In Your Memories

In Your Memories
Chap 26. Menahan Diri


__ADS_3

Chap 26. Menahan Diri


"Tuan Ben sedang menunggumu di dalam. Masuk dan jangan banyak bertanya."


Menuruti perkataan Mark, Elea pun masuk ke dalam kamar tersebut. Bagitu Elea masuk, berganti Mark yang malah keluar dan meninggalkannya berdua bersama Ben di dalam kamar mewah tersebut. Yang membuat Elea terkejut melihatnya.


"Tidak usah kaget seperti itu." Ben berkata sembari melepas blazer yang ia kenakan. Lalu menarik lengan t-shirt sampai batas siku. Kemudian mengambil duduk di sofa panjang sambil memangku satu kakinya.


"Kemarilah," titah Ben sembari menepuk-nepuk tempat kosong di samping kirinya. mengundang Elea untuk duduk di sampingnya.


Namun Elea bergeming. Elea enggan beranjak dari tempatnya berdiri.


"Maaf, Tuan. Aku hanya ingin tahu, kenapa aku dipanggil kemari. Katanya tamu kamar ini sedang membutuhkan layanan kamar," ucap Elea masih pada tempatnya, tak menghiraukan permintaan Ben.


Ben mengulas senyum tipisnya. "Memang. Tamu kamar ini membutuhkan pelayananmu."


"Tapi sepertinya aku salah. Kamar ini sedang tidak ada tamunya."


"Kau tidak salah, karena akulah tamunya."


"Apa kau sedang bercanda, Tuan?"


"Tidak. Siapa yang sedang bercanda denganmu? Aku sangat tidak suka bercanda, Eleanor. Kau, kemarilah."


Elea diam sejenak, tak langsung menganggapi. Dipandanginya saja pria tampan itu. Yang tengah duduk memangku kaki, sembari tersenyum tipis menatap ke arahnya.


Tetapi siapa sangka, senyuman tipis Ben itu malah membuat jantung Elea berdetak tak karuan, serta hati berdebar-debar aneh. Walau pun senyuman itu setipis kertas, namun mampu menggetarkan hatinya.


Bahkan dengan senyum setipis itu pun, pria itu tampak memesona. Tampan memanjakan mata memandang. Dan Elea terkesima menatap paras menawan itu. Namun berusaha menguasai diri.


"Kemarilah, Eleanor. Duduk di sampingku," pinta Ben sekali lagi.


Namun Elea masih saja bergeming. Ia masih enggan menghampiri, dan memilih memandangi saja pria itu dari kejauhan. Ukuran kamar yang terlalu besar itu cukup menciptakan jarak pandang yang cukup jauh antara pintu kamar dan sofa yang diduduki Ben.


Elea tak ingin berpikir yang bukan-bukan, tapi hatinya tak bisa berhenti cemas. Sebab di dalam kamar semewah ini hanya ada mereka berdua saja. Banyak hal yang Elea cemaskan, termasuk bila ia ketahuan oleh rekan-rekan kerjanya sedang berduaan bersama atasan di dalam kamar hotel disaat jam kerja berlangsung.


"Tidak ada yang perlu kau cemaskan. Kamar ini kedap suara. Kau berteriak pun tidak akan ada yang mendengarnya," ucap Ben seolah sedang bercanda. Pria itu bahkan terlihat santai dan bersikap biasa-biasa saja.


Namun tidak dengan Elea. Justru Elea yang terlihat tegang, tak tenang dan penuh kecemasan. Jantungnya bahkan tidak dalam keadaan baik-baik saja saat ini. Jantung itu berdegup kencang, serasa menggedor-gedor dinding dadanya.


Elea me-remas jari jemari tangannya gugup. "Maaf, Tuan. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," ucapnya mencari alasan untuk menghindar.

__ADS_1


"Eleanor, aku memintamu duduk di sampingku. Jangan risaukan soal pekerjaanmu. Bukankah aku bos nya di sini?"


"Apa kau sedang mempermainkanku, Tuan?"


"Justru kaulah yang sedang mempermainkanku, Eleanor."


"Kau mulai ngawur, Tuan. Mana berani aku mempermainkanmu."


"Kau mempermainkan hatiku, Eleanor Wisse. Kau yang datang sendiri kemari atau aku yang harus memaksamu? Kau sungguh membuatku tak bisa menahan diriku." Ingin rasanya Ben yang datang mendekat, menarik wanita itu ke dalam pelukannya, lalu menyambar bibir merah merekahnya.


Aish!!!


Ben meniupkan napasnya panjang. Sungguh Elea membuatnya harus matian-matian menahan gejolak hasratnya. Ditambah lagi berada di dalam kamar ini berdua membuat Ben mulai berimajinasi tentangnya.


