
Chap 39. Mana Mungkin Ada Dua Ben
Rombongan menteri telah berlalu pergi. Terkecuali Camila. Karena wanita itu menggunakan mobil sendiri. Sopir Camila dimintanya menunggu.
Sementara Camila sendiri pergi bersama Nyonya Roberta. Dengan alasan ingin membawa Camila berkeliling hotel. Karena setahun Camila dan Ben menjalin hubungan, baru beberapa kali Camila datang mengunjungi Ben di hotel. Dan itu pun tidak lama. Sehingga Nyonya Roberta mengajak Camila berkeliling sebentar.
Dari kejauhan, Ben melihat Julian menghampiri Elea. Mencegah wanita itu, lalu mengajaknya mengobrol. Dari yang terlihat, Julian dan Elea tampak seperti sudah akrab. Itu terlihat dari cara mereka mengobrol. Satu sama lain tidak terlihat canggung lagi. Sehingga memancing rasa penasaran Ben.
Hampir sebagian obrolan mereka di dengar oleh Ben. Membuat Ben ingin segera menengahi obrolan mereka. Karena Julian ingin menjalin pertemanan dengan Elea. Awalnya memang ingin berteman. Tapi lama kelamaan, mungkin saja Julian ingin lebih dari sekedar teman saja. Maka dari itu Ben ingin melerai.
"Ehem." Ben berdehem untuk menengahi obrolan Julian dan Elea.
"Ben?" Sembari menoleh, Julian menyapanya.
Ben pun membawa langkahnya menghampiri.
"Apa kau ingin merebut milik orang?
Julian mengerutkan dahi, tidak mengerti maksud ucapan Ben. Diliriknya sejenak Elea yang telah memalingkan wajah, seolah menghindari tatapan Ben.
"Apa maksudmu?" tanya Julian, menggulir pandangan bergantian kepada Ben dan Elea.
"Kau mau merebut karyawan hotelku? Apa yang kau janjikan padanya, gaji yang lebih besar? Bonus?" Ben menemukan alasan atas kalimat ambigu nya. Yang mungkin menimbulkan persepsi berbeda bagi Julian. Dan Ben tak ingin membuat Julian bertanya-tanya.
Julian pun terkekeh mendengarnya. "Kau berlebihan. Lagi pula, kau tidak berhak melarang karyawan mu untuk memiliki pekerjaan paruh waktu diluar hotel ini. Mereka bawahan mu hanya di jam-jam kerjanya saja. Diluar dari itu, they are free (mereka bebas). Bukankah begitu?"
Untuk menanggapi ucapan Julian, Ben mengangkat tangan kirinya. Menunjuk-nunjuk arloji di pergelangannya.
Julian kembali terkekeh, paham akan isyarat Ben. Sedangkan Elea menundukkan wajahnya, sikap yang wajar sebagai bentuk rasa hormat terhadap atasan.
Sebetulnya ada perasaan mengganjal di hati Elea saat melihat Nyonya Roberta berada dalam satu meja bersama Ben. Dari kabar berembus, kedatangan keluarga menteri ke hotel ini adalah pribadi, bukan termasuk kunjungan kerja. Kunjungan hari ini semata-mata untuk menjalin kekerabatan saja antara dua keluarga yang tidak lama lagi akan menjadi besan.
Apakah itu artinya, Nyonya Roberta, wanita yang pernah merendahkannya dua tahun lalu itu adalah ibunya Ben?
Kau benar-benar wanita yang tidak pantas menjadi pendamping putraku. Bagaimana bisa putraku menyukai wanita miskin, rendahan, dan tidak jelas sepertimu? Kau membuatku jijik!
__ADS_1
Mengingat kembali kalimat menohok Nyonya Roberta kala itu menghadirkan berbagai tanya dalam benak Elea. Padahal Elea tidak mengenal Nyonya Roberta. Bahkan Elea tidak mengenal putra Nyonya Roberta saat itu. Lalu bagaimana bisa Nyonya Roberta mengatainya sedemikian keji?
Apakah itu artinya bahwa Ben adalah ...
"Kau seharusnya menemani Camila berkeliling hotel mu, bukan malah ibu mu yang menemaninya. Kau harus meluangkan waktu lebih banyak bersama Camila. Bukankah tidak lama lagi kalian akan menikah?" seloroh Julian menanggapi isyarat Ben. Yang secara tidak langsung memintanya menjauhi Elea.
Dan siapa sangka ucapan Julian itu semakin membuat Elea bertanya-tanya. Pertemuan dua keluarga di ballroom beberapa saat lalu itu adalah pertemuan antara keluarga Ben dan keluarga calon pasangannya. Itu artinya Nyonya Roberta adalah ibunya Ben. Dan putra yang dimaksud Nyonya Roberta dua tahun lalu itu, apakah Ben orangnya?
Lantas apakah Ben yang menikahinya dua tahun lalu itu adalah ...
Mana mungkin di dunia ini ada dua Ben?
Elea terhenyak, perlahan-lahan otaknya bekerja, mulai mencerna dan memahami setiap kejadian yang ia alami. Menoleh, mengangkat pandangan, Elea meneliti wajah Ben dengan seksama.
Sangat mirip!
Lalu Elea pun mulai mengait-ngaitkan setiap kejadian. Ditatapnya lekat-lekat wajah Ben, dengan hati bertanya-tanya.
