
Chap 47. Aku Ibumu
Elea menyerah, tak bisa membantah, apalagi melawan. Setelah mengajaknya berpacu berdua, menuntut kerjasama yang baik di atas ranjang, Ben malah kembali mencumbunya di depan pintu kamar. Beruntung Ben memiliki akses terhadap semua CCTV di hotel ini. Sehingga pertemuan rahasia mereka bisa dihapus langsung oleh Ben.
Sebelum berpisah di ujung koridor, Ben memberitahu Elea bahwa Ben akan membawa Elea ke suatu tempat malam nanti. Untuk itu Ben meminta Elea untuk mempersiapkan dirinya.
Mark datang menjemput Ben. Ada rapat penting yang harus dihadiri Ben saat ini. Si asisten tersebut mengerutkan dahi ketika melihat kedekatan Ben dan Elea. Mark belum tahu menahu siapa Elea sebenarnya. Untuk itu wajar bila si pria jangkung tersebut tampak canggung melihat kedekatan atasannya dengan bawahannya.
Elea hendak kembali ke pekerjaannya saat tiba-tiba terdengar sebuah suara lembut memanggil namanya.
"Eleanor."
Sontak Elea pun memutar tubuhnya ke arah sumber suara berasal. Sebuah senyuman manis terkembang begitu saja di wajah Elea begitu dilihatnya Catherine berdiri tak jauh darinya. Wanita paruh baya tersebut tersenyum kepadanya.
"Nyonya Catherine?" Elea menyapa sumringah sembari membawa langkahnya menghampiri.
"Anda di sini? Ya ampun. Aku hampir tidak mengenalimu Nyonya. Anda terlihat sangat berbeda," sambungnya memindai Catherine dari ujung sepatu kets sampai ujung rambut Catherine yang dikuncir rapi. Sungguh sebuah penampilan yang jauh berbeda dari seorang Catherine. Yang selalu tampil modis dan elegan, bahkan sangat anggun jika wanita itu tengah mendampingi sang suami. Namun kali ini Catherine terlihat seperti warga sipil biasa.
"Oh ya, Anda ke sini bersama siapa, Nyonya?" tanya Elea kemudian sambil celingukan melihat-lihat mungkin saja Catherine dikawal oleh pengawal pribadinya.
"Aku datang sendiri. Elea ... Bisakah kita bicara sebentar?"
"Nyonya ingin bicara denganku?" Elea tampak kurang yakin jika istri seorang perdana menteri itu ingin berbicara dengannya. Ia hanya merasa kurang pantas saja. Sebab dirinya bukan siapa-siapa.
"Apa kau sibuk?"
"Em ... Sebenarnya aku tidak terlalu sibuk. Tapi Nyonya ingin membicarakan apa denganku? Maaf jika aku lancang bertanya."
"Sesuatu yang penting. Bisakah kita bicara di luar?"
"Em ... Em ..." Elea terlihat ragu. Ia hanya takut jika Ben sedang mengawasinya. Tetapi kemudian ia pun menyanggupi. Karena tak enak hati menolak permintaan istri perdana menteri.
Di area taman hotel itu kini mereka berada. Duduk bersebelahan di sebuah bangku.
__ADS_1
"Maaf Elea aku datang tiba-tiba seperti ini. Waktuku tidak banyak. Untuk itu aku datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Maaf jika aku mengganggumu." Catherine memulai perbincangan. Untuk mengurai kecanggungan yang mulai tercipta setelah ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri kedekatan Elea dan Ben, calon menantunya.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Lagipula, aku sudah selesai dengan pekerjaanku." Jika ditanya sungguh Elea merasa sangat tidak nyaman berada dekat dengan Catherine. Apalagi Catherine adalah ibunya Camila, wanita yang akan disandingkan dengan Ben.
Elea hanya merasa ia sudah menjadi wanita jahat yang sudah berada diantara Camila dan Ben. Tetapi mau bagaimana lagi. Sebelum Camila, Ben telah lebih dulu menikahinya di London dua tahun lalu. Hanya saja restu dari orang tua Ben belum dikantonginya hingga detik ini.
Sebetulnya Elea merasa khawatir juga takut jika hubungannya dengan Ben tidak akan berhasil. Namun Ben sudah berulang kali meyakinkannya, jika pria itu akan berjuang untuk hubungan mereka. Jadi di sini, ia tidak bersalah. Justru Camila lah yang berada diantara hubungannya dengan Ben.
"Elea, aku dengar sejak kecil kau tinggal di panti asuhan?" tanya Catherine dengan berpura-pura ingin tahu tentang Elea. Padahal, puluhan tahun yang lalu ia sendiri yang telah menitipkan Elea di salah satu panti asuhan di London.
Elea tersenyum kecut. "Ya. Apa putri Nyonya yang memberitahu ini kepada Nyonya?"
Catherine terhenyak. "Camila? Dia sudah pernah bertemu denganmu?"
Elea mengangguk. "Ya. Kami sempat mengobrol. Tidak lama."
"Benarkah?" Dalam hatinya Catherine merasa terharu. Camila dan Elea sudah bertemu, tetapi tidak saling mengenali. Karena keduanya memang tidak tahu apa-apa. Jika mereka berdua memiliki hubungan darah.
