
Chap 33. Rindu
"Aku masih mencintaimu, Eleanor."
"Aku bahkan masih sangat mencintaimu. Tapi sayangnya, kau malah menyakiti hatiku," sambung Ben lirih. Masih merangkum wajah Elea dalam dekap jemarinya.
Elea tertawa kecil. Matanya kian sayu, perlahan-lahan mulai merapat.
"Kau itu seperti bintang di langit. Tinggi dan tak tergapai. Betapa bodohnya aku sempat berharap kau adalah suamiku. Tapi nyatanya kau hanya seseorang yang mirip suamiku," ucapnya semakin meracau.
"Apa kau merindukan suamimu?"
Elea mengangguk pelan. "Hm. Aku sangat merindukannya. Tapi sayangnya, dia menyakiti hatiku. Dia pergi meninggalkanku. Apa kau tahu bagaimana perasaanku selama ini, Tuan?"
Membawa jemarinya, Ben menyelipkan sebagian rambut Elea yang diterpa hembusan angin menutupi wajahnya.
Jangan ditanya seperti apa perasaan Ben saat ini. Hatinya sungguh rindu. Merindukan wanita itu dengan segenap jiwanya, sampai dadanya serasa sesak bila mengingatnya. Kerinduannya teramat menyiksa kalbu. Ingin sekali Ben mencurahkan rasa rindunya saat ini. Namun keadaan Elea memaksanya harus menahan rindu itu.
"Aku terluka, hatiku hancur. Dua tahun aku menunggunya datang menjemputku di London, dua tahun aku merindukannya. Tapi dia malah melupakanku begitu saja. Dia tidak pernah kembali lagi untukku. Aku benci dia. Aku sangat membencinya," racau Elea dengan mimik sedih. Membuat Ben terpukul melihatnya. Lalu menelusupkan rasa bersalah di hatinya.
"Jika Tuhan mengijinkan ku bertemu dengannya, aku ingin dia memberiku kepastian. Atau jika tidak, aku ingin dia menceraikan ku." Elea menyambung dengan sorot mata semakin sayu, kelopak mata yang hampir menutup.
"Maafkan aku, Elea. Maafkan aku pergi meninggalkanmu. Kau boleh membenciku sepuas hatimu. Tapi aku tidak akan pernah menceraikan mu. Mulai sekarang aku berjanji padamu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Kau akan selalu berada di sisiku, selamanya." Sayangnya Elea telah memejamkan matanya, tak kuat menopang tubuhnya, Elea jatuh dalam dekapan Ben. Bersandar kepala di dada bidang Ben.
Ben segera mengangkat tubuh Elea, membawanya masuk lalu membaringkannya di tempat tidur. Menyelimutinya kemudian mengecup keningnya.
Beranjak dari tempat tidur itu, Ben berjalan menuju lemari pakaian. Ben mengganti bathrobe yang ia kenakan dengan pakaian santai.
Menyambar ponsel dari meja sofa, Ben lantas mendudukkan dirinya di sofa itu sambil memandangi Elea yang terbaring di tempat tidurnya. Seulas senyum pun terukir di bibirnya. Kehadiran Elea membuat harinya berbeda, mengusir sepi yang selama ini mendampinginya.
"Halo, Mark. Aku ingin meminta bantuanmu." Ben menghubungi asistennya begitu membuka ponsel.
Tak berapa lama, hanya berselang hampir tiga puluh menit lamanya Ben menunggu, Mark datang membawakan paper bag yang berisikan amplop cokelat yang terlihat tebal dengan isi di dalamnya.
"Ini yang kau minta, Tuan. Jumlahnya sesuai seperti yang kau sebutkan," kata Mark ketika menyodorkan paper bag.
"Terimakasih, Mark. Kau boleh pergi sekarang."
__ADS_1
"Aku permisi, Tuan." Namun langkah Mark terhenti sejenak, lalu pria bertubuh jangkung itu menoleh.
"Oh ya, Tuan. Untuk persiapan kedatangan keluarga Pak Menteri sudah kami persiapkan dengan baik. Nyonya Roberta memintaku untuk memastikan kau datang menghadiri pertemuan itu. Ballroom sudah dipersiapkan, pengamanan, menu makanan, bahkan awak media tidak akan diijinkan meliput kedatangan Pak Menteri di hotel kita," tutur Mark kemudian.
"Baiklah. Aku mengerti. Kau pergilah."
"Baik, Tuan. Permisi." Mark beranjak pergi. Namun tak bisa membendung rasa penasarannya. Sebab sudah lama tuan nya itu tidak pernah lagi mendatangi apartemennya ini. Sudah hampir setahun ini, semenjak tuan nya menjalin hubungan dengan Camila. Lebih tepatnya, hubungan yang dipaksakan.
Menaruh paper bag tersebut di meja sofa, Ben kemudian berjalan menghampiri tempat tidur. Mendudukkan diri di tepian tempat tidur itu, memandangi wajah Elea dalam-dalam.
Wajah cantik itu terlelap dalam tidurnya. Wajah yang telah lama dirindukannya. Namun menghilang dalam kenangannya. Ben hanya bisa menyesali pergi dengan membawa serta amarahnya. Alhasil, ia hampir saja melupakan wanitanya dan kehilangan kenangan manisnya bersama wanita yang dicintainya.
Terdorong oleh kerinduannya, Ben pun naik ke tempat tidur itu. Mengambil tempat di samping Elea, di bawah selimut yang sama, Ben menatap wajah terlelap itu intens tanpa berkedip.
Tangannya tergerak menyentuh wajah itu, mengelusnya lembut penuh kasih. Sembari tersenyum tipis.
Hingga malam kian merangkak, Ben senantiasa menatap wajah itu dalam heningnya suasana. Seolah tiada bosan ia menikmati dalam diam dan buaian rindu.
