
Chap 54. Kita Batalkan
Catherine shock luar biasa. Terpukul dengan hebatnya. Tangannya sampai gemetaran, bahkan kertas di tangannya jatuh ke lantai. Dipandanginya Camila yang tengah terlelap itu dengan mata mulai memerah.
Pandangannya kabur, tertutupi oleh genangan air mata. Ia hampir tak bisa mempercayai kenyataan yang datang bagai mimpi buruk ini. Akan tetapi apa yang tertulis dalam kertas itu sangatlah jelas.
Genangan air di pelupuk itu pun akhirnya tertumpah ruah. Catherine tak bisa menahan pilu di dadanya. Bagaimana bisa, putri yang ia kasihi, yang selama ini terlihat baik-baik saja malah menderita penyakit mematikan.
Menahan isak tangis agar tak terdengar, dan akhirnya malah membangunkan sang putri, Catherine membekap mulutnya cepat. Hanya derai air mata yang mengalir tak henti membanjiri wajahnya.
Sembari menyeka air mata itu, Catherine membungkuk. Memungut kembali kertas itu. Catherine kemudian mengambil ponsel dari kantong celananya, membuka kamera, lalu memotret isi kertas tersebut.
Setelahnya Catherine mengembalikan kertas itu ke dalam tas. Lantas menyimpan tas itu ke dalam bufet bersama tas yang lainnya.
Menyeret langkah perlahan, Catherine kemudian keluar dari kamar Camila.
.
Sementara itu Ben dan Elea kini berada di halaman belakang mansion. Duduk berdua di sofa bed, berdempetan bak perangko. Sembari Ben menggenggam jemari Elea.
Elea masih menuntut penjelasan Ben. Berharap Ben tidak menutup-nutupi, terbuka kepadanya dalam hal apapun walau itu menyakitkan. Elea akan berupaya memahami, sebab pernikahan sejatinya harus memiliki pondasi yang kuat. Salah satu diantaranya adalah kejujuran.
"Aku khilaf, Elea. Maaf." Singkat Ben memulai penjelasannya. Satu alasan klise, yang umum menjadi andalan pria ketika melakukan kesalahan. Termasuk Ben salah satunya.
Elea menatap lekat sorot mata Ben. Yang jelas menampakkan permohonan, serta binar penyesalan yang dalam. Elea bisa memaklumi. Namun yang Elea sayangkan , mengapa hal itu harus didengarnya dari mulut orang lain terlebih dahulu.
"Tapi ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku berada dibawah pengaruh obat saat itu. Obat yang diberikan oleh Camila. Aku tidak perlu menyebutkan jenis obat apa itu. Kau sudah bisa menebaknya." Ben menyambung cepat ketika dilihatnya Elea hendak membuka mulut.
"Semoga saja apa yang kau katakan itu benar," ujar Elea dengan wajah kecewa. Namun tak bisa jika harus memarahi Ben.
"Elea please. Kau tidak percaya padaku?"
Elea mengulum senyuman tipisnya yang mengandung getir disebailknya. Mungkin memang benar apa yang dikatakan Ben. Namun tetap saja, ada sebah di dada. Ada cemburu, sedih berbungkus kekecewaan.
Elea memilih mengalah, menerima apa yang telah terlanjur terjadi, menelan bulat-bulat kekecewaannya. Toh, kesungguhan Ben kepadanya sudah cukup untuk membuktikan sebesar apa cinta Ben untuknya.
"Anggap saja aku percaya."
__ADS_1
"Tunggu, tunggu. Jawaban macam apa itu? Itu artinya kau tidak mempercayaiku. Elea ..." Ben menuntut, mulai didera takut.
"Tolong jangan kau ulangi lagi kesalahan yang sama. Untuk yang kedua kalinya aku mungkin tidak akan bisa memaafkanmu, Ben."
Ben mengangguk cepat. Seperti anak kecil yang menurut pada perkataan ibunya. Membuat Elea gemas, lalu membawa jemarinya menyentuh wajah Ben. Mengusap rahangnya lembut sembari mengulum senyuman manis.
"Aku mencintaimu, Ben." Elea berkata manis dan lembut.
Membuat Ben terharu. Hampir saja menitikkan air mata jika saja Elea tak langsung menyandarkan kepala pada dada bidangnya. Ben pun melingkarkan lengannya, merengkuh wanitanya ke dalam lingkup aman dekapannya.
"Elea, maaf atas sikap orangtuaku yang pernah melukaimu."
Helaan napas panjang Elea terasa di permukaan dada Ben. Ben tahu jika Elea tengah berupaya berlapang dada, menerima dan melupakan apa yang telah terjadi.
Ben tak menampik, ia bahagia. Merasa telah menemukan orang yang tepat mendampingi untuk seumur hidupnya. Mungkin kata syukur takkan cukup melukiskan perasaannya saat ini.
"Aku sudah melupakannya. Sebelum kau meminta maaf pun, sudah aku maafkan."
"Thank you, Baby (terimakasih, Sayang). Tolong bersabarlah sebentar. Setelah ini aku yakin orangtuaku akan terbuka mata hatinya. Mereka akan menerimamu. Hanya saja mereka masih membutuhkan waktu." Dikecupnya puncak kepala Elea penuh kasih.
Di taman belakang mansion itu mereka saling memeluk. Saling mencurahkan rasa di sanubari masing-masing.
...
