In Your Memories

In Your Memories
Chap 37. Siapa Namamu


__ADS_3

Chap 37. Siapa Namamu


Berjalan keluar dari ruangannya, sepasang netra Ben menjelajah. Bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, mencari-cari sosok yang ingin dilihatnya. Dan sosok itu pun tertangkap penglihatannya sedang berdiri tak jauh dari ballroom dalam balutan seragam yang berbeda.


Dari seragam yang dikenakan Elea, Ben sudah tahu wanita itu bertugas di bagian catering. Namun yang membuat Ben penasaran adalah wajah Elea yang terlihat tersenyum sambil menatap layar ponsel. Sementara jempolnya sibuk mengetik.


Memasuki ballroom, sepasang mata Ben disuguhi pemandangan dua keluarga yang tengah berbincang dalam satu meja yang sama.


Menggeser pandangan sejenak, di meja sebelah ada Julian Xavier, saudara sepupunya serta seorang pria yang belum lama dikenalnya.


Tony Rodrigues. Pria tersebut datang bersama Tania, istrinya.


Menggeser kembali pandangannya, di meja bartender berdiri Elea. Yang memasuki ballroom tergesa melewati punggung Ben begitu saja. Lalu segera mengambil tempat bergabung dengan rekannya.


Bola mata Ben bergulir bergantian memandangi Elea dan Tony. Yang tampak tidak saling mengenali.


Ben lantas mengambil duduk, ikut bergabung bersama keluarganya dan keluarga Rodrigues. Namun mata dan perhatiannya tertuju kepada Elea.


"Ternyata kau pekerja keras, sangat sibuk sehingga tidak punya waktu menyambut kedatangan kami." Harvey berkata, bernada basa-basi, namun terdengar menyindir. Tatapan matanya pun terkesan menuntut. Menuntut balasan atas kalimat yang sebetulnya sedikit menyinggung.


"Seperti itulah, Tuan. Maaf untuk soal itu." Ben mengulum senyum, bersikap biasa-biasa saja. Tak menanggapi serius sindiran berbungkus basa-basi tersebut.


Di sampingnya, Camila berupaya merebut perhatiannya dengan menciptakan berbagai topik obrolan menarik seputar bisnis yang digeluti Ben hingga kegiatan-kegiatan amal yang dilakukannya. Namun perhatian Ben malah tertuju kepada Elea.


Sampai ketika Elea datang menuangkan wine ke dalam gelas mereka masing-masing pun, sepasang mata Ben masih saja memperhatikan Elea.


Sementara di meja sebelah, ada Julian. Yang berkerut dahi saat Elea datang ke meja Ben. Menuangkan wine ke setiap tamu di meja itu.


Sepasang mata Julian pun terus memperhatikan Elea. Sampai tiba Elea menuangkan wine ke dalam gelas Catherine, tiba-tiba saja wine itu tumpah dan mengenai baju Catherine. Sontak Julian bangkit berdiri ketika mendengar omelan Nyonya Roberta.


"Hei, kau. Hati-hati. Apa kau tidak bisa bekerja dengan baik?" omel Nyonya Roberta berang. Namun detik kemudian, wanita paruh baya itu terdiam.


Mendengar omelan tersebut, sontak semua mata pun tertuju kepada Elea. Memberinya tatapan marah akibat kelalaiannya.


Namun berbeda dengan tatapan Ben dan Julian. Dua pria tampan itu justru menatap cemas kepada Elea.


"Maaf, Nyonya. Aku tidak sengaja." Elea membungkuk-bungkukkan badannya meminta maaf. Ia yang merasa grogi, gugup bukan main diperhatikan terus oleh Ben, tak sengaja menumpahkan wine tersebut. Tumpahan wine tersebut mengagetkan Catherine, istri Pak Menteri.


"Kenapa karyawan lalai sepertimu dipekerjakan di tempat ini?" gerutu Albert kecewa sekaligus malu dengan pekerjaan karyawannya. Sedangkan Nyonya Roberta masih terpaku memandangi Elea. Bola matanya sesekali bergulir ke arah Camila yang terlihat tegang.

__ADS_1


Ekspresi berbeda Nyonya Roberta dan Camila tersebut tak luput dari pengawasan mata Ben. Yang merasa ada keanehan dibalik ekspresi keduanya.


Harvey lekas mengambil tisu untuk membersihkan baju Catherine. Namun Catherine menolak dan meraih tisu tersebut.


"Tidak apa-apa suamiku. Biar aku saja yang bersihkan," ucap Catherine mengulum senyum. Kemudian mulai membersihkan tumpahan wine di bajunya.


"Aku sungguh minta maaf Nyonya. Aku benar-benar tidak sengaja. Biar aku saja yang membersihkannya, Nyonya." Sekali lagi Elea meminta maaf, mengulurkan tangannya hendak meraih tisu dari tangan Catherine. Namun Catherine mencegahnya.


"Tidak apa-apa. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu." Catherine mengulum senyum sembari mengangkat wajahnya menatap Elea. Di detik itu juga Catherine terdiam. Senyumnya mendadak sirna. Berganti dengan wajah tegang begitu menatap wajah Elea.


