
Chap 34. Masa Lalu
"Kau mengabaikan kopi mu, suamiku. Dan sekarang, sebelum kau tidur, minumlah dulu vitamin mu." Catherine berseru membawa segelas air putih dan vitamin, sembari menghampiri sang suami yang duduk berselonjoran di atas tempat tidur dengan tablet pintar di tangannya.
Mengambil duduk di tepian tempat tidur itu, Catherine menyodorkan gelas dan vitamin ke tangan Harvey. Harvey pun meminum vitamin itu.
"Kau terlalu memanjakan putrimu, istriku." Harvey berucap sembari menyodorkan gelas kosong ke tangan Catherine.
Catherine menerima gelas itu lantas menaruhnya di nakas.
"Aku hanya menyayangi putri-putriku," balas Catherine mengungkap tanpa sadar suasana hatinya.
"Putri-putrimu?" Harvey mengulang kata terakhir itu dengan berkerut dahi.
Catherine pun terhenyak. Tersadar akan tutur katanya tanpa sadar. Yang tanpa sengaja mengorek kembali cerita masa lalunya yang pilu. Demi Harvey, Catherine harus menitipkan satu putrinya lagi di sebuah panti asuhan di London. Putri dari pernikahan pertamanya.
Selain pencemburu, Harvey ternyata memiliki sisi buruk yang lain. Yaitu egois. Karena keegoisan Harvey, Catherine harus merelakan putrinya diasuh dan dibesarkan di panti asuhan. Dengan harapan suatu hari kelak, Catherine akan kembali mengambil putrinya setelah berhasil mengubah pemikiran Harvey.
"Ya. Putri-putriku." Catherine pun mengakui apa yang ada dalam hati dan benaknya saat ini.
Kau tahu, aku memiliki dua orang putri. Dan aku sangat menyayangi kedua putriku. Meski pun aku memiliki putri yang lain, tapi itu tidak akan mengubah kasih sayangku pada Camila. Kau tahu itu," pungkasnya.
"Apa kau tidak berencana untuk menemuinya?"
"Dia sudah tidak tinggal di panti asuhan lagi." Sayangnya, disaat Harvey perlahan-lahan mulai menurunkan keegoisannya dan mulai memahami perasaan Catherine sebagai seorang ibu yang kehilangan anaknya, Catherine malah kehilangan jejak putrinya.
Namun untungnya, Catherine memiliki foto Eleanor yang dikirimkan pengurus panti kepadanya. Dan satu lagi informasi yang didapat Catherine dari pengurus panti, yaitu Eleanor berada di kota Paris. Dan Catherine baru mengetahui itu saat ia menemani Harvey melakukan kunjungan ke kota London beberapa hari lalu.
"Maafkan aku, istriku." Harvey meraih jemari Catherine. Menggenggamnya lalu mengecupnya.
"Andai aku mengijinkan mu membawanya serta bersama kita, kau pasti tidak akan kehilangan dia," sambungnya menyesali. Sayang sekali, penyesalan Harvey sudah terlambat.
Andai Catherine dipertemukan kembali dengan putrinya, apakah putrinya mau menerima Catherine sebagai ibunya? Ibu yang telah menelantarkan anaknya sendiri hanya demi mengejar kehidupan layaknya. Dan andai Catherine tidak menikahi Harvey, mungkin saat ini ia bukan istri seorang menteri.
"Tapi jika suatu saat nanti aku bertemu dengannya, bolehkah aku membawanya tinggal bersama kita?" pintanya mencoba.
__ADS_1
Harvey mengulum senyum. "Bagiku itu tidak masalah. Silahkan kau membawanya masuk ke dalam keluarga kita. Tapi tunggulah sampai masa jabatanku berakhir. Karena itu bisa merusak citraku. Dan lagi pula, kau harus menjelaskan hal ini kepada Camila. Kau harus memberitahu dia bahwa dia punya seorang kakak perempuan."
Ya. Sejak Camila lahir, sampai detik ini, Catherine tidak pernah memberitahu tentang saudara perempuan kepada Camila. Hal itu ia lakukan demi menjaga perasaan Camila.
Camila adalah tipe anak yang manja dibalik keanggunannya. Camila mewarisi keegoisan dan sifat pencemburu sang ayah. Untuk itulah Catherine kesulitan memberitahu Camila tentang saudara perempuannya.
...
Terpaan sinar mentari pagi menembus kaca jendela berukuran besar di samping tempat tidur itu menyilaukan. Sehingga membangunkan Eleanor dari tidur lelapnya.
Membuka perlahan-lahan, kelopak mata Eleanor mengerjap. Sepasang mata sembabnya menatap nanar ke seisi ruangan. Ingatannya masih samar soal semalam.
Elea mengingat-ingat apa yang terjadi kepadanya. Termasuk di manakah ia tengah berada saat ini.
Elea pun terperangah saat ingatannya kembali. Dibukanya cepat selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Ia pun bernapas lega ketika mendapati tubuhnya masih mengenakan pakaian lengkap.
Melihat jam yang menggantung di dinding kamar itu, Elea pun tersentak kaget. Menyadari bila ia telah melewatkan transaksi penting sebelum matahari terbit, di bawah menara Eiffel. Sebuah transaksi penting berkaitan dengan keselamatan hidup Jane.