"Nona Camila itu sangat beruntung."
"Karena dia memiliki seorang ibu seperti Nyonya. Cantik, baik, dan ramah pada semua orang. Nyonya pasti sangat menyayangi putri Nyonya."
Catherine mengangguk. Namun hatinya pilu mendengar perkataan Elea. Yang membuatnya tertampar halus.
"Aku iri dengan Camila." Untuk kesekian kalinya Elea mengulum senyum getirnya. Ada yang aneh dengan dirinya. Entah mengapa, berada di dekat Catherine ia bisa menjadi diri sendiri. Meski sungkan dan canggung, namun ia merasa dekat dengan Catherine. Seperti ada sebuah ikatan yang tak terlihat diantara mereka. Berada di dekat Catherine, entah mengapa malah membuatnya ingin mencurahkan isi hatinya.
Sementara Catherine tengah menahan getir di dadanya. Mendengar ungkapan hati Elea, serta melihat wajah sedih Elea membuat Catherine merasa sangat terpukul. Dadanya terasa sesak, menahan tangis yang mulai menyeruak. Ia pun hanya bisa menggigit bibirnya kuat.
"Kenapa kau iri dengannya?" tanya Catherine parau.
"Dia punya orangtua yang sangat menyayanginya. Sedangkan aku?" Elea mengambil napas sejenak. Ada amarah yang mulai merasuk, memenuhi rongga dadanya. Namun ia berusaha meredamnya sendiri.
"Aku mungkin tidak diinginkan lahir ke dunia ini. Oleh sebab itu orangtuaku menitipkanku di panti asuhan," sambungnya dengan nada suara mulai melemah.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu yakin jika orangtuamu tidak menginginkanmu? Mungkin saja orangtuamu memiliki alasan mengapa mereka melakukan itu. Apakah kau tidak merindukan orangtuamu? Ibumu misalnya?" Catherine bertanya dengan sangat hati-hati. Ia ingin sekali mengetahui seperti apa perasaan Elea terhadapnya.
"Aku tidak memiliki kenangan bersama mereka. Jadi untuk apa aku merindukan mereka? Satu-satunya kenangan yang aku punya di masa kecilku hanyalah kenangan menyedihkan semasa aku di panti asuhan. Hidup tanpa kasih sayang orangtua."
Dada Catherine semakin sesak mendengarnya. Matanya terasa panas dan mulai memerah. Pandangannya kabur, tertutupi oleh genangan air mata di pelupuk.
"Elea, apa kau menyayangi orangtuamu? Terutama ibumu?"
Elea tersenyum kecut. "Mungkin aku adalah anak yang paling berdosa di dunia ini. Karena aku sangat membenci orangtuaku. Terutama IBUKU!" ucapnya menggebu, memberi penekanan pada kata terakhir.
Sehingga membuat Catherine shock seketika. Air mata yang menggenang di pelupuk matanya pun akhirnya jatuh tertumpah ruah. Isak tangisnya bahkan tak tertahankan lagi. Namun cepat Catherine membekap mulutnya, agar isak tangisnya tak sampai ke telinga Elea yang duduk di sampingnya.
"Kenapa kau membenci ibumu? Tidakkah kau merindukannya?" tanya Catherine, menyeka air matanya buru-buru. Tak ingin Elea melihatnya.
"Seorang ibu seharusnya melindungi anaknya. Tapi ibuku malah menelantarkanku."
"Tapi ibumu punya alasan untuk itu. Ibumu tidak menelantarkanmu. Bagaimana jika dia terpaksa melakukan itu karena terdesak oleh keadaan?"
"Apapun alasannya tidak seharusnya dia melakukan itu. Tidakkah dia tahu bagaimana perasaanku? Aku sangat iri melihat orang lain memiliki ibu yang sangat pada mereka. Punya tempat untuk berbagi cerita suka maupun duka. Aku juga ingin punya ibu yang bisa aku jadikan tempatku berbagi. Disaat aku sedih, disaat aku jatuh cinta. Tapi sayangnya, aku tidak punya. Dan aku benci itu."
Rasa-rasanya, dadanya akan meledak detik ini juga. Dada itu terasa semakin sesak. Sehingga Catherine harus memegangi dadanya, menahan sebisa mungkin isak tangisnya tak pecah.
Ditengah obrolan itu tiba-tiba ponsel Elea berdenting. Sebuah pesan dari Ben masuk.
Ben
[Kau sedang berbicara dengan siapa di luar? Sebentar lagi hujan, cepat kau masuk. Aku tidak mau jika istriku sampai sakit]
Begitu isi pesan Ben. Sehingga mau tak mau, Elea harus menurutinya. Elea sangat senang memiliki suami yang begitu perhatian seperti Ben.
"Maaf, Nyonya. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Sebaiknya kita masuk saja ke dalam. Mari, Nyonya." Elea bangun berdiri, beranjak pergi lebih dahulu. Namun langkahnya terhenti ketika Catherine mengatakan sesuatu yang membuatnya terpaku seketika.
"Eleanor, aku adalah ibumu!"
__ADS_1
*