Sementara Ben menghindari tatapan Elea disertai taut wajahnya yang berbeda. Ben hanya merasa tak enak hati kepada Elea. Ada perasaan bersalah dalam hati Ben karena sampai detik ini, Elea masih belum mengetahui siapa dirinya. Sedangkan pernikahannya dengan Camila sedang direncanakan, ia bahkan belum melakukan apa-apa untuk membatalkan pernikahan itu.
"Kita bicara di ruanganku saja." Ben mengambil langkah lebih dulu, berjalan sambil mengantongi kedua tangannya di saku celana. Kemudian disusul oleh Julian, setelah berpamitan dengan Elea.
Apakah Ben ... Apakah Ben adalah ...
"Eleanor." Connie datang mengagetkannya.
"Ya, Miss?"
"Cepat kau ganti kembali seragammu. Ada banyak kamar yang harus dibersihkan."
"Baik, Miss." Bergegas Elea membawa langkahnya menuju ruang ganti. Dihempasnya sejenak pertanyaan-pertanyaan yang mulai mengusik pikirannya itu agar tidak mengganggu fokus kerjanya.
...
"Kau sudah jarang datang menemuiku lagi belakangan ini. Apa mimpi itu masih datang mengganggumu?" tanya Julian begitu mendaratkan pantat di sofa ruangan Ben.
__ADS_1
"Entahlah."
"Jawaban apa itu? Ayolah, Ben. Aku serius ingin tahu perkembangan keadaanmu."
Ben malah menatap lurus wajah Julian, bukannya menjawab pertanyaannya. Di dalam ballroom beberapa saat lalu, ada hal yang mengusik pikirannya. Yaitu Tony.
Saudara sepupu Camila tersebut terlihat biasa-biasa saja. Bila memang dahulu pria itu adalah selingkuhan Elea, mana mungkin dia tidak mengenali Elea. Bahkan Elea pun sama. Mereka terlihat seperti orang asing. Ataukah memang mereka hanyalah orang asing, yang tidak pernah punya hubungan di masa lampau?
Dan satu hal lagi yang mengusik ketenangan Ben baru-baru ini. Yaitu kedekatan Julian dengan Elea. Ingin sekali Ben membahas hal itu sekarang, namun Ben tak ingin mengundang kecurigaan Julian. Walau bagaimanapun, ia harus menyembunyikan sejenak perasaannya terhadap Elea. Tak ingin perasaan itu terbaca oleh Julian. Apalagi di situasi seperti sekarang ini.
"Julian, apa kau bisa mengembalikan ingatanku tentang dua tahun lalu?" Spontan saja Ben bertanya. Ada banyak hal menjanggal dalam keluarganya yang menyedot rasa keingintahuannya. Terlebih soal ibunya.
Belakangan ini gelagat ibunya terlihat aneh. Apalagi ketika sang ibu melihat Elea.
Padahal Ben hanya spontan saja bertanya. Namun siapa sangka, malah membuat Julian salah tingkah. Julian membasahi bibir, mengusap tengkuk sebelum berkata.
"Apa yang ingin kau ketahui tentang dua tahun lalu? Kecelakaan yang pernah kau alami? Bukankah hal itu membuatmu trauma? Apa kau tidak ingin bebas terbang ke manapun yang kau inginkan jika ingatanmu tentang kecelakaan itu tetap terkubur dalam memorimu?"
"Bukan tentang itu."
"Lalu tentang apa?" Julian mengerti kemana arah pertanyaan Ben. Namun Julian hanya berusaha untuk menghindar. Agar Ben tidak lagi mengungkit perihal wanita masa lalunya. Wanita yang tidak akan pernah mendapatkan restu dari keluarga Cartier menjadi pendamping hidup Ben.
"Wanita itu." Entah mengapa rasa penasaran Ben terpancing ketika melihat gelagat Julian bila ia meminta Julian untuk mengembalikan ingatannya.
Tidak perlu diingatkan lagi, Ben sudah mengingat segalanya. Tentang kecelakaan itu, tentang pertemuannya dengan Elea, bahkan kenangan-kenangan manisnya bersama Elea.
Ben yang jatuh cinta pada Elea saat itu, memilih menyembunyikan identitasnya dari Elea. Ben hanya tidak ingin Elea mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Sebab ia takut, bila Elea tahu bahwa ia adalah pewaris tunggal bisnis keluarganya, yang cabang hotelnya berdiri hampir di semua negara, mungkin Elea akan menjauhinya.
Elea adalah wanita sederhana yang membuat Ben jatuh cinta. Ela bahkan hidup berkekurangan. Demi menyambung hidup, Elea bekerja banting tulang siang dan malam. Menyaksikan langsung bagaimana kehidupan yang dilalui Elea, menjatuhkan rasa iba di hati Ben.
Ben yang saat itu sangat mencintai Elea, akhirnya memutuskan menikahinya. Lalu berniat mengajak Elea ke Paris untuk tinggal bersamanya.
Baru saja Ben merencanakannya, tiba-tiba saja ibunya datang. Lalu memberinya kabar bahwa Elea berselingkuh di belakangnya, lengkap bersama bukti. Sehingga Ben murka, lalu pergi tanpa pamit. Meninggalkan Elea dalam kebingungan, tak tahu apa-apa.
Dan kini, Ben merasa sangat bersalah juga menyesal. Ben ingin memperbaiki semuanya. Namun Ben membutuhkan waktu.
__ADS_1
"Maaf, Ben. Aku tidak bisa."
*