
Chap 30. Bidadari Bumi
"Aku minta waktumu sebentar. Kita harus bicara." Nyonya Roberta langsung menodong Julian begitu pintu terbuka.
"Maaf, Aunty. Hari ini aku tidak bisa," tolak Julian masih memegangi daun pintu.
"Kau sedang tidak ada tamu bukan?" Nyonya memanjangkan leher, mengintip-intip keadaan di dalam ruangan itu.
"Sebaiknya Aunty pulang lah dulu. Hari ini aku sedang tidak ingin menerima tamu."
"Kau mengusir ku, Julian? Kau mengusir tante mu ini? Kau tentu tidak lupa kan siapa yang telah membantumu membuka klinik pribadimu ini?" Sindiran halus itu kerap menjadi senjata andalan Nyonya Roberta untuk menekan Julian agar selalu menuruti keinginannya.
Julian bisa apa lagi bila sudah diingatkan tentang nominal fantastis yang diberikan Nyonya Roberta kepadanya. Jika ditagih kembali, jujur saja, Julian tidak akan mampu. Terkecuali bila gedung yang ia gunakan sebagai tempat praktiknya ini dijual.
Dan tentu saja, Julian tidak akan mampu melakukannya. Karena tempat ini adalah tempatnya mencari nafkah. Julian hanyalah seorang anak yatim piatu. Orang tuanya sudah meninggal dunia sejak ia kecil. Dan hanya Nyonya Roberta lah satu-satunya keluarga yang ia punya. Roberta Xavier, adik dari ayahnya. Nyonya Roberta pula yang telah merawatnya dari kecil.
"Tentu saja aku tidak akan pernah lupa, Aunty. Hanya saja hari aku tidak bisa. Aku..."
"Julian, aku sudah selesai membersihkan debunya. Ada lagi yang harus aku kerjakan?" Suara Elea memutus kalimat Julian seketika. Dan justru mengundang keingintahuan Nyonya Roberta.
"Siapa itu? Kau bilang kau sedang tidak ada tamu. Lalu suara siapa itu?" Rasa penasaran Nyonya Roberta tergugah begitu mendengar suara seorang wanita. Sembari berjinjit, ia memanjangkan leher, berusaha melihat siapa yang berada di dalam ruangan Julian.
Sedangkan Julian, berdiri sambil memegangi daun pintu yang dibukanya setengah saja. Sehingga tidak memudahkan akses pandangan sampai ke dalam ruangan itu.
"Hanya seorang teman, Aunty."
Nyonya Roberta memicing nakal sambil tersenyum menggoda. "Pantas saja kau tidak mau diganggu. Apa itu pacarmu?"
Senyuman malu-malu dan semburat merah pun tergambar di wajah Julian.
"Sudah kuduga. Apa kalian sudah ..." Nyonya Roberta mengetuk-ngetukkan dua ujung jari telunjuknya. Membuat Julian semakin terlihat malu-malu.
"Kau bisa saja, Aunty. Kami baru saja berkenalan, belum sampai ke sana." Julian menggaruk tengkuk, mendadak gugup saat Nyonya Roberta memberi kode tentang ciuman.
"Kalau begitu cepat saja kau lamar dia kalau sudah merasa cocok dengannya. Usiamu itu sudah cukup untuk menikah."
Julian tertawa kecil sembari menoleh, melirik Elea yang tengah menyusun buku yang sempat ia keluarkan untuk dibacanya itu, kembali ke rak di sudut ruangan.
"Jangan terlalu lama mengambil keputusan, nanti disambar orang," sambung Nyonya Roberta setengah menakuti.
__ADS_1
Julian kembali tertawa kecil mendengarnya.
"Ya sudah, kalau begitu aku pulang. Lain kali aku datang lagi. Oh ya ..." Langkah yang telah mengayun itu ia hentikan, lalu berbalik. "Besok datanglah ke hotel. Keluarga Rodrigues akan datang berkunjung. Jangan lupa ajak pacarmu itu." Nyonya Roberta pun bergegas meninggalkan tempat itu setelah berkata demikian kepada Julian.
"Kenapa tamunya tidak diajak masuk tadi?" tanya Elea begitu Julian menutup pintu dan berjalan ke arah sudut ruangan, di depan jendela besar.
"Hari ini aku sedang tidak ingin menerima tamu," sahut Julian sembari mengambil dua sachet kopi instan yang ada di meja. Lalu ia menghidupkan pemanas air.
Tak lama aroma kopi menyeruak memenuhi indera penciuman. Memancing lidah dan tenggorokan untuk mencicipinya.
Memutar tubuhnya kemudian, dua cangkir kopi dibawa Julian, menaruh satu cangkir kopi itu di atas meja sofa.
Mendudukkan diri, Julian memandangi punggung Eleanor yang tengah mengelap meja kerjanya.
