
Chap 48. Dia Istriku
"Eleanor, aku adalah ibumu!'
Kalimat Catherine yang terlontar spontan itu bersamaan dengan suara guntur menggelegar. Kilat pun menyambar-nyambar. Dalam sepersekian detik rintik hujan mulai berjatuhan membasahi bumi. Baik Elea maupun Catherine bergeming di tempatnya, tak terusik oleh derasnya hujan.
Elea terpaku. Rasanya seperti tersambar petir begitu mendengar perkataan Catherine. Elea pun terdiam, kehilangan seribu bahasa. Efek shock yang menerjang tiba-tiba.
Sementara Catherine, bergetar bibirnya ketika menyemburkan kalimat tersebut. Terdorong oleh perasaan haru juga sedih yang menyeruak, lalu tak tertahankan lagi, sehingga reflek kalimat itu punĀ terlontar begitu saja dari mulutnya.
"Elea, maafkan ibumu ini. Ibu tidak bermaksud menelantarkanmu. Ibu hanya terdesak oleh keadaan. Keadaanlah yang mengharuskan Ibu menitipkanmu di panti asuhan." Catherine berkata diiringi derai air mata yang tersamarkan oleh derasnya hujan.
Sudah cukup Catherine merahasiakan ini. Catherine sudah pernah berjanji, jika kelak ia dipertemukan dengan putrinya, ia akan langsung mengatakan yang sebenarnya tanpa menunda-nunda waktu lagi. Sebab nanti keadaan mungkin akan berbeda.
Dan sekarang lihatlah. Catherine terlambat dipertemukan dengan putrinya, sehingga bentangan waktu menghadirkan kebencian di hati putrinya. Catherine teramat sedih mengetahui kenyataan ini. Putri yang dikasihinya malah menanam benci untuknya.
"Ibumu ini tidak punya pilihan lain saat itu selain meninggalkanmu di panti asuhan. Tapi Ibu pernah berjanji, bahwa Ibu akan datang menjemputmu jika kehidupan Ibu sudah layak. Ibu hanya takut kau menderita jika hidup bersama Ibu." Catherine menyeka air matanya. Meski air mata itu telah berbaur bersama rintikan air hujan.
"Eleanor," panggil Catherine. Berharap Elea sudi melihatnya setelah tahu siapa dirinya yang sebenarnya.
Namun yang Catherine harapkan justru tidak terjadi. Elea malah berjalan lesu dibawah derasnya hujan. Elea tak menghiraukan Catherine yang terus memanggilnya.
"Eleanor!"
"Elea putriku!"
"Elea, maafkan Ibu."
"Elea!"
Elea menulikan pendengaran. Sedikitpun ia tak menghiraukan Catherine. Semua ini terlalu mengejutkan bagi Elea. Sehingga Elea kehilangan kata-kata. Ia hanya terdiam, berjalan seperti tanpa arah. Lesu dan lemah sekali terlihat dari setiap langkahnya.
Seharusnya ini adalah momen yang mengharukan. Tetapi tidak bagi Elea. Momen ini justru menjadi momen yang mengerikan bagi Elea. Bahkan air matanya pun seakan mengering. Dan kebencianlah yang semakin mendominasi, memenuhi ruang di dadanya.
Terlalu shock, itulah yang dirasakan Elea. Sehingga logikanya sulit menerima. Ia berharap semua ini adalah mimpi. Mimpi buruk yang mengahantui sepanjang hidupnya.
Jangankan menoleh, bahkan mendengar suara Catherine saja sudah sangat mengerikan bagi Elea. Sebelumnya hatinya senang bila melihat Catherine. Ada kedamaian dalam jiwanya bila berada dekat dengan Catherine. Namun kini, semua laksana mimpi yang mengerikan.
"Elea. Tolong beri Ibu kesempatan untuk menjelaskan semua padamu." Catherine berusaha mengejar Elea. Walau tubuhnya kedinginan, ia tak peduli.
"Elea, tolong dengarkan Ibu. Ibu akan menceritakan semuanya padamu." Catherine masih berusaha membujuk Elea.
Namun Elea tak peduli. Ia terus saja berjalan dengan wajah dinginnya. Tanpa ekspresi layaknya mayat hidup. Bibirnya mulai memucat dan bergetar. Lalu tiba-tiba saja ...
__ADS_1
BUGH
Elea pun jatuh pingsan.
"Elea!" pekik Catherine, menghampiri segera Elea yang jatuh terkulai di atas tanah.
...
Sementara di ruangannya, Ben memperhatikan layar monitor. Sedari tadi ia mengawasi Elea dari layar tersebut. Sejak ia memasuki ruangannya setelah selesai rapat. Dilihatnya Elea sedang berbincang dengan seorang wanita di area taman hotel.
Ben sontak bangun berdiri begitu dilihatnya Elea jatuh pingsan. Padahal Ben Ben sudah memperingatkan Elea agar segera masuk. Sebab tak lama lagi kemungkinan akan turun hujan. Tetapi Elea tidak mengindahkan. Membuat Ben tak bisa menarik matanya dari pengawasan di layar monitor tersebut.
