In Your Memories

In Your Memories
Chap 55. Panggil Aku Suamiku


__ADS_3

Chap 55. Panggil Aku Suamiku


Ingin segera memberitahu Harvey tentang kondisi Camila, Catherine pun menghubungi Harvey. Namun berkali-kali panggilan Catherine malah tak kunjung mendapatkan jawaban. Sehingga Catherine menghubungi supir pribadi Harvey.


Bertanya tentang di mana Harvey berada, sang supir pun tidak menutup-nutupi. Berdasarkan informasi yang diperolehnya dari supir, Catherine pun bergegas ke sebuah restoran di mana Harvey dan Tuan Albert bertemu.


Begitu sampai, telinganya malah menangkap rencana percepatan pernikahan Ben dan Camila. Ia pun tak terima, langsung melayangkan protes.


"Tunggu dulu!" Catherine berseru lantang. Yang membuat Harvey dan Tuan Albert serentak menoleh ke arahnya.


"Pernikahannya kita batalkan." Ia lantas menyemburkan kalimat yang membuat Harvey terkejut, otomatis bangun dari duduknya, menghunuskan tatapan penuh tanya kepadanya.


Sementara Tuan Albert justru mengukir senyuman tipis. Merasa lega karena akhirnya dari pihak keluarga Rodrigues sendirilah yang membatalkan lebih dulu. Jadi untuk apa lagi ia mengutarakan niatnya.


"Apa maksudmu, Istriku?" sembur Harvey begitu Catherine menghampiri.


Catherine meniupkan napasnya lega karena tiba tepat waktu. Sebelum para ayah memutuskan sepihak tanpa melibatkan para ibu.


"Ben tidak bisa menikahi Camila." Ini hanyalah kalimat awal, sebelum akhirnya menyusul kalimat-kalimat yang akan membuat Harvey terkejut. Catherine tidak ingin menunda waktu lagi. Seperti apa pun tanggapan Harvey nanti, mungkin inilah saat yang tepat untuk ia mengungkap yang sesungguhnya.


"Kenapa? Apa karena Ben tidak mencintai Camila? Sudah kuduga," kata Harvey sinis. Membenarkan sendiri praduganya.


"Ya. Kau benar. Dan bukan hanya itu. Mana mungkin seorang ibu mengijinkan putrinya menikahi pria yang sudah beristri."


"Ap-apa? Beristri katamu?" Harvey terkejut.


Catherine mengangguk. Lalu melirik sejenak Tuan Albert yang kini bangun dari duduknya, hendak membenarkan perkataan Catherine.


"Apa maksudnya ini, Tuan Albert? Ben sudah menikah? Benarkah itu?" Harvey melayangkan tatapan menuntut kepada Tuan Albert.


Tuan Albert pun mengangguk sebagai pembenaran. "Itu benar. Ben sudah menikah dua tahun lalu di London."


"Tapi kenapa baru sekarang kalian mengatakan ini?"


"Ben kehilangan ingatannya, karena ulah ibunya. Maafkan aku Tuan Harvey. Aku tidak bermaksud menipu. Untuk itulah aku memintamu bertemu di tempat ini. Aku ingin memberitahukan soal ini padamu. Sekali lagi maaf Tuan Harvey."


Harvey termenung sesaat. Tetapi kemudian terkekeh. Sejak awal, dengan melihat gelagat Ben, ia sudah meyakini jika Ben tidak memiliki ketertarikan kepada Camila. Selama ini Camila lah yang mengejar-ngejar Ben. Bahkan dengan tidak tahu malunya Camila menyerahkan tubuhnya kepada lelaki yang tidak mencintainya. Lalu akhirnya malah membuatnya hamil di luar nikah.


"Tunggu dulu. Jika benar Ben sudah menikah, lalu bagaimana dengan putriku? Putriku sekarang hamil. Dan Ben harus bertanggung jawab. Aku tidak mau kalau sampai kehamilan putriku di luar nikah ini akan mencoreng nama baikku sebagai menteri."


Tuan Albert tampak gelisah mendengar tuntutan Harvey. Camila hamil, tentu saja itu bukan perkara enteng. Lantas ia harus bagaimana?


"Ben harus bertanggung jawab. Dia sudah menghamili putriku. Aku tidak mau tahu!" Harvey bersikeras, tak peduli walau sudah tahu keadaan Ben.


"Suamiku, putri kita tidak hamil," ucap Catherine berterus terang. Kejutan selanjutnya pun sedang menanti.


"Apa maksudmu? Apa kau pikir Camila sedang mempermainkan kita? Putri kita hamil di luar nikah. Kau kira ini bisa dijadikan lelucon? Bagaimana kalau sampai awak media tahu tentang kehamilan putriku? Aku tidak mau image ku hancur. Image yang susah payah aku bangun selama ini. Tidak. Ben harus bertanggung jawab."


"Ben tidak harus bertanggung jawab. Karena putri kita tidak hamil. Putri kita ... Putri kita ... Sedang sekarat. Hiks ..." Catherine pun tak bisa menahan tangisnya. Membuat Harvey berkerut dahi kebingungan.

__ADS_1


"Sekarat? Sekarat bagaimana? Bukannya putri kita baik-baik saja? Dia sehat kan?"


Catherine menggeleng sembari menyeka air matanya. "Dia sedang sakit. Dia mengidap kanker darah. Leukemia stadium tiga."


Seperti petir yang menyambar di siang bolong. Serasa sengatan listrik beribu-ribu voltase menyengat Harvey begitu mendengar penuturan sang istri. Harvey hanya bisa terpaku, diam seribu bahasa. Aliran darah yang memompa jantungnya pun seolah terhenti detik itu juga.


