
Chap 52. Batalkan Sekarang
Awalnya Elea mengira jika Ben akan mengajaknya makan malam di sebuah resto berbintang. Sebab Ben mendandaninya maksimal, dengan mendatangkan seorang MUA profesional yang sudah memiliki jam terbang tinggi. Serta membeli gaun mewah dari butik ternama yang memiliki koleksi-koleksi terbaiknya. Dan gaun yang dipakai Elea malam ini termasuk koleksi terbatas dari brand yang dimiliki oleh butik tersebut.
Elea sumringah, memperlihatkan wajah bahagianya ketika Ben membukakan pintu mobil untuknya. Ben pun terlihat tampan dengan setelan jas hitam, dilengkapi dasi kupu-kupu dengan warna senada.
Elea mengikuti saja ke mana Ben hendak membawanya malam ini. Ia tidak melayangkan tanya sama sekali, karena tak ingin terkesan menolak. Sepanjang perjalanan senyumnya terkembang manis, hatinya berbunga-bunga diperlakukan istimewa.
Namun senyum itu pun memudar begitu mobil yang dikendarai Ben memasuki pekarangan luas sebuah mansion megah.
Tak perlu membuka pintu, seorang pelayan dengan seragam lengkap datang membukakan pintu mobil untuk mereka berdua.
"Ben, kita berada di mana?" Elea bertanya dengan hati berdebar-debar.
Ben melipat lengan, lalu meraih tangan Elea. Menuntun tangan itu menggamit lengannya.
"Nyonya Benedict, selamat datang di rumahmu," ucap Ben mengulas senyumnya. Membuat Elea terperangah, hampir saja aliran napasnya terhenti.
"Kau, kenapa tidak memberitahuku sebelumnya?" protes Elea.
"Kalau aku beritahu sejak awal, kau mungkin tidak akan mau aku ajak ke sini."
"Ya, tapi setidaknya kau harus memberitahuku dulu. Masalahnya aku belum siap Ben."
"Siap tidak siap, ini sudah merupakan waktu yang tepat. Terlalu lama menunda waktu itu tidak baik. Aku sudah berjanji padamu, apapun yang akan terjadi nanti, aku akan tetap bersamamu. Mereka tidak memberi restu pun aku tidak peduli lagi, Elea. Kau sudah menjadi istriku, dan tidak akan ada yang bisa merubah itu. Termasuk orangtuaku. Sekarang, apa kau sudah siap?"
Elea menghela napasnya panjang untuk mengurai gugup yang mulai mendera. Jika boleh ia jujur, sebetulnya ia belum siap. Bahkan ia takut, entah bagaimana caranya menghadapi orangtua Ben. Yang taraf kehidupan sosialnya jauh berada di atasnya.
Demi menyenangkan Ben, Elea pun hanya bisa pasrah. Menyerahkan segala hal kepada Ben. Lagipula, Ben sudah berjanji kepadanya. Jadi mengapa ia harus takut?
Memasuki mansion tersebut jantung Elea berdetak kencang, hati berdebar-debar. Di pintu utama kedatangannya bersama Ben disambut oleh pelayan dengan ramah dan penuh hormat.
Tiba di ruang utama, matanya langsung menangkap sosok Nyonya Roberta. Wanita yang dahulu pernah mencelanya.
"Perkenalkan, ini adalah Eleanor, istriku." Ben berkata tanpa basa-basi lagi. Terlalu mendadak, hingga Elea hanya bisa menundukkan wajahnya takut. Takut dengan reaksi kedua orangtua Ben mendengar ini.
"Apa-apaan ini? Apa kau sedang bercanda Ben?" Nyonya Roberta jelas protes. Ia tak bisa terima putranya menikahi wanita lain selain Camila.
Disaat bersamaan, ponselnya berdenting. Cepat ia membuka pesan yang masuk dari Camila.
__ADS_1
Camila
[Perempuan itu adalah Eleanor. Kau tidak becus mencari informasi Nyonya Roberta. Atau kau memang tidak serius ingin aku menikah dengan Ben. Jika kau tidak ingin Ben mengingat kembali semuanya, maka percepat pernikahannya]
Isi pesan Camila tersebut membuat Nyonya Roberta tercengang. Lalu dipandanginya Elea yang mengangkat wajahnya takut. Bola matanya pun bergulir kepada Ben yang malah mengurai senyum di situasi tegang seperti ini.
Apakah ingatan Ben sudah kembali?
"Kau bisa jelaskan ini dengan baik, Ben?" Tuan Albert meminta, berupaya menjaga kestabilan emosionalnya yang sewaktu-waktu bisa meningkat, lalu akhirnya meledak. Dikarenakan pengakuan Ben yang terlalu mengejutkan baginya.
Sementara Julian, hanya bisa menahan kekecewaannya. Hatinya layu sudah. Rupanya wanita yang ditaksirnya adalah istri sepupunya sendiri.
Tapi, tunggu dulu!
Apakah Eleanor ini adalah wanita yang dinikahi Ben dua tahun lalu? Bukankah memori Ben tentang wanita ini sudah terhapus?
Julian berkerut dahi memandangi Eleanor dan Ben.
"Ben, apakah Eleanor ini adalah ..."
"Ya. Eleanor yang sengaja kau hapus kenangannya dari ingatanku." Belum sempat Julian menyelesaikan kalimatnya, Ben menyelanya cepat.
"Apa maksudmu, Ben?" tanya Tuan Albert.
"Daddy tanyakan saja sendiri pada Mommy. Karena Mommy yang paling tahu keadaanku selama dua tahun belakangan."
