
Chap 59. Gengsi
Memasuki mansion dengan saling bergandengan tangan, Ben mengulum senyum bahagia. Sedangkan Elea, mati-matian melawan gugup yang mendera.
Di belakang mereka menyusul seorang pelayan yang tengah menggeret koper milik Elea. Koper tersebut di bawanya ke lantai dua, ke kamar Ben langsung.
Di ruang utama mereka telah disambut oleh ayah mertua juga sepupu Ben, Julian. Pria tampan berkacamata itu menyunggingkan senyumnya begitu Ben dan Elea masuk ke ruang utama. Julian sudah berdamai dengan hatinya, dan sudah bisa menerima hubungan Ben dan Elea. Yang ternyata takkan mungkin bisa ia berada di antara hubungan itu. Karena sejak awal hubungan itu sudah sangat kuat ikatannya.
"Selamat datang di kediamanmu yang baru, Menantu." Tuan Albert menyapa. Mengulum senyum ramah, membuka lengan mengundang Elea ke dalam dekapannya.
Elea langsung paham. Dilepasnya rangkulan pada lengan Ben, bergegas menghampiri sang mertua sembari menyunggingkan senyum manisnya. Menyambut dekapan hangat sang mertua sambil berkata,
"Terimakasih, Tuan."
Sontak Tuan Albert mengurai dekapan. Lalu mengangkat tangannya, menggoyangkan jari telunjuknya di depan wajah Elea.
"No, no, no! Bukan Tuan, tapi Daddy. Mulai saat ini kau panggil aku Daddy. Karena mulai saat ini kau adalah putriku." Tuan Albert berkata dengan bijaknya. Mengundang perasaan haru memenuhi rongga dada Elea. Hingga kedua matanya mulai memerah, membendung genangan air di pelupuk.
Elea terharu, sebab baru kali ini seseorang seperti Albert Cartier memperlakukannya istimewa. Dalam seketika ia merasa kekosongan dalam hatinya mulai terisi. Kasih sayang seorang ayah itu mengalir tulus dari Tuan Albert, ayah mertuanya.
"Terimakasih, Daddy."
"Ya. Tepat sekali. Sama-sama putriku." Sekali lagi Albert mengulum senyum ramahnya. Membuat Elea merasa nyaman, seperti berada di dekat ayahnya sendiri.
"Ben, Elea. Sekali lagi selamat ya?" ucap Julian melempar senyum manisnya.
Elea bergegas menghampiri Julian. Mengulurkan tangan, yang langsung disambut ramah oleh Julian.
"Perkenalkan Elea, aku sepupunya Ben," kata Julian.
"Ya, aku sudah tahu. Terimakasih sudah berbesar hati menerimaku menjadi bagian dari keluarga ini."
"Tidak ada kata berbesar hati, Elea. Kau itu wanita yang baik. Kau pantas berada di tengah-tengah keluarga ini."
"Ehem, ehem!" Ben berdehem sembari menghampiri, lalu melingkarkan sebelah lengannya di pundak Elea. Seolah mengingatkan kepada Julian bahwa Elea adalah miliknya.
"Ben, selamat ya?" Hanya kalimat itu yang bisa diucapkan Julian kepada Ben. Sebagai bentuk suka citanya akan kebahagiaan Ben.
"Terimakasih, Julian." Singkat Ben membalas ucapan Julian.
__ADS_1
Mungkin hanya Nyonya Roberta yang tidak ikut menyambut kedatangan Ben dan Elea. Wanita paruh baya itu sibuk di kamarnya, memperbaiki dandanannya. Ia baru keluar kamar ketikan pelayan memanggilnya. Memberitahukan kepadanya jika Ben serta menantu sudah datang dan sudah berada di meja makan.
"Ehem!" Ia berdehem begitu memasuki ruang makan. Lalu mengambil duduk di tempat biasa, di sisi kiri Tuan Albert.
Tidak ada sepatah kata pun yang diucapkan Nyonya Roberta, setidaknya untuk menyambut kedatangan Elea. Bahkan ekspresi wajahnya terlihat datar.
Hal itu membuat Elea jelas merasa tak enak hati, sungkan, juga grogi. Elea bahkan tak berani melihat ke arahnya. Elea hanya bisa tertunduk, fokus dengan santap malamnya.
Ben berulang kali berbisik di telinga Elea agar tidak perlu menghiraukan sang ibu. Tuan Albert pun sempat berkata kepada Elea agar tidak usah mempedulikan apa pun. Termasuk reaksi serta ekspresi istrinya.
Nyonya Roberta sebetulnya berhati lembut juga baik. Seperti para ibu pada umumnya. Hanya saja Nyonya Roberta sempat terkontaminasi oleh pergaulannya, sehingga membuatnya terobsesi serta berambisi.
Berbagai obrolan seru dan menarik terjadi di meja makan tersebut. Hanya Nyonya Roberta yang sekali pun tidak menanggapi setiap topik obrolan. Wanita itu mematok fokusnya pada makanannya saja. Menyantapnya santai tak menghiraukan sekitar. Ia terkesan acuh tak acuh.
Sampai tiba-tiba, Elea tersedak oleh makanannya. Lalu tanpa diduga secepat kilat tangan Nyonya Roberta menyambar segelas air minum lalu menyodorkannya kepada Elea.
Semua tertegun melihat gerak refleks Nyonya Roberta tersebut. Yang terdorong oleh rasa pedulinya namun ia dustakan.
