In Your Memories

In Your Memories
Chap 43. Tetap Di Sisiku


__ADS_3

Chap 43. Tetap Di Sisiku


Catherine dibayangi cemas dan ketakutan ketika mendengar ucapan spontan Camila, yang akan menyingkirkan wanita lain dalam kehidupan Ben. Camila adalah tipe wanita ambisius dan pencemburu berat. Catherine hanya takut jika Camila melakukan hal di luar batas kewajaran.


Bagaimana jika benar Elea adalah wanita lain itu?


"Apa yang harus aku lakukan?" Catherine bergumam. Me-remas jari jemarinya resah sambil kakinya bolak-balik dari ujung sofa satu ke ujung sofa lainnya.


Padahal Catherine sudah berencana untuk memberitahu Camila, jika Camila memiliki seorang kakak perempuan. Namun ketakutan lain pun mendadak menyergap. Catherine merasa takut jika Camila tidak akan mau menerima Elea sebagai kakaknya. Apalagi jika sampai benar bahwa Elea adalah wanita yang berada diantara hubungan Camila dan Ben.


Catherine hanya tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Camila, juga bagaimana perasaan Camila nanti jika Camila tahu semuanya.


Lalu Harvey? Akan seperti apa tanggapan Harvey bila mengetahui hal ini. Bahwa Elea adalah putri yang ia sia-siakan dan sangat ingin dibawanya masuk ke dalam keluarganya ternyata adalah wanita lain yang menjadi idaman Ben. Mungkinkah Harvey mau menerima Elea disaat Elea menjadi penyebab kehancuran hubungan Camila dan Ben yang sudah setahun lamanya terjalin. Yah, walaupun selama itu Ben tidak pernah menunjukkan antusiasnya. Ben terkesan acuh tak acuh.


Sehingga Harvey mulai berasumsi. Lalu asumsi Harvey pun terbukti. Dan ternyata orang itu adalah Elea.


Banyak hal yang menjadi kekhawatiran Catherine. Salah satu diantaranya adalah hubungannya dengan Elea yang sudah terpisah puluhan tahun lamanya.


Catherine hanya menginginkan yang terbaik diantara mereka semua.


...


Menaruh sebuah amplop cokelat di atas meja sofa, Ben kemudian mendudukkan diri di sebelah Elea. Berdempetan, hampir tak menyisakan jarak.


"Apa ini?" tanya Elea.


"Bukalah."


Mengambil map tersebut dengan berkerut dahi, Elea lantas membukanya. Mengeluarkan isinya, Elea terkejut bukan main. Lalu menoleh cepat, menatap Ben yang tengah menatapnya lekat.


"Kau mendapatkan foto ini dari mana?" tanya Elea kemudian.


"Dua tahun lalu."


"Ya, aku tahu. Foto ini adalah foto dua tahun lalu. Tapi kau mendapatkan foto ini dari mana?"


"Dari mana aku mendapatkannya itu tidak penting. Yang terpenting adalah penjelasanmu tentang foto ini."


Elea memicing, berusaha jeli menangkap maksud perkataan Ben. Namun detik kemudian Elea terhenyak. Baru menyadari maksud yang ingin disampaikan Ben kepadanya.

__ADS_1


"Jangan bilang kau berpikir kalau aku ..." Elea menganga tak percaya dengan apa yang terlintas di benaknya saat ini.


Dan Ben menanggapinya dengan anggukan pelan.


"Ya. Apa yang kau pikirkan itu benar. Dan ini juga yang menjadi salah satu alasan kenapa aku pergi. Maafkan aku."


Elea tertawa garing, menghembuskan napasnya pelan.


"Jadi kau mengira aku berselingkuh di belakangmu? Itu sebabnya kau pergi dan tidak pernah kembali lagi untukku? Oh came on Ben. Seharusnya kau bertanya dulu padaku. Bukannya malah pergi begitu saja seperti seorang pengecut."


