In Your Memories

In Your Memories
Chap 24. Gelagat Aneh


__ADS_3

Chap 24. Gelagat Aneh


Dari kejauhan Elea sudah melihat Ben berjalan bersama seorang wanita cantik dan anggun. Berpakaian modis dengan barang-barang branded dengan harga yang fantastis. Elea bisa melihat itu dari merek tas branded yang digunakan wanita itu.


Melihatnya saja Elea tidak perlu lagi bertanya-tanya siapa wanita itu. Elea sudah bisa menebak kalau wanita itu adalah tunangan Ben. Oh salah, calon tunangan. Atau lebih tepatnya lagi adalah calon istri.


Ada perasaan getir dalam dada Elea saat melihat Ben tengah digandeng mesra oleh seorang wanita. Elea tahu ia tidak pantas untu cemburu, karena belum terbukti kalau Ben atasannya itu adalah suaminya. Tetapi rasa sesak dalam dada tak bisa ia hindari. Ia merasa sesak melihat pemandangan itu.


Elea pun membuang jauh-jauh pikiran buruknya sembari mengulas senyum tipis, dan terus melangkah meninggalkan lobi.


Sementara Camila, langkahnya terhenti tiba-tiba. Yang otomatis juga menghentikan langkah Ben. Ben pun menoleh dan mengikuti arah pandang Camila. Dilihatnya raut wajah Camila tampak berbeda saat memandangi punggung Elea yang semakin menjauh itu.


"Ada apa? Kau mengenalnya?" selidik Ben.


Camila pun tersentak, lalu salah tingkah. "Oh ti-tidak. Aku tidak mengenalnya. Perempuan itu hanya terlihat mirip dengan seseorang. Tapi mungkin ini hanya perasaanku saja."


"Siapa?"


"Temanku. Iya, temanku. Perempuan itu terlihat mirip temanku." Camila memasang senyum kikuknya. Ia berusaha terlihat biasa-biasa saja. Namun ternyata hatinya cemas dan tidak baik-baik saja. Otaknya berpikir tajam, berusaha menggali kembali ingatannya dua tahun lalu.


Sampai saat ia dan Ben berada di salah satu restoran berbintang di kota Paris pun, raut wajah Camila masih terlihat tegang. Dalam ingatannya saat ini tengah bermain-main bayang-bayang wajah Elea. Baik disaat ia berpapasan di lobi hotel beberapa saat lalu maupun dua tahun lalu.


Ya. Dua tahun lalu, dan bayang wajah yang sama. Wanita itu, wanita yang berpapasan dengannya di lobi hotel itu sungguh telah mengusik ketenangan jiwanya saat ini. Sebab wanita itu adalah ...


"Kau kenapa?" tanya Ben meneliti raut wajah Elea yang terlihat tegang, tampak seperti sedang mencemaskan sesuatu.


"Kenapa wajahmu terlihat tegang seperti itu? Apakah ada sesuatu yang sedang kau cemaskan?" tanya Ben lagi.


"Benarkah? Wajahku terlihat tegang?" Camila malah kembali bertanya.


"Kau terlihat seperti ketakutan. Apa yang kau takutkan?"


"Aku? Em ... aku ..." Mana mungkin Camila memberitahu Ben jika ia takut kehilangannya. Karena wanita masa lalu Ben, siapa sangka berada di sekitar Ben saat ini. Ia hanya bisa berharap semoga memori Ben tidak akan pernah kembali. Jika ia boleh meminta, ia ingin selamanya memori Ben tidak kembali. Dan wanita itu pun selamanya menghilang dari kenangan Ben.


Susah payah ia telah membuat rencana bersama Nyonya Roberta untuk menjebak Elea dua tahun lalu. Ia dan Nyonya Roberta menjebak Elea bersama seorang laki-laki, demi membuat Ben percaya jika Elea berselingkuh di belakang Ben.


Sementara Ben sendiri, sejak berpapasan dengan Elea di lobi hotel, serta melihat raut wajah Camila saat memperhatikan punggung Elea, entah mengapa rasa penasaran Ben tersentil melihat keanehan tersebut.

__ADS_1


Ben adalah tipe orang yang selalu menuruti rasa penasarannya. Bila Ben merasa penasaran, maka Ben akan menuntaskan rasa penasarannya itu dengan cara apa pun. Termasuk ekspresi janggal Camila saat melihat Elea.


Ben merasa penasaran, apakah Camila mengenal Elea?


"Apakah kau mengenal perempuan itu?" tanya Ben semakin menyelidik. Pasalnya, raut wajah juga tingkah Camila terlihat aneh. Gelagat yang Camila perlihatkan sungguh aneh dimatanya. Sangat berbeda sekali dengan tingkah Camila sebelum berpapasan dengan Elea.