Tuan Albert menoleh, memberikan tatapan penuh tanya kepada Nyonya Roberta. Yang terlihat salah tingkah, mengusap tengkuk berkali-kali.
"Kau bisa jelaskan maksudnya apa?" tanya Tuan Albert.
"Em ... Em ..." Nyonya Roberta tampak berpikir. Memilih kata yang tepat demi menyelamatkan diri. Agar tidak terlalu dipersalahkan akan tindakan sepihak yang diambilnya dua tahun lalu.
"Mommy tidak perlu menjelaskan apapun, Dad. Biar aku jelaskan semuanya." Ben mengambil alih.
Di waktu bersamaan, Mark datang dengan sebuah map ditangannya. Map yang berisi berkas penting itu diserahkannya ke tangan Ben.
"Semua yang ingin Daddy ketahui, ada dalam berkas ini." Ben menyerahkan map tersebut kepada Tuan Albert.
"Aku permisi, Tuan Ben." Mark pun pamit pergi setelah urusannya selesai. Kedatangannya ke mansion Cartier hanya untuk mengantarkan berkas penyelidikan yang diminta oleh Ben.
__ADS_1
Setelah Mark mencaritahu tentang hutang yang melibatkan Elea, beberapa waktu lalu. Yang akhirnya diketahui hutang itu adalah hutang Jane. Ben pun lantas meminta Mark untuk memberikan tugas yang sama kepada detektif ilegal tersebut untuk menyelidiki tentang ibunya dan Camila.
"Daddy pernah mendengar aku menikahi seseorang di London dua tahun lalu bukan?" Ben bertanya, mengalihkan tatapan kepada sang ayah.
"Apakah foto yang dibuang oleh Mommy mu itu adalah foto perempuan ini?" Tuan Albert mengarahkan telunjuknya kepada Elea, yang terlihat sungkan. Terlalu malu berada ditengah-tengah keluarga Ben.
"Ya." Ben mengangguk.
Tuan Albert pun lantas membuka map tersebut. Mengeluarkan isinya, melihat setiap lembar berkas tersebut dengan berkerut dahi. Lalu akhirnya mulai memahami.
Dua tahun lalu, kepergian Nyonya Roberta ke London bukan untuk sekedar berpelesiran. Tetapi untuk menjemput Ben. Lebih tepatnya untuk memisahkan Ben dari Elea.
Padahal kala itu Ben pernah memberi kabar, jika Ben akan pulang ke Paris dan hendak memperkenalkan seseorang. Namun Tuan Albert tidak menyangka jika Ben akan kembali secepat itu, dan dalam keadaan marah.
Rupa-rupanya, Nyonya Roberta bekerja sama dengan Camila untuk membuat Elea terlihat berselingkuh di belakang Ben. Bahkan mereka berusaha meyakinkan Ben bahwa Elea hanya berniat memanfaatkan Ben. Mereka mengatakan bahwa Elea tahu siapa sebenarnya Ben. Elea menolong Ben karena Elea sudah melihat iklan tentang hilangnya Ben, seorang pewaris tunggal bisnis perhotelan ternama. Yang hotelnya memiliki cabang di mana-mana. Bahkan merupakan hotel terbaik hampir di setiap negara.
Dan bodohnya saat itu Ben langsung mempercayainya begitu saja. Dan memutuskan kembali ke Paris diam-diam, tanpa sepengetahuan Elea.
Sampai di Paris, Nyonya Roberta malah meminta Julian sebagai ahli hipnoterapi untuk memberikan layanan terapi kepada Ben. Dengan dalih untuk mengatasi traumatik Ben terhadap kecelakaan pesawat. Tetapi nyatanya, Julian malah dipaksa untuk menghapus memori Ben tentang Elea.
Dan yang lebih parahnya lagi, Nyonya Roberta pernah melakukan pertemuan rahasia dengan Harvey Rodrigues. Dimana dalam obrolan rahasia mereka itu, Nyonya Roberta sempat menawarkan akan memberikan separuh saham Benedict Star Hotel kepada Harvey jika Camila menikahi Ben nanti. Dengan harapan, begitu masa jabatan Harvey selesai, posisi itu akan digantikan oleh Tuan Albert.
"Astaga!" Tuan Albert terkejut sembari menggeleng tak percaya. Lalu menghunus tatapan tajam kepada Nyonya Roberta.
Nyonya Roberta hanya bisa menelan salivanya kasar. Ia berusaha menghindari sorot mata tajam Albert yang serasa menembus jantungnya itu.
"Aku pikir Camila dan Ben benar-benar saling mencintai. Berulang kali Ben mengatakannya padaku bahwa dia tidak menyukai Camila. Tapi aku tidak mempercayainya. Kenapa? Karena Ben pernah menidurinya. Jadi aku pikir mereka saling mencintai." Tuan Albert menghela napas sejenak, sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Apa kau pikir aku se-serakah itu dengan kehormatan sampai-sampai kau menggadaikan anakmu sendiri? Apa harta kekayaan yang kita miliki itu belum cukup bagimu, Roberta?"
Nyonya Roberta kehilangan kata-kata untuk menanggapi ucapan suaminya. Ia terlihat kebingungan, tak bisa memberikan pembelaan.
"Sekarang juga, hubungi keluarga Rodrigues. Atur pertemuan dengan mereka, untuk membicarakan pembatalan pernikahan Ben dan Camila," sambung Tuan Albert berang.
"Tapi suamiku ..."
"Batalkan sekarang juga. Aku tidak ingin putraku kau jadikan korban akan obsesimu."
*
__ADS_1