
Chap 53. Hutang Penjelasan
Setelah mengganti pakaiannya, Catherine kemudian pergi menuju dapur mansionnya. Ia hendak memeriksa menu makanan yang dimintanya pada kepala pelayan untuk disiapkan begitu ia pulang dari BSH.
Catherine meminta kepala pelayan menyiapkan menu makanan favorite Harvey dan Camila. Catherine bermaksud hendak menyampaikan hal penting kepada suami dan putrinya tersebut.
Catherine kemudian mengawasi para pelayan menyiapkan meja makan. Memberi komando agar menata meja makan itu sesuai keinginannya.
Beberapa menit berselang, setelah meja makan selesai disiapkan, Harvey pun datang sambil memeriksa ponsel pintarnya. Dimana terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari Nyonya Roberta.
Begitu mengambil duduk, seperti biasa, Catherine mengisi piring kosong Harvey dengan Ratatouille kesukaannya. Walau ada banyak pelayan yang bisa melakukan hal itu, namun Catherine memilih melayani suaminya sendiri sebagai baktinya kepada suami.
"Ada apa, suamiku? Kenapa kau terlihat cemas?" tanya Catherine begitu mendaratkan pantat pada tempat duduk.
"Nyonya Roberta meneleponku berkali-kali. Aku tidak sempat menjawabnya karena aku sedang mandi."
"Ya sudah. Kalau begitu kau saja yang menghubunginya."
"Nanti saja setelah makan. Kebetulan aku sudah sangat lapar. Waaah ... Sudah lama aku tidak makan makanan ini. Dari aromanya, kelihatannya ini enak." Senyuman Harvey terkembang begitu melihat Ratatouille berada di piringnya.
"Kau yang menyiapkan ini?" tanyanya kemudian menatap Catherine dengan berbinar-binar.
Catherine mengulum senyumnya. "Bukan. Aku hanya mengawasi, koki kita yang membuatnya."
"Baiklah. Mari kita coba. Apakah Ratatouille ini seenak buatan istriku." Segera Harvey menyantap makanannya. Raut wajahnya terlihat tengah menilai rasa dari makanan tersebut.
Sedangkan Catherine tengah berpikir kalimat apa sekiranya yang pantas ia utarakan kepada Harvey untuk menyampaikan keinginannya.
Catherine hanya takut jika Harvey tidak akan setuju dengan keinginannya nanti. Yaitu membawa Elea masuk ke dalam keluarganya.
"Rasanya lumayan. Walaupun tidak seenak buatan istriku." Harvey mengulum senyum, lalu melanjutkan kembali makannya.
"Oh ya, di mana Camila?" tanyanya kemudian sembari menyendok makanan ke mulutnya.
"Aku di sini, Dad." Camila datang tiba-tiba. Langsung mengambil duduk pada sisi sebelah meja, berhadapan dengan Catherine.
"Oh ya, Camila. Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Ben?" tanya Harvey menaruh sendoknya. Memfokuskan perhatian kepada sang putri.
"Suamiku, kau mau menambah lagi?" tawar Catherine untuk mengalihkan Harvey dari mempertanyakan hubungan Camila dan Ben. Sebab selain hendak mengutarakan keinginannya untuk membawa segera Elea ke dalam keluarganya, Catherine pun hendak membicarakan masalah pembatalan pernikahan Camila dan Ben.
"Tidak, terimakasih. Aku sudah kenyang," tolak Harvey halus.
"Kami baru saja bertemu untuk berkencan." Camila terpaksa berbohong hanya agar dirinya tidak terlihat menyedihkan. Dikarenakan cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
Senyum Harvey terkembang. Namun tidak dengan Catherine. Wanita itu justru memasang wajah sedihnya melihat Camila berbohong kepada orangtuanya. Padahal, Catherine sudah tahu apa yang terjadi.
Camila datang menemui Ben di hotelnya bukan untuk berkencan. Kedatangan Camila ke BSH atas permintaan Ben sendiri. Karena Ben hendak mempertanyakan perihal foto Elea dengan lelaki lain, yang Ben yakini diambil menggunakan kamera ponsel Camila dua tahun lalu.
