In Your Memories

In Your Memories
Chap 27. Singa Betina


__ADS_3

Chap 27. Singa Betina


Dengan wajah serius Nyonya Roberta melangkah panjang menyusuri lobi Benedict Star Hotel. Percakapannya dengan Camila via telepon beberapa saat lalu itu membuatnya tak bisa menghentikan keinginannya untuk datang memastikannya langsung.


Kedatangan Nyonya Roberta seperti sebuah ancaman bagi karyawan-karyawannya. Wanita paruh baya yang satu ini tidak akan segan-segan memecat karyawan yang terlihat buruk kinerjanya.


Nyonya Roberta dikenal arogan dan tak kenal ampun. Bagi wanita itu, todak ada yang namanya kesempatan kedua. Sekali membuat kesalahan, maka akan langsung dipecat. Untuk itulah begitu melihat wanita itu sedang berjalan menuju salah satu aula, banyak para karyawan yang memilih menghindar demi tidak berpapasan dengannya.


"Mark!" Nyonya Roberta berteriak memanggil sang Assisten General Manajer, sekaligus merangkap asisten pribadi yang melayani segala kebutuhan atasannya.


Karyawan lain yang mendengar teriakan Nyonya Roberta berlarian mencari sang asisten tersebut. Mereka tidak ingin terkena amukan singa betina seperti Nyonya Roberta.


"Mark!" Sekali lagi Nyonya Roberta berteriak sambil menyapukan pandangannya ke segala penjuru arah. Sampai akhirnya pandangannya terhenti pada Mark yang datang tergopoh-gopoh menghampiri Nyonya Roberta.


"Kenapa Nyonya tidak memberitahuku dulu kalau Nyonya akan datang," ucap Mark kemudian menyusul langkah Nyonya Roberta yang berjalan lebih dulu di depannya.


"Di mana Benedict?" tanya Nyonya Roberta.


"Tuan Ben ada di ruangannya, Nyonya."


"Sekarang kau kumpulkan semua karyawan di aula."


"Untuk apa Nyonya?"


"Jangan banyak tanya. Cepat kau kumpulkan saja mereka."


"Ba-baik Nyonya." Mark kemudian mengambil arah yang berlawanan dengan Nyonya Roberta.


Wanita paruh baya itu berjalan menuju aula, sedangkan Mark mengambil arah menuju lift. Mark hendak ke lantai lima terlebih dahulu. Ia harus memberitahu Ben soal kedatangan Nyonya Roberta, sebelum Nyonya Roberta mengetahui bila Ben sedang berduaan dengan karyawannya di salah satu kamar mewah di hotel ini.


Sebenarnya Mark bisa menghubungi ponsel Ben, tetapi Ben mungkin tidak akan menjawab teleponnya. Sebab sebelumnya Ben telah berpesan kepadanya agar tidak mengganggunya.


Sementara di dalam kamar hotel itu, Ben dan Elea masih saling menatap dalam jarak yang teramat dekat hingga ujung hidung keduanya saling bersentuhan.


Hening masih membentang sepanjang mereka saling menatap. Sayup terdengar suara degup jantung yang menghentak dua kali lebih cepat.


Menyadari bila ia hampir saja terlena oleh tatapan sayu Ben, Elea pun memundurkan wajahnya. Namun tangan kekar Ben dengan cepat menahan tengkuknya.


"Tu-Tuan ..." Elea harus bisa menguasai diri. Ia tak ingin jatuh ke dalam pesona pria itu.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, Eleanor."

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Aku tidak bisa menerimamu. Aku sudah bersuami."


"Bukankah aku mirip dengan suamimu? Kau bahkan pernah berkata, kau bersedia menyerahkan tubuhmu padaku hanya demi menemukan suamimu. Apa kau lupa?"


Elea terdiam dengan degup jantung yang semakin cepat. Ia memang belum lupa dengan perkataannya itu, yang entah ia mendapat keberanian dari mana untuk mengatakan hal itu. Padahal saat itu ia tidak berpikir panjang. Ia hanya terdorong oleh keyakinannya saja.


Awalnya memang Ben yang ada di hadapannya saat ini terlihat berbeda dengan Ben yang dikenalnya. Berbeda dari sikap dan cara memperlakukan seorang wanita.


Namun semakin ke sini, Ben yang ini malah terlihat mirip dengan Ben nya. Apakah itu artinya, keyakinannya belakangan ini adalah benar?


Elea menelan salivanya dalam saat Ben kembali mengikis jarak perlahan-lahan. Sembari Ben berkata,


"Aku ingin tahu seperti apa suamimu itu memperlakukanmu. Apakah dia memperlakukanmu seperti ini?" Tak peduli reaksi Elea, Ben langsung mendaratkan kecupannya di bibir merekah Elea. Menyesapnya dengan lembut, selembut ia memperlakukan wanita itu dua tahun lalu.


Menerima perlakuan lembut itu Elea pun akhirnya terbuai. Ikut terbawa arus suasana syahdu yang diciptakan Ben. Bukannya menolak atau pun memberontak, Elea malah memejamkan matanya. Menikmati luma tan lembut Ben di bibirnya.


Semakin lama Elea semakin terbuai. Ia biarkan saja Ben mengobrak abrik rongga mulutnya. Bahkan tangan kekar Ben meraih pinggangnya, merangkulnya erat, ia biarkan saja. Seakan ia memberi lampu hijau untuk Ben berbuat lebih jauh lagi.