"Untuk itu aku minta maaf. Dan untungnya, laki-laki yang ada dalam foto itu aku sudah tahu siapa orangnya."


Elea menaikkan kedua alisnya kaget.


"Em ... Ben. Dua tahun lalu, laki-laki ini pernah datang ke restoran tempat aku bekerja. Dia adalah pelanggan." Elea pun mulai menceritakan awal mula ia bertemu pria yang diyakini Ben adalah Tony dua tahun lalu di London.


Saat itu Tony adalah pelanggan restoran tempat Elea bekerja. Dari sekian banyak pelanggan yang datang, hanya Tony yang kerap mengajak Elea ngobrol. Bahkan Tony menunggu sampai Elea selesai dengan pekerjaannya.


Tony menawari Elea pulang bersama. Elea yang memang tidak mengenal Tony langsung saja menolak. Namun Tony terus saja memaksa. Bahkan terus mengikuti Elea. Sampai ketika Elea ingin menyeberang jalan, tiba-tiba sebuah mobil melaju dari arah berlawanan.


Mobil tersebut melesat secepat kilat. Hampir saja Elea tidak bisa menghindar saat itu. Beruntung Tony sigap dan langsung menariknya ke tepi. Tarikan kuat Tony itu membuat Elea jatuh ke dalam pelukan Tony. Dan anehnya, setelah mobil tersebut berlalu, bukannya melepas Elea, Tony malah memeluk Elea lama. Sampai akhirnya Tony melepas pelukannya ketika Elea menginjak kakinya.


"Seperti itulah ceritanya," ucap Elea mengakhiri ceritanya.


"Kau adalah putra Mommy. Satu-satunya penerus keluarga Cartier. Mommy tidak mau jika sampai kau salah memilih pasangan. Masalah jodohmu itu bukan main-main, Ben. Jodohmu kelak harus berasal dari keluarga yang sederajat."


Seperti ucapan Nyonya Roberta kira-kira ketika meminta Ben mendekati Camila. Lantas apakah Elea adalah wanita yang tidak pantas menjadi pendamping hidupnya?


Ben mulai paham sekarang.


"Elea ..." Ben meraih jemari Elea ke dalam genggamannya. Menatapnya sayu namun penuh makna.


"Mulai sekarang, kau tetaplah berada di sisiku apa pun yang terjadi. Aku sudah melakukan kesalahan dengan pergi meninggalkanmu. Dan aku tidak ingin mengulangi lagi kesalahan yang sama," ucapnya lirih bernada lembut merayu.


"Tapi, Ben. Kau ..." Elea menghela napas sejenak, lalu menundukkan wajahnya.


"Bagaimana bisa kau memintaku tetap berada di sisimu sedangkan kau akan menikah dengan orang lain?" sambungnya menahan getir. Mengingat wanita yang akan dinikahi Ben adalah wanita dari keluarga yang sederajat dengan Ben. Wanita yang benar-benar pantas menjadi pendamping hidup Ben.


"Tolong jangan membahas hal itu. Sekarang hanya ada kita berdua. Tidakkah kau merindukanku, Eleanor? Hm? Aku sangat merindukanmu. Apa kau bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini?" Menatap sepasang mata Elea lekat, Ben meraih dagu Elea. Menekannya pelan, membawanya bertatap muka.

__ADS_1


Dalam posisi nyaris tanpa jarak ini, hembusan napas keduanya bahkan terasa menerpa kulit. Keadaan seperti inilah yang dinantikan Ben sejak lama. Kesempatan untuk bisa berdua bersama Elea tanpa kesalahpahaman lagi.


Menatap Ben sayu, Elea mengulum senyuman tipis. Namun mampu memukau Ben. Membuat pria itu secepat kilat mendaratkan kecupan di bibir manis Elea.


Tidak seperti semula, Elea akan terkejut mendapat perlakuan tiba-tiba Ben. Kali ini Elea membiarkan saja Ben melakukan apa yang diinginkannya.