Dari A sampai Z, Catherine sudah mengetahui segalanya dari cerita yang disampaikan oleh Ben kepadanya.
__ADS_1
"Benarkah?"
Camila mengangguk. Lalu hendak menyantap makanannya begitu pelayan selesai mengisi piring kosongnya.
Namun tiba-tiba saja kepalanya pusing. Lalu ia merasa mual, sontak menutup mulut dengan satu tangannya. Wajahnya pun mendadak pucat, lengkap dengan bulir-bulir keringat dingin mengembun di dahinya.
Membuat Harvey dan Catherine berkerut dahi memandanginya.
"Camila, kau kenapa sayang?" tanya Catherine cemas.
Bukannya menjawab pertanyaan Catherine, Camila malah bangun berdiri lalu menyeret langkah seribunya menuju dapur.
Di wastafel dapur, Camila memuntahkan isi perutnya. Keringat dinginnya semakin mengucur deras. Efek ketakutan yang menderanya.
Pelayan yang kebetulan berada di dapur itu pun membantu dengan mengusap-usap lembut punggung Camila. Lalu bergegas mengambilkan air mineral untuknya.
"Apa kau sedang sakit Camila?" Tak tenang Catherine pun menyusul Camila. Lalu mendapati sang putri muntah-muntah di wastafel dapur.
Camila menggeleng. Catherine pun menghampirinya. Menaruh tangannya di pundak Camila, Catherine memperhatikan wajah Camila. Yang terlihat pucat dan semakin kurus. Catherine pun terhenyak, baru menyadari perubahan pada putrinya itu.
"Kau sedang sakit Camila. Kenapa kau tidak memberitahu Mommy tentang keadaanmu. Apa kau sudah memeriksakan dirimu ke dokter?"
Camila mengangguk. "Sudah, Mom."
"Lalu apa kata dokter?"
Camila menghela napasnya panjang, mengembuskannya perlahan. Ditatapnya lekat sepasang mata ibunya, agar terlihat meyakinkan dengan apa yang hendak disampaikannya.
Catherine terdiam, terpaku menatap wajah Camila. Ia nyaris tak bisa mempercayai ucapan Camila. Namun dari sorot matanya, tidak terlihat jika Camila hanya sedang bermain-main dengan ucapannya.
Dan diambang pintu dapur itu, Harvey berdiri. Sangat jelas sekali sampai ke telinganya kalimat yang terlontar dari mulut Camila. Dan Harvey pun berniat segera menghubungi keluarga Cartier untuk mengabarkan kehamilan Camila.
...
Sementara di mansion Cartier.
Setelah mengambil keputusan membatalkan pernikahan Ben dan Camila, Tuan Albert kembali ke kamarnya. Disusul oleh Nyonya Roberta beserta bujuk rayunya agar pembatalan pernikahan tidak sampai terjadi.
"Suamiku, dengarkan aku dulu." Nyonya Roberta meminta, menyusul langkah panjang Tuan Albert.
"Kau sudah keterlaluan, Roberta. Bisa-bisanya kau bertindak semaumu tanpa mendiskusikannya dulu denganku. Kau anggap apa aku ini? Apa kau pikir aku segila itu ingin menjadi menteri? Dengan tidak menjadi menteri pun harta kita sudah cukup berlimpah."
"Tapi, suamiku. Coba kau pikirkan ini baik-baik. Ini hanya sebagai langkah awal saja. Setelah menjadi menteri siapa tahu kedudukan yang lebih tinggi akan kau dapatkan."
Tuan Albert tertawa sumbang mendengarnya. Menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghunus tatapan tajam menikam kepada sang istri.
"Kau jangan coba-coba bertindak bodoh Roberta jika tidak ingin aku memintamu angkat kaki dari rumah ini." Tuan Albert menghela napas sejenak, berupaya meredam emosinya yang meledak-ledak sembari memijit pelipis yang mulai berdenyut nyeri.
"Angkat kaki dari rumah ini? Kau ingin mengusirku suamiku? Apa kau sudah gila?"