"Perempuan yang mana?" Camila malah kembali bertanya sembari memperbaiki tatanan rambutnya, serta mengulas senyum manis demi menutupi gelagat anehnya.


Camila berusaha bersikap santai, lalu ia merogoh tas branded nya, mengambil ponsel dari dalam sana.


"Perempuan yang berpapasan dengan kita di lobi tadi."


"Tidak. Aku sudah mengatakannya padamu tadi. Perempuan itu terlihat mirip dengan temanku. Tadinya aku pikir dia memang temanku. Tapi ternyata aku salah. Mana mungkin temanku bekerja di hotelmu. Sangat tidak masuk akal bukan?"


"Ya, kau benar. Sangat tidak masuk akal." Ben pun mengulum senyum tipis sembari matanya menelisik tajam gelagat Camila.


"Oh ya, Ben. Dahimu kenapa?" Camila berusaha mengalihkan pembicaraan. Kebetulan juga ia baru menyadari jika dahi Ben terdapat luka kecil. Camila baru melihat luka itu begitu Ben menyugar rambut yang menutupi sebagian dahinya ke belakang.


"Tidak apa-apa. Hanya luka kecil saja."


"Tidak perlu. Aku sudah mengobatinya sendiri."


"Tapi ..."


"Sudah kubilang, tidak perlu." Ben menolak dengan tegas. Camila pun berhenti memaksa.


"Oh ya, aku permisi ke toilet sebentar." Camila pun bangun dari duduknya, hendak ke toilet. Namun tiba-tiba saja terdengar suara bas seorang pria memanggil namanya.


"Camila? Kau di sini?" tanya seorang pria berperawakan tinggi dan cukup tampan.


"Tony? Kau sedang apa di tempat ini?"


Pria yang bernama Tony pun mengulum senyum manisnya.


"Untuk apa lagi kalau bukan untuk makan? Oh ya, kau bersama siapa? Pacarmu?" Tony melirik sejenak kepada Ben yang tengah bersandar punggung sambil menyapukan pandangannya ke seisi ruangan.


Ben sengaja bersikap demikian agar terkesan tak peduli dengan obrolan Camila dengan pria yang bernama Tony itu.

__ADS_1


Camila tersenyum manis sembari mendekatkan wajahnya dan setengah berbisik ia berkata, "Dia adalah calon suamiku. Bagaimana? Tampan bukan?"


"Wow, sangat tampan. Tapi, bukankah dia ..."


"Ben?" Camila menyela kalimat Tony cepat. Ia bermaksud memperkenalkan Tony dengan Ben.


Ben pun menoleh, menatap Camila dan Tony silih berganti.


"Kenalkan, ini Tony. Saudara sepupuku," ucap Camila.


"Hai kawan. Senang berkenalan denganmu." Tony membungkukkan badan sembari mengulurkan tangannya kepada Ben.


Ben pun berdiri. Lalu menyambut uluran tangan Tony.


"Ben. Benedict Cartier," ucap Ben mantap mengulum senyum tipisnya. Membuat paras pria tampak memesona.


"Tony Rodrigues. Aku saudara sepupunya Camila."


"Senang berkenalan denganmu, Tony." Namun tiba-tiba saja senyum di wajah Ben memudar. Ben seakan baru menyadari sesuatu. Dipandanginya lekat-lekat wajah Tony dengan dahi berkerut begitu Tony menarik uluran tangannya.


"Wajahmu seperti tidak asing bagiku, Tony." Ben merasa pernah melihat wajah Tony. Tapi ingatannya masih sedikit samar.


"Oh ya? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Entahlah." Ben masih berusaha mengingat. Ia merasa belum lama ini pernah melihat wajah Tony.


"Mungkinkah kita pernah bertemu di suatu tempat?"


"Ya. Kau pria yang ada di dalam foto itu." Sayangnya kalimat itu hanya Ben utarakan di dalam hatinya saja begitu ia menyadari dan berhasil mengingatnya.


Tony adalah pria yang berada di dalam foto, yang sedang memeluk Elea. Yang Ben sangka adalah selingkuhan Elea. Sehingga membuat Ben murka lalu pergi meninggalkan Elea.


Ternyata pria itu adalah saudara sepupunya Camila. Pertemuan tiba-tiba ini menumbuhkan rasa penasaran Ben. Membuat Ben tak bisa untuk tidak bertanya kepada Tony.


"Oh ya, Tony. Apakah kau pernah ke London dua tahun lalu?" tanya Ben tiba-tiba. Dan Camila pun sontak terlihat tegang.


*

__ADS_1


__ADS_2