...
Sementara di sisi lain kota Paris, di waktu yang sama. Pada sebuah mansion megah dengan pengamanan super ketat, mansion seorang yang terpandang di negeri ini.
Cangkir kopi tersebut diletakkan si wanita pada meja sofa. Lalu mengambil duduk di samping Harvey. Buku yang sedang dibaca Harvey di ambilnya lalu menaruh buku itu di atas pangkuannya.
"Sudah larut malam tapi kau masih saja membaca buku? Apa matamu tidak terasa perih, suamiku?" Sembari mengulum senyum, dengan kalimat mendayu, Chaterine membawa jemarinya mengelus lembut rahang tegas sang suami yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Yang memberi kesan tegas dan berwibawa dalam diri sang suami.
Harvey tersenyum, menurunkan jemari Catherine dari wajahnya untuk dikecupnya penuh kasih.
"Terimakasih kau selalu memberiku perhatian yang lebih, Catherine Wisse, istriku tersayang." Pujian serupa sudah menjadi irama merdu yang seringkali menghiasi pendengaran Catherine. Di khalayak ramai, Harvey dikenal seorang menteri yang tegas, bijaksana dan berwibawa.
Namun meski begitu, Harvey adalah seorang suami dan ayah yang penyayang, penuh cinta kasih. Dan satu hal yang hanya diketahui oleh Catherine seorang, Harvey adalah tipe pria pencemburu. Karena kecemburuannya itulah, Catherine harus melepas seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. Catherine adalah seorang janda yang dinikahi Harvey.
"Daddy ... Mommy ..." Terdengar suara lembut memanggil. Menuruni anak tangga cepat, Camila menghampiri ayah dan ibunya. Di belakangnya menyusul seorang pelayang yang menenteng sebuah gaun di tangannya.
"Ada apa, sayang?" tanya Catherine beranjak dari duduknya, menaruh buku itu ke pangkuan sang suami lalu menghampiri sang putri yang tengah memasang wajah sebal.
"Lihatlah gaunku ini." Tangan Camila cepat menyambar gaun itu dari tangan pelayan. Lalu menunjukkannya pada sang ibu.
__ADS_1
"Ada apa dengan gaunnya? Gaun ini bagus. Memangnya apa yang salah dengan gaun ini?"
"Aku tidak suka dengan warnanya."
"Bukankah merah adalah warna kesuakaanmu?"
"Tapi Ben tidak menyukai warna ini. Ben lebih menyukai warna-warna yang lembut. Warna ini terkesan binal bagi Ben. Tidak Mom, aku tidak mau mengenakan gaun ini ke pertemuan kita besok. Aku tidak mau terkesan murahan di mata Ben."
"Ya sudah kalau begitu kenakan saja apa yang menurutmu terlihat bagus di mata Ben nanti."
"Daddy." Dengan manja dan mode merajuknya, Camila mendudukkan diri di sebelah Harvey, menggamit manja lengan sang ayah.
"Ada apa lagi?"
"Bantu aku mendapatkan Ben ku," pintanya tanpa berbasa-basi.
"Bukankah tidak lama lagi kalian akan menjadi sepasang suami istri? Lalu apa lagi yang kau inginkan?" Dengan santainya Harvey menanggapi sembari membuka kembali buku yang tadi dibacanya.
"Aku mau pernikahannya dipercepat, Dad. Kalau perlu besok. Bagaimana kalau aku hamil lalu Ben tiba-tiba berubah pikiran. Aku tidak mau hal itu sampai terjadi, Dad."
"Salahmu sendiri terlalu cepat menyerahkan tubuhmu itu kepadanya. Kau terlalu dibutakan oleh cintamu."
"Daddy!" sentak Camila kesal dengan sikap santai sang ayah menanggapinya. Ayahnya terkesan seolah tidak menyukai Ben.
Harvey menutup buku, melemparnya ke meja. Lalu menghunus tatapan tajam kepada Camila.
"Kau itu memang putri kesayangan Daddy. Tapi kau sudah mengecewakan Daddy. Sebagai putri seorang menteri, seharusnya kau bisa menjaga dirimu dengan baik. Satu kesalahan yang kau lakukan, dan itu membuat Daddy malu. Daddy terpaksa harus merendahkan harga diri Daddy di depan keluarga Cartier," sembur Harvey atas kekesalannya terhadap sang putri. Karena ulah sang putri ia harus berkali-kali bernegosiasi dengan keluarga Cartier perihal pernikahan putrinya dan Ben. Sementara Ben sendiri tidak pernah memperlihatkan antusiasnya akan hubungannya dengan Camila.
Berdasarkan sikap acuh tak acuh Ben itulah, dirinya mengambil kesimpulan bahwa Ben ada kemungkinan tidak menyukai putrinya. Sebab selama ini yang terlihat lebih antusias adalah Nyonya Roberta.
"Sebaiknya kau kaji kembali hubunganmu dengan Ben. Apakah kalian benar-benar saling mencintai. Ataukah cintamu itu hanya bertepuk sebelah tangan," tambah Harvey kemudian bangun dari duduknya dan beranjak pergi.
"Mom ..." rajuk Camila memeluk ibunya.
"Tenanglah sayang. Mommy yakin, apa yang kau inginkan bisa kau dapatkan. Mommy akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu. Hm?" hibur Catherine mengusap lembut pundak Camila.
Namun detik berikutnya, raut wajah Catherine berubah sendu. Dalam hatinya Catherine berbisik,
__ADS_1
"Mommy juga akan selalu berdoa untukmu, semoga kau pun selalu berbahagia. Sekarang kau pasti sudah dewasa dan secantik Camila. Mommy sangat merindukanmu, Eleanor."
*