"Sekali lagi aku minta maaf Nyonya. Tolong maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja." Elea membungkukkan badannya. Ia masih merasa sangat bersalah akan ke-tidak hati-hatiannya. Yang malah merugikan orang lain. Terlebih orang itu adalah istri seorang menteri. Orang terpandang di negeri ini. Padahal Connie sudah memberitahunya agar tidak melakukan kesalahan. Maka sudah bisa dipastikan ia akan dipecat hari ini juga.


Catherine tertegun menatap wajah Elea. Ditatapnya wajah itu lekat-lekat. Dengan bibir bergetar ia bertanya. "Siapa namamu?"


"Namaku El..." Namun sayangnya Elea tak bisa menyelesaikan kalimatnya, lantaran Albert menyelanya.


"Sudahlah. Kau kembalilah bekerja. Kau sudah mengganggu kenyamanan tamu. Kesalahanmu ini tidak bisa dibiarkan. Akan kita bicarakan nanti setelah semua ini selesai."


Elea menundukkan wajahnya. "Baik, Tuan." Kemudian bergegas kembali ke tempat semula. Dan netranya sempat menangkap sosok Julian yang berdiri memandanginya dengan wajah cemas.


Elea sudah tidak terkejut lagi dengan kehadiran Julian di tempat ini. Sebab sebelumnya Julian pernah memberitahunya bahwa Ben adalah saudara sepupunya.


Selama perjamuan tersebut berlangsung, Ben bersikap biasa-biasa saja. Tidak menunjukkan ketertarikannya terhadap kehadiran Elea. Namun matanya senantiasa mengawasi.


Sementara Nyonya Roberta dan Camila saling memberi kode melalui tatapan matanya. Berbicara melalui sorot mata masing-masing. Sampai akhirnya keduanya saling berkirim pesan.


Nyonya Roberta


[Apakah wanita itu yang kau maksud, Camila?]


Camila


[Ya, Nyonya Roberta]


Nyonya Roberta


[Panggil aku Mommy, sayang. Tapi bukankah wanita itu berada di London]


Camila

__ADS_1


[Aku sebenarnya kurang yakin kalau wanita itu adalah Eleanor. Tapi bisakah Mommy menyelidikinya untukku? Bukankah dia karyawan di hotel ini?]


Nyonya Roberta


[Baiklah, sayang. Mommy akan mencaritahu siapa wanita itu. Kau jangan takut. Mommy pastikan, Ben tidak akan mengingat wanita itu lagi. Ben akan menjadi milikmu]


Sepanjang obrolan Ben terlihat santai. Menanggapi setiap ucapan Harvey dengan baik. Sekalipun itu sindiran yang berselimut candaan. Harvey kerap menyinggung perihal sikapnya yang terkesan tak peduli terhadap Camila. Ben bahkan terlihat seperti tidak memiliki ketertarikan terhadap Camila.


Namun berbeda dengan Catherine. Wanita cantik dan anggun tersebut tidak bisa tenang setelah melihat Elea. Sesekali ia merotasikan bola matanya, melirik ke arah Elea. Yang berdiri di sisi meja bartender, tengah menunggu perintah selanjutnya.


Sepanjang perjamuan itu berlangsung, Catherine tidak bisa membendung keingintahuannya akan sosok Elea. Hingga saat perjamuannya berakhir, sebelum mereka pamit pergi, Catherine berniat menemui Elea.


...


Rombongan Pak Menteri sudah keluar dari ballroom. Elea sedang membereskan meja saat tiba-tiba terdengar sebuah suara lembut menyapanya.


"Bolehkah aku tahu siapa namamu?"


Sontak Elea menoleh. Ia terkejut melihat Catherine berdiri di belakangnya, mengulurkan tangannya dan tersenyum kepadanya. Elea pun salah tingkah, menghentikan pekerjaannya segera. Lalu mengelap tangannya sebelum menyambut uluran tangan Catherine.


"Tanganmu tidak perlu dibersihkan. Tidak apa-apa," ucap Catherine dengan bersikap manis. Namun hatinya berdebar-debar.


Elea pun tersenyum kikuk. Merasa tidak pantas menerima uluran tangan istri orang terpandang di negeri ini.


"Maaf, Nyonya. Tapi aku takut mengotori tangan Anda," balasnya sungkan.


"Itu tidak masalah bagiku. Karena bagiku, di dunia ini tidak ada perbedaan kasta. Semua sama di mataku. Tidak terkecuali dirimu. Kau hampir seusia putriku. Kau sangat cantik. Bolehkah aku tahu namamu?" Sedari tadi Catherine tidak bisa tenang ketika melihat Elea. Hampir saja ia menumpahkan air matanya jika saja ia tidak sadar situasi. Wajah Elea sudah ia hapal diluar kepalanya. Karena setiap malam, ia menatap wajah itu di layar ponselnya.


Elea memandangi sejenak uluran tangan Catherine. Ia merasa malu juga sungkan. Namun ia juga tidak bisa mengacuhkan Catherine. Akan sangat tidak sopan bila ia tidak menyambut uluran tangan itu. Sebab sikap seperti itu akan dianggap tidak menghargai.


"Tapi maafkan aku jika aku mengotori tanganmu, Nyonya. Namaku ..." Elea pun akhirnya menyambut tangan Catherine. Menggenggamnya sedikit gemetar.


Catherine semakin melebarkan senyumnya, menunjukkan keramahan sikapnya. Menunggu berdebar ucapan Elea selanjutnya.


"Eleanor Wisse."


Catherine pun terperangah.


*

__ADS_1


__ADS_2