"Hanya refleks saja. Kenapa kalian malah melihatku seperti itu? Memangnya ada yang aneh dengan sikapku?" semburnya ketika dilihatnya semua mata tertuju kepadanya. Memberinya tatapan keheranan, aneh, sekaligus bertanya-tanya.
"Ayo, ambil minumnya. Kau tidak mau menghargaiku?" Berganti Elea yang disemburnya. Sebab Elea tak segera meraih gelas itu dari tangannya.
Sedangkan Tuan Albert dan Ben, melipat bibir menahan senyumnya. Gerak refleks Nyonya Roberta itu merupakan sikap pedulinya. Wanita itu masih memiliki empati, namun ia gengsi menampakkannya.
Sebetulnya Nyonya Roberta sudah mulai membuka hatinya, sudah bisa menerima Elea sebagai menantunya. Akan tetapi, ia mungkin gengsi jika mendadak merubah sikap. Yang sebetulnya sangat menolak Elea. Bahkan ia telah terlanjur turun tangan memisahkan Ben dari Elea.
Lalu sekarang tiba-tiba ia berubah pikiran, ia gengsi. Sebab ia dikenal keras, angkuh dan ambisius. Mendadak melembut itu bukan dirinya.
"Tersedak makanan itu bahaya. Jika terjadi sesuatu di rumah ini bagaimana? Apa kalian mau dijadikan saksi? Lalu tiba-tiba kalian malah jadi tersangka. Tentu saja aku tidak ingin hal itu terjadi. Rumahku harus damai, aman dan sentosa." Ia beralasan demi menjaga imagenya.
Tuan Albert, Ben, Julian, dan Elea cukup menyunggingkan senyum untuk menanggapinya.
...
"Kenapa terlalu gengsi menunjukkan perhatian? Elea itu kan menantu kita?" celetuk Tuan Albert ketika mereka bersiap-siap hendak beristirahat.
Menyibak selimut malas, Nyonya Roberta lalu naik ke atas tempat tidur. Bersandar punggung di kepala ranjang.
"Itu hanya gerak refleksku saja. Aku sudah terbiasa seperti itu jika ada yang tersedak." Lagi-lagi Nyonya Roberta beralasan.
__ADS_1
"Ya, ya." Tuan Albert mengangguk sambil menahan senyum.
"Refleks perhatian dan peduli," sambungnya lantas menutup macbook di tangan. Lalu menaruhnya di nakas di sisi tempat tidur.
"Ayo tidur, sudah larut malam. Besok kita ajak menantu kita hotel. Memperkenalkannya pada semua karyawan kita sebagai istrinya Ben."
"Ya. Terserah kau saja. Lagipula di rumah ini, kau yang paling berhak memutuskan." Nyonya Roberta menjatuhkan dirinya di pembaringan, memunggungi Tuan Albert, lalu menarik selimut sampai batas dada. Walau kantuk belum menyerang, ia memaksakan kelopak matanya memejam hanya karena gengsi terlihat peduli dan perhatian kepada menantu yang semula tidak diinginkannya itu.
...
Sementara di lantai dua mansion itu, di dalam kamar utama.
"Kau lihat tadi sikap Mommy terhadapmu?" Ben bertanya memunggungi Elea sembari membuka t-shirt nya. Pria itu berdiri di depan lemari bertelanjangg dada sambil mencari-cari pakaian ganti.
Sementara Elea, berselonjoran kaki, bersandar punggung di atas tempat tidur sembari memandangi punggung Ben.
Memandangi punggung lebar Ben menghadirkan getaran halus dalam aliran darahnya. Ada hasrat yang mulai bergejolak kala melihat punggung lebar Ben yang kekar. Elea bahkan sampai menelan salivanya kelat.
"Ada apa dengan sikap, ibumu?" tanyanya berdegup kencang jantungnya.
Ben memutar tubuh, belum sempat memakai pakaiannya. "Sepertinya Mommy sudah mulai menerimamu." Sembari mengulum senyum.
Namun malah membuat Elea salah tingkah.
"Be-benarkah?" Membuang mukanya ke samping, Elea menghindari menatap dada kekar Ben terlalu lama. Yang membuat jiwanya meronta, mendamba sentuhan. Tetapi tiba-tiba saja, embusan napas hangat Ben terasa membelai kulit wajahnya.
"Kenapa tidak bilang kalau kau sedang ingin?" Ben berbisik sensual di telinga Elea. Membuat bulu roma Elea meremang. Ada rasa menggelitik, yang membuat dada Elea kembang kempis, deru nalas pun memburu.
"Ap-apa maksudmu?"
"Jangan terlalu gengsi meminta. Dengan senang hati aku bersedia melayani kapanpun kau menginginkannya." Ben mengulum senyum merayu begitu Elea menoleh malu-malu.
"Aku tahu kau sedang ingin, Elea. Tidak perlu malu mengakuinya. Aku ini suamimu."
"Kau salah paham, Ben. Aku__" Belum lagi kalimat Elea rampung, Ben telah lebih dulu membenamkan bibirnya. Membuat Elea terkesiap, malu-malu membalas ciuman mendadak Ben.
Namun akhirnya, Elea pun terbawa arus gelombang asmara yang diciptakan Ben. Membuatnya terjebak dalam pusaran syahdu, lalu tenggelam dalam lautan nikmat bersama Ben.
*
__ADS_1