Seiring ciuman yang semakin memabukkan itu, tangan Ben tidak tinggal diam. Jemarinya mulai nakal, naik ke atas perlahan-lahan, hendak membuka tautan kancing seragam Elea.


Namun tiba-tiba saja ...


Tok Tok Tok


"Sial." Ben mengumpat disela napasnya yang memburu. Kemudian ia membuka pintu kamar itu.


Sedangkan Elea salah tingkah sembari memperbaiki tatanan rambutnya serta seragamnya. Dalam hati ia merasa malu dengan mudahnya ia terbuai oleh rayuan Ben. Bahkan ia hampir saja membiarkan pria itu berbuat lebih kepadanya. Ia pun hanya bisa merutuki kebodohannya dalam hati.


"Bukankah sudah kukatakan jangan menggangguku?" omel Ben kepada Mark yang berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang.


"Maaf, Tuan. Di bawah ada Nyonya Roberta."


"Apa? Kenapa ibuku tidak memberitahu dulu kalau dia akan datang?"


"Aku juga tidak tahu Tuan. Nyonya bahkan meminta untuk mengumpulkan semua karyawan di aula. Semua karyawan TANPA TERKECUALI." Mark memberi penekanan untuk kalimat terakhirnya sembari melirik kepada Elea.


"Baiklah, kalau begitu. Aku akan ke sana. Tapi ..." Ben menoleh, menatap Elea.


"Tidak untuk yang satu ini. Kau Eleanor, jangan ke mana-mana. Kau tetap berada di kamar ini. Urusan kita belum selesai," sambungnya.


"Tapi, Tuan. Nyonya menyuruh semua karyawan tanpa terkecuali," bantah Mark.

__ADS_1


"Kau membantahku, Mark?" Pertanyaan Ben cukup sederhana, namun serasa menikam Mark. Dan Mark pun tidak berani membantah untuk kedua kalinya.


...


Di aula hotel itu, Nyonya Roberta berdiri angkuh memandangi satu per satu karyawan yang berjejer rapi di hadapannya. Ditelitinya satu per satu wajah-wajah karyawan itu.


Sudah dua tahun lamanya Nyonya Roberta tidak melihat wajah Elea. Terakhir kalinya bertemu yaitu disaat ia berpura-pura menjadi pelanggan restoran cepat saji tempat Elea bekerja. Hanya demi bisa melihat dan menilai bagaimana rupa seorang wanita yang membuat Ben tergila-gila.


Namun ternyata wanita itu hanyalah wanita kelas rendahan, tidak jelas asal-usulnya, bahkan hanyalah seorang pelayan restoran. Sungguh wanita yang sangat tidak pantas menjadi pendamping hidup Ben.


Nyonya Roberta bahkan merasa jijik melihat Elea saat itu. Ia tak sanggup membayangkan jika Ben membawa pulang seorang menantu miskin ke rumahnya. Sudah barang tentu nama baik serta reputasi keluarga Cartier akan dipertaruhkan. Ia tentu akan menjadi bahan olok-olokan teman-teman sosialitanya.


Susah hampir semua wajah karyawan diamati Nyonya Roberta, tetapi wajah yang ia kenal belum tampak di depan matanya.


"Mark." Begitu kencang suara Nyonya Roberta memanggil. Terdengar menggema sampai ke luar aula. Bahkan sampai ke telinga Ben dan Mark yang telah sampai di depan aula.


Bergegas Mark memasuki aula sebelum terkena amukan singa betina.


"Mark." Sekali lagi Nyonya Roberta berteriak.


"Tidak perlu berteriak seperti itu, Mommy. Apa kau mau membuat keributan di hotel ini? Kau ingin membuat para tamu merasa tidak nyaman menginap di hotel ini, Mommy?" celetuk Ben begitu memasuki aula.


Mendengar suara Ben, serentak semua karyawan pun langsung menundukkan wajahnya.


"Ben?" gumam Nyonya Roberta sedikit terkejut melihat kedatangan Ben. Ia juga cemas jika wanita yang dikatakan Camila tersebut tiba-tiba terlihat di depan Ben. Jika memang benar wanita itu bekerja di hotel ini, maka ia tidak akan segan-segan untuk memecatnya. Ia bahkan berharap ingatan Ben tidak akan pernah kembali.


"Katakan padaku untuk apa Mommy datang kemari?" tanya Ben.


"Mommy hanya ingin mengecek kinerja karyawan. Seperti yang Mommy lakukan sebelum-sebelumnya. Itu saja."


"Oh ya? Lalu untuk apa Mommy meminta bagian HRD untuk memberikan daftar nama semua karyawan? Bukankah tugas Mommy hanya berfoya-foya? Untuk hal seperti ini bukan menjadi urusan Mommy. Mommy hanya perlu bersenang-senang dan tidak perlu memikirkan soal hotel."


"Tapi, Ben..."


"Pulanglah, Mom."


"Tapi Mommy masih harus memastikan sesuatu."


"Siapa yang sedang Mommy cari?"


Nyonya Roberta terdiam.

__ADS_1


Sementara Elea, merasa tidak betah berada di dalam kamar tersebut. Sehingga Elea memutuskan keluar kamar. Dan langkahnya pun terhenti tepat di depan aula saat ia mendengar suara Nyonya Roberta.


*


__ADS_2