Berlari cepat, Ben menyusuri koridor. Di sela langkahnya, Ben sempat menghubungi Mark. Meminta Mark untuk memanggilkan dokter ke hotel. Lalu meminta karyawan yang berpapasan dengannya untuk membawakan pakaian ganti untuk Elea.
Dalam kepanikan, Ben berlari membelah rintik hujan. Di taman itu Catherine memangku kepala Elea sambil berteriak meminta pertolongan.
"Tolong. Tolong Ben. Tolong bawa Elea." Catherine meminta begitu dilihatnya Ben datang.
"Apa yang kau lakukan padanya?" Ben bertanya lantang sembari meraih Elea dari pangkuan Catherine. Ben belum menyadari bila wanita yang sedang bersama Elea adalah Catherine.
"Aku tidak melakukan apa-apa padanya. Kami hanya berbincang sebentar," sahut Catherine dalam ketakutan.
"Kalau sampai terjadi apa-apa pada istriku, kau harus bertanggung jawab." Ben berkata tanpa melihat wajah Catherine.
"I-istrimu?"
"Ya. Dia istriku." Bergegas Ben mengangkat tubuh Elea. Lalu membawanya ke dalam gedung hotel.
Security yang melihat Ben menggendong seorang perempuan, langsung menawarkan bantuan. Namun Ben menolak. Kedatangan Ben yang basah kuyup sambil menggendong Elea itu pun seketika menyedot perhatian orang-orang yang berada di sekitar.
"Mark!" Ben berteriak kencang memanggil si asisten.
Si asisten pun datang menghampiri setengah berlari.
"Sudah kau hubungi dokter?" Ben bertanya sembari melangkah cepat hendak membawa Elea ke lantai 20, ke kamar 301.
"Sudah, Tuan."
"Cepat kau bukakan pintu kamar 301."
"Baik, Tuan." Mark mempercepat langkahnya mendahului atasannya.
Sampai di kamar 301, Mark langsung membuka pintu kamar tersebut dengan keycard khusus yang dipegangnya. Keycard tersebut bisa mengakses hampir seluruh kamar hotel ini. Dan Ben langsung membawa masuk Elea, membaringkannya di tempat tidur itu.
__ADS_1
...
"Bagaimana keadaannya?" tanya Ben ketika dokter telah selesai memeriksa keadaan Elea. Dipandanginya cemas wanitanya yang terbaring lemah dan tak berdaya itu. Wajahnya pucat dan kuyu.
Elea sudah berganti pakaian. Pakaiannya yang basah sudah dibawa Jane, untuk ia cuci di laundry hotel.
"Dia tidak apa-apa. Dia mungkin shock, sehingga membuat dia mendadak kehilangan kesadaran. Aku akan berikan resep obat. Berikan begitu dia sadar nanti. Dia harus beristirahat yang cukup. Jangan biarkan dia kelelahan." Dokter menerangkan sembari menuliskan resep obat. Lalu menyodorkan secarik kertas tersebut ke tangan Ben.
"Mark, cepat kau tebus obatnya," ucap Ben memberikan kertas tersebut kepada Mark. Yang langsung dipatuhi oleh Mark.
"Mark." Belum juga Mark melangkahkan kakinya, Ben malah memanggilnya.
"Ya, Tuan."
"Cepat kau cari tahu siapa wanita yang berbicara dengan Elea di tamam tadi." Ben menitahkan.
"Baik, Tuan."
Namun begitu Mark membuka pintu, sosok seorang Catherine dalam keadaan basah kuyup sudah berdiri di depan pintu kamar tersebut. Yang membuat Mark terkejut sekaligus heran.
"Nyonya Catherine?"
Mendengar sapaan Mark, sontak Ben menoleh. Dilihatnya wanita yang berbicara dengan Elea beberapa saat lalu itu tengah berdiri di depan pintu dalam keadaan basah kuyup. Ben pun bangun berdiri, lalu datang menghampiri.
"Nyonya Catherine, kau?" Ben keheranan melihat Catherine.
"Ben, apakah yang aku dengar di taman itu adalah benar? Bahwa Elea adalah ..."
"Ya, benar. Dia adalah istriku."
Padahal Catherine sudah mendengar itu sebelumnya. Tapi Catherine masih saja terkejut dibuatnya. Ia hanya tak menyangka saja dengan keadaan yang menimpanya kali ini. Sungguh dipenuhi oleh kejutan. Kejutan menyenangkan sekaligus kejutan yang tidak menyenangkan itu datang berbarengan.
"Maaf, Nyonya Catherine. Apa yang kau lakukan di tempat ini?"
"Aku datang untuk menemui putriku."
"Camila? Dia sudah pergi beberapa jam lalu."
Catherine menggeleng. "Bukan. Aku datang untuk menemui Elea. Elea adalah putriku. Putri kandungku."
Ben pun terdiam. Sama halnya dengan Mark yang mendengar jelas semuanya.
*
__ADS_1