In Your Memories

In Your Memories
Chap 50. Shock


__ADS_3

Chap 50. Shock


Awalnya Catherine ragu dengan ajakan Ben untuk menjenguk Elea. Namun berulangkali Ben meyakinkannya, bahkan Ben bercerita kepadanya bagaimana kehidupan Elea di London setelah memutuskan keluar dari panti asuhan. Sehingga menjatuhkan rasa ibanya sekaligus perasaan bersalahnya yang menggunung. Ia pun lalu memberanikan diri menemui Elea. Berharap tembok kebencian Elea runtuh.


"Ben, bisakah kau mengusirnya dari sini? Tolong lakukanlah untukku." Elea meminta. Menampakkan wajah memelas sekaligus sedihnya. Semula ia menaruh hormat kepada Catherine, mengingat status yang melekat dalam diri Catherine. Namun kini, ia sudah tak memandang hal itu lagi. Baginya Catherine hanyalah seorang wanita yang tak berperasaan.


Ben membawa tangannya menyentuh pundak Elea.


"Elea, look at me (lihat aku)," ucapnya seraya mendekap kedua sisi wajah Elea. Mengunci tatapannya lekat dengan tatapan Elea. Lalu berkata,


"Coba kau tanya pada hatimu, apa kau benar-benar membencinya? Sekecil itukah hatimu sampai-sampai tidak menyisakan sedikit saja tempat untuk ibumu? Sejak kecil kau tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Aku tidak memintamu untuk memaafkannya, ataupun mendengarkan penjelasannya. Karena sepanjang apapun penjelasannya itu tidak bisa merubah apa yang telah terjadi. Tapi setidaknya, berilah dia kesempatan sekali saja untuk menunjukkan kasih sayangnya padamu. Beri dia kesempatan untuk menebus kesalahannya padamu."


Tak ada tanggapan dari Elea. Ia diam menatap dalam sorot mata Ben yang terasa teduh dan menenangkan.


Sementara Catherine berkali-kali menghela napas dalam, menghembuskannya resah seraya tertunduk dalam. Sambil ia memohon doa agar hati Elea luluh.


"Elea, apapun yang terjadi, seperti apapun keadaanmu, aku akan tetap bersamamu. Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja. Kau hanya perlu melihat ini dari sisi yang berbeda. Tidak ada seorang ibu di dunia ini yang ingin terpisah dari anak-anaknya. Terkadang keadaan lah yang memaksa, sehingga mereka harus mengambil keputusan yang sulit. Semua ibu, tidak terkecuali ibumu, pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Termasuk dirimu." Ben kembali berusaha meyakinkan Elea.


Masih saja belum ada tanggapan dari Elea. Ia diam, mengatupkan rapat bibirnya.


"Come here (kemarilah)." Ben meraih Elea ke dalam pelukannya. Memberinya kekuatan dan keyakinan melalui pelukan itu.


"Aku akan memberimu kesempatan bicara berdua dengan Nyonya Catherine. Dengarkan aku, jangan keras kepala jika kau tidak ingin menyesal nanti. Kau harus ingat, siapapun dirimu, aku tetap mencintaimu. Hm?" bisiknya. Melepaskan pelukan, Ben mendaratkan satu kecupan kasih di kening Elea. Kemudian bergegas ia keluar dari kamar tersebut.


Kini tinggallah Elea dan Nyonya Catherine berdua. Catherine menyeret langkahnya perlahan. Menghampiri Elea yang tengah mengambil duduk di tepian tempat tidur. Hati-hati Catherine pun mendudukkan dirinya di samping Elea.


Tertunduk dalam, Elea seakan enggan menoleh. Tatapannya fokus pada lantai kamar itu.

__ADS_1


"Ayahmu adalah seorang pemabuk, emosional dan suka memukuli Ibu. Sehingga mengharuskan Ibu mengambil keputusan untuk berpisah dari ayahmu. Saat itu usiamu baru sebulan. Untuk menyambung hidup Ibu kesulitan. Ibu tidak punya siapa-siapa yang bisa dimintai tolong. Sampai akhirnya Ibu menitipkanmu di panti asuhan. Tapi Ibu sudah berjanji akan mengambilmu lagi setelah Ibu punya uang yang banyak untuk kita hidup berdua ..." Catherine pun mulai menceritakan kisahnya.


Tidak ada yang ditutup-tutupi. Catherine menceritakan bagaimana kesulitannya dahulu, rumah tangga pertamanya yang sering diwarnai pertengkaran, bahkan tak jarang suaminya terdahulu sering melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga. Sehingga mengharuskan Catherine mengambil keputusan untuk bercerai meski dalam keadaan hamil besar kala itu.


Saat Elea lahir, Catherine sering menemui kesulitan. Untuk menyambung hidup Catherine harus bekerja. Awalnya, bekerja sambil mengasuh Elea dirasanya mudah. Namun lama-kelamaan Catherine merasa kesulitan, sehingga mengharuskannya menitipkan Elea di panti asuhan.


