya Roberta. Maaf tidak mengatakan ini sebelumnya."
"Aku sudah tahu Nyonya Catherine. Ben sudah cerita semuanya. Oh ya, aku turut prihatin dengan kondisinya Camila. Aku doakan semoga pengobatannya berjalan dengan lancar. Dan semoga Camila cepat sembuh."
"Terimakasih, Nyonya Roberta. Aku titip putriku. Maaf jika dia merepotkan kalian."
"Tidak ada yang seperti itu, Nyonya Catherine. Putrimu sama sekali tidak merepotkan. Justru kehadirannya memberikan suasana berbeda di rumah. Putri Nyonya sudah jadi menantuku. Aku janji aku akan menjaganya dengan baik."
Seperti itulah obrolan Nyonya Roberta dan Catherine, sebelum akhirnya Catherine berlalu pergi.
...
Duduk seorang diri di area taman hotel, menunggu Ben menyelesaikan pekerjaannya. Elea tengah menikmati semilirnya angin, bertiup lembut menerpa kulitnya.
Perasaannya sudah lega ketika ia membuka hati menerima dan memaafkan kesalahan sang ibu. Mungkin memang ini yang terbaik, sebelum terlambat. Seperti kata Ben, jangan sampai ia menyesal nanti.
Di tengah lamunan yang kian melambung, sebuah tangan tangan terulur hendak memberinya segelas kopi. Kopi dalam kemasan tersebut disodorkan seseorang kepadanya, hingga ia mendongak menatap si pemberi kopi.
__ADS_1
"Ini buatmu. Ambillah," kata Nyonya Roberta dengan wajah datarnya. Wanita paruh baya itu lantas mengambil duduk di samping Elea begitu Elea meraih kopi tersebut.
"Terimakasih, Nyonya."
"Mommy."
Refleks Elea menoleh, menatap bingung sang mertua yang mendadak berubah.
"Jangan sampai orang-orang berkata kalau aku ini adalah mertua yang buruk. Jadi mulai saat ini, panggil aku Mommy." Nyonya Roberta bisa menerka makna raut wajah Elea. Yang mungkin saja keheranan dengan apa yang diucapkannya barusan.
Elea mengulum senyum penuh pemakluman. Mungkin benar apa kata Ben, bahwa ibunya masih membutuhkan waktu untuk benar-benar bisa menerimanya sebagai menantu.
"Terimakasih untuk pemberian Mommy pagi ini. Aku sangat senang menerimanya," ucap Elea.
"Benarkah? Kau menyukainya?" Terkejut dengan reaksi menantunya.
Elea mengangguk.
"Fashion Stylish itu bagaimana menurutmu? Apa kau menyukainya? Eh, maksudku ..."
"Ya, aku menyukainya. Sarannya bisa diterima, cara dia menentukan mode berbusana juga aku menyukainya. Pilihan Mommy memang selalu tepat."
"Benarkah?" Nyonya Roberta mengusap tengkuk, binar wajahnya kentara amat senang mengetahui menantunya menyukai apa yang dipilihkan untuknya.
"Dia itu Fashion Stylish andalan Mommy. Dia yang mengatur gaya Mommy dalam berbusana," sambungnya bersemangat.
"Pantas saja Mommy selalu terlihat cantik dan elegan." Elea memuji, otomatis membuat Nyonya Roberta salah tingkah. Lali wajahnya merona bahagia. Senang ia dipuji demikian.
"Ah, kau bisa saja." Nyonya Roberta terlihat malu-malu.
Seperti itulah obrolan para wanita, yang membuat Nyonya Roberta dan Elea akhirnya mulai dekat satu sama lain.
Sementara di seberang, Ben yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya tersenyum-senyum menyaksikan pemandangan langka tersebut. Mungkin obrolan dua wanita kesayangannya itu seru sehingga dua wanita itu tertawa-tawa.
*
Mohon maaf ya baru bisa up sekarang.
Cerita ini udah gak ada konflik lagi. Tinggal beberapa part lagi menuju ending.
Selamat tahun baru ya semuanya😊😊
Tetap jaga kesehatan.
__ADS_1
Saranghae😘