Sungguh lucu rasanya, Ben seperti sedang bermain petak umpet dengan istrinya sendiri. Ben masih ingin merahasiakan siapa dirinya yang sebenarnya dari Elea, sampai Elea mau memenuhi permintaannya untuk datang ke alamat yang ia berikan semalam.


"Maaf, Tuan. Aku tidak bisa duduk di sampingmu," tolak Elea.


"Kenapa?"


"Kau sudah memiliki tunangan, dan tidak lama lagi kalian mungkin akan menikah."


"Ha ha ha ..." Ben tergelak saking merasa lucu melihat ekspresi wajah Elea yang tampak seperti orang yang sedang kebingungan.


"Kau sendiri saja terlihat ragu apalagi denganku? Mungkin, aku tidak akan menikahi Camila. Kau tahu kenapa?" tanya Ben kemudian bangun dari duduknya dan menghampiri Elea perlahan. Sedari tadi ia dibuat gemas, ingin rasanya melahap wanita itu hidup-hidup.


"Karena aku ..." Ben menghentikan langkahnya tepat di hadapan Elea. Menatapnya lekat dengan hati berdebar-debar.


"Nona Camila itu wanita yang cantik. Sungguh sangat beruntung pria yang bisa memilikinya. Mana mungkin kau tidak tertarik kepadanya. Dia itu wanita yang anggun, berkelas, dan..."


"Karena aku menyukaimu, Eleanor." Ben menyela ucapan Elea, sehingga membuat Elea terdiam seketika. Ditatapnya Ben lekat-lekat, berusaha memahami raut wajah pria itu. Mungkin saja pria itu hanya sedang bercanda.


Elea masih belum menemukan di mana suaminya berada. Sedangkan pria yang berdiri di hadapannya saat ini hanyalah pria yang mirip dengan suaminya.


Ya. Hanya mirip.


Namun entah mengapa, hati kecil Elea masih saja berbisik jika pria yang ada di hadapannya ini adalah suaminya.


"Aku ini wanita yang sudah bersuami. Apa kau sedang bercanda denganku, Tuan?" Elea mencoba meyakinkan dirinya sendiri, mana mungkin pria itu menyukainya. Pria itu sedang bercanda.


Ya. Bercanda. Dan Elea tidak boleh lengah, lalu mudah terpedaya oleh bujuk rayu pria itu.

__ADS_1


"Apa aku pernah bercanda denganmu, Eleanor?" Ben semakin menatap lekat Elea. Dan tanpa sadar, ia pun semakin mendekatkan wajahnya perlahan-lahan.


"Tuan, tolong jangan bermain-main denganku."


"Justru kaulah yang sedang bermain-main denganku. Kau sangat menguji kesabaranku."


"Tuan, kau..." Elea sontak berpaling muka begitu Ben mengikis jarak. Sehingga bibir Ben hampir saja mendarat di telinga Elea.


Ben memejamkan matanya sejenak, merutuki kebodohannya dalam hati karena tak bisa menahan diri dari godaan. Ben hanya bisa menggeram dalam diam.


"Eleanor, jujurlah padaku, apa kau punya laki-laki lain selain suamimu?" bisik Ben di telinga Elea.


"Sudah aku katakan, Tuan. Aku tidak punya laki-laki lain selain suamiku."


"Jika aku ingin menjadi laki-laki lain itu, apa kau mau menerimaku?"


Elea terperangah, lalu menoleh cepat. Namun ia harus menahan napasnya kuat lantaran ujung hidungnya bersentuhan dengan ujung hidung Ben.


...


Sementara di sudut lain kota Paris.


Nyonya Roberta telah selesai dengan ritualnya setiap minggu, berendam dengan air hangat untuk memulihkan kesegaran tubuhnya.


Masih dengan jubah mandi nya, wanita paruh baya itu berjalan menuju lemari pakaian. Mengambil pakaian ganti, lalu berjalan menuju meja rias.


Di meja rias itu tergeletak ponselnya. Diambilnya ponsel itu untuk sekedar memeriksa jikalau ada panggilan atau pun pesan penting yang masuk. Sebab ia menyetel ponselnya itu dalam mode cilent. Dahinya pun berkerut saat ia melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dari Camila.


Nyonya Roberta lalu mengambil duduk di depan meja riasnya sembari menghubungi seseorang.


"Halo?" sapaan sebuah suara lembut terdengar dari seberang sana.


"Halo Camila, ada apa sayang? Kau menghubungi Mommy tadi?" tanya Nyonya Roberta.


"Iya, Nyonya Roberta. Ada hal penting yang harus aku beritahukan padamu."


"Hal penting apa itu?"


"Ini tentang wanita itu. Wanita masa lalu Ben."


*

__ADS_1


__ADS_2