
Chap 15. Hasrat Ben
"Kau? Apa yang kau lakukan di tempat ini?" tanya Ben begitu mengenali Elea meski dalam cahaya temaram.
Walaupun wajah Elea dalam sapuan make up tebal nan mencolok, namun Ben mampu mengenali Elea dari suaranya. Serta desir hangat yang mengaliri denyut nadinya dikala berada dekat dengan Elea.
Elea tertegun lalu tersadar akan siapa tamu yang ia temani malam ini. Sontak Elea pun menoleh, dan bertemu tatap dengan sepasang mata tajam Ben. Yang menatapnya lekat namun tajam menikam.
Tidak seperti orang lain, yang mungkin akan pergi begitu bertemu atasannya di tempat yang tak lazim. Elea justru tak ingin beranjak meninggalkan tamu VIP nya. Sebab kesempatannya untuk menemukan Ben nya bisa hilang seketika. Tak peduli seperti apa tanggapan pria itu terhadapnya nanti. Yang Elea inginkan hanyalah menemukan suaminya.
"Tuan? Apa yang kau lakukan di tempat ini?" tanya Elea balik.
"Pertanyaan itu untukmu, sedang apa kau di tempat ini? Apa kau primadona yang dimaksud Chris?" celetuk Ben penasaran. Namun nadanya terdengar meledek.
"Primadona?" Elea bingung, masih belum menyadari bila Chris berniat menawarkan jasanya kepada Ben sebagai wanita penghibur.
"Berapa hargamu?" tanya Ben frontal, tak peduli perasaan Elea.
"Apa maksudmu? Aku berada di tempat ini untuk bekerja, bukan untuk menjual diri. Aku ini bukan ja lang. Aku wanita baik-baik."
"Apa kau ini bodoh? Apa kau pikir orang-orang akan percaya dengan omonganmu sementara kau bekerja di tempat ini dengan penampilan seperti ini." Ben menyapukan pandangannya dari ujung kaki sampai ke ujung kepala Elea.
"Oh sial." Ben mengumpat dalam hatinya lantaran jantungnya yang mendadak berdetak lebih cepat begitu melihat penampilan Elea dalam balutan busana minim. Yang tanpa sengaja malah mengusik jiwa lelakinya.
Meski tak ia utarakan, Ben mengakui bila Elea memang sangat cantik, seperti yang dikatakan Chris. Dan yang membuat hasrat lelakinya semakin tak tenang adalah tatapan Elea kepadanya. Wanita itu menatap wajahnya lekat dengan berani.
"Sebutkan berapa hargamu." Entah mengapa Ben seakan tak ingin bila Elea jatuh ke tangan hidung belang yang lain. Hatinya seakan tak terima Elea bekerja di tempat seperti ini.
"Sudah aku katakan Tuan, aku tidak menjual diri. Pekerjaanku hanyalah menyajikan minuman, bukan tubuhku."
"Jangan naif, Eleanor. Aku tahu kau melakukan pekerjaan ini demi uang. Sebutkan saja berapa hargamu. Aku bahkan bisa membayarmu tiga kali lipat."
"Kau terlalu sombong, Tuan. Silahkan kau minum saja sendiri. Aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku. Permisi." Akhirnya Elea merasa kesal. Lantas ia bangun dari duduknya dan hendak beranjak. Namun cepat Ben menahan pergelangan tangannya. Hingga membuat kakinya tak sempat melangkah.
__ADS_1
"Lepaskan tanganku, Tuan," pinta Elea menarik tangannya. Genggaman Ben terlalu kuat hingga ia kesulitan membebaskan diri.
"Bukankah kau ditugaskan untuk melayaniku?" Ben tak bisa mengabaikan rasa penasarannya begitu saja. Apalagi setelah ia melihat foto-foto wanita yang mirip dengan Elea yang sedang berpelukan dengan laki-laki lain. Juga cincin yang terukir nama 'Eleanor' membuat keingintahuannya semakin tinggi.
"ME-NE-MA-NI! Bukan melayani, Tuan," sahut Elea dengan memberikan penekanan.
"Lalu apa bedanya? Kau disini adalah untuk melayaniku. Melayani semua keinginanku, termasuk menyerahkan tubuhmu itu. Jadi sekarang mari lakukan tugasmu dengan benar, Eleanor. LAYANI AKU!"
PLAK!
Suara tamparan tiba-tiba terdengar menggema di ruangan itu. Ben tertegun dengan wajah tegang menahan amarah. Baru pertama kali ada seorang wanita yang berani melayangkan tamparan di wajahnya. Membuat harga diri seorang Benedict terluka. Terlebih wanita itu adalah wanita dari kelas rendahan.
Sementara Elea pun tertegun. Ia tak percaya mengapa tangannya bisa seringan itu melayang di pipi Ben, atasannya di hotel. Ucapan Ben teramat melukai perasaannya.
Pandangan Elea lalu turun ke tangan kanannya yang telah berani menampar Ben. Sementara tangannya yang lain masih dalam genggaman Ben. Elea pun merasa menyesal. Namun sudah terlanjur terjadi. Tak bisa diulur kembali.
"Ma-maafkan aku, Tuan."
