In Your Memories

In Your Memories
Chap 62. Nonton Film


__ADS_3

Chap 62. Nonton Film (End)


Suara derit pintu terbuka terdengar. Elea keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit sebatas ketiak. Rambutnya dicepol keatas sehingga mengekspose leher jenjangnya yang mulus.


Ben yang tengah berselonjoran di atas tempat tidur dengan macbook di tangan pun refleks menoleh. Tanpa sadar menelan salivanya, tergiur penampakan menggoda pandangan.


Menutup macbook di tangan, menaruhnya di nakas, Ben lantas turun dari tempat tidur itu. Menghampiri Elea yang tengah memilih-milih pakaian di lemari.


Elea tak menyadari kelakuannya yang tanpa disengaja itu justru sengaja membangunkan sisi lain Ben yang telah tertidur. Memaksa bangun lalu mulai mendesak, sehingga membuat napasnya serasa sesak akibat hasrat yang mulai bergejolak.


"Ben." Elea sedikit terperanjat ketika kecupan demi kecupan mendarat di sepanjang garis leher, disusul sepasang lengan melingkari pinggangnya. Elea pun menyimpan kembali pakaian yang sudah diambilnya itu ke dalam lemari.


"Kau sengaja mau menggodaku? Apa kau sadar bagaimana penampilanmu saat ini? Kau seperti sengaja memberi ikan pada seekor kucing yang sedang kelaparan." Ben berkata tanpa menjeda kecupannya. Bibirnya rakus mengecup sepanjang leher, menuju ke pundak. Embusan napas hangat Ben serasa menggelitik, membuat bulu roma Elea meremang. Kecupan itu masih berlangsung, malah hendak menuju ke bagian dada Elea. Membuat Elea sendiri yang harus memaksa kecupan itu berakhir.


"Ben, hentikan." Memutar tubuhnya, lalu mendorong tubuh Ben menjauh. Memaksa kecupan Ben terhenti, lalu menerbitkan raut kekecewaan di wajah Ben.


Benda kebanggaan Ben berdiri tegak di bawah sana. Ben sudah tak mampu lagi menahan gejolak itu.


Namun sayangnya Elea malah menepisnya. Bukannya memahami, wanita itu malah tertawa melihat tampang merajuk Ben. Kecewa mengalami penolakan.


"Aku harus ganti baju. Mommy mengajakku menonton film kesukaannya. Jadi kita tidak punya waktu melakukannya."


Memang sore ini Nyonya Roberta meminta Elea menemaninya nonton. Dan tentu saja Elea tidak bisa menolak.


"Tapi kau kan bisa menolaknya?" rajuk Ben memanyunkan bibirnya. Yang terlihat sungguh menggemaskan di mata Elea. Sehingga Elea refleks mengalungkan lengannya di pundak Ben.


"Ya ampuuun ... Suamiku ini sungguh sangat menggemaskan. Suamiku, bukankah kau ingin melihat istrimu ini dekat dengan ibu mertuanya? Maka dari itu biarkan istrimu ini memenuhi ajakan ibu mertuanya." Sembari menyentil manja hidung lancip Ben.


"Tapi, Elea. Aku tidak yakin jika Ben Junior mengijinkanmu pergi disaat dia sedang ingin di belai."


"Ha ha ha ... Itu hanya alasanmu saja. Tahanlah sebentar, Suamiku. Hm? Aku janji aku akan cepat kembali."


Ben Ben mendesah resah. Bagian bawah tubuhnya bahkan sudah berkedut sejak tadi. Menuntut desakan rasa itu segera tersalurkan.


Namun lagi-lagi Elea malah tertawa menanggapinya. Membuat Ben tak bisa lagi menerimanya. Ia lantas melangkahkan kakinya cepat hendak keluar kamar.


"Ben, kau mau ke mana?" tanya Elea terkejut.


"Unjuk rasa pada ibuku."

__ADS_1


"Unjuk rasa? Unjuk rasa bagaimana? Ben, tolong jangan permalukan aku di depan ibumu!" Setengah berteriak Elea berseru. Tetapi Ben malah tak menghiraukannya. Elea pun dibuat gelagapan, panik dengan tingkah Ben. Padahal hubungannya dengan ibu mertua baru saja mulai dekat. Ia tak ingin merusak hal itu dengan menolak ajakannya. Ia merasa ini adalah kesempatan yang bagus untuk mengambil hati mertuanya tersebut.


"Ben, tolong jangan lakukan kesalahan. Ben?" Elea berusaha mencegahnya. Namun Ben berkeras kepala. Sama sekali tak bisa dicegah.


Ben telah membuka pintu kamar, hendak melenggang keluar. Namun langkahnya terhenti oleh sesosok anggun yang telah berdiri di depan pintu itu.


"Mom?" Ben berkerut dahi melihat penampilan ibunya yang menggunakan setelan serba merah dari kaki sampai kepala. Lengkap dengan topi serta syal berwarna merah. Tampilan ibunya itu terlihat klasik namun elegan.


"Elea sudah siap? Mommy mau mengajaknya ke bioskop." Nyonya Roberta berkata sembari membenahi syalnya.


"Memangnya film apa yang akan kalian tonton dengan penampilan Mommy yang seperti itu."


"Bagaimana penampilan Mommy?" Nyonya Roberta memutar tubuhnya di depan Ben. Meminta Ben memberi penilaian akan penampilannya yang klasik itu.


