In Your Memories

In Your Memories
Chap 41. Jangan Pura-Pura Bodoh


__ADS_3

Chap 41. Jangan Pura-Pura Bodoh


Setelah tanpa sengaja mendengar ucapan Camila yang ingin menyingkirkan Elea, Ben jadi tak bisa tenang. Tidak perlu bertanya lagi, Ben sudah bisa menebak jika Camila mengenal Elea. Camila mungkin tahu bila Elea adalah wanita yang dicintainya. Untuk itulah Camila ingin menyingkirkan Elea.


Resah memikirkan hal itu, Ben pun mencoba menghubungi ponsel Elea. Namun berkali-kali tak ada jawaban dari Elea. Beberapa pesan yang Ben kirimkan pun tak ada balasannya. Bahkan yang lebih parah lagi, ketika Ben menghubunginya kembali, nomornya malah sibuk. Sehingga membuat Ben kesal.


Jam kerja Elea sebentar lagi akan berakhir. Ben pun bergegas keluar dari ruangannya. Dilihatnya Elea dan Jane sedang berjalan bersama. Ben pun memanggil Mark, meminta Mark untuk memberikan tugas tambahan kepada Jane.


Begitu Jane pergi, tinggallah Elea sendiri. Ben jadi memiliki kesempatan untuk mendekati Elea. Lalu mengajak Elea ke suatu tempat. Lebih tepatnya menculik Elea. Karena Ben mengajaknya secara paksa.


Tak peduli Elea memberontak, Ben tetap saja melajukan mobilnya meninggalkan pelataran parkir hotel.


Tanpa mereka sadari, di seberang, Catherine melihat kepergian mereka. Lalu Catherine pun mengikuti mereka diam-diam.


Hening masih membentang di dalam mobil pasca Elea memberontak. Namun tak mendapat tanggapan dari Ben. Elea mencerocos, terus-terusan melayangkan protes atas penculikannya. Tetapi Ben tetap saja tidak menghiraukannya. Sampai akhirnya Elea memilih diam. Melipat tangan di depan dada, berpaling muka memerhatikan setiap objek yang dilalui.


"Sudah periksa ponselmu?" tanya Ben memecah sunyi.


"Sudah." Elea menyahuti dengan santainya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dan beberapa pesan dari Ben yang memang sengaja ia abaikan. Setelah selesai dengan pekerjaannya, Elea hendak bergegas ke tempat praktiknya Julian. Ia masih mengambil pekerjaan paruh waktu di tempat itu. Karena ia harus mengganti uang Ben.


"Sudah? Hanya itu jawabanmu?"


"Memangnya kau ingin jawaban seperti apa, Tuan?"


"Setidaknya tanyakan kenapa aku menelepon mu."


"Kenapa?"


"Aku ingin bicara denganmu empat mata. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan. Termasuk mengenai kesepakatan yang belum tuntas diantara kita."


Sontak Elea menoleh terkejut. Raut wajahnya bahkan terlihat tegang dan takut. Sedangkan Ben justru menarik sudut bibir membentuk senyuman tipis.


Ben merasa mungkin sudah saatnya Elea tahu segalanya tentang dirinya. Tentang siapa ia sebenarnya. Terlalu lama menunda waktu itu tidak baik. Sebab banyak hal bisa saja terjadi, yang mungkin saja bisa merubah keadaan. Untuk itu Ben tidak ingin menunda waktu lagi.


"Kesepakatan yang belum tuntas? Ma-maksudmu?" Elea menelan salivanya kasar. Ia memahami maksud kalimat Ben. Tetapi ia berpura-pura bodoh dan pikun saja. Siapa tahu Ben tidak menganggap serius tentang apa yang pernah ditawarkannya pada pria itu.


"Jangan pura-pura bodoh, Eleanor. Kau tahu apa maksudku. Aku hanya tidak mau rugi. Untuk itu kita harus merevisi kesepakatan diantara kita."


"Tuan, tolong lupakan saja tentang itu. Soal uang mu pasti akan aku ganti. Untuk itu, tolong beri aku waktu sampai aku bisa mengumpulkan uangnya."


Ben tidak menanggapi. Ia memilih fokus ke jalanan.


"Tuan, kau mau membawaku ke mana?" panik Elea begitu melihat Ben mengambil jalur yang berlawanan arah dengan arah ke tempat praktiknya Julian.

__ADS_1


Namun Ben membisu. Fokusnya masih pada jalanan yang mulai tampak ramai itu.


"Tuan, tolong turunkan aku di sini saja."


Lagi-lagi Ben membisu. Ben terus saja menyetir tanpa menghiraukan lagi permintaan Elea.


Elea kesal karena Ben membawanya paksa. Padahal ia sudah harus pergi ke tempat Julian. Kekesalan Elea bertambah ketika dilihatnya Ben membelokkan mobilnya memasuki basement apartemen.


"Tuan, kau mau membawaku ke mana?" tanya Elea.


"Tanpa perlu aku katakan, kau sendiri sudah tahu kita berada di mana sekarang. Ayo turun."


"Tapi aku ..."


Disaat bersamaan ponsel Elea berdering. Pada layar ponsel itu tertera nama Julian. Elea hendak menjawab telepon dari Julian, namun tangan Ben cekatan menyambar ponsel itu dari tangannya. Lalu mereject panggilan tersebut. Sehingga membuat Elea kesal.


Untuk menghindari kemungkinan Julian menghubungi Elea untuk kedua kali, Ben terpaksa harus me-nonaktifkan ponsel Elea.


