In Your Memories

In Your Memories
Chap 23. Kedatangan Camila


__ADS_3

Chap 23. Kedatangan Camila


Malam yang panjang telah berlalu, tergantikan oleh pagi yang cerah. Sebelum berangkat kerja terlebih dahulu Elea menyiapkan sarapan untuk Jane, memastikan sahabatnya itu dalam keadaan baik. Sebab ia tidak akan tenang bekerja jika sesuatu yang buruk terjadi pada sahabatnya itu.


"Makanlah yang banyak, Jane. Hari ini kau tidak perlu bekerja. Aku sudah memintakan ijin untukmu," ujar Elea saat mereka sedang menikmati sarapannya.


"Terimakasih Elea. Kau tidak perlu mencemaskanku. Kau bekerjalah dengan baik."


"Cepat kau hubungi aku jika rentenir itu datang. Secepatnya aku akan mendapatkan uangnya. Dan kau tidak perlu lagi berurusan dengan mereka."


"Tapi dari mana kau akan mendapatkan uangnya, Elea?"


"Itu urusanku. Akan aku beritahu padamu nanti. Sebaiknya aku bersiap-siap dulu. Nanti aku terlambat." Cepat Elea bangun dari duduknya. Belum sempat Elea melangkah, Jane malah menahan pergelangannya. Meraih jemarinya dan menggenggamnya erat. Elea pun menoleh.


"Terimakasih banyak, Eleanor. Aku sangat beruntung memiliki sahabat sepertimu," ucap Jane tulus sambil tersenyum haru.


Elea pun mengulas senyumnya. "Kau bukan hanya sahabat bagiku. Tapi kau adalah satu-satunya keluarga bagiku. Hanya kau yang aku miliki di dunia ini. Kau sangat beruntung Jane. Kau memiliki orangtua yang menyayangimu, sedangkan aku? Orangtuaku malah meninggalkanku di panti asuhan."


"Apa kau tahu, Elea? Setiap hari aku selalu berdoa untukmu. Semoga suatu hari nanti kau akan bertemu dengan orangtuamu."


"Tidak, Jane. Jangan berdoa untukku. Karena aku tidak ingin bertemu lagi dengan orangtuaku. Aku berharap mereka sudah tidak ada lagi di dunia ini." Setelah dewasa Elea baru mengetahui bahwa dirinya ditinggalkan di sebuah panti asuhan.


Di tengah malam buta beberapa puluh tahun yang lalu, pengurus panti menemukan seorang bayi yang menangis di depan pintu. Bayi perempuan itu, yang tidak lain adalah Elea ditinggalkan seseorang di depan pintu panti asuhan dengan secarik kertas. Yang bertuliskan agar bayi perempuan itu diberi nama Eleanor Wisse.


"Bagaimana jika seandainya nanti Tuhan mempertemukan mu dengan orangtuamu?"


"Aku berharap itu tidak akan pernah terjadi." Elea hendak beranjak, namun lagi-lagi Jane menahan pergelangan tangannya.


"Ada apa lagi Jane? Aku harus siap-siap," ujar Elea.


"Kau belum menghapus tulisan di telapak tanganmu ini?" celetuk Jane sembari memperlihatkan telapak tangan Elea yang masih tertuliskan sebuah alamat.


"Akan aku hapus saat aku mandi nanti." Elea menarik tangannya lalu bergegas ke kamar mandi.


"Katakan padaku, alamat rumah siapa itu? Apa kau membuat janji dengan seseorang?" ujar Jane setengah berteriak.


"Tidak. Aku hanya iseng saja menulis alamat itu yang aku dapatkan dari selebaran." Elea menyahuti setengah berteriak pula dari dalam kamar mandi.


"Apa kau berniat pergi ke alamat itu?"


"Tidak!" Tapi kenyataannya, Elea malah menjaga agar coretan di tangannya itu tidak terhapus. Seluruh tubuhnya basah oleh air, tapi satu tangannya ia jaga agar tidak terkena air.

__ADS_1


...


Hari ini pekerjaan yang biasanya dilakukan Elea berdua bersama Jane, harus Elea kerjakan sendiri. Mulai dari membersihkan dan merapikan kamar yang baru saja ditinggalkan tamu, melaporkan ke bagian resepsionis kamar yang telah siap, termasuk membuang sampah.


Elea hendak membersihkan kamar yang berada di lantai tiga saat ia berpapasan dengan Ben yang berjalan didampingi Mark, asistennya.


Sontak Elea menundukkan wajahnya. Ben pun melewatinya begitu saja tanpa meliriknya sedikitpun. Tampak seperti tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka berdua.


Begitu Ben berlalu, Elea kembali mengangkat wajahnya dan meniupkan napasnya panjang, sembari mengulas senyum getirnya.


"Ternyata benar, dia tidak serius mengatakan hal itu padaku semalam," gumam Elea sambil menatap telapak tangannya dengan coretan tangan Ben yang sudah memudar.


Merasa alamat itu tidak berguna lagi baginya, Elea pun hendak menghapusnya menggunakan kain lap dan cairan pembersih kaca yang ia bawa. Tapi tiba-tiba saja ia mengurungkan niatnya.


Elea pun merogoh ponsel dari saku seragamnya, lalu ia mencatat alamat yang tertulis di telapak tangannya tersebut di note ponselnya. Mendadak ia berubah pikiran, siapa tahu saja suatu hari nanti ia membutuhkannya.