Mendorong pelan tubuh Elea sampai terbaring di sofa itu, Ben semakin memperdalam ciumannya. Jemari kokohnya tak tinggal diam. Jemari itu dengan nakalnya menelusup dibalik kaos oblong Elea. Merambat naik perlahan-lahan, lalu melepas pengait kain berenda dibalik punggung Elea.


Kerinduan Ben yang mendalam membuatnya tak bisa menahan diri. Buas menyerang, mendaratkan kecupan di setiap inci bagian tubuh Elea. Lenguhan lembut Elea membakar gai rah Ben. Membuat gelora asmaranya kian membara.


Ingin lebih leluasa, Ben melepas ciumannya sejenak, kemudian mengangkat tubuh Elea, membawanya ke tempat tidur. Pelan Ben membaringkan Elea di tempat tidur itu.


Tak sabaran Ben lantas naik, mengungkung tubuh Elea di bawahnya. Kemudian menyerang Elea bertubi-tubi. Membuat Elea kewalahan, saking semangatnya Ben mencurahkan perasaannya.


"Ben, slowly (Ben, pelan-pelan)" racau Elea ketika Ben menurunkan kecupan, mencumbu buas sepanjang garis lehernya, seperti seekor singa kelaparan. Sementara jemarinya mengelana bebas dibalik kaos oblong Elea.


"Kau hanya akan menyakitiku jika terburu-buru seperti ini. Perlahan, okey?" pinta Elea berkompromi. Seperti Ben akan melahapnya hidup-hidup saja.


Menghentikan aktifitasnya sejenak, disela helaan napasnya yang memburu, Ben menyelipkan tawa kecilnya. Kemudian berkata.


"Bayangkan, dua tahun kita terpisah. Kau tentu bisa membayangkan seberapa besar rinduku padamu, Elea. Sebesar rinduku, sebesar itu pula inginku menyentuhmu."


"Aku tahu ." Sembari mengalungkan kedua lengannya di leher Ben, Elea mengulum senyum menggoda. Terlihat sedikit genit, namun teramat memikat hati Ben.


"Apa yang kau rasakan sama seperti yang aku rasakan, Ben. Aku sangat merindukanmu. Kau tahu, jauh-jauh aku datang ke kota ini hanya untuk menemukanmu," sambungnya, membawa jemarinya menyentuh lembut sebelah wajah Ben.


"Maka dari itu, jangan hentikan aku. Hm?" Tanpa memberi aba-aba kembali menyerang, memberi sentuhan memuja di setiap inci bagian tubuh Elea.


Menanggalkan setiap helai pakaian yang melekat di tubuh, Ben dan Elea melebur dalam satu rasa. Berpeluh berdua, mendaki bersama puncak asmaranya. Dengan menggebu-gebu, terombang-ambing di lautan asmaranya yang menggelora.


Dua desah berpadu merdu di udara, mengisi ruang sunyi. Mengiringi sepasang anak manusia yang beradu sengit di tengah waktu yang menghimpit.


Hingga puncak asmara diraih setelah lama mendaki, Ben dan Elea pun terlelap dengan saling memeluk di bawah selimut yang menutupi. Mimpi buruk yang sering datang mengganggu Ben, kini telah berganti dengan mimpi yang indah.


...


Sementara di seberang, Julian berusaha menghubungi ponsel Elea. Namun hanya suara operator yang berkali-kali menyambutnya.


Sama hal nya dengan Camila. Yang berusaha menghubungi ponsel Ben. Namun berkali-kali panggilannya terabaikan. Bahkan beberapa pesannya pun tak berbalas. Sehingga membuatnya geram, jengkel sampai ke ubun-ubunnya. Lalu mulai menggerogoti hatinya.

__ADS_1


"Tidak sepantasnya kau memperlakukanku seperti ini, Ben. Kau akan menyesal telah mengabaikanku."


*


__ADS_2