__ADS_1
"Kau yang sudah gila. Kau berani menukar separuh saham hotel kita dengan sebuah kedudukan yang tidak pernah aku inginkan? Apa kau gila, Roberta? Jerih payahku, usaha yang aku bangun dari nol dengan keringatku sendiri mau kau gadaikan demi sebuah jabatan? Kau bahkan membuat putramu kehilangan ingatannya. Kau gila Roberta."
"Tapi ..."
"Aku ini pebisnis. Bukan politisi. Paham!" Menyela cepat dan lantang.
Nyonya Roberta pun terdiam. Tak bisa berkata-kata lagi. Bahkan ia tak bisa lagi membujuk suaminya untuk menerima tawarannya. Siapa tahu setelah menjadi menteri, Albert bisa mencalonkan diri sebagai presiden. Dan itu adalah impiannya belakangan ini.
Nyonya Roberta terlalu terpengaruh oleh circle pergaulannya sendiri. Yang kesemuanya berasal dari kalangan petinggi, berharta, bahkan berpangkat. Nyonya Roberta hanya tak mau terlihat kalah berada diantara lingkungan pergaulannya.
Padahal keluarganya Nyonya Roberta bukan keluarga sembarangan. Pemilik hotel tersohor hampir di berbagai belahan bumi itu bukan main-main. Namun Nyonya Roberta hanya mengejar obsesinya menjadi orang terpandang dan nomor satu di negeri ini. Sehingga membuatnya sanggup mengorbankan sang putra.
Sedangkan di ruang utama, Julian akhirnya hanya bisa memberikan ucapan selamat kepada Ben dan Elea.
"Selamat Ben, akhirnya kau mendapatkan kembali ingatanmu," ucap Julian menyunggingkan senyum getirnya.
"Terimakasih, Julian," balas Ben.
"Maaf ya Julian. Aku tidak bisa lagi bekerja di tempatmu," ucap Elea mengulum senyumnya. Lebih merupakan senyum tak enak hati kepada Julian.
"Tidak apa-apa. Oh ya, Ben. Maaf untuk dua tahun berlalu. Kau tahu, aku tidak bisa membantah Aunty. Aku terpaksa melakukannya. Sekali lagi maafkan aku."
"Tidak apa-apa. Aku sudah melupakan itu."
"Terimakasih. Kalau begitu, aku permisi dulu." Julian pun pamit. Meninggalkan mansion itu dengan hati kecewa, namun terselip sedikit kelegaan. Karena akhirnya ia tak lagi harus terlibat dalam rencana Nyonya Roberta.
"Ben?" panggil Elea lirih.
"Hm?"
"Apa kau tidak merasa berhutang penjelasan padaku?"
"Penjelasan apa?"
"Camila. Kau pernah tidur dengannya?"
Ben terdiam.
...
Kondisi Camila tampak tak baik-baik saja, sehingga mengundang kecemasan Catherine. Camila sedang hamil, jelas keadaan itu membuat Catherine frustasi. Jika Camila hamil, tentu saja Ben harus bertanggung jawab. Lalu bagaimana dengan Elea?
Setelah memastikan kondisi Camila, melihat Camila telah tertidur pulas, Catherine pun hendak meninggalkan kamar Camila. Dilihatnya kamar sang putri berantakan. Pakaiannya berserakan di lantai, tas, sepatu, bahkan perhiasan yang dikenakannya.
Catherine pun berniat merapikannya. Walaupun ada banyak pelayan yang bisa melakukannya, namun Catherine merasa senang bisa melakukan hal-hal kecil seperti ini.
Catherine meraih tas branded Camila. Hendak menyimpannya dalam bufet bersama tas-tas branded lainnya. Namun tangannya terhenti ketika dilihatnya sebuah lembaran kertas menyembul dari tas itu. Catherine pun mengeluarkan kertas itu dan membaca isinya.
Detik berikutnya, Catherine terbelalak begitu membaca keterangan pemeriksaan laboratorium yang tertulis jelas pada kertas itu. Yang menjelaskan dengan rinci tentang keadaan Camila yang sebenarnya. Gejala yang dialami Camila saat ini bukan karena kehamilan. Melainkan ...
__ADS_1
"Leukemia? Putriku mengidap kanker darah stadium tiga?"
*