Setelah menyalin alamat tersebut di ponselnya, Elea kemudian mendorong troli yang berisi peralatan bersih-bersih menuju salah satu kamar di lantai tersebut untuk ia bersihkan.


...


Sementara di dalam ruangannya, Ben terlihat duduk tenang dibalik meja kerjanya. Sejak masuk ke ruangannya hingga detik ini Ben masih membisu dengan pikiran menerawang.


Bagaimana jiwanya bisa tenang, sementara istrinya sendiri sedang bekerja di hotelnya sebagai housekeeping. Membayangkan Elea bekerja keras untuk menghidupi dirinya sendiri, menjatuhkan rasa iba di hati Ben. Juga rasa bersalah yang mulai membukit, mengingat dua tahun lamanya ia pergi meninggalkan Elea tanpa sebab.


Mohon maaf, diralat. Bukan tanpa sebab. Ben pergi meninggalkan Elea karena mengira Elea berselingkuh di belakangnya. Ben pergi seperti seorang pengecut tanpa menyelidiki terlebih dahulu kebenaran berita yang ia dapatkan dari Nyonya Roberta. Bahkan ia tidak meminta penjelasan Elea.


Bukanlah itu pengecut namanya?


Ben pun membuang napasnya berat. Ben bangun dari duduknya, hendak mengayunkan langkah kakinya. Namun suara decitan pintu terbuka mengurungkan niatnya.


"Maaf, Tuan Ben. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda," ujar Mark masih berdiri di ambang pintu.


"Siapa?"


"Aku!" Belum sempat Mark memberitahu siapa tamunya, Camila tiba-tiba muncul dari balik pintu yang terbuka itu.


Ben hanya bisa terperangah, tak bisa berbuat apa-apa selain menerima kedatangan Camila sebagai tamunya hari ini.


Belum lagi pesan dari Nyonya Roberta yang baru saja masuk ke ponselnya, membuat Ben tidak bisa mengusir Camila begitu saja.


Nyonya Roberta

__ADS_1


[Camila sudah meminta ijin Mommy untuk datang mengunjungimu di hotel. Mommy mohon dengan sangat, tolong jangan kau kecewakan calon menantu Mommy]


"Maaf, aku datang tanpa memberitahumu lebih dahulu. Apa kau sibuk hari ini?" tanya Camila sembari menghampiri perlahan.


Ben malah mengerjap berkali-kali, ia bingung harus menjawab apa. Dibilang sibuk, iya, memang. Ben sangat sibuk, sibuk memikirkan Elea. Termasuk sibuk memikirkan bagaimana cara menjerat Elea agar mau datang ke alamat apartemen yang ia berikan semalam.


Ben juga sibuk memikirkan bagaimana cara membatalkan pernikahannya dengan Camila yang telah diatur sang ibu untuknya. Termasuk bagaimana caranya ia membawa masuk Elea ke dalam keluarganya.


Apalagi sang ayah telah mewanti-wanti keras agar ia tidak salah memilih pasangan. Sebab wanita yang akan menjadi pasangan hidupnya, haruslah wanita yang berasal dari keluarga sederajat. Wanita yang jelas asal-usulnya, agar tidak mempermalukan nama baik keluarga.


Sementara Elea, wanita yang ia nikahi diam-diam, hanyalah seorang yatim piatu. Bahkan wanita yang tidak jelas asal-usulnya.


"Maaf, Tuan Ben. Tentang Eleanor, aku sudah mendapatkan informasi lain tentangnya dari temanku yang berada di London. Apakah Tuan mau mendengarnya?" tanya Mark saat menghampiri Ben.


Dan pertanyaan Mark tersebut malah mengundang raut berbeda di wajah Camila. Ben pun memberi kode kepada Mark untuk segera meninggalkan ruangannya.


"Aku permisi Tuan Ben." Bergegas Mark pun keluar dari ruangan itu.


"Eleanor? Siapa itu Eleanor?" tanya Camila dengan raut wajah menyelidik.


Ben terlihat salah tingkah. "Bukan siapa-siapa," sahutnya asal.


"Apa aku mengenalnya?"


"Tidak. Kau tidak mengenalnya."


"Baiklah. Kalau begitu, apa kau punya waktu hari ini? Aku ingin mengajakmu makan siang di luar."


"Ti ..." Ben hendak menolak, namun ia teringat pesan sang ibu agar tidak mengecewakan calon menantu idamannya. Sehingga dengan sangat terpaksa Ben pun mengiyakan.


Camila tersenyum senang mendengarnya. Begitu Ben keluar dari balik meja kerjanya, Camila langsung menggamit mesra lengan Ben. Membuat Ben resah saja sembari membuang napasnya berat.


Mereka pun melangkah bersama-sama keluar dari ruangan tersebut. Tiba di lobi mereka berpapasan dengan Elea yang baru saja memberi informasi ke bagian resepsionis tentang kamar yang telah siap untuk menerima tamu.


Semula Camila terlihat biasa-biasa saja begitu berpapasan dengan Elea. Namun begitu posisi mereka saling membelakangi, tiba-tiba saja langkah kaki Camila terhenti.


Sontak Camila pun menoleh disertai raut wajah berbeda. Dipandanginya punggung Elea yang semakin menjauh dengan dahi berkerut.


"Dia?" gumam Camila membatin.


*

__ADS_1


__ADS_2