Sesaat Harvey seperti berada di awang-awang, melayang tak berpijak di bumi. Kenyataan seperti merampas kewarasannya. Tulang persendiannya bahkan serasa lemas. Lalu akhirnya ia terduduk di kursi. Pikirannya menerawang, apa yang didengarnya terasa seperti mimpi.


"Gejala yang dirasakan Camila itu bukan karena hamil. Camila sengaja merahasiakan ini dari kita karena dia tidak ingin kita membatalkan pernikahannya dengan Ben. Camila terlalu mencintai Ben, hingga dia sanggup melakukan apapun," tutur Catherine.


"Ada satu hal lagi yang ingin aku beritahukan padamu, Suamiku." Catherine menghela napas sejenak.


"Aku turut prihatin atas keadaan Camila," ucap Tuan Albert, yang juga terkejut mendengarnya.


"Terimakasih, Tuan Albert," balas Catherine lesu.


"Apa lagi yang kau ketahui tentang Camila?" tanya Harvey lirih, lesu kehilangan semangatnya.


"Camila sempat ikut andil memisahkan Ben dari istrinya dua tahun lalu," sahut Catherine.


Harvey menundukkan wajahnya malu. Ia tak menyangka putrinya berbuat sampai sejauh itu.


"Dan ... Satu hal lagi yang sangat ingin aku beritahukan padamu tentang istrinya Ben."


"Aku tidak peduli dengan istrinya Ben. Yang aku pedulikan saat ini hanyalah putriku."


"Tolong dengarkan dulu, Suamiku. Istrinya Ben, namanya adalah Eleanor."


"Maafkan aku, Tuan Albert. Aku sungguh minta maaf. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Ini semua terlalu mengejutkan bagiku. Kalau begitu aku pamit."


Pikiran Harvey berkecamuk. Kepalanya terasa berat memikirkan tentang Camila. Ia lantas beranjak, membawa langkahnya lesu.


"Eleanor Wisse, putriku. Istrinya Ben adalah putriku, Eleanor."


Namun langkah itu harus terhenti oleh pengakuan Catherine.


...


Di lain tempat. Di sebuah apartemen.


Menaruh paper bag di meja sofa, Ben kemudian berjalan menghampiri tempat tidur. Di mana Elea masih terlelap di bawah selimut tebal.


Mendudukkan diri di tepian tempat tidur itu, Ben kemudian membungkuk melabuhkan satu kecupan di kening Elea.


"Hei, Baby. Wake up," bisik Ben lembut disusul satu kecupan lagi di pipi Elea.


"Hem ..." Elea menggeliat, membuka kelopak mata perlahan-lahan.


"Maaf membangunkan tidur nyenyakmu."

__ADS_1


Menatap nanar wajah tampan Ben, Elea mengulum senyumnya melihat sang suami sudah tampil rapi, tampan paripurna.


"Ben, kau sudah rapi? Kenapa belum berangkat kerja?" tanyanya bangun dari tidurnya.


"Aku tidak bisa pergi bekerja sebelum memastikan istriku ini sudah terisi perutnya."


"Ya ampun Ben. Aku ini bukan anak kecil. Masalah perut aku bisa mengatasinya sendiri. Kau tidak perlu cemas."


"Tapi tetap saja, aku tidak akan bisa tenang jika tak melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Setidaknya aku ingin memastikan istriku ini makan dengan benar."


CUP


Satu kecupan mendarat cepat di pipi Ben. Sebagai ungkapan terimakasih serta bahagia Elea memiliki suami seperti Ben.


Ben tersenyum menerima perlakuan manis Elea. Ia lantas menoleh, memberikan pipi sebelahnya meminta kecupan.


Elea tertawa geli melihat tingkah menggemaskan Ben. Lalu segera melabuhkan satu kecupan lagi di pipi itu. Namun secepat kilat Ben kembali menoleh, sehingga kecupan Elea malah jatuh di bibirnya.


Membuat wajah Elea bersemu merah malu-malu. Lalu menjauhkan wajahnya segera. Dipukulnya gemas dada Ben.


"Ish, kau curang, Ben," cicitnya malu namun hati senang. Baru saja Ben membuatnya berbunga-bunga, kini menyusul jantungnya yang dibuat berdebar.


"Apa yang kau lakukan, Ben?" Tanpa aba-aba Ben mengangkat tubuhnya ala bridal. Membawanya ke sofa, mendudukkannya dengan hati-hati.


"Aku ingin mengajak istriku sarapan. Aku membeli makanan favoritmu. Aku ingin menikmatinya berdua bersamamu." Sembari Ben mengeluarkan makanan itu dari paper bag satu per satu, menatanya di meja.


"Terimakasih, Ben."


"Suamiku."


"Ap-apa?"


"Mulai saat ini, panggil aku suamiku."


Semakin bersemu merah saja wajah Elea mendengar permintaan Ben. Permintaan sederhana namun mampu membuatnya berbunga-bunga.


Elea hendak berkata saat tiba-tiba terdengar suara bel pintu. Elea hendak beranjak untuk membukakan pintu itu. Namun Ben mencegahnya. Dan Ben sendirilah yang membukakan pintu itu.


Saat pintu terbuka, seorang wanita cantik berdiri di depan pintu itu dengan wajah dinginnya.


Camila.


Membuat Ben terkejut. Entah dari mana Camila tahu ia tinggal di apartemen ini untuk sementara waktu.


"Kau?" ucap Ben keheranan.


"Maaf mengganggumu. Kedatanganku kemari hanya ingin memberitahumu satu hal penting."


"Apa itu?"

__ADS_1


"Aku hamil, Ben."


*


__ADS_2