"Eleanor, apakah pekerjaanmu sudah selesai?" tanyanya kemudian.
Elea memutar tubuh. "Hanya tinggal membersihkan meja ini saja."
"Istirahatlah sebentar. Minum dulu kopimu."
"Kopi?" Wanita bermata teduh dan berbulu lentik itu menaikkan kedua alisnya bingung.
"Tapi aku tidak menyeduh kopi," sanggahnya kemudian.
Apa?
Menyukai?
Julian terdiam, dengan jantung yang mendadak berdebar tak karuan ketika Elea menyunggingkan senyum kepadanya. Sepanjang ia hidup, mungkin ini yang pertama baginya melihat bidadari berpijak di bumi. Dan bidadari itu tengah tersenyum kepadanya.
Harus ia akui, sungguh indah makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini. Yang berbalut kesederhanaan, baik dari penampilan maupun caranya bersikap. Sungguh sebuah kesederhanaan yang memikat hati.
Hatinya!
Dengan matanya ia menunjuk secangkir kopi yang diletakkannya di meja tadi. "Aku sudah membuatkan mu kopi. Tapi jika tidak sesuai dengan selera mu, kau boleh menyeduh yang baru," ujarnya kembali mengulum senyum.
"Ah, tidak perlu. Aku akan meminum buatan mu saja." Sembari mengambil duduk di sofa sebelah. Meraih cangkir kopi tersebut, menghirup aromanya, Elea tersenyum.
"Aromanya sangat wangi," ucapnya memuji.
__ADS_1
"Mmm ... Rasanya juga enak. Kau sangat pandai membuat kopi," sambungnya memuji. Dengan ekspresi wajah malu sekaligus sungkan.
"Itu hanya kopi instan. Siapa saja bisa membuatnya. Gampang kok, tinggal buka bungkusnya, seduh dengan air panas, lalu diaduk. Selesai."
"Oh ya? Apa ada kopi instan seenak ini?" Membulatkan mata tak percaya, Elea terkesan seolah belum pernah menikmati kopi instan seperti itu.
"Ada. Banyak di jual di pasaran dengan berbagai varian rasa. Kau bahkan bisa mendapatkan kopi instan seperti ini di warung-warung kecil."
"Oh ya?" Sekilas Elea tampak terkesan kampungan. Seperti tidak mengetahui perkembangan jaman saja.
Namun itu hanya sebagai pembuka basa-basi nya saja. Elea bukan wanita jaman kuno yang ketinggalan perkembangan jaman. Ia hanya sedang mencari cela untuk mengutarakan niatnya kepada Julian. Sebelum ia pulang ke kontrakan, setidaknya ia sudah membawa uang untuk melunasi hutang Jane.
Julian kembali tertawa kecil melihat ekspresi wajah Elea. "Menggemaskan," gumamnya tanpa sadar.
"Apa?" Meski sekilas dan samar namun kata itu sampai ke telinga Elea.
Julian pun salah tingkah seketika. "Oh ya, apa kau sudah makan Eleanor?" tanyanya mengalihkan gugup yang menyerang.
"Belum. Tapi aku tidak lapar." Elea meringis malu. Gugup pun mendadak menyerangnya. Gugup lantaran memikirkan bagaimana cara menyampaikan niatnya kepada Julian. Yaitu meminta gajinya diberikan di muka.
Walau pun ia tak tahu berapa nominal gaji yang diberikan Julian atas jasanya, dan ditambah sisa tabungannya, semoga saja itu bisa membayar setengahnya saja. Sisanya nanti akan ia pikirkan bagaimana cara mendapatkannya.
"Eleanor, apa kau mau menemaniku makan malam di luar?" pertanyaan berbalut tawaran itu meluncur begitu saja dari mulut Julian. Siapa tahu saja Elea mau menerima tawarannya.
Elea berpikir sejenak. Ia menimbang, siapa tahu momen makan malam itu bisa ia gunakan untuk mengutarakan niatnya. Karena mungkin suasananya lebih santai.
"Emm ..."
"Hanya makan malam. Sebagai teman mungkin? Kebetulan aku juga belum makan." Julian menghindari bila Elea berpikir yang bukan-bukan. Walau pun sebenarnya ia berpikir ingin mengajak Elea berkencan. Tapi mungkin waktunya terlalu cepat.
"Apa setelah itu aku boleh langsung pulang? Karena temanku membutuhkanku."
"Teman mu? Laki-laki atau ..."
"Perempuan." Mengerti maksud Julian, cepat Elea menyelanya.
Ada kelegaan dalam dada Julian ketika mendengar teman Elea adalah seorang perempuan. Tadinya ia berpikir jika Elea sudah memiliki kekasih.
"Jadi, bagaimana? Kau mau?" tanya Julian lagi.
__ADS_1
"Baiklah." Elea mengulum senyum kikuknya.
*