In Your Memories

In Your Memories
Chap 29. Kecewa


__ADS_3

Chap 29. Kecewa


"Karena kau sudah meniduri Camila. Kalian bahkan melakukan hal itu tanpa menggunakan pengaman. Bagaimana jika Camila hamil nanti?"


"Came on Daddy, aku khilaf. Itu adalah kesalahan yang tidak aku sengaja. Dan itu hanya terjadi sekali. Bagaimana mungkin dia bisa hamil." Ben memutar bola matanya malas.


"Dan jika seandainya hal itu terjadi, apa yang akan kau lakukan?"


Ben terdiam. Mengapa ia tidak terpikirkan hal ini sebelumnya. Setelah kejadian itu ia malah bersikap santai, acuh tak acuh. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah Eleanor.


Ben menarik sudut bibir, tersenyum remeh. "Impossible, Dad (tidak mungkin, Yah). Saat itu aku tidak tahu apa yang terjadi. Saat aku terbangun, aku sudah berada dalam ka..." Ben menggantung kalimatnya. Kesadarannya seolah baru saja pulih. Ingatannya pun seketika kembali ke saat makan malamnya bersama Camila beberapa waktu lalu.


Semula ia mengira itu adalah kesalahannya. Yang tak bisa mengontrol hasrat dalam diri yang mendadak bergejolak setelah meminum minuman yang telah dipesankan oleh Camila untuknya.


Ya. Semua hidangan yang mereka makan malam itu, semuanya telah dipesan oleh Camila sebelumnya. Mengikuti keinginan dan selera Camila sendiri. Dan Ben hanya tinggal menikmatinya saja.


"Oh, sial!" gumam Ben mengumpat. Mengapa ia melewatkan hal kecil itu? Bagaimana ia bisa berakhir di kamar hotel, sementara ia tidak tahu menahu apa yang telah terjadi.


Bagaimana jika Camila berbohong kepadanya. Bahwa sebenarnya tidak terjadi apa-apa diantara mereka?


Jika seandainya hal itu benar terjadi, apakah mungkin malam itu ia dalam pengaruh alkohol?


Tapi mana mungkin segelas wine saja bisa membuatnya mabuk?


Ataukah mungkin malam itu ia dalam pengaruh obat perang sang? Apakah Camila membubuhkan sesuatu ke dalam minumannya?


"Sial!" sekali lagi Ben mengumpat sembari memejamkan matanya rapat. Menyadari betapa bodohnya ia tidak terpikirkan hal itu sebelumnya.


"Kenapa? Apakah ada sesuatu yang membebani mu, Ben?" tanya Tuan Albert.


"Ya, ada."


"Apa itu? Coba jelaskan."


"Dad, bisakah kau membatalkan pernikahanku dengan Camila?"


"Kenapa?"


"Oh came on, Dad. Kau tahu kenapa. Aku tidak suka memberi penjelasan berulang-ulang. Kau tahu apa alasanku tidak ingin menikah."


"Baiklah. Sebenarnya bisa saja pernikahan mu dibatalkan. Tapi bagaimana dengan nama baik keluarga kita? Kau ingin mempermalukan Daddy mu ini? Kau ingin membuat Daddy mu ini kehilangan muka di depan pak menteri?"

__ADS_1


Ben meniupkan napasnya kasar. Lalu ia terkekeh. "Rupanya kalian lebih menyayangi nama baik kalian daripada putra kalian sendiri," sindirnya.


"Jangan berkata seperti itu, Ben. Kau melukai hati Daddy. Kau putra Daddy satu-satunya, penerus keluarga Cartier. Jika kau menikahi wanita yang salah, bagaimana dengan nama baik keluarga kita nanti?"


"Kau sama saja seperti Mommy, Dad. Aku pikir selama ini Daddy mendukungku."


"Baiklah, jika memang kau tidak ingin menikahi Camila. Tapi, apa kau bisa menjamin, bila wanita pilihanmu nanti tidak akan mempermalukan keluarga kita?"


"Apalah artinya sebuah nama jika putra kalian tidak bahagia. Kalian mempertaruhkan kebahagiaan putra kalian hanya demi sebuah nama baik? Aku kecewa padamu, Dad." Ben menyandarkan punggung, memangku sebelah kakinya, serta melipat lengan di depan dada. Ia pejamkan matanya demi mengusir kekecewaan di hatinya. Dan disaat matanya terpejam, hanya ada bayangan Elea yang menguasai hati dan pikirannya.


...


Tiba waktu jam kerjanya berakhir, Elea telah mengganti seragam nya dengan pakaian kasual. Menutup loker, Elea kemudian bergegas keluar dari ruang ganti. Tujuannya setelah ini adalah ke sebuah alamat yang diberikan Julian kepadanya semalam. Dan mengabaikan alamat lainnya yang diberikan oleh Ben.


Elea sudah berdiri di depan pintu ruangan yang bertuliskan Julian Xavier saat tiba-tiba ponselnya berdenting. Dirogohnya ponsel itu dari dalam tas nya, lalu membuka sebuah pesan chat yang masuk dari sebuah nomor yang tak ia kenal.