Ben menoleh, menatap Elea tajam menelisik. Rahangnya mengetat. Entah mengapa ada kemarahan dalam dirinya bila teringat foto wanita yang mirip dengan Elea yang sedang berpelukan dengan laki-laki itu.
"Eleanor, kau ..." Amarah Ben tertahan. Ada dorongan emosional dalam dirinya, namun tak mampu ia luapkan. Entah mengapa.
"Maaf, Tuan. Aku tidak sengaja."
"Kau sudah membuat kesalahan." Tatapan Ben semakin tajam. Genggamannya pada pergelangan Elea pun semakin erat. Sehingga Elea merasa kesakitan dan berusaha melepaskan diri.
"Tolong lepaskan aku, Tuan." Elea memohon dengan wajah memelas. Sebab raut wajah Ben terlihat menakutkan saat ini.
"Tidak semudah itu aku melepasmu, Eleanor. Kau berhutang banyak penjelasan padaku."
"Aku mohon lepaskan aku."
Melihat Elea kesakitan seperti itu ada rasa tak tega dalam diri Ben. Dan entah mengapa pula, menatap wajah Elea lama-kelamaan malah membangunkan hasrat yang telah tertidur dalam dirinya.
__ADS_1
Sepasang mata indah Elea, hidung lancipnya, bibir merah merekahnya, sungguh telah mengusik jiwa lekakinya. Memancing deburan ombak dalam gairahnya yang terpasung. Ben sungguh tak bisa menahan diri.
Dan bukannya melepaskan Elea, Ben malah menarik Elea kuat sampai wanita itu jatuh ke dalam pelukannya.
"Tu-Tuan." Elea terkejut dengan perlakuan Ben terhadapnya kali ini. Sungguh diluar ekspektasinya respon yang Ben berikan.
"Tolong maafkan aku. Aku tidak sengaja menamparmu, Tuan." ucap Elea mulai ketakutan. Sikap Ben sungguh sangat jauh berbeda dengan Ben yang dikenalnya di London dua tahun lalu. Ben yang ini sangat mudah terpancing emosinya.
Sembari membawa jemari kokohnya menyentuh wajah Elea, Ben berkata,
"Kau sungguh membuatku tak bisa menahan diriku, Eleanor. Katakan padaku, siapa kau sebenarnya? Mengapa kau selalu membuat jantungku berdebar?" ucapnya dengan suara parau dan napas yang mulai terasa berat. Hasrat dalam jiwanya pun mulai bergejolak.
Sedangkan Elea terpaku menatap sorot mata Ben. Meski dalam minim pencahayaan, Elea bisa melihat dari jarak dekat seperti ini, tatapan Ben telah terselimuti gairah.
"Aku? Aku bukan siapa-siapa. Aku ha_" Sayangnya Elea tak bisa menuntaskan kalimatnya lantaran sapuan bibir hangat Ben terlalu cepat mendarat di permukaan bibirnya. Menyesapnya dalam hingga tak ada ruang bagi Elea meraup oksigen.
Serangan mendadak Ben membuat Elea tak mampu menghindarinya. Elea terkejut, bahkan jantungnya pun ikut berdegup kencang. Elea seperti menemukan kembali Ben nya yang hilang melalui ciuman lembut seorang Benedict.
Walau pun lama tak merasakan sentuhan Ben lagi, namun Elea masih bisa mengingatnya. Reaksi tubuh Elea terhadap sentuhan Ben mengingatkan Elea akan Ben nya yang hilang. Sentuhan lembut itu sama persis.
Sementara Ben telah terlanjur terbawa arus suasana. Ben seolah lupa dimana mereka berada dan siapa yang tengah dicumbunya saat ini. Ciuman lembut Ben semakin lama semakin beringas. Ben rakus mencumbu Elea. Mendorong perlahan tubuh wanita itu sampai jatuh ke sofa.
"Tu-Tuan ..." Elea meracau saat Ben kalap, lupa akan dirinya. Elea bahkan harus menahan napasnya kuat begitu jari-jemari kekar Ben mulai menelusup dibalik rok mini yang ia kenakan. Elea berusaha mendorong tubuh Ben agar menjauh. Namun Ben justru semakin bertambah rakus saja.
Elea tak ingin terbawa suasana. Meski pun ia ingin menemukan Ben nya dengan cara apa pun, akan tetapi bukan dengan cara seperti ini. Bila memang Ben yang tengah mencumbunya saat ini adalah benar Ben suaminya, tentu saja dengan senang hati ia akan memberikan tubuhnya.
"Tu-Tuan tolong hentikan," pinta Elea disela napasnya yang serasa sesak menahan rasa yang tak biasa dari sentuhan Ben. Elea hanya tak ingin kehilangan kewarasannya saat ini ditengah badai yang menggempur.
Namun sayangnya, Ben tak menghiraukan Elea. Ben terus saja mencumbu, mengecupi setiap inci tubuh Elea. Membuat Elea menggelinjang tak tentu. Beberapa kancing kemeja bagian atas Elea telah terbuka, sehingga membuat Ben leluasa membenamkan wajahnya di area tersebut.
Elea tak ingin terlena. Sehingga dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh Ben menjauh. Membuat Ben hampir saja terjungkang ke belakang.
"Eleanor?" ucap Ben disela napasnya yang memburu.
__ADS_1
*