
Chap 40. Ada Hubungan Apa
"Maaf, Ben. Aku tidak bisa."
"Kenapa?"
Julian diam sejenak. Bola matanya merotasi tak tentu. Terlihat seperti sedang berpikir.
"Kenapa tidak bisa?" tanya Ben menuntut.
"Kau akan menikah dengan Camila. Mana mungkin aku merusak hubunganmu dengan Camila. Lagi pula, ibumu pasti marah jika mengetahui ini." Akhirnya, lagi dan lagi hal itu yang menjadi alasan Julian. Sebuah alasan yang tepat untuk saat ini.
Ben tidak menanggapi. Ia diam saja memandangi Julian yang terlihat salah tingkah. Entah mengapa Ben merasa Julian sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Sangat kentara dari gelagat dan reaksi Julian bila ia meminta Julian mengingatkannya kembali soal dua tahun lalu.
Sampai Julian pamit pulang, Ben tidak membuka suara. Ia merasa ada yang aneh antara ibunya, Camila, juga Julian. Ketiga orang tersebut memperlihatkan gelagat yang aneh. Tapi entahlah, mungkin ini hanya perasaannya saja.
Namun Ben, tak bisa begitu saja membendung rasa penasarannya. Terlebih ketika ingatannya telah kembali. Ia merasa ada keanehan yang terjadi padanya sejak dua tahun lalu. Termasuk, mengapa ia kehilangan ingatannya tentang Elea. Wanita yang dicintainya.
...
Berdalih mengajak Camila berkeliling hotel, Nyonya Roberta justru mengajak Camila ke bagian HRD. Tuan Albert sudah ia minta kembali lebih dulu. Karena tidak memiliki kegiatan lain, Tuan Albert menurut saja.
"Semua data karyawan berikan kepadaku." Nyonya Roberta memberi titah begitu memasuki ruang HRD.
"Tapi, Nyonya. Tuan Ben melarang memberikan data karyawan kepada siapa pun itu. Termasuk Nyonya." Edrick, kepala HRD, menyahuti sembari menundukkan kepalanya.
"Berani kau membantahku?" Nyonya Roberta menatap nyalang kepada Edrick.
"Maaf, Nyonya. Aku tidak berani melawan perintah Tuan Ben."
"Kau tahu siapa aku kan? Aku ini ibunya, pemilik hotel ini. Kau berani sekali melawan perintahku."
"Aku tahu Nyonya siapa. Tapi sekali lagi mohon maaf. Tuan Ben sudah memberi perintah, dan aku tidak berani melawan perintah. Karena Tuan Ben yang berwenang di tempat ini. Maafkan aku sekali lagi Nyonya." Edrick berlalu pergi, meninggalkan ruangannya meski ia tidak memiliki keperluan di luar ruangan. Edrick hanya tidak ingin Ben memecatnya bila tahu ia membocorkan data karyawan.
Sebelumnya, Ben sudah mewanti-wanti agar tidak membocorkan data karyawan kepada siapapun. Ben memiliki alasan melakukan hal itu. Yaitu untuk menjaga dan melindungi keamanan karyawannya. Tidak ada maksud yang lain.
Albert Cartier adalah pendiri sekaligus perintis Benedict Star Hotel. Namun di usianya yang sudah tidak muda lagi, Tuan Albert menyerahkan sepenuhnya kekuasaan BSH ke tangan Ben. Ben lah yang berhak mengambil keputusan.
__ADS_1
Namun, apabila sewaktu-waktu Ben tidak melaksanakan tugasnya dengan baik, Tuan Albert berhak mengambil alih kekuasaan itu dari tangan Ben. Untuk itulah bahkan Nyonya Roberta sekalipun tidak bisa sembarangan melihat data karyawan.
"Menjengkelkan," gerutu Nyonya Roberta kesal.
"Apa tidak sebaiknya kita temui saja orangnya langsung?" Camila memberi usul.
Nyonya Roberta tampak berpikir sejenak.
"Tidak, Camila sayang. Mommy pernah bertemu dengannya. Mungkin saja dia masih mengingat wajah Mommy."
"Kalau begini, aku jadi ragu. Apakah Mommy bisa menyelidiki perempuan itu atau tidak. Bagaimana kalau ingatan Ben tiba-tiba saja kembali karena bertemu dengan perempuan itu setiap hari?" Tak bisa dipungkiri, timbul kekhawatiran dalam diri Camila. Khawatir jika Ben akan mengingat kembali semuanya, lalu pada akhirnya kembali ke pelukan perempuan itu. Sebelum hal itu terjadi, ia akan mengantisipasinya lebih dahulu. Ia harus cerdik dalam menyingkirkan perempuan itu. Perempuan yang menjadi ancaman dalam hubungannya dengan Ben.
"Kau jangan takut sayang. Mommy akan mangatasi semuanya untukmu."
"Pikirkan Mommy, bagaimana caranya. Perempuan itu tidak boleh berada di sekitar Ben. Entah dia Eleanor atau tidak, perempuan itu harus enyah dari tempat ini." Camila memasang tampang kesal, mode merajuk.
"Ehem!"