Ben memijat pelipisnya yang mulai berkedut. Baru kali ini ibunya lebay seperti ini. Membuat Ben jadi berpikir, entah apa yang sering dibicarakannya dengan Elea sampai dang ibu berubah drastis seperti itu. Penampilannya sore ini jauh berbeda dari biasanya. Sang ibu sekilas terlihat mirip orang yang sedang kasmaran.


"Mom, apa kau baik-baik saja?"


"Oh, tentu saja. Kau pikir Mommy mu ini sedang sakit? Bagaimana penampilan Mommy? Cantik? Apakah Mommy terlihat seperti waktu muda dulu?"


"Mommy yakin ingin pergi nonton dengan penampilan seperti ini? Memangnya film apa yang akan kalian tonton?"


"Film klasik, Ben. Romansa klasik." Elea menyahuti sembari menghampiri. Kedatangan Nyonya Roberta memberi kesempatan kepada Elea untuk segera berpakaian.


Nyonya Roberta mengangguk. "Ya. Mommy dan Elea sudah membuat janji. Dan janji harus di tepati. Ayo, menantuku. Jangan sampai kita terlambat." Sembari mengulurkan tangannya. Yang langsung disambut Elea, meraih uluran tangan itu. Mereka lalu melenggang sambil bergandengan tangan.


"Tunggu, tunggu," cegah Ben.


"Kalau begitu aku ikut. Tunggu sebentar, aku ganti pakaianku dulu."


...


Rencananya memang hanya Elea dan Nyonya Roberta yang akan pergi nonton. Karena Ben yang memaksa ikut, akhirnya Tuan Alber pun jadi ikut-ikutan. Alhasil, Nyonya Roberta dibuat kesal. Tetapi Tuan Albert tak ambil pusing. Ia malah asik menggoda sang istri.


Film romansa berlatar tahun 80-an itu sedang berlangsung. Bukannya memusatkan perhatian pada alur cerita film tersebut, Ben malah sibuk memperhatikan wajah Elea. Lalu mendekatkan wajahnya sendiri perlahan-lahan.


"Memangnya apa yang kau lakukan pada ibuku sampai dia jadi seperti itu?" Ben berbisik di telinga Elea. Ia merasa penasaran bagaimana cara Elea merebut hati ibunya.


Elea tersenyum, lalu menoleh. Wajah Ben yang terlalu dekat membuat batang hidung mereka bersentuhan.

__ADS_1


"Tidak banyak yang aku lakukan. Aku hanya sering memujinya saja," balas Elea dengan berbisik pula.


"Jadi seperti itu? Kenapa aku tidak pernah mendapat pujian darimu?"


Elea tertawa pelan, menatap sepasang mata Ben. "Kau ingin dipuji seperti apa?"


"Lupakan dulu soal itu. Saat ini aku hanya ingin memujamu."


"Tapi kita sedang berada di tempat umum, Ben. Kita tidak bisa melakukan itu di sini. Lagipula ada Mommy dan Daddy."


"Kalau hanya ciuman di sini juga bisa. Aku tidak peduli ada yang iri atau tidak."


Elea kembali tertawa sembari memukuli dada Ben pelan. Setelahnya ia memasrahkan saja bibirnya diobrak-abrik oleh Ben tanpa peduli keadaan. Karena Ben ingin mengukir kenangan manisnya bersama Elea di mana pun dan dalam keadaan apapun.


...


Hari demi hari, kedekatan antara Elea dan Nyonya Roberta semakin terjalin erat. Hal itu terlihat dari setiap acara yang dikunjungi Nyonya Roberta, tidak sekali pun wanita itu tidak mengajak serta menantunya. Bahkan dalam setiap kesempatan Nyonya Roberta selalu membanggakan sang menantu.


Bukan hanya dengan Nyonya Roberta, setelah memutuskan membuka hatinya kembali kepada Catherine, kini di setiap kesempatan Elea dan Catherine melakukan video call untuk melepas rindu serta untuk membicarakan segala hal.


Catherine masih harus menemani Camila melakukan pengobatannya di Amerika untuk waktu yang lama. Untuk itu, terkadang jika memiliki waktu Ben kerap menawarkan Elea untuk mengunjungi ibu dan adiknya itu.


Elea tidak menolak. Dengan senang hati ia menerima tawaran Ben. Bahkan Elea sudah berbesar hati menerima Camila sebagai adiknya. Sedangkan Camila mungkin masih membutuhkan waktu untuk menerima Elea. Ada beberapa alasan mengapa Camila masih sulit menerima Elea, salah satu alasan itu adalah Ben.


Sementara Harvey, pria itu sudah bisa menerima Elea perlahan-lahan sebagai anak tirinya. Walau masih belum menunjukkan kasih sayangnya sepenuhnya kepada Elea. Karena fokusnya masih terkuras kepada Camila.


Karena kesibukan Harvey sebagai menteri, membuat pria itu harus sering bolak-balik Paris-Amerika. Untuk itulah terkadang Elea menawarkan diri menemani ibunya menjaga Camila. Hanya sampai Harvey kembali.


Dari kesempatan-kesempatan itulah, Catherine dan Elea mengukir kenangan mereka sebanyak-banyaknya. Untuk mereka kenang sepanjang hidupnya.


END


Hai teman-teman👋


Terimakasih sudah mampir di cerita receh author abal² ini. Mohon maaf cerita ini harus berakhir sampai di sini. Sampai jumpa di lain waktu.


Salam sayang dari author abal² buat reader di manapun berada.


See you next time, bye 😘

__ADS_1


Ig:@fhatt87


Fb:Fhatt Trah


__ADS_2