Bekerja di sebuah panti jompo menjadi awal pertemuan Catherine dengan Harvey. Harvey yang kala itu merupakan seorang politisi muda, yang karirnya tengah melejit, jatuh cinta kepada Catherine di awal pertemuan mereka. Harvey saat itu sedang melakukan bakti sosial di panti jompo tempat Elea bekerja, menaruh simpati ketika melihat sosok Catherine yang tulus dan sabar mengasuh para usia lanjut di panti tersebut.


Tak lama menjalin hubungan, Harvey pun memutuskan menikahi Catherine. Sampai suatu hari, sebuah pekerjaan mengharuskan Harvey pindah ke Paris. Harvey memboyong serta sang istri, namun tak mengijinkan sang istri, Catherine membawa serta Elea. Dengan dalih tak ingin karirnya hancur karena masalah pribadi Catherine. Serta tak ingin kasih sayang Catherine terbagi.


Catherine yang saat itu tengah mengandung buah cintanya dengan Harvey pun menyanggupi dengan berat hati. Namun Harvey berjanji kepada Catherine, jika keadaan sudah memungkinkan, mereka akan menjemput Elea di panti asuhan.


Akan tetapi sampai detik ini, janji Harvey kepada Catherine terlupakan. Harvey semakin di sibukkan oleh pekerjaannya. Terlebih disaat Harvey terpilih menjadi seorang perdana menteri, semakin membuat Harvey melupakan janjinya. Bahkan janji itu tak ingin lagi dipenuhinya. Dengan alasan, tak ingin mencoreng nama baiknya sebagai seorang menteri.


Namun Catherine sampai detik ini tidak pernah melupakan janji itu. Catherine bersabar, menunggu sampai Harvey berubah pikiran.


"Demi kehidupan yang bergelimang harta kau rela mencampakkan anakmu? Kau sungguh sangat tidak manusiawi," balas Elea tanpa mengangkat pandangannya.


Terdengar isak tangis pilu Catherine. Sesekali wanita itu menyusut hidung, lantaran air mata yang turun tak henti. Mengalir deras bagai air bah.


Hatinya sakit. Namun tak sesakit Elea menerima kenyataan ini. Catherine mengakui ia bersalah dan sangat menyesali perbuatannya. Tetapi apa mau dikata, semua telah terlanjur terjadi.


"Kau boleh membenci Ibu. Tidak apa-apa jika kau tidak bisa memaafkan Ibu. Tapi Ibu mohon, berikan Ibu kesempatan untuk mengganti waktu yang terbuang. Biarkan Ibu menjadi ibu yang seutuhnya untukmu," pinta Catherine disela isak tangisnya.


Namun Elea tersenyum kecut. Hatinya masih sakit ketika mengingat hari-hari yang dilaluinya di panti asuhan, yang hidup tanpa kasih sayang orangtua. Juga hidup dalam keterbatasan.


Kenangan pilu masa kecilnya itu bahkan membuat hatinya perih jika dibandingkan dengan kehidupan yang dilalui Catherine saat ini. Bergelimang harta, tidak kekurangan apa pun. Sedangkan dirinya?

__ADS_1


...


Sementara di suatu tempat, di sudut lain kota Paris.


Camila terkesiap, kehilangan kata-kata ketika dokter menerangkan tentang kondisi yang dialaminya saat ini. Senyumnya surut seketika begitu mengetahui kenyataan tak seindah harapannya.


Padahal sebelumnya Camila sangat yakin, gejala pusing dan mual yang dialaminya baru-baru ini dikarenakan perubahan hormon yang sering terjadi pada ibu hamil pada umumnya. Namun yang terjadi padanya, tidak seperti itu.


"Gejala yang kau alami itu bukan karena kau hamil, Nona. Tapi karena ..." Dokter menghela napas sejenak.


Sebelumnya Camila memeriksakan diri ke dokter kandungan. Namun dokter kandungan menyarankannya menemui dokter internis. Dan di sinilah kini ia berada. Menunggu penjelasan dokter tentang keadaannya.


"Katakan apa yang terjadi padaku, Dokter," kata Camila dengan wajah tegangnya. Ia bahkan hampir tidak bisa bernapas lantaran tegang. Jantungnya pun berdetak lebih kencang.


"Kanker darah." Dokter berkata, menatapnya iba.


"Gejala yang kau alami itu merupakan gejala kanker darah stadium tiga," sambung dokter berterus terang. Karena seorang tidak diperbolehkan menyembunyikan keadaan pasien yang sebenarnya.


Camila shock mendengar penuturan dokter. Ia kehilangan seribu bahasa. Bingung, bahkan tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia terlalu shock mendengarnya. Bahkan ia berharap pendengarannya bermasalah. Atau paling tidak, ini hanyalah mimpi.


*


Cerita ini gak akan panjang. Alur dan konfliknya otor usahain gak muter² ya😊


thnkyou buat yang masih setia ngikutin ceritanya.


Salam hangat😘

__ADS_1


Othor Kawe


__ADS_2