"Apa yang kau lakukan, Tuan? Kau tidak berhak melakukan ini padaku." Elea pun melayangkan protes saking kesalnya.


Dan Ben malah menanggapinya santai.


"Jelas aku berhak, karena aku ini suamimu."


"Julian itu seorang ahli hipnotis. Apa kau ingin terkena hipnotisnya, lalu kau akan dengan mudah tidur dengannya."


"Hipnotis? Wajah tampannya saja sudah cukup menghipnotis." Elea mengulum senyum berkata demikian. Membuat Ben kesal melihatnya.


Tidak memungkiri, dan tak perlu munafik, ada perasaan cemburu di hati Ben bila melihat Elea dekat dengan lelaki lain. Sekalipun itu Julian.


Dan saat ini, Elea tersenyum-senyum ketika menyebut Julian tampan. Membuat Ben semakin kesal saja.


"Ayo turun!" titah Ben setengah menghardik.


Elea tersentak, bibirnya langsung manyun diperlakukan Ben seperti itu.


"Kau membuatku ingin melahap mu hidup-hidup saja." Ben gemas namun menutupinya. Ben kemudian turun dari mobil itu, disusul Elea yang mengekor berjalan di belakangnya.


...


Sementara di seberang, Catherine kehilangan jejak mobil Ben begitu mobil tersebut memasuki area parkir khusus. Catherine mengamati gedung yang didatangi Ben, yang merupakan sebuah gedung apartemen mewah. Disaat bersamaan ponsel Catherine berdering.


"Kau di mana, Mom?" Terdengar tanya dari seberang sana. Suara Camila terdengar sedikit merengek manja.

__ADS_1


"Mommy sedang ada keperluan, sayang." Sembari melirik ke arah gedung apartemen. Mengamati, dan menunggu sampai Elea keluar dari sana.


"Aku membutuhkanmu, Mom," rengek Camila dari seberang.


Catherine pun mengembuskan napasnya pelan. Catherine sudah hapal betul gelagat putrinya tersebut. Rengekan Camila seperti itu merupakan pertanda bahwa putrinya tersebut sedang bersedih, galau, atau pun kecewa.


"Baiklah, Mommy segera pulang." Pada akhirnya Catherine hanya bisa pasrah menuruti keinginan putrinya. Padahal ia masih ingin menunggu sampai Elea keluar dari sana.


Kepergian Ben dan Elea ke apartemen tersebut mengundang tanya dalam benak Catherine. Bahkan mendadak perasaannya pun menjadi tak enak setelah melihat kedekatan mereka. Perkataan Harvey beberapa jam lalu terngiang kembali di telinganya.


Harvey merasa yakin jika Ben memiliki wanita idaman lain. Hal itu terbaca oleh Harvey melalui sikap Ben terhadap Camila. Yang terkesan cuek dan biasa-biasa saja. Bahkan seakan tak peduli dengan perasaan Camila.


Apakah Elea adalah wanita idaman lain Ben?


...


Membuka pintu unit apartemen, Ben melangkah masuk lebih dulu. Disusul oleh Elea mengekor di belakangnya.


"Kau duduklah dulu. Kita harus mengatur ulang kesepakatan kita. Aku tidak mau dirugikan olehmu. Aku ganti bajuku sebentar." Ben berucap sembari melangkah ke sofa. Membuka blazer, menaruhnya di sofa tersebut. Ben kemudian merogoh kantong, mengambil ponsel dari dalam sana.


Tanpa Ben ketahui, sebuah benda mungil terjatuh ketika ia mengeluarkan ponsel dari kantong celananya. Dan Elea sempat melihat itu.


Setelah menaruh ponsel di meja sofa, Ben kemudian berjalan ke arah lemari pakaian. Mengambil t-shirt putih dari dalam sana untuk mengganti t-shirt turtleneck berlengan panjang yang ia kenakan.


Sementara Elea mendekati sofa. Lalu memungut sebuah benda mungil dari lantai. Dahi Elea pun berkerut begitu melihat cincin tersebut sama persis dengan cincin yang ia kenakan.


Dan yang membuat Elea sangat terkejut adalah ukiran namanya di cekungan dalam cincin tersebut.


"Oh ya, kau sudah makan?" Ben bertanya ketika menghampiri Elea. Ben kini sudah berganti kaos oblong berlengan pendek, dengan kerah terbuka. Pakaian ternyaman yang ia kenakan ketika berada di dalam ruangan.


Elea pun memutar tubuhnya. Dan seketika Elea mematung, dengan mata tak berkedip menatap Ben. Detak jantung Elea hampir saja berhenti begitu dilihatnya bekas luka di bagian leher sebelah kanan Ben. Bekas luka yang sama dengan Ben yang dikenalnya.


Dengan tangan gemetarnya, Elea lantas menunjukkan cincin tersebut ke depan mata Ben. Tidak seperti dirinya yang terkejut bukan kepalang, Ben justru tidak memperlihatkan reaksi dan ekspresi berlebihan. Pria tersebut malah terlihat biasa-biasa saja.


"Kau bisa menjelaskan ini padaku?" ucap Elea dengan bibir bergetar.


*


Thankyou so much buat teman² yang masih setia ngikutin kisah Ben dan Elea. Mohon maaf buat up nya yg tidak menentu. Dikarenakan kesibukan othor di real life. Tapi akan aothor usahakan untuk up setiap hari sampai cerita ini ending.


Tetap jaga kesehatan ya😊


Salam hangat Author Kawe ❤️

__ADS_1


__ADS_2