Tiba-tiba saja terdengar suara deheman seseorang. Sontak Camila dan Nyonya Roberta menoleh. Namun wajah keduanya langsung tegang begitu melihat Ben berdiri diambang pintu ruang HRD yang terbuka lebar.
"Ben?" Keduanya salah tingkah, langsung memasang wajah tersenyum.
Bergegas Ben pun pergi ke ruang HRD. Lalu tanpa sengaja Ben mendengar ucapan perkataan terakhir Camila, yang hendak menyingkirkan Eleanor.
Perkataan Camila tersebut mencuatkan tanya dalam benak Ben. Sekaligus membangunkan rasa penasaran Ben.
Apakah Camila mengenal Eleanor?
"Apa yang kalian lakukan di ruangan ini?" tanya Ben menatap Camila dan Nyonya Roberta bergantian.
"Camila hanya ingin melihat-lihat saja. Mommy sudah membawanya berkeliling. Dan sekarang, Camila harus pulang. Bisakah kau mengantar Camila?" Merubah arah pembicaraan mungkin lebih baik, daripada Ben akan terus bertanya. Nyonya Roberta tahu betul tipe orang seperti apa putranya ini. Ben adalah tipe orang yang mudah terpancing rasa penasarannya.
"Hanya bisa sampai ke tempat parkir. Bukankah dia datang bersama supir?"
"Ben, Camila ini adalah calon istrimu. Bagaimana bisa kau membiarkannya pulang bersama supir?"
"Itu masih lebih baik. Daripada dia pulang sendiri."
__ADS_1
Nyonya Roberta dan Camila pun tidak bisa memaksa Ben. Mereka hanya bisa pasrah, mengikuti perkataan Ben.
Keluar dari ruang HRD, mereka berpapasan dengan Elea yang baru saja membersihkan salah satu kamar di lantai tersebut.
Melihat Elea, Camila langsung menggamit lengan Ben. Seolah takut bila si pujaan hati direbut orang.
Sedangkan Ben, bersikap biasa saja. Seolah ia tidak mengenal Elea.
Hanya Nyonya Roberta dan Camila yang terlihat tidak baik-baik saja. Kecemasan sangat kentara terlihat dari raut wajah keduanya.
Sementara Elea sendiri, memilih menunduk. Sedikitpun ia tidak menoleh. Sampai mereka berlalu, Elea pun menoleh ke belakang. Memandangi punggung Ben dengan penuh tanya.
Sejak tadi jantungnya berdebar tak karuan. Hatinya berdesir mengingat segala kemungkinan yang merujuk kepada kebenaran. Bahwa Benedict Cartier, adalah Ben yang dikenalnya. Ben yang menikahinya dua tahun lalu.
Namun sayangnya, Elea tidak memiliki bukti bila dugaannya adalah benar adanya.
...
Untuk kunjungan kedua Harvey pergi dengan pengawalan ketat tanpa di dampingi Catherine kali ini. Sehingga Catherine memilih pulang ke mansion.
Di ruang tengah mansion, Catherine mondar-mandir gelisah. Pertemuannya dengan Elea beberapa saat lalu itu membuatnya tak bisa tenang. Bila ditanya, Catherine ingin sekali bertemu Elea untuk kedua kalinya. Catherine masih belum puas mengobati rindunya.
Akan tetapi, melihat keadaan Elea saat ini, membuat Catherine iba dan membuat perasaan bersalahnya kian membukit. Ingin sekali ia kembali ke hotel itu hanya sekedar untuk melihat Elea saja. Namun Harvey telah berpesan kepadanya agar ia tidak ke mana-mana.
Catherine bukan wanita yang bisa bebas berkeliaran di luar sana seperti wanita-wanita lainnya. Di sekitarnya akan ada banyak pengawal jika ia berada di luar rumah.
Catherine gusar memikirkan cara untuk ia bisa kembali lagi ke Benedict Star Hotel.
Menjelang sore hari, Catherine pun menemukan alasan. Ia berpura-pura ingin pergi ke minimarket untuk membeli keperluannya. Pelayan sempat menawarinya agar si pelayan saja yang pergi ke minimarket, sedangkan si Nyonya menunggu di rumah.
Namun Catherine bersikeras. Dengan berdalih yang ingin dibelinya adalah kebutuhan khusus untuk wanita. Sehingga Catherine pun berhasil keluar rumah hanya dengan supir.
Catherine memerintahkan supir untuk pergi ke Benedict Stat Hotel. Sesampainya di BSH, belum sempat turun dari mobilnya, di kejauhan Catherine melihat Elea yang sudah berganti pakaian itu keluar dari pintu utama.
Catherine berniat menghampiri Elea. Baru saja Catherine hendak membuka pintu mobil, dilihatnya Ben datang, menyusul di belakang Elea. Detik berikutnya Catherine dibuat terkejut melihat Ben tiba-tiba menarik pergelangan Elea. Menyeret Elea secara paksa, membawanya naik ke mobil hitam yang terparkir.
Detik berikutnya, mobil yang dikemudikan Ben melaju pergi meninggalkan tempat parkir.
__ADS_1
"Ada hubungan apa diantara mereka?" Catherine bergumam cemas.
*