[Kau tidak mengindahkan perintahku. Kau berani mengabaikan ku, Eleanor]


Dahi Eleanor berkerut membaca isi pesan tersebut yang entah siapa pengirimnya. Sampai pesan yang kedua menyusul membuat Elea tahu siapa pengirimnya.


[Aku akan menunggu kedatangan mu malam ini]


Memilih mengabaikan, itulah yang terbaik untuk Elea saat ini. Karena yang menjadi prioritasnya untuk saat ini adalah membantu Jane.


Di ambang pintu berdiri seorang pria berkacamata yang mengulum senyum begitu melihatnya.


"Hai, sudah lama kau berdiri di situ?" tanya Julian.


Elea meringis malu. "Tidak, aku baru saja sampai."


"Silahkan masuk." Julian bergeser, memberi akses Elea masuk ke ruangannya.


"Terimakasih." Kemudian membawa langkahnya masuk ke dalam ruangan dengan tampilan klasik tersebut.


Elea bahkan sampai berdecak kagum saat menyapukan pandangannya ke setiap sudut ruangan itu. Di satu sisi dindingnya, menggantung rapi deretan piagam penghargaan atas nama Julian Xavier.


Di salah satu sisi lainnya terdapat beberapa foto Julian bersama teman-temannya, rekan-rekan kerjanya mungkin. Elea tidak tahu pasti siapa saja yang berada dalam foto itu. Tapi yang pasti, dalam foto-foto itu tidak salah satu foto pun yang memperlihatkan Julian bersama seorang wanita.


Menurunkan pandangan sedikit ke bawah, Elea berkerut dahi saat melihat foto Julian bersama seorang pria tampan yang sudah tak asing lagi di matanya.


"Itu adalah saudara sepupuku." Tiba-tiba Julian berkata dari balik punggungnya. Elea tersentak kaget. Lalu menoleh, langsung disambut oleh senyuman manis Julian.

__ADS_1


"Ben namanya," sambung Julian.


"Saudara sepupu mu, Tuan?"


Julian tertawa kecil melihat sikap sederhana Elea, yang entah mengapa malah terlihat menggemaskan di matanya.


"Sudah berapa kali aku katakan, jangan memanggil ku tuan. Aku kurang suka mendengarnya. Panggil saja Julian."


"Tapi mungkin itu akan terdengar tidak sopan."


"Lebih baik seperti itu. Aku lebih merasa nyaman jika kau memanggil namaku. Oh ya, Eleanor ... Apa kau punya rencana malam ini?"


"Rencana? Maksud mu?"


"Ehem ..." Julian berdehem sebentar untuk mengusir rasa gugupnya. Sebab akan terlihat mencolok rasanya pada pertemuan pertama ia sudah ingin mengajak Elea berkencan. Mungkin berteman dahulu lebih baik.


"Maksud ku adalah ..."


"Maaf, apa boleh aku memulai pekerjaanku sekarang?" sela Elea. Sebab kedatangannya ke tempat Julian adalah untuk bekerja. Dan hari ini ia harus cepat pulang lantaran keadaan Jane yang sedang tidak baik-baik saja. Ia hanya takut jika rentenir itu datang dan mengganggu Jane. Lalu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap Jane.


Julian terlihat salah tingkah. "I-iya, silahkan," ucapnya terbata.


Tanpa berlama-lama Elea pun langsung mengerjakan pekerjaannya. Menaruh tas nya di sofa, Elea terlihat celingukan mencari peralatan yang bisa ia gunakan untuk bersih-bersih.


Tak perlu bertanya, Julian mengerti apa yang sedang dicari Elea. Maka Julian pun segera mengambilkannya untuk Elea.


"Kau gunakan ini saja." Julian memberikan alat penyedot debu kepada Elea.


"Terimakasih."


Sementara Elea bekerja membersihkan ruangan itu, Julian memilih duduk di belakang meja kerjanya sambil membaca buku.


Namun pria tampan berkacamata itu tidak benar-benar membaca buku. Buku itu memang terbuka lebar di depan wajahnya, tapi mata dan perhatiannya malah tertuju kepada Elea.


Sesekali Julian melirik, mengintip Elea dari balik buku itu sambil tersenyum-senyum. Sebenarnya Julian tidak terlalu membutuhkan jasa Elea karena ia sudah mempunyai seorang tukang bersih-bersih.


Julian hanya menggunakan alasan itu agar bisa bertemu Elea setiap hari. Hitung-hitung sebagai penyemangatnya untuk bekerja.


Ditengah asiknya Julian memperhatikan Elea diam-diam, tiba-tiba terdengar suara bel pintu. Elea yang mendengarnya bergegas hendak membukakan pintu itu.


"Eleanor, biar aku saja," cegah Julian. Kemudian beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu.

__ADS_1


"Aku minta waktumu sebentar. Kita harus bicara." Nyonya Roberta langsung menodong Julian begitu pintu terbuka.


*


__ADS_2