"Ya ampun ... Apa yang telah aku lakukan? Jane, kenapa aku bisa sebodoh ini? Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Jane?" Menyingkirkan selimut, Elea turun dari tempat tidur itu. Mengambil tas nya di atas meja sofa, menenteng saja heels nya, bergegas Elea membawa langkahnya menuju pintu.
Namun langkahnya terhenti tiba-tiba lalu mundur selangkah demi selangkah ketika Ben membuka pintu kamar apartemen itu, lantas menghampirinya perlahan. Sambil menghunus tatapan dinginnya. Tangan Ben menenteng paper bag yang berlogo makanan cepat saji.
"Aku mau pulang. Tolong berikan uangku. Aku harus menyelesaikan urusanku sekarang juga."
"Makan lah dulu. Setelah itu kau boleh pergi." Ben menaruh paper bag di meja, lalu mengeluarkan isinya. Menata makanan itu di atas meja.
"Tidak bisa. Maaf, aku tidak punya waktu lagi."
"Tapi kau belum makan. Lagi pula, apa kau mau pergi dengan keadaan seperti itu?"
Menurunkan pandangan, Elea memindai dirinya sendiri yang dibalut pakaian seksi. Yang bila diperhatikan mirip perempuan penggoda.
"Apa kau mau pergi bekerja dengan keadaan seperti itu?" celetuk Ben lagi.
"Aku ada urusan yang lebih penting. Aku membutuhkan uangku sekarang juga, Tuan. Tolong kau berikan uangku."
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa membayarmu sedangkan kau tidak melakukan tugasmu dengan baik."
"A-apa maksudmu?"
Ben kembali menghampiri Elea yang masih berdiri di dekat pintu sambil menenteng heels nya. Ben mengulum senyum nya menatap wajah Elea yang terlihat tegang juga kebingungan. Yang justru terlihat menggemaskan di mata Ben.
"Aku akan memberikan uang nya tapi setelah kau menyelesaikan tugasmu," ucap Ben bersorak gembira dalam hati.
Elea menganga, antara terkejut dan tak percaya. Namun ia diburu waktu saat ini. Ia telah melanggar janjinya pada rentenir. Lalu bagaimana dengan nasib Jane? Apakah rentenir itu mendatangi Jane lagi?
"Apa kau sedang bercanda, Tuan? Apa kau sedang mempermainkanku? Bu-bukankah semalam ki-kita sudah ... sudah ..." Elea gugup dan merasa malu mengatakan hal yang baginya tak senonoh untuk diutarakan.
Dan Ben malah tertawa melihat tingkah Elea.
"Bagaimana aku mengatakannya padamu, Eleanor. Bukannya melaksanakan tugasmu kau malah mabuk semalam."
"Benarkah? Kau tidak sedang menipuku kan?" Pantas saja ia masih mengenakan pakaiannya lengkap. Begitu pikir Elea.
Lalu apakah Ben meminta ganti ruginya sekarang? Tapi uangnya masih belum diberikan. Elea pun tak ingin rugi.
"Untuk apa aku menipumu. Kita sama-sama ingin mengambil keuntungan. Kau akan mendapatkan uangnya, dan aku akan mendapatkan hak ku." Ben tersenyum sinis, terlihat sedikit sadis namun malah manis di mata Elea. Pesona laki-laki itu tak terbantahkan. Tubuh tinggi tegapnya terbungkus rapi dengan t-shirt turtleneck berwarna hitam dipadu dengan blazer berwarna senada. Membuat aura pria itu semakin menawan.
"Hak?"
Ben memindai nakal tubuh Elea dari ujung kaki sampai ujung kepalanya. Membuat Elea merinding dan bergidik ngeri.
"Tuan, bolehkah aku meminta uangku sekarang? Aku akan menyelesaikan tugasku nanti setelah urusanku selesai. Masalahnya saat ini situasiku darurat. Aku membutuhkan uang itu sekarang." Elea mencoba memberikan penawaran. Siapa tahu mungkin Ben bisa diajak berkompromi. Saat ini keadaan Jane lah yang lebih penting. Sebab nyawa Jane berada dalam situasi darurat.
"Kau mau membuat penawaran denganku? Kau kira hasrat seseorang bisa dibendung begitu saja?"
"Maafkan aku, Tuan. Tapi aku tidak bisa. Situasiku darurat. Aku harus pergi sekarang." Mengingat keselamatan Jane, Elea memutar tubuhnya cepat. Tak masalah jika Ben tidak mau memberinya uang. Ia hanya perlu mencoba bernegosiasi kembali dengan rentenir itu. Memohon dan menghiba untuk diberi kesempatan sekali lagi.
Ya. Itulah yang akan Elea lakukan sekarang. Tangan Elea telah menggapai handel pintu, hendak memutar handel itu. Namun tangannya kalah cepat dengan tangan Ben yang telah menarik pinggangnya. Membuatnya jatuh ke dalam dekapan Ben. Tangan Ben pun mengunci erat pinggangnya.
"Aku meminta hak ku sekarang juga, Eleanor. Hak seorang suami."
__ADS_1
Elea terperanjat. Heels ditangannya pun jatuh menyentuh lantai.
*