Esok hari. Ketika pagi menjelang, Catherine menolak ajakan Harlvey untuk melakukan kunjungan ke panti jompo. Catherine beralasan hari ini ia kurang enak badan. Harvey memintanya untuk segera ke dokter. Catherine pun menurut. Ia bergegas ke rumah sakit untuk menemui dokter.
"Gejala yang timbul itu merupakan gejala kanker darah, Nyonya Rodrigues." Dokter menerangkan ketika Catherine pergi menemui dokter yang memeriksa kondisi kesehatan Camila kemarin. Bukannya memeriksakan dirinya, Catherine malah mencaritahu tentang Camila berdasarkan laporan pemeriksaan laboratorium yang difotonya diam-diam.
"Putri Nyonya datang memeriksakan dirinya kemarin. Kami sudah memberitahu kondisinya yang sebenarnya, tanpa ada yang ditutup-tutupi." Dokter menambahkan.
Untuk sesaat Catherine kehilangan kata-kata. Ia shock mengetahui kondisi putrinya saat ini, yang tengah berada di ujung tanduk. Catherine bahkan tak tahu harus berkata apa. Membayangkan kondisi putrinya yang tengah kritis, Catherine hanya bisa menahan pilu di dada. Bukan hanya kehilangan kata-kata, Catherine bahkan tak tahu harus berbuat apa.
Dokter memberitahu Catherine tentang semua gejala-gejala yang akan dialami oleh Camila. Mulai dari rambutnya yang mulai rontok, mimisan, demam tinggi, kehilangan bobot tubuh. Bahkan dokter menyarankan agar Camila segera melakukan pengobatan.
.
Sementara Catherine tengah frustasi memikirkan kondisi Camila. Di lain tempat, di sebuah restaurant berbintang, di salah satu ruang VVIP Harvey Rodrigues tengah melakukan pertemuan dadakan dengan keluarga Cartier.
__ADS_1
Setelah kunjungannya ke panti jompo, Harvey meluangkan waktu memenuhi undangan Tuan Albert. Yang meminta bertemu untuk membicarakan masalah penting yang masih dirahasiakan.
"Maaf aku meminta bertemu di waktu-waktu sibukmu Tuan Harvey. Terimakasih kau sudah meluangkan waktu." Tuan Albert berkata. Sembari menyandarkan punggung pada sandaran kursi. Tuan Albert sengaja meminta pertemuan pribadi untuk membicarakan perihal pembatalan pernikahan Ben dan Camila.
Tuan Albert sudah mempersiapkan diri akan segala konsekuensi yang akan dihadapinya nanti. Termasuk kemungkinan memburuknya hubungannya dengan Harvey itu sendiri. Tetapi apa yang akan dilakukannya ini adalah menyangkut masa depan dan kebahagiaan putra semata wayangnya.
"Maaf, Tuan Harvey. Aku langsung saja pada intinya. Begini ..."
"Camila hamil." Belum juga Tuan Albert menyelesaikan kalimatnya, Harvey sudah menyela lebih dulu.
Membuat Tuan Albert terdiam. Semua kalimat yang telah tersusun rapi di kepala, lenyap tak berbekas. Dalam seketika, ia merasa seperti berada di tengah gurun Sahara. Kehilangan arah yang hendak dituju.
Padahal, beberapa jam lalu, sebelum bertandang, ia telah yakin dengan keputusan yang hendak diambilnya. Namun mendadak keyakinan itu pun goyah. Tergantikan oleh kebimbangan, dilema tak tentu.
Ia berada diambang keputusan. Antara memberi kesempatan berbahagia untuk sang putra, atau menyelamatkan citra dan reputasi keluarga Cartier yang berada di ambang kehancuran.
"Camila hamil, Tuan Albert. Aku baru mengetahui ini kemarin malam. Saat putriku mual dan muntah." Harvey kembali memperjelas ucapannya.
Tuan Albert menelan salivanya kelat. "Apakah Camila sudah memeriksakan dirinya ke dokter? Kau yakin dia hamil?" Bukannya tidak mempercayai Camila, Tuan Albert hanya terkejut mendengar ini pada akhirnya sesuai dengan dugaan sebelumnya. Untuk itulah pernikahan Ben dan Camila harus dipercepat.
"Kau seperti tidak mempercayai putriku, Tuan Albert," celetuk Harvey sedikit tersinggung.
"Maaf, Tuan Harvey. Aku hanya terkejut saja."
"Untuk itulah mengapa Camila ngotot ingin pernikahannya di segerakan. Jadi bagaimana Tuan Albert? Kira-kira kapan waktu yang tepat untuk pernikahan mereka?"
Tuan Albert menghela napasnya sejenak. Padahal kedatangannya adalah untuk membatalkan pernikahan itu. Tetapi kini ia malah terjebak di situasi yang tak bisa dihindarinya.
Kalau sudah begini keputusan apa yang harus ia ambil?
"Baiklah, Tuan Harvey." Tidak ada lagi yang bisa dilakukan Tuan Albert selain menyelamatkan nama baik keluarganya.
"Aku ikut saja dengan keputusan yang akan kau ambil. Sebaiknya pernikahan mereka disegerakan. Lebih cepat lebih ba..."
"Tunggu dulu!" Tiba-tiba suara lantang Catherine terdengar menyela.
Wanita itu berdiri di seberang dengan raut wajah tak bersahabat.
__ADS_1
"Pernikahannya kita batalkan!